Ice Cream

Ice Cream
Mereka adalah tokoh utamanya



Apa yang Nela ingat tentang Ryan adalah seorang pemberani dan tidak kenal takut, dia berdiri di depan siapa pun hanya untuk membela teman-temannya ketika dalam masalah.


Termasuk untuk Nela, dia mengenal sosok Ryan bertahun-tahun yang lalu, termasuk ketika dia dihadapkan suatu masalah. Tanpa ayahnya tahu, tanpa orang lain mau perduli, hanya Ryan satu-satunya orang ada di sampingnya.


Dan sekarang, melihat Ryan di hajar oleh anak buah Juna tanpa ampun, jelas saja itu menyulut emosi Nela, dia merasa marah untuk membalas perbuatan mereka.


Tapi Ryan menahan Nela dengan menarik tangannya untuk berhenti.


"Nela berhenti, jangan lakukan apa pun, bawa saja aku ke ruang UKS." Berkata Ryan sebelum Nela maju menghajar orang-orang di depannya.


Semua luka yang dia terima oleh mereka, bukanlah apa-apa, dia tahan banting, meski di pukul hingga berdarah-darah, babak belur, atau pingsan sekali pun itu tidak masalah.


Karena dia sadar, membalas perbuatan ini sekarang, hanya akan menjadi masalah lain untuk kehidupan keluarganya yang tidak memiliki kekuatan apa pun.


Nela menuruti keinginan Ryan, berjalan pergi dengan membantunya, tapi sebelum keluar, mata Nela memperlihatkan kemarahan kepada mereka-mereka yang ada di toilet.


"Kalian semua akan menerima balasannya." Ucap Nela dengan berani.


Ryan tahu seberapa marah Nela karena tindakan anak buah Juna kepada dirinya, tapi ada perasaan kecewa dari ekspresi Nela yang tidak dia tunjukan.


Langkah kaki sedikit pincang, dan semua luka di wajah itu membuat suasana hati Nela tidak nyaman. Bagimana pun dia tahu jika Ryan bisa saja membalas, tapi seakan semua menjadi berbeda.


"Kenapa Lo tidak melawan mereka ?." Bertanya Nela.


"Apa Lo pikir jika Gue melawan semua akan selesai." Ryan menjawabnya dengan tersenyum sendiri.


"Tapi Lo sampai bonyok begini, apa Lo gak marah."


"Marah ?, Jelas Gue marah, tapi Gue udah janji sama ibu Gue, kalo Gue gak bakalan berantem lagi di sekolah."


Seketika itu Nela menjatuhkan Ryan ke lantai, apa yang dia lihat begitu menyedihkan, seorang lelaki di depannya hanya bisa pasrah menerima keadaan.


"Lo gak seperti Ryan yang dulu...."


"Ryan yang dulu, bersikap sok pahlawan, mencoba menyelamatkan orang lain, dan pada akhirnya dia hanya pecundang yang hanya menyusahkan keluarganya saja." Jawab Ryan tersenyum pahit.


Itulah yang Ryan pikiran sekarang, dia tidak ingin lagi membuat masalah, sebagian besar hidupnya sudah cukup mengecewakan.


Tanpa ada ayah, tanpa ada siapa pun yang bisa menolong, hanya ibunya saja, dia sudah terlalu banyak menanggung malu karena sikap arogan dari Ryan.


"Lupakan itu, temen Gue adalah Ryan yang kuat dan bersikap tegas, tanpa takut siapa pun, bahkan dia yang berani membela Gue di depan orang lain, bukan orang seperti Lo." Suara Nela terdengar marah.


Dengan penuh kekecewaan Nela berjalan pergi meninggalkan Ryan yang hanya duduk di lantai. Tidak bisa dia menyalahkan Nela atas cara berpikirnya itu.


Ryan tidak bisa berkata apa pun untuk menjawab rasa kecewa dari Nela, karena apa semua yang dia lihat dulu, adalah sebuah bayangan masa lalu dan Ryan ingin mengubahnya.


Berusaha berjalan sendiri ke ruang UKS, tapi tetap saja, rasa sakit dari perlakukan orang-orang itu membuat kepalanya pusing.


"Jika kau tahu Nela, apa kau pikir aku ingin menerima perlakuan mereka begitu saja ?, Tentu tidak....." Ryan berjalan tertatih-tatih dengan wajah tertawa, ya ... Dia menertawakan dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat apa pun.


Ryan hilang keseimbangan, dan perlahan jatuh tanpa tahu apa pun lagi...


*******


Ryan membuka matanya kembali...


Melihat langit-langit yang berbeda, semua serba putih, kain gorden melingkar menutupi tempatnya tidur dan seorang wanita cantik duduk dengan sebuah buku di tangan.


Perlahan ketika Ryan melihatnya dengan jelas, tentu terpikir bahwa dia tidak sedang di rumah, karena wanita itu sendiri bukan orang yang dia kenal.


Tapi sepintas matanya mengarah kepada Ryan, ada senyum yang melengkung di wajah cantik wanita di samping ranjangnya.


"Ini dimana ?, Surga kah ?."


"Enteng amat kau ngomong ini surga, apa neraka gak masuk hitungan." Balasnya meski sedikit menyindir tapi suara itu terdengar menyenangkan.


"Jika ini neraka, aku tidak mungkin melihat bidadari."


"Apa itu pujian ?." Dibalasnya dengan emosi datar.


"Kau bisa anggap begitu."


Tentu tidak ada yang mengharapkan sebuah pujian dari orang berwajah babak belur seperti Ryan sekarang, wanita itu hanya tersenyum kecil kemudian duduk kembali.


"Jadi kenapa kau sampai pingsan." Pertanyaan yang jelas tidak ingin Ryan jawab.


"Ya kau lihat, aku hanya tersandung." Tapi tetap saja Ryan mencari alasan.


"Wajahmu itu tidak seperti orang tersandung, kecuali jika tersandung kedalam masalah." Itu cukup cerdas untuk mengartikan perkataan Ryan.


"Anggap saja begitu." Balas Ryan yang masih bisa tertawa meski rasa sakit belumlah hilang.


"Sungguh sangat di sayangkan untuk hari pertama kau sekolah sudah mendapatkan masalah."


Ryan sedikit terkejut dengan ucapan wanita ini...."Darimana kau tahu ini hari pertama aku sekolah."


"Hei... kita itu satu kelas."


"Aku tidak tahu." Balas Ryan bingung.


"Itu wajar, aku bukan orang yang mencolok seperti Reina atau pun Nela." Jawab gadis itu santai.


"Oh kau kenal mereka."


"Siapa yang gak kenal mereka berdua di sekolah ini, jika dibandingkan denganku, ya .... Aku lebih seperti penonton di acara sinetron dimana mereka adalah tokoh utamanya." Sebuah anggapan yang jelas berbeda dari isi pikiran Ryan.


"Itu benar-benar lucu." Ryan tidak tertawa.


"Ekspresimu menunjukan hal yang berbeda, apa kau sedang mengejekku."


"Tidak-tidak, aku hanya merasa, jika kau hanya sebatas penonton, kalau begitu aku lebih seperti tukang pungut sampah setelah acara selesai." Begitulah isi pikirannya sekarang.


Hanya dengan percakapan sederhana itu, mereka berdua tertawa, ya membicarakan hal-hal penting tapi terdengar menyenangkan.


Sejak awal Ryan memang orang yang mudah bergaul, tapi karena lingkungan itu sendirilah dia membatasi untuk akrab dengan orang lain.


"Baiklah, sepertinya kau sudah cukup baik, aku akan kembali ke kelas." Ucapnya bersiap untuk pergi.


"Tunggu.... Siapa namamu." Ryan menghentikan langkahnya.


"Hmmm aku tidak akan mengatakannya, kalau kau bisa menemukanku tanpa tahu namaku itu terdengar menarik, dah." Dengan cepat dia pun menutup pintu.


Wanita itu jelas sangat aneh, bagiamana pun juga Ryan tetaplah seorang lelaki, dia bisa membedakan yang cantik dan biasa saja.


Tentu wanita cantik seperti dia cukup mudah di temukan, terlebih satu kelas pula, bisa dianggap bahwa dia termasuk sosok populer untuk dibicarakan para lelaki jomblo di sekolah ini.


Tapi setelah itu, saat Ryan berniat untuk kembali istirahat, gebrakan pintu terbuka keras, satu sosok wanita lain muncul, menunjukan diri tiba-tiba dengan ekspresi tidak enak di lihat.


"Reina apa kau tidak mengerti arti tulisan Be quiet..."