
Pesanan pun datang, satu mangkok kecil berukuran diameter 15 Centimeter dan sepotong ayam yang tidak mungkin bisa membuat dia kenyang, tapi harganya sama untuk membeli lima nasi Padang.
Tapi ini bisa membuktikan bahwa orang-orang yang berada di sebuah kafe mewah, bukanlah untuk mengisi perut, melainkan tentang gengsi agar terlihat istimewa.
Chicken soup with yellow coconut sauce, tidak lebih opor ayam hanya diberikan nama ke Inggris-ingrisan demi menarik pelanggan agar tertarik bahwa itu makanan mahal.
Sedangkan di warung makan biasa, Chicken soup with yellow coconut sauce tidak lebih lima belas ribu rupiah, itu pun masih dapat kembalian.
Sebuah pelajaran hidup, bahwa manusia cerdas dengan integritasnya tinggi, jago berbahasa Inggris, dan IPK 3.8, hanya sekumpulan orang penuh gengsi yang gampang di kibulin oleh manager marketing warung makan berkategori Cafe.
Bagi Ryan semua itu percuma, gengsi tidak membuat hidupnya kenyang, sedangkan kelaparan bisa membunuh dirinya.
Asalkan itu bisa mengisi perut, hanya dengan satu piring nasi, telor dadar hingga lenyap protein karena tertutupi tepung, dan doa sebelum makan.
Lupakan soal gizi, atau protein, lebih-lebih bicara empat sehat lima sempurna, karena bisa makan setiap hari untuk menjaga asam lambung agar tidak kumat, menjadi kenikmatan yang tiada banding.
"Nyon... Maaf, kakak, kenapa kakak ingin tahu tentangku." Tanya Ryan.
"Bukan hal penting, hanya merasa kalau hidup yang kau jalani sekarang sama seperti kehidupan ku yang dulu."
Selepas satu mangkok chicken soup with yellow coconut sauce di telan habis dengan kuahnya tanpa sisa. Kembali Sela memperhatikan Ryan sembari tersenyum sendiri.
"Apa kau tahu Ryan, kenapa aku mau menjadi istri lelaki tua yang baru masuk di ujung saja sudah lemas." Ucap Sela tertawa geli.
"Soal harta ? Atau kebahagiaan ?."
"Kebahagiaan ?." Sela tertawa mendengar kata itu dari Ryan.
"Apa yang lucu kakak ?."
"Tidak, tapi jika kau menganggap kebahagiaan adalah tentang cinta, maka kau harus mencari toilet yang gratis di kota ini."
Ryan bingung..."Apa maksudnya ?."
"Aku memang tidak mau mengakuinya, tapi di zaman sekarang semua adalah tentang seberapa banyak uang yang tersimpan di dalam buku rekening. Semua di ukur oleh materi, Itu kenyataan. tidak ada yang gratis, jadi harta menang tidak menghasilkan kebahagiaan, tapi harta bisa membeli kebahagiaan untuk kita." Jawab Sela jelas.
Ryan paham, dia pun mengakui itu, bagi mereka-mereka yang memiliki harta, menjadi orang kaya, semua bisa mereka lakukan, orang-orang menari-nari di atas telapak tangan, mematuhi segala keinginan, jadi tidak ada yang salah jika Sela menikah dengan pak tua Brahman hanya untuk hartanya saja.
Perihal cinta, itu menjadi urutan ke dua puluh lima, Sela tidak munafik, bahkan dia pun mengakuinya, karena semakin kaya seseorang, semakin mulia pula di mata orang.
"Lantas bagimana dengan Reina ?." Balik Ryan bertanya.
"Aku menjalankan kewajiban ku sebagai ibunya, ibu tiri maksud ku, aku memperhatikan Reina, aku memberi apa yang dia minta, walau pun bagi Reina aku tidak lebih dari orang yang numpang di rumah ayahnya, jika dia tidak mau mengakui ku, itu bukan urusan ku." Santai Sela tersenyum.
Selesai dengan obrolan ringan di dalam kafe, Sela membawa Ryan pergi untuk berbelanja kebutuhan lain, tapi siapa sangka, Sela pun membeli banyak hal kepada Ryan.
Itu semua menjadi harga murah, tentu murah untuk keuangan Sela, Ryan tidak tahu atas dasar apa dia begitu baik kepadanya, sedangkan dirinya bukan siapa-siapa.
Beranjak pulang, Ryan pun diantarkan oleh Sela sampai depan rumah, sepetak tanah dengan bangunan kecil tipe S3, Selonjoran Saja Susah, ya itu membuatnya ingat bagaimana dia pula hidup di tempat seperti Ryan sekarang.
"Nyony.... Maaf kakak, terimakasih, aku tidak tahu bagimana harus membalasnya." Ucap Ryan .
"Baik terimakasih, sekali lagi." Sopan Ryan tersenyum.
"Dan juga ingat, jangan panggil aku nyonya, aku belum setua ibu-ibu berdaster." Tegas Sela berkata.
"Aku mengerti kakak." Ryan tidak bisa membantahnya.
Sela membawa mobilnya keluar dari gang sempit arah rumah Ryan, meski tidak jauh dari perumahan elit yang menjadi kediaman Brahman. Tapi dari dua sisi jalan, terlihat jelas bagaimana dia melihat perbedaan antara rumah orang kaya dan rumah orang miskin.
Cukup sore Sela untuk pulang, semua tampak seperti biasa.
Brahman yang sibuk bermain golf di halaman belakang rumah. Para pembantu yang ngerumpi membicarakan dirinya di dapur. Sopir dan penjaga kebun penuh semangat mengomentari ke cantikan Sela ketika dia lewat di depan mereka.
Itu urusan mereka, Sela tidak perduli bagimana orang lain melihat dirinya, entah sebagai istri muda dari lelaki tua yang menginginkan harta, atau pun seorang wanita beruntung mendapat kekayaan instan karena dinikahi oleh lelaki tua.
"Apa mereka tidak bisa membicarakan hal lain, padahal banyak artis yang memiliki skandal, apa itu artinya aku lebih terkenal." Gumam Sela.
Sela berjalan masuk ke dalam rumah, suasana hatinya cukup senang karena bisa meluangkan waktu untuk mengobrol dengan orang lain, tanpa harus mengurus lelaki tua itu.
Tapi setelah Sela naik ke lantai Dua, Reina berdiri seperti menunggu kedatangan ibu tirinya itu, sikapnya tidak menunjukkan rasa hormat, melihat dengan pandangan sinis dan senyum mengejek.
"Kau sudah pulang Reina, apa hangout mu menyenangkan ?." Tanya Sela.
Reina tertawa sebelum menjawab...."Ya tentu saja, itu lebih menyenangkan dari pada menghabiskan waktu bersama lelaki muda."
"Maksudmu Ryan ?."
"Memang siapa lagi yang bersama denganmu seharian ini."
Sela merasa tertarik ketika melihat bagaimana Reina kesal karena dia tahu jika dia bertemu dengan Ryan secara tidak sengaja.
"Aku hanya bertemu dengan Ryan di toko sepatu, jadi tidak ada yang aneh." Balas Sela santai.
"Pada akhirnya kau lebih menyukai lelaki muda seperti Ryan dari pada ayahku."
"Hmmm dia memang tampan, tapi bukan berarti aku menyukainya."
"Terserah kau mau bicara apa, aku juga tidak perduli jika kau menyukai siapa pun, tapi jangan Ryan." Tegas Reina mengecam Sela.
"Kenapa ?."
"Aku bilang jangan, ya jangan, apa kau tahu itu."
"Apa itu yang pantas untuk diucapkan oleh wanita yang membuangnya di pinggir jalan." Sindir Sela tersenyum penuh makna.
"Itu bukan urusanmu."
Sela dengan perasaan marah berjalan pergi masuk kedalam kamarnya dan membanting pintu. Melihat sikap Reina itu, sela hanya tersenyum, dia seakan tahu apa yang di pikirkan oleh wanita muda tentang cinta semasa kecilnya.
"Ryan, aku merasa kasihan kepadamu, kau harus menghadapi wanita keras kepala seperti dia." Terhembus nafas panjang dengan senyum penuh makna dari Sela.