Ice Cream

Ice Cream
Teman lama



Di ruang kelas itu.


Ryan berdiri di sebelah meja guru, mengarahkan pandangan ke setiap murid untuk sebuah perkenalan, dia bisa merasakan puluhan pasang mata menatapnya dengan bermacam ekspresi, semua seakan berkata di dalam hati mereka.


"Siapa lah anak udik satu ini."


"Gak tahu malu, kalo mau minta sumbangan jangan di mari."


"Nih lima ribu, cepat ambil dan Lo pulang sana, pergi jauh-jauh."


"Mukanya ngeselin kaya tukang parkir pasar, di kasih seribu malah minta dua ribu."


"Btw istirahat lama amat yah."


"Perut Gw mules."


Memang mereka tidak bersuara, tapi dari wajah orang-orang itu, Ryan sudah bisa membaca setiap pikirkan yang jelas merasa tidak suka untuk kehadirannya.


Para siswa-siswi yang berasal dari orang kaya, tentu tidak menganggap penting sebuah perkenalan dari orang seperti Ryan.


Tapi itu semua bukan masalah, Apa bisa yang Ryan harapkan dari keadaannya saat ini, mencoba hidup sebagai murid biasa. Bertemu, saling sapa dan lupakan. Seperti biasa, sok akrab, sok kenal, minjam uang dan dilupakan, memang itu yang biasanya terjadi.


Dia hanya ingin menjalani hidup sekolah tanpa masalah, santai dan menjadi murid biasa saja. Tapi semua seakan tidak berpihak kepada dirinya, dan Ryan harus mengikuti alur kehidupan di sekolah ini.


Tanpa mampu Ryan menolak, dia harus terbiasa menikmati cara mereka hidup, karena saat dirinya melawan masyarakat, dia akan disingkirkan. Karena seperti itulah sistem yang berlaku bagi kehidupan manusia.


"Baiklah, silakan perkenalan diri." Ucap guru yang tampak biasa saja menanggapi kepindahan Ryan.


"Aku Mahesa Ryan, salam kenal."


"Sudah ?."


"Ya pak."


'Memang mau apa lagi, Gw yakin baru di sebutin nama aja mereka udah lupa.' itu yang Ryan pikirkan.


Dia tidak perlu repot-repot menerangkan tentang alamat, hobi, tinggi badan, berat badan, ukuran sepatu, dan lain sebagainya, karena memang itu semua bukan hal penting untuk orang-orang di kelas ini ingat.


"Ya... Kau duduk di samping Narmo."


'Narmo ?, Kaya Gw kenal ?."


Nyatanya dari depan kelas itu, Ryan sudah melihat satu orang yang melambai-lambaikan tangan, lelaki berwajah bodoh, senyum polos dan Ryan tahu kalau dialah Narmo.


Ryan berjalan menuju bangkunya dengan orang-orang yang tertawa, ketika memperhatikan Narmo begitu ceria untuk satu kehadiran murid baru.


Para gadis berkomentar....


"Dia tampan tapi lihat bajunya lusuh gitu, kaya orang gak keurus."


"Percuma good looking, tapi miskin."


"Gak masalah kali yang penting enak di lihat."


Sedangkan para lelaki pun berkomentar lain...


"Satu orang lagi datang menjadi badut di kelas ini."


"Mungkin dia satu spesies dengan Narmo."


"Kalo nambah satu lagi, buat grup lawak aja."


Meski suara itu terdengar jelas di telinga, Ryan mencoba untuk tidak perduli, karena bagiamana pun juga, dia harus bisa bersabar. Entah seperti apa pandangan orang lain kepadanya, Ryan tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama.


Tidak jauh dari bangku Ryan, satu orang dengan tatapan mata tajam dan jelas ada perasaan tidak suka kepada Ryan.


Lelaki itu, Juna berada di kelas yang sama dengan Ryan, dia menunjukan diri sebagai murid terpandang. Walau di lihat dari sudut mana pun, tentang gaya berpakaian, sopan santun dan kepintaran, tidak lebih dari omong kosong.


Dia adalah anak dari pemilik sekolah Donahue, seorang pengusaha dalam bidang pendidikan, karena itu tidak ada yang berani berkomentar dengan sikapnya di kelas.


"Prab, dia itu cowok yang bareng sama ibu tirinya Rein di kafe." ucap Jun kepada satu teman di sebelahnya.


"Gw pengin tahu, apa hubungan cowok itu dengan Rein."


"Apa kita hajar aja dia."


"Ide bagus, dan ajak Rein biar dia bisa tahu."


"Entar Gw panggil anak-anak, biar seret dia ke toilet."


Kembali ke Ryan....


Setelah satu pelajaran telah berakhir....


Lelaki bernama Narmo begitu aneh ketika Ryan perhatikan, dia tersenyum lebar seakan hidupnya tanpa dosa, tidak perduli bagimana orang melihat, tapi dia seperti tidak berpura-pura.


Bahkan bisa di pastikan lelaki model Narmo dengan wajah plonga-plongo, hanya menjadi bahan ejekan teman satu kelas, jika memang dianggapnya sebagai teman.


Ini jelas membuat Ryan kurang nyaman.... "Kenapa kau senyum-senyum begitu."


"Apa salahnya aku merasa senang melihat teman lama."


"Teman lama ?." Ryan bingung.


"Jangan bilang kau lupa denganku."


"Aku tidak memiliki teman lama seperti.... Tunggu biar aku ingat."


Sedikit Ryan berpikir, itu adalah tentang nama Narmo, di kehidupan masa kecil Ryan terlintas ingatan tentang seorang bocah yang tersenyum-senyum sendiri dengan ingus naik turun.


Kini giliran Ryan yang tersenyum sendiri karena mengingat seorang anak lelaki, sedangkan saat itu, Ryan adalah murid kelas 6 dan si bocah itu satu tingkat di bawahnya.


Jika memang menjadi sebuah kebetulan, harunya antara Ryan dan si bocah berada di satu tingkat yang sama, tapi siapa sangka bahwa dia berada di kelas yang sama pula.


"Jangan bilang kau Narmo Sujatmiko."


"Kau mengingatku Ryan." Jawab Narmo tersenyum lebar.


Tapi siapa sangka bocah yang dia kenal plonga-plongo, kini tumbuh besar dengan tinggi badan 187 cm. Walau pun ekspresi di wajah Narmo seakan tidak berubah, seperti bocah kelas 5 SD tanpa pernah tahu apa itu Alogaritma.


Orang lain yang melihat Ryan dan Narmo berbicara dengan akrab tentu menjadi lelucon untuk mereka semua tertawakan...


"Lihat itu, ketika otak mereka minus, bertemu minus, maka hasilnya plus."


"Seperti orang bodoh, bertemu orang bodoh, maka mereka berdua saling nyambung, meski tetap menjadi orang bodoh."


"Aku tahu, ini yang di katakan kalau orang bodoh hanya bisa di mengerti oleh orang bodoh lainnya."


Selagi semua orang sibuk untuk membicarakan Ryan dan Narmo, pintu kelas terbuka keras, seorang wanita berrambut pendek sedikit pirang, datang dengan cara kasar.


Tidak ada satu orang pun berani bersuara, karena bisa di lihat ada ekspresi permusuhan dari wanita itu kepada mereka-mereka yang tertawa.


"Cih."


"Kak Nela." Ucap Narmo lirih memanggil wanita itu.


"Narmo, mau sampai kapan Lo pasrah menjadi ejekan mereka."


"Tapi kak....."


"Badan doang lo udah gede, masih penakut aja, hajar aja mereka."


Antara Narmo dan Nela mereka berdua adalah sepupu, itulah sebabnya Ryan bisa mengenal Narmo di waktu kecil. Meski tidak benar-benar dekat seperti dia dan Nela, tapi cukup untuk menganggap Narmo sebagai temannya.


"Ini di sekolah kenapa Lo bersikap kasar begitu Nela." Ucap Ryan dengan tersenyum.


Secara sadar Nela mendengar suara Ryan yang sedang membicarakan dirinya, ini cukup mengejutkan, dia tidak tahu kalau Ryan dan Narmo kini satu kelas.


"Ryan kenapa Lo di kelas ini."


"Bukankah semalam sudah Gw katakan kalo Gw tinggal kelas karena kejadian itu, jadi.... Beginilah." Jawab saja Ryan seperti apa adanya.