
Sela Ardistia, ibu tiri dari Reina Ardilla, seorang wanita muda yang di nikahi oleh Brahman beberapa tahun lalu.
Tentu sebagian besar orang berpikir, kenapa wanita muda, cantik, seksi, aduhai, bahenol, demplon dan semok itu menikah dengan orang tua berperut buncit seperti kena azab makan uang haram.
Alasannya ada tiga, harta, status dan kebahagiaan.
Dan semua itu bisa dia dapatkan dengan menikahi Brahman. Sela paham isi pikiran semua orang, mereka menganggap bahwa tujuan Sela hanya menginginkan harta.
Dia mengakui itu, bagi dirinya, untuk apa menikah dengan lelaki tua, padahal banyak lelaki tampan di luar sana akan rela berkorban cinta demi mendapatkan Sela.
Tapi sayang, sebuah cinta tidak bisa membuat Sela bahagia, kecuali jika mereka mau menjual dua ginjalnya untuk kebahagiaan Sela, menjalani kehidupan yang dimana sekarang semua memiliki nominal harga di dalam barcode.
"Maaf sayang, kita hidup tidak hanya dengan cinta, tapi juga beras, baju, emas, rumah, motor, mobil, pulsa, kuota, paket data, WiFi, sepatu, tas kulit buaya, piknik, ke luar negeri atau pun dalam negeri, make up, lipstik, bedak, deodorant, skin care, dan banyak lagi. Jadi mari kita berpikir rasional."
Bukan sela tidak tahu diri, bukan pula dia tidak mau memberi kesempatan, karena hidup yang dia miliki adalah untuk mencari kebahagiaan, sedangkan cinta tidak bisa membuat keinginannya itu menjadi nyata.
Karena itulah, saat Sela bertemu Brahman di sebuah diskotik, dia pun secara tidak langsung menerima tawaran lelaki tua itu secara terpaksa.
Meski begitu... jalan inilah satu-satunya yang bisa melepas Sela dari semua kesengsaraan hidup, dia tidak perduli dengan ocehan para tetangga, ketika dia dianggap sebagai wanita murahan demi uang.
Dan sekarang ......
Terhembus nafas berat dari mulut sela, itu seperti semua beban pikiran tertumpuk di dalam kepalanya hanya karena satu orang, dia adalah Reina.
"Jadi kenapa kau ada di toko sepatu."
"Pastinya tidak sedang membeli rujak nyonya."
"Ya itu memang benar, maaf... aku salah bertanya."
"Oh tidak aku sangka, orang kaya juga bisa minta maaf."
"Orang kaya atau orang miskin mereka sama-sama manusia, jika salah akui salah dan meminta maaf, itu hal wajar."
"Paling tidak, bukan itu yang aku terima selama ini."
Sekilas pandangan sela mengarah kebawah, lebih tepatnya dia melihat sepasang sepatu kusam, dengan beberapa lubang dan tali sol yang sudah bosan terikat.
Atau pun kemeja lusuh yang harusnya berwarna merah tua, karena terlalu lama dia pakai kini menjadi merah muda.
Semua yang Ryan kenakan, sangat tidak sesuai untuk wajah tampan namun terlihat mengenaskan itu.
"Siapa namamu ?."
"Ryan."
"Jadi Ryan, Apa kau sudah makan ?."
"Ya jika di lihat dari pagi, aku sudah makan."
"Kalau begitu ini sudah siang dan kau belum makan kan ?."
"Ya aku tidak bisa membantahnya."
"Ikut aku."
Tanpa perlu Ryan membantah perkataan Sela, karena jelas dia tidak memiliki niat jahat atau tujuan yang membuat dirinya susah dengan segala masalah lain.
Setiap orang yang melihat Ryan berjalan dengan Sela, tentu akan menganggap bahwa dia seorang berondong bermain-main bersama wanita dewasa.
Hal ini tidaklah aneh, karena banyak tante-tante kaya yang mencari hubungan dengan lelaki muda untuk sebuah kepuasan hidup.
Tapi Ryan tidak berpikir demikian kepada sela, walau ada rasa kasihan untuk menikah dengan lelaki tua, wanita ini memang berbeda dari orang kaya seperti pada umumnya.
"Nyonya kita mau kemana."
"Jangan panggil aku nyonya, aku belum setua itu."
"Kalau begitu bagimana aku memanggil anda."
"Panggil aku kakak."
"Baiklah."
Tidak pernah sekali pun Ryan berpikir dia akan berada di tempat seperti ini, dengan seorang wanita cantik berpenampilan yang menarik banyak perhatian orang-orang sekitar.
Duduk di bangku pojok ruangan yang dekat dengan jendela, seorang pelayan cafe datang membawa buku kecil penuh gambar makanan.
Ryan menelan ludah, bukan karena ingin menikmati makan itu, tapi Ryan melihat harga yang tercantum di bawah gambar.
'harga kopi hitam saja, bisa buat aku makan nasi Padang lima hari.'
"Ryan apa kau sudah memilih ?." Tanya Sela.
"Aku tidak tahu."
Itu membuatnya bingung..."Kenapa ?."
"Aku tidak tahu apa disini terima bayar dengan mencuci piring." Jawab Ryan tersenyum lemas.
"Apa yang kau pikirkan."
"Nyonya ini..."
"Jangan panggil aku dengan nyonya." Balas Sela tegas.
Ryan meralatnya kembali...."Kakak, ini terlalu mahal, aku tidak...."
"Pilih saja, biar kakakmu ini yang bayar."
"Kalau begitu aku....." Ryan tetaplah bingung, karena dia tahu bagi dirinya makan sesuatu yang mahal akan ada rasa bersalah.
Tapi karena menunggu Ryan lama mencari menu yang dia akan pesan, cepat tangan Sela mengambil buku menu dari Ryan.
"Kami berdua pesan chicken soup with yellow coconut sauce."
Itu memang terdengar menyenangkan untuk diucapkan oleh Sela dengan bahasa Inggris lancar tanpa ada satu kata yang salah.
Seperti perkataan dari orang-orang, jika ingin pintar berbicara Inggris, maka banyak-banyak makan roti biar mirip orang luar negeri.
Meski pun tidak semua orang luar makan roti, tapi itu seperti sebuah filosofi yang bermakna, jika ingin memahami orang lain maka kita harus memahami pula kebiasaan mereka.
Sembari menunggu pesanan, dirasakan tidak nyaman oleh Ryan, ketika dia tahu bahwa Sela sedang memperhatikannya tanpa tahu makna di balik cara wanita itu melihat.
"Ryan kenapa kau pindah ke kota ini." sebuah pertanyaan yang di katakan Sela.
"Itu bukan sesuatu yang menyenangkan untuk aku bicarakan kakak."
"Apa itu membuatmu takut ?."
"Takut ?, Tentu tidak, tapi lebih seperti sebuah penyesalan yang benar-benar tidak ingin aku ingat lagi." Jawab Ryan.
"Ceritakan saja."
"Kalau begitu.... Apa kakak pernah melakukan sesuatu yang benar tapi di salahkan oleh semua orang."
"Hmmm ya aku pernah."
Mata Ryan terbuka lebar, karena dia sadar bahwa sekarang sedang bicara dengan sosok yang tepat.
"Begitulah kejadiannya, aku mencoba membela orang lain, tapi karena kami orang miskin seakan tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan tidak ada satu orang pun yang mau membela, mereka semua menginjak-injak harga diri aku dan ibuku, aku seperti menjadi bahan lelucon yang tidak lucu sama sekali." Ungkap Ryan dengan senyum mengejek kepada dirinya sendiri.
"Aku yakin kau sangat marah."
"Ya pada akhirnya aku di keluarkan karena memukul orang yang menyalahkan ku itu."
Ryan cukup senang mendengar satu orang bisa memahami kemarahan yang dia rasakan dengan semua kejadian itu. Meski pada akhirnya sosok yang memahami dirinya adalah orang kaya dan baru dia kenal pagi tadi.
"Apa kau puas dengan memukulnya."
"Tidak, aku ingin lebih, membuatnya terhina lebih dari apa yang dia lakukan kepadaku." Jawab Ryan serius.
"Kalau begitu kau, berusahalah untuk melakukannya."
Tapi ini sudah cukup, meski hanya satu orang selain ibunya yang percaya bahwa dia tidak salah, seperti menjadi obat akan penyesalan di hatinya.