
Sela Ardistia rela membuang kebahagiaan tentang cinta kepada seorang teman lelaki yang sudah menjadi pacarnya sejak SMA, keduanya berangan-angan tentang pernikahan, membangun keluarga sederhana, memiliki anak-anak imut dan menua bersama.
Tapi kenyataan yang harus Sela terima adalah khayalan itu tidak membuat hutang-hutang di dalam keluarganya lunas begitu saja.
Lahir di keluarga miskin bersama dua adik-adiknya, tentu mengakibatkan orang tuanya selalu berhutang kepada rentenir demi kebutuhan hidup yang tidak bisa di tawar.
Satu persatu harta benda mereka jual demi menutupi bunga hutang yang terus bermekaran di ladang rentenir, hingga pada akhirnya rumah milik keluarga pun harus berpindah alih kepemilikan demi membayar lunas.
Berpindah ke sebuah rumah kontrakan kecil, ayah yang sudah tua dan juga sakit-sakitan, membuat sang ibu berjualan keliling, tapi itu belum cukup, karena biaya sekolah Sela dan adik-adiknya masih harus di bayarkan.
Pahit apa yang Sela harus terima sebagai orang miskin, hingga setelah dia lulus sekolah dan bekerja sebagai SPG toko baju, tidak membuat ekonomi di dalam keluarga menjadi lebih baik.
Namun siapa sangka, di saat kondisi keluarga yang masih berantakan, pacar Sela mengatakan ingin melamarnya. Dan itu mendapat penolakan.
"Aku pun berharap demikian, aku menikah denganmu dan kita membuat keluarga bersama, tapi lihat dirimu, kau tidak lebih dari pegawai bengkel motor kecil, jika aku menikah denganmu, itu sama artinya membuat keluarga ku terjun ke dalam jurang kesengsaraan. Sebaiknya kita akhiri saja, aku tidak ingin menaruh harapan yang tidak pasti." Itu yang Sela katakan untuk menolak lamaran dari pacarnya sendiri.
Sela membuang semua harapan dan impian, rasa sedih tentu ada, karena dia pun sangat mencintai lelaki itu. Tapi air mata tidak bisa membuat perut satu keluarga kenyang, pernikahan dengan lelaki yang sama-sama miskin, hanya menjadi menambah penderitaan di dalam hidupnya.
Dan salah satu cara untuk mengubah takdir di hidup keluarga Sela adalah mencari lelaki kaya raya, meski itu tua bangka dan bau tanah, di situlah dia menemukan Brahman saat menawarkan baju di toko tempatnya bekerja.
Tentu awalnya, Sela hanya menjadi kekasih simpanan Brahman, lebih banyak merayu dan menemani tidur, itu pun menjadi keuntungan, karena mendapat segala hal yang dia inginkan selama hidup sebagai orang miskin.
Tas-tas branded, perhiasan berlian, baju-baju mahal, mobil, dan serta uang untuk kebutuhan hidup keluarganya. Hingga hubungan Sela berlanjut setelah istri Brahman meninggal.
Sela pun tanpa perlu ragu menerima lamaran Brahman, karena itu akan mengubah hidup keluarga miskin yang dia tanggung.
Tidak peduli jika anak-anak Brahman menolak dan membencinya, dia akan terus melakukan akting sebagai istri yang baik, mencintai Brahman sepenuh hati dan mengurus rumah tangga seperti biasa. Selama itu membuat hidup menjadi lebih baik, semua akan dilakukan tanpa perlu ragu.
Dan kini.....
Sela melihat satu orang yang rela membuang semua kebahagiaan atas harta kekayaan milik keluarganya. Dialah Istianti.
Sebagai orang pernah di posisi Isti tentu dia tidak nyaman dan coba memberi nasihat...."Aku benar-benar tidak paham, apa yang kau harapkan dari hidup mu sekarang, kak Isti."
"Maaf, untuk kali ini aku sedikit berbicara keras nyonya... Hidupku adalah pilianku sendiri, kau tidak perlu mengurusi masalahku, nikmati saja kekayaan yang kau harapkan, aku tidak peduli." Balas Isti dikeluarkan nada suara tinggi karena bosan mendengar semua paksaan dari Sela.
Dua wanita dengan dua takdir berbeda. Sela rela mengorbankan apa pun demi kebahagiaan, dan Isti yang rela membuang segalanya untuk kebahagiaan.
"Ya aku mengerti, maaf kak Isti."
Hingga tidak berselang lama setelah pembicaraan itu, satu lelaki berjalan masuk dengan membawa sebungkus nasi di dalam plastik.
"Oh, nyonya Sela, selamat siang." Ucap Ryan sopan.
Sela pun tersenyum...."Ryan kau sudah datang."
Tapi tepat di belakang Ryan ada seorang gadis yang masih menggunakan seragam sekolah mengikutinya. Dia adalah Reina, dimana saat melihat Sela ada di dalam ruangan, wajah cantik itu berubah kusut untuk menunjukkan seberapa enggan Renia bertemu dengan ibu tirinya.
"Dan ... Kau juga ikut ke sini Reina." Malas Sela anak tirinya itu. Meski begitu tetap dia bersikap santai.
"Iya, memang kenapa ?, Apa kau tidak suka." Sengit jawaban Reina kesal.
Sela pun sama tidak senangnya...."Paling tidak jawablah sedikit sopan."
Bosan Sela menanggapi sikap Renia yang selalu saja membuatnya harus bersabar, jika bukan karena posisi sebagai istri dari Brahman, tentu Sela tidak akan mau merepotkan diri mengurus Reina.
Istian yang melihat sikap Reina pun hanya tersenyum lemas, dia tahu seberapa sulit mengurus anak, tapi untungnya Ryan bukan remaja puber dan sering memberontak, sehingga Istian merasa bersyukur.
"Ryan, dimana Nella, apa dia tidak ikut denganmu." Tanya sang ibu kepada Ryan.
"Nella harus pulang, ya dia ada kegiatan lain."
"Oh begitukah... Ambilkan kursi untuk nona Reina."
"Baik ibu."
Satu kursi yang Ryan bawa, tapi Sela segera berdiri karena dia sudah cukup banyak mengobrol dengan Isti, terlebih lagi berada satu ruangan bersama Reina itu tidak membuat Sela nyaman.
Sela pun berdiri dan ingin pergi...."Sekarang giliranku untuk pulang. Kak Isti, beristirahat lah yang cukup, semoga lekas sembuh."
"Terimakasih nyonya."
Ryan mengikuti...."Kalau begitu biar aku antarkan keluar."
Ryan menawarkan diri untuk mengantarkan Sela dengan tujuan lain, tentu ada banyak hal yang ingin dia bicarakan.
"Jadi nona Reina, tolong jaga ibuku sebentar."
"Tunggu...." Belum sempat Reina bicara, Ryan sudah pergi.
'Cih, kenapa juga dia harus menyibukkan diri untuk mengantar wanita itu pergi.' pikir Reina dengan kesal.
Suasana kurang nyaman antara Reina dan Isti sekarang, dimana selama satu bulan Isti bekerja di rumahnya, tidak pernah sekali pun mereka saling bicara.
Itu karena saat Reina kecil, Istianti benar-benar memberi perhatian selayaknya ibu kandung Reina sendiri. Sehingga tidak mudah untuk dia menganggap Isti seperti seorang pembantu.
Bermain bersama Ryan tentu membuat Reina akrab dengan keluarganya, setiap kali dia menangis setelah dimarahi oleh ibu, Reina akan pergi ke rumah Ryan dan mengadu kepada Istianti.
Semua terasa sangat indah saat itu. Ingat bagaimana cara Isti menyisir rambutnya, memasak makanan yang enak atau pun mengajarkan cara membuat bunga dari lipatan kertas.
Istianti perlahan mengusap tangan Reina, sebuah senyum saat menahan rasa sakit di tunjukan dengan lemas.
"Ada apa ibu, apa kau perlu sesuatu." Tanya Reina.
"Tidak bukan apa-apa, hanya saja Nona Reina, harusnya kau lebih sopan kepada Nyonya Sela, dia berusaha menjadi ibu yang baik untuk mu." Isti pun merasa enggan dengan sikap Reina dimana tidak bisa sopan kepada orang yang lebih tua.
"Aku pikir dia hanya berpura-pura menjadi ibu karena menginginkan uang ayahku saja." Cibir Reina karena sadar bahwa Sela tidak benar-benar mencintai dirinya.
"Ya itu tidak salah, tapi dia pun berusaha untuk perhatian kepadamu, jadi cobalah mengerti."
"Aku tidak mau, dia tidak bisa menggantikan posisi ibuku atau ingin membuat ku hormat kepadanya." Jawab Reina.
Dia selalu mengharapkan anak perempuan, tapi sayangnya setelah Ryan lahir, Istianti tidak lagi mendapat kesempatan kedua, sehingga Ryan menjadi satu-satunya anak yang dia miliki.
Tapi kehadiran Reina yang selalu bermain bersama Ryan, tentu sudah dianggap oleh Isti seperti anaknya sendiri. Sekali pun kebencian kepada Brahman sangat besar, Reina tidak berhak menanggung dosa milik sang ayah.