Ice Cream

Ice Cream
Obat asam lambung



Ryan berjalan sendiri tidak ada tujuan atau hal-hal penting, hanya sekedar menikmati sedikit waktu setelah semua kejadian yang dia alami di hari ini.


Masalah dengan kelompok Juna, atau pun dendam yang Ibunya miliki kepada pak Brahman, berusaha untuk tetap berdiri di satu sisi seperti keyakinan ibunya, Ryan tidak bisa menolak, karena dia tidak ingin melihat kesalahan di masa lalu terulang kembali.


Langkah kaki berhenti di halte bus, tatapan mata kosong melihat mobil-mobil berlalu lalang, saling klakson, dan menunggu di lampu lalu lintas berwarna merah menyala. Ada banyak orang asing berjalan lewat dengan sombongnya, masing-masing hanya mengingat hal pribadi tanpa pernah mau mencampuri masalah yang bukan urusan mereka.


Tanpa peduli saat mereka melihat Ryan dengan tatapan aneh, mengingat di wajahnya itu dipenuhi balutan kain kasa dan tertutupi perban. Bagaimana pun mereka menganggap bahwa Ryan adalah korban kecelakaan yang kabur dari rumah sakit karena tidak mampu membayar biaya rawat inap.


Itu cukup wajar, karena memang Ryan tidak ingin mengeluarkan biaya untuk sekedar berobat. Meski pun orang lain akan memvonis jika tidak segera di bawa ke rumah sakit, luka di wajah Ryan bisa saja infeksi dan menjadi berbahaya. Padahal itu hanya luka memar dan lecet yang dengan sedikit ludah saja bisa sembuh.


Duduk di halte bus pinggiran jalan, dimana tepat belakang adalah sungai penuh sampah dan sisa-sisa perabotan tidak layak pakai yang menyumbang gorong-gorong.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini." Suara seorang wanita bertanya kepada Ryan.


Sedikit melihat ke arah suara itu Ryan mengenali wajah yang tampak jelas menunjukkan ekspresi kesal.


Ryan bingung untuk berkata..."Rein.... na."


"Kenapa ? kau melihatku terkejut, apa kau pikir aku setan."


"Dari pada terkejut, ini lebih seperti, aku sedang melihat sesuatu yang aneh."


"Kau menganggap aku aneh huh ?."


"Tidak bukan itu." Pada kenyataannya, sepintas itu memang yang Ryan pikirkan.


Dengan ekspresi wajah yang tidak berubah, Reina mengambil posisi duduk tepat di sebelah Ryan, sesekali melirik dan kembali menghindar saat Ryan menoleh.


"Aku bertanya apa yang kau lakukan di sini." kembali Reina menanyakan hal sebelumnya.


"Ya ... Aku hanya menikmati waktu dengan melihat pemandangan sungai yang indah di malam hari."


Tapi dari sudut pandang Reina dia tidak mengerti jawaban Ryan...."Yang aku lihat hanya sekumpulan sampah, bukan sesuatu yang bisa dianggap indah."


"Aku pun tahu, tapi aku memang sedang melakukannya."


"Kurang kerjaan sekali."


"Jika ada yang bisa aku kerjakan, aku tidak adakan duduk santai tanpa alasan seperti sekarang."


Sesekali Ryan melihat Reina, tapi dia menolak ketika tatapan mata mereka saling bertemu.


"Ada apa Rein."


"Tidak bukan apa-apa." Jawab Reina, tapi di sisi lain dia memperhatikan kondisi wajah Ryan yang di penuhi perban karena tindakan dari Juna.


"Bagaimana dengan lukamu itu Ryan ?, Apa kau sudah ke dokter."


"Ini baik-baik saja dan tidak perlu ke dokter hanya untuk obat pereda nyeri, salep oles Anti radang dan obat asam lambung."


"Kenapa dengan obat asam lambung ?."


"Ya kau harusnya tahu kenapa."


"Kau tidak memiliki uang." Itu yang terpikirkan oleh Reina.


"Itu juga salah satu alasannya, tapi kenapa kau bertanya ?."


"Hanya sedikit khawatir, karena aku merasa bersalah."


Ryan menatap datar...."Apa kau sedang membuat lelucon ?."


Reina bingung..."Kenapa juga aku melakukannya."


"Pantas saja aku tidak tertawa mendengar kau khawatir, hanya saja, untuk seseorang yang merasa khawatir, aku tidak ingin mendengar kau memintaku minum Etanol lagi." Jawab Ryan tersenyum pahit.


"Aku tidak akan melakukannya, aku baru tahu jika Etanol hanya untuk kulit luar saja."


Seketika suasana menjadi hening, tentunya untuk Ryan dan Reina, sedangkan para pengendara motor masih saja saling kelakson, soal kaca spion yang bersenggolan.


Ryan tidak menyukai atmosfer yang dirasakan dari kehadiran Reina, dia memilih pergi keluar rumah untuk mencari udara segar, tapi yang di dapatkan adalah tekanan batin karena tidak tahu harus bertemu Reina.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang Ryan ?."


"Soal apa ?."


"Sekolah mu dan Juna."


Sepintas Ryan tersenyum dan tertawa, dianggap oleh Reina ada yang salah dari pertanyaannya, tentu tidak, atau pun Ryan sudah gila setelah mendapat benturan di kepala, itu pun tidak juga.


"Itu bukan masalah besar, aku sudah diberikan beasiswa untuk bersekolah oleh ayahmu, tentu aku tidak bisa keluar begitu saja, dan lagi, hanya karena Juna, tidak membuatku takut sama sekali. Jangan menganggap ini adalah sesuatu yang berat, aku sudah terbiasa mendapatkan kejadian seperti sekarang."


"Tapi Juna hanya akan membuatmu dalam masalah."


"Lupakan itu, aku bisa mengatasinya, kau tidak perlu merasa khawatir."


Tiba-tiba saja wajah Reina merah karena ucapan Ryan.... "Siapa yang mengkhawatirkan mu, aku hanya..."


"Hanya apa ?."


"Hanya merasa tidak nyaman jika kau harus terlibat dalam masalah." Jawab Reina dengan suara lirih.


"Ya walaupun sebagian besar masalah ini karena mu." Balas Ryan dengan sedikit tertawa.


Ryan beranjak dari tempatnya duduk, dia melangkah pergi tanpa alasan apa pun kepada Reina.


"Kemana kau."


"Aku ingin mencari minum, semua pembicaraan ini membuatku haus."


"Baiklah...."


Waktu memang menjadi misteri untuk manusia, semua bisa berubah oleh keadaan, begitu juga Ryan. Reina tahu tentang kehidupan Ryan yang harus menerima segala perlakuan dari Juna, dirinya tidak bisa menolak, hanya berusaha agar tetap bersekolah seperti keinginan sang ibu.


Terhembus nafas berat dari mulut Reina, apa yang dia pikirkan hanya tentang Ryan, karena tidak dia pungkiri, meski banyak hal berubah, Ryan tetap memiliki tempat khusus dalam kenangannya.


"Apa yang harus aku lakukan...." Gumam Reina pelan.


Suasana malam di kota kecil ini, sama seperti tempat-tempat lain, orang-orang memiliki tujuan untuk menikmati waktu dalam kehidupan. Termasuk kehadiran tiga lelaki yang berjalan sempoyongan dengan menggenggam botol di tangan.


Langkah kaki berhenti ketika melihat Reina yang duduk sendirian di halte bus, siapa bisa menolak pemandangan indah seorang wanita dengan celana mini untuk memamerkan paha putih mulus tanpa cacat itu. Termasuk juga kecantikan Reina yang bisa membuat lelaki mana pun terpesona.


"Kenapa kalian melihatku." Ucap Reina dengan nada keras.


Reina tahu apa yang ketiga lelaki itu bisikkan, di saat mengarahkan pandangan tepat kepadanya, sorot mata seperti kambing ingin berkembang biak, jelas membuat Reina tidak nyaman.


"Hei nona, bukankah kau terlalu kasar, orang-orang tidak akan membayar mu jika kau tidak bisa merayu dengan benar." Balas mereka tersinggung.


Reina merasa terhina untuk ucapan mereka...."Jangan sembarangan bicara, apa kau pikir aku Pela*cur."


"Lantas apa, Jam malam seperti ini, tidak ada wanita dengan pakaian terbuka, duduk di pinggiran jalan, kalau bukan berjualan harga diri lantas apa yang kau lakukan, mancing ?." Kata satu orang itu dengan tawa terbahak-bahak.


"Jika kau berani bicara, kau akan tahu akibatnya." Ancam Reina.


Seakan tertarik untuk sikap Reina, satu orang mendekat dan duduk di sebelahnya...."Oh, oh, oh, aku penasaran apa yang bisa kau lakukan dengan kami."


"Kau...." Reina marah, tapi melihat dua orang lain sudah berdiri mengelilingi, dia tahu bahwa ini tidak menjadi hal baik.


Hanya berharap jika Ryan segera datang untuk menyingkirkan ketiga lelaki yang memiliki niat busuk kepadanya.


Sedangkan di sisi lain, Ryan sudah melihat Reina dalam masalah, tapi ada senyum yang terlintas di wajah Ryan saat menyaksikan bagaimana ketiga lelaki itu menarik paksa Reina untuk mereka bawa.