Ice Cream

Ice Cream
Orientasi



Agar tidak di salahkan untuk urusan sepele seperti membeli roti, pada akhirnya Ryan membeli keduanya, entah yang bisa di makan atau yang bisa di hisap.


Seharusnya ini bukan hal aneh, karena Ryan sendiri sudah melihat berpuluh-puluh puntung rokok yang bertumpuk di dalam asbak dan aroma asap yang tertutupi oleh pengharum ruangan.


Reina memilih untuk hidup dengan kebebasan, dan Ryan tidak mau merepotkan diri mengatur urusan nona muda keluarga kaya itu.


Tapi selagi Ryan berjalan santai untuk mengantar pesanan, tiba-tiba saja sebuah tangan menarik lehernya dan di bawa masuk ke dalam toilet.


Ryan bisa melihat ada empat orang yang menahan dirinya agar tidak bisa melawan, dan satu diantara adalah Juna, murid di kelasnya sendiri.


"Apa ini."


"Kau ikut kami dan jangan berbuat apa pun, kecuali jika mau mencari masalah."


"Si*al, kenapa selalu harus aku."


Kantong hitam menutupi kepala Ryan, dijatuhkan dengan keras kemudian diikat pula kedua tangan dan kakinya.


"Aku tidak punya masalah dengan kalian."


"Oh, tenang saja, ini hanya sekedar orientasi siswa baru, karena Lo belum melakukannya di sekolah Nawasena bukan ?." Itu yang Juna jawab.


"Tindak kekerasan orientasi siswa baru itu pelanggaran hukum kalian tahu ?." Balas Ryan.


"Apa yang Lo tahu tentang pelanggaran hukum, cuma orang miskin aja, bicara Lo tinggi bener."


Satu tendangan melayang di perut, di injak-injak dengan kuat, kemudian Ryan disiram air hingga basah. Semua ini sudah cukup untuk di bilang tindak kekerasan, pembullyan di dalam sekolah.


Dia tidak bisa melawan, karena kedua tangan dan kakinya di ikat kencang, meski begitu, ketika dia diangkat, Ryan membalas dengan sundulan kepala, itu benar-benar tepat hingga orang yang ada di depannya terjatuh kesakitan.


"Inilah alasannya kenapa aku dipanggil dengan orang yang keras kepala."


"Sialan kau." Dibalas kembali dengan satu tendangan hingga tubuh Ryan terpental menghantam pintu kamar mandi.


Tapi sekali Ryan menahan rasa sakit dari pukulan mereka, sebuah suara yang dia rasa akrab pun terdengar.... "Ada apa ini Jun, siapa dia itu."


Reina, jelas sekali suara yang Ryan dengar adalah Reina, meskipun dia tidak tahu bahwa orang dengan wajah tertutup kain sebenarnya Ryan.


Sebelum itu ...


Reina datang ke kamar mandi karena dipanggil oleh Juna, entah apa yang dia inginkan darinya, tapi tidak ada alasan juga untuk menolak, sebab Reina pun sudah gabung dengan kelompok dari orang-orang Juna.


Suasana cukup ramai di dalam kamar mandi, banyak lelaki berkumpul dengan satu orang yang mereka pukuli penuh semangat.


Reina melihat dengan menyedihkan, bagaimana pun Juna dan anak buahnya melakukan hal seperti ini, memang sudah biasa, mereka semua membuat masalah tanpa perlu takut mendapatkan teguran dari pihak sekolah.


Juna sendiri adalah anak dari pemilik yayasan sekolahnya berada, siapa yang berani melawan, jika pun ada laporan, pilihan kepada orang itu, adalah dua, di keluarkan atau meminta maaf.


Lelaki ini terlalu berkuasa, bahkan kelas tiga sekali pun berada di pihak Juna, karena mereka sadar akan keuntungan jika bisa menjadi anak buahnya.


"Ada apa ini Jun, siapa dia itu...." Reina bertanya.


Tapi Juna tidak berniat menjawab, dia masih menikmati setiap pukulan yang dihantamkan ke wajah lelaki dengan penutup hitam di lantai.


Apa yang dilakukan Juna dan anak buahnya tidak main-main, itu bisa saja membawa anak orang ke dalam rumah sakit dan trauma karena pemukulan.


"Lihat saja sendiri siapa pecundang itu "


Reina menarik kain yang menutupi wajah lelaki di lantai, tentu wajah di depannya sangat dia kenal, siapa lagi kalau bukan Ryan.


"Ryan." Ucap Reina.


"Apa ini sudah pagi." Santai saja Ryan bicara.


Meski wajah babak belur dengan hidung berdarah, lecet di pipi kiri dan kanan dan ada pula luka sobek di bibirnya, tapi sikap Ryan seakan santai saja menanggapinya.


"Menyedihkan..." Ucap Reina dengan senyum mengejek.


"Hei jangan perdulikan dia, kita pergi saja."


"Bukankah Lo marah Rein sama anak ini."


"Itu gak penting, lagian dia juga sudah di pukuli olehmu."


Ryan merasa buruk dengan perlakuan mereka, terlebih lagi untuk senyum Reina yang jelas membuatnya semakin terhina, karena tidak ada satu orang pun mau menolong.


Saat Juna membawa Reina untuk keluar, satu anak buah berbisik di telinganya...


"Bos apa perlu kita lanjutin."


"Lanjutin aja, sampai kalian puas." Juna tertawa puas.


"Ok."


Setelah Reina dan juna keluar, saat itulah para anak buahnya ingin melanjutkan orientasi siswa baru seperti yang mereka harapkan kepada Ryan.


Terlebih lagi, rasa marah karena sundulan keras ke kepala Ryan itu masih sakit ketika di sentuh.


"Hajar dia.."


*******


Nela yang hanya duduk di bangkunya, terlihat senang karena dia bisa melihat Ryan di satu sekolah meski pun berbeda angkatan.


Banyak hal ingin dia bicarakan dengan teman lamanya itu, tapi di sisi lain Nela pun merasa bingung karena tidak tahu bagaimana harus menanggapi perubahan yang terjadi.


Wanita tetaplah menjadi wanita, dan dia pula adalah wanita, rasa malu karena melihat Ryan datang sebagai lelaki yang lebih dewasa dari ingatannya di masa lalu.


Sepintas Nela mendengar ucapan dari beberapa orang yang melintas di bangkunya...


"Gue ngerasa kasihan sama anak itu."


"Kau benar, dia di pukuli sama anak buah Juna."


"Aku takut wajah tampannya jadi bengkak."


Telinga Nela terangkat untuk mendengar percakapan mereka tentang seseorang yang di pukuli oleh anak buah Juna sambil tertawa-tawa.


"Oi, Qia siapa anak yang di pukuli itu."


"Gue gak tahu, tapi dia anak baru yang pindah pagi ini."


"Anak kelas berapa ?."


"Kelas dua ?, Ya itu yang Gue lihat dari Pangkatnya."


"Dimana mereka ?."


"Di toilet bawah."


Nela segera saja berdiri, dia cepat berlari ke tempat yang dikatakan oleh temannya, karena bagaimana pun firasat mengatakan bahwa Ryan dalam masalah dengan Anak buah Juna.


Nyatanya memang benar, bisa Nela lihat banyak kerumunan menghalangi pintu kamar mandi dan mereka terlihat menikmati pemandangan di dalamnya.


"Minggir kalian semua." Teriak Nela.


Saat mereka semua menyingkir, tepat di depannya, Ryan sedang di injak-injak oleh tiga orang dengan tangan dan kaki di ikat.


Tanpa menahan diri, Nela menendang kepala satu orang yang menginjak kepala Ryan itu hingga tubuhnya jatuh membentur lantai.


Orang-orang terkejut dan berhenti, mereka pun jelas tidak ingin membuat masalah dengan Nela, karena dia adalah wanita yang bisa membuat tiga orang ke rumah sakit.


"Elu-elu bertiga harus membayar ini, jangan harap bisa lolos." Nela menunjukan rasa marahnya dengan perbuatan mereka kepada Ryan.