Ice Cream

Ice Cream
Salah makan



Duduk Ryan di atas bangku dengan tatapan fokus ke depan kelas, seorang guru wanita cantik berusia 24 tahun yang cukup terkenal dengan usianya masih muda, tentu menjadi perhatian bagi banyak orang.


Terlebih lagi, sekolah Nawasena adalah salah satu sekolah bergengsi dengan guru-guru pengajar berpengalaman dan memiliki status pendidikan cukup tinggi.


Sehingga bisa dipastikan, dari sekian banyak bapak atau ibu guru yang ada di sekolah Nawasena, mereka adalah orang-orang tua, sedangkan guru-guru dibawah 30 tahun bisa di hitung dengan jari, satu tangan pula.


Gea Vilova Silvi, atau biasa dipanggil dengan Bu Gea... Seorang guru dari latar belakang pendidikan teknologi sains lulusan Stanford university kini mengajar di jurusan IPA.


Usia yang terbilang muda, 24 tahun dan mampu lulus dari Stanford university dengan beasiswa pendidikan oleh yayasan Nawasena, tentu menjadi kebanggaan besar, karena sejak awal Gea bukanlah anak orang kaya untuk mendapat biaya bersekolah dan melanjutkan kuliah hingga sarjana.


Oleh sebab itu. Setelah lulus dari kuliahnya di Stanford university, Gea memutuskan untuk mengabdikan diri di sekolah Nawasena sebagai bentuk balas budi.


Kenapa Ryan bisa tahu soal layar belakang Gea, tentu saja karena dia juga menjadi tetangga satu kompleks di dekat rumahnya.


Namun perbandingan usia yang cukup jauh, Ryan tidak bisa dikatakan mengenal akrab sosok Gea, dimana beasiswa sekolah di luar negeri itulah, orang-orang di sekitarnya membuat nama Gea menjadi terkenal.


Saat ini, Gea sedang memberi penjelasan tentang bagaimana perkembangan teknologi yang digunakan untuk kepentingan sains salah satunya adalah astronomi.


Hingga, tanda jam pulang sekolah sudah berbunyi, suara nyanyian lagu Tanah airku berkumandang lewat speaker tepat pukul 14.30.


"Jadi cukup untuk hari ini, selamat siang semuanya dan hati-hati di jalan."


"Baik Bu." Saut semua siswa di kelas.


Semua murid bersiap dan berhamburan keluar kelas. Termasuk juga untuk Ryan, dia tidak ingin berlama-lama di dalam sekolah, bahkan setelah jam pelajaran berakhir, dia ingin pulang. Hanya saja, karena tugasnya menjaga Reina, tentu membuat mereka harus pulang bersama-sama.


Seketika itu, Ryan merasa jika Ibu guru Gea sedang memperhatikannya dari meja sebelum keluar kelas.


"Ryan, apa bisa kita bicara sebelum kau pulang." Tanya Bu Gea.


"Tentu saja Bu." Balas Ryan patuh.


Meski pun dikatakan bahwa dia memiliki tugas untuk pulang dengan Renia, tapi sebagai kewajiban murid sekolah, Ryan pun tidak bisa menolak panggilan seorang guru.


Ryan segera mengirim pesan kepada Reina agar pulang terlebih dahulu dan dia harus mengikuti kemana Ibu Gea membawanya ke ruang BK.


Seakan paham kenapa dia dibawa masuk ke tempat murid-murid bermasalah mendapat hukuman, ini tentu berkaitan soal keributan yang terjadi oleh kelompok Juna dan Ryan ikut terlibat, meski pun sebagai korban.


"Ibu mendengar jika kau memulai keributan dengan Juna dan teman-temannya." Tanya Gea.


"Apa menurut ibu begitu ?."


"Itulah sebabnya ibu memanggil mu untuk bertanya tentang masalah yang terjadi kemarin."


Ryan menghembuskan nafas berat, dia sudah tahu jika masalah yang di timbulkan oleh Juna akan terdengar ke telinga guru, namun kejadiannya akan berakhir sama saja.


Setiap orang tidak ingin terlibat di dalam masalah, kalau harus berurusan dengan anak pemilik yayasan Nawasena penuh kesombongan, satu-satunya pilihan adalah melempar semua kesalahan kepada orang yang pantas.


"Untuk seorang siswa baru yang satu hari masuk sekolah, tidak kenal siapa pun, ya kecuali Reina, Nela dan Narmo.., bahkan aku berada di tanggung jawab orang lain, apa terpikir aku akan berbuat nekad hingga mungkin di keluarkan." Jawab Ryan dengan santai.


Namun Gea merasa tidak senang untuk jawaban Ryan..."Meski pun kau membela diri, tapi dari beberapa orang mengatakan kalau kau yang memulai keributan."


"Apa jika aku berkata 'Tidak' maka semua akan berakhir damai ?."


"Tapi...." Gea bingung.


Ryan cukup sengit dengan wajah tersenyum pahit...."Itu, Itu dia, kata 'Tapi' itu artinya ibu hanya percaya dari apa yang orang lain katakan, sedangkan orang lain seperti mereka tentu tidak mau mendapat masalah dengan mengadukan Juna."


"Ok, ok, sekarang misal ibu percaya jika kau tidak bersalah, lantas apa buktinya ?." Kini Gea menunggu bagaimana Ryan akan menjawab.


"Bukti ?, Apa semua luka dengan perban ini bukan bukti ?, Ibu guru ?... Sedangkan Juna dan teman-temannya masih sehat walafiat, jika ini sebuah film, hanya pahlawan pembela kebenaran saja yang berani berkelahi dengan banyak orang sendirian."


Gea paham dan bisa mencerna jawaban itu Ryan dengan imajinasinya. Tapi pada apa yang bisa dia lakukan kepada Juna, sedangkan Juna adalah anak dari pemilik yayasan Nawasena.


"Baiklah, ibu tidak akan memperpanjang masalah ini, kau bisa pulang."


"Terimakasih ibu." Dengan sopan Ryan berpamitan.


"Tapi ingat, sebisa mungkin kau menghindar dari masalah yang berkaitan dengan Juna." Gea memberi nasihat.


"Jika boleh memilih, aku pun ingin melakukannya, tapi terkadang masalah datang tanpa bisa kita menolak."


Ryan beranjak keluar dari ruang BK, tapi tepat di luar, dia bisa melihat seorang lelaki berwajah bodoh berdiri diam dengan tas di punggungnya.


"Oh, Narmo apa yang kau lakukan disini, apa kau ingin berkunjung ke Ruang BK ?."


"Aku sedang menunggu mu." Jawabnya kebingungan seperti gelisah.


Tidak ada alasan Ryan bertanya, tapi melihat sikap kebingungan Narmo dia pun merasa aneh, karena bagaimana pun mereka berdua saling kenal sebagai teman sejak kecil.


"Narmo, apa kau salah makan ?." Bertanya Ryan.


"Aku bahkan belum makan apa pun siang ini." Jawab Narmo.


"Ekspresi kau itu seperti orang nahan buang hajat tiga hari."


"Aku cukup lancar setiap pagi, tapi kadang aku bangun terlambat dan itu masih lancar, tapi.... Ya apa yang kau lakukan setelah ini."


"Pulang ?, memang mau apa lagi." Jawab Ryan.


"Gimana kalau kita pergi main."


"Aku sedang malas, banyak hal terjadi dan juga tugas sekolah, aku rasa ingin istirahat saja di rumah untuk sekarang."


"Ayolah." Narmo memohon dengan ekspresi aneh.


Untuk beberapa alasan dia terlihat begitu gugup, ragu-ragu atau juga ketakutan. Tentu bukan hal aneh mengajak seorang teman bermain. Tapi tidak seperti dirinya yang biasa blak-blakkan dalam bicara kepada teman.


Merasa Narmo memang ingin bermain, Ryan pun mengalah..."Ok, baiklah, kemana kita pergi ?."


"Tidak maaf, tidak jadi saja." Seketika Narmo berubah pikiran.


Ryan melihat Narmo dengan serius... "Kenapa sikapmu aneh Narmo ?, Ya walau setiap hari memang aneh, tapi sekarang kau seperti orang plin-plan, itu juga wajar untukmu.... Hanya saja, Apa kau yakin gak salah makan ?."


"Tentu saja tidak, aku selalu makan dengan makanan sehat dan bergizi."


"Meski pun itu sia-sia ?. Sudahlah lupakan soal makan, ayo kita pergi."


"Tapi Ryan...." Sekali lagi, Narmo menolak apa yang dia rencanakan oleh dirinya sendiri.


"Apa kau mendapat masalah ?, Katakan ada apa ?."


Ryan memaksa, dan Narmo tidak bisa menyembunyikan itu, dia pun bercerita untuk apa mengajak Ryan pergi bermain.