Ice Cream

Ice Cream
Rayuan



Beranjak keluar dengan mobil untuk sekedar membuang kebosanan di rumah, tanpa sengaja Sela mendapati Ryan yang berjalan sendiri di pinggiran jalan.


Bisa di katakan, Sela cukup menyukai Ryan, terlepas dari penampilan terlihat seperti orang udik karena pakaian yang lusuh dan juga kusam. Tapi wajah dan sikap Ryan benar-benar memiliki aura berbeda, bahkan jika saja mendapat perawatan kecantikan, itu akan mengubahnya menjadi sosok seperti aktor tampan.


Sebagai seorang wanita yang saat ini menjadi istri dari pria tua, tentu Sela masih berpikir menggoda lelaki lebih muda, dan Ryan bisa dikatakan membuatnya tertarik.


Sela mendekatkan mobilnya dan bergerak perlahan tepat di sebelah Ryan.


Kaca mobil terbuka dan sosok Sela memanggil...."Ryan, apa kau perlu tumpangan."


"Nyonya Sela, itu tidak perlu, karena rumahku sudah dekat." Ryan tersenyum sopan menolaknya.


"Sudahlah, aku ingin kau ikut denganku."


"Tapi...."


Sela memaksa...."Jangan merasa enggan begitu, aku tidak memiliki niat jahat atau menculik mu, hanya sekedar berjalan-jalan, apa itu merepotkan ?."


"Tidak juga, aku hanya merasa tidak nyaman jika harus mengotori mobil anda." Ryan mencari alasan.


"Lupakan itu, tidak ada yang kotor hanya sekedar duduk, cepatlah masuk." Sela tidak membiarkan Ryan pergi.


Di buka pintu samping untuknya naik, Ryan tidak punya pilihan lain, bagaimana pun sela adalah istri dari pak Brahman, jika dia menolak apa yang Sela inginkan, bisa saja menjadi masalah untuk ibunya di rumah.


Ini bukan kali pertama Ryan menemani Sela pergi keluar, ketika pertemuan pertama, ibu tiri dari Reina dan istri pak Brahman memberikan beberapa barang kepada Ryan dan tidak ada niat buruk dari tujuannya.


Meski begitu Ryan harus menjaga jarak, karena ibunya tidak ingin mereka terlalu terikat kepada keluarga Brahman, apa lagi jika mereka banyak berhutang budi.


Hanya duduk diam dan sesekali melihat ke kanan, sosok sela yang jelas memiliki usia terbilang muda, hanya selisih 6 tahun dari Ryan masih menunjukan pesona, tentu tidak akan ada yang menyangka jika sela sudah memiliki suami, sudah tua pula.


Di tambah lagi dengan pakaian minimalis, paha mulus terlihat jelas 30 centimeter di atas lutut, atau baju kurang bahan tanpa sedikitpun menutupi pusar di perutnya yang langsing.


Ryan memang terbiasa melihat penampilan terbuka dari banyak wanita di kota Jakarta, tapi untuk pertama kali dia duduk bersebelahan hingga tercium aroma parfum di hidungnya.


"Kenapa kau diam Ryan ?." Tanya Sela.


"Tidak bukan apa-apa nyonya."


"Sudah aku katakan untuk tidak memanggil ku dengan nyonya, aku merasa sangat tua saat kau menyebutnya."


"Maaf, Kakak."


"Itu lebih baik." Sela melirik ke wajah serius Ryan yang mencoba fokus ke depan.


Seakan tahu kenapa sikap Ryan begitu kaku, sela tersenyum sendiri dan tertawa kecil... "Apa kau tidak nyaman jika duduk di sebelahku Ryan."


"Jika kakak menggunakan pakaian sedikit lebih tertutup, aku tentu merasa nyaman."


Sela tertawa kecil...


"Kau sangat lucu, apa seaneh itu melihat wanita berpakaian seperti ku."


"Tidak aneh, tapi aku jelas tidak terbiasa." Balas Ryan.


"Aku yakin kau tidak pernah memiliki pacar."


"Jangan salah kakak, soal pacar aku sudah pernah memilikinya."


"Sudah pernah, jadi sekarang tidak."


"Seperti itulah." Ryan tidak bisa mengelak.


Tapi perhatian Sela tertuju ke luka di pipi Ryan, itu terlihat baru, merah dan ada lecet yang masih menyisakan darah. Dia ingat bahwa Isti mengatakan ada masalah antara Ryan dan anak-anak orang kaya di sekolah, tentu lebam di wajah itu adalah buktinya.


"Apa kau berkelahi lagi."


"Apa boleh aku merasa keberatan ?, Karena aku tidak berkelahi, hanya sekedar membela diri."


"Tapi jika kau terus melakukannya, reputasi mu di sekolah akan di anggap sebagai berandalan."


"Itu terdengar sulit, dimana aku sebagai korban mendapat hukuman yang sama sebagai pelaku, sungguh tidak adil." Jawaban Ryan jelas menolak anggapan Sela.


Tiba-tiba saja Sela menepikan mobil di bahu jalan, mengambil tas yang dia taruh di sebelah kursi, menarik satu tisu dan secara langsung menyeka sisa darah di pipi Ryan.


"Maaf kakak, jika terlalu dekat aku tidak tahu harus berbuat apa."


Tapi seakan Sela sengaja untuk melekatkan diri kepada Ryan, sentuhan kulit putih lembut itu jelas membuat suasana terasa aneh.


Wajah yang saling menatap dan siapa sangka Sela semakin berani, bergerak mendekat agar bibir mereka saling bersentuhan. Ryan seakan tidak bisa menolak, jiwanya di tarik paksa oleh hipnotis tanpa terpikir untuk bisa menolak.


Hingga kesadaran Ryan kembali memasuki pikiran, dia mendorong tubuh sela menjauh... "Maaf kakak, aku tidak bisa melakukannya."


"Begitukah... Sayang sekali."


"Maafkan aku."


"Kau tidak perlu meminta maaf, akulah yang merayu mu. Aku juga tahu, kau hanya tidak ingin terjadi masalah jika Brahman tahu tentang ini." Ucap Sela masih bisa tersenyum meskipun dia mencoba hal yang salah.


"Terimakasih sudah mau mengerti kakak."


"Kalau begitu, apa kau lapar ?."


Ryan tertawa sendiri dengan lemas, bahkan suara perut pun terdengar bergemuruh kecil namun jelas di telinga Sela.


"Ok, ok, perutmu jauh lebih jujur, ayo kita pergi cari makan."


"Apa aku bisa menolaknya ?." Jawab Ryan balik bertanya.


"Kenapa ?, Apa kau tidak senang makan dengan kakak cantikmu ini."


"Aku bukan bermaksud membuat kakak repot."


"Kau lucu, hanya sekedar makanan tidak berarti apa pun."


"Baiklah, aku ikut saja apa yang kakak inginkan." Ryan masih tidak bisa menolaknya.


Sela tancap gas menuju restoran cukup terkenal di kota. Seperti biasa, Ryan hanya perlu memilih apa yang dia inginkan tanpa perlu berpikir untuk membayarnya dengan mencuci piring.


"Bagaimana dengan baju yang aku belikan, apa itu cocok."


"Itu bagus, aku sampai lupa berterimakasih."


"Anggap saja hadiah, jangan terlalu dipikirkan, bahkan jika kau mau kita bisa beli lagi setelah ini." Sela memberi tawaran dengan senyum manis merayu.


"Itu tidak perlu, sungguh aku tidak ingin menerima hadiah apa pun lagi."


"Baiklah."


Melihat bagaimana Ryan menikmati makanannya, Sela tentu masih penasaran untuk banyak hal di keluarga Istianti.


"Apa kau pernah bertemu dengan kakek dan nenekmu ?." Tanya Sela selagi melihat Ryan menikmati makanan di depannya.


"Kakek dan nenek ?, jika itu dari keluarga ayah, keduanya sudah lama meninggal, sekitar 12 tahun lalu sewaktu aku kecil."


"Kalau kakek dan nenek dari ibumu ?."


"Kenapa kakak ingin tahu ?." Ryan sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan itu.


Tapi Sela dengan santai memberi alasan...."Hanya penasaran saja, seperti... ibumu lebih memilih tinggal di kota ini, sebagai ibu tunggal tentu akan sulit, jadi bukankah sebaiknya pulang ke rumah orang tuanya saja."


Ryan paham maksud Sela...."Ya itu memang benar, tapi dari dulu ibu atau pun ayah tidak pernah bercerita soal mereka, entah mereka sudah meninggal atau masih hidup aku pun tidak tahu."


"Tapi apa kau tidak penasaran ?."


"Untuk apa penasaran ?, Sampai hari ini, aku tidak tahu soal mereka dan itu baik-baik saja. Sedangkan saat ibu dalam kesusahan, mereka seakan tidak peduli sama sekali, bahkan sekedar menanyakan kabar."


"Kau benar-benar mirip dengan ibu mu." Gumam Sela karena dia juga mendapat jawaban sama dari Istianti.


"Karena bagaimanapun aku adalah anak dari ibuku, tentu saja kami mirip."


"Lalu bagaimana jika... Kakek dan nenekmu datang ?."


Rumit wajah Ryan ditunjukkan..."Entahlah, aku tidak berharap apa pun, jika ibu menerima mereka, aku tidak masalah."


Sela mengerti tentang sikap Ryan, dia termasuk sebagai anak yang berbakti kepada orang tuanya dan selalu menuruti apa keinginan mereka. Tapi Isti seperti tidak mau Ryan terlibat untuk masalah yang terjadi dalam keluarga ayah dan ibunya.