Ice Cream

Ice Cream
Hal lucu



Ryan benar-benar tidak menyukai cara Sea tersenyum, karena dia bisa membaca isi pikiran seseorang hanya dengan ekspresi di wajah mereka. Bahkan dalam sekali pandang, jenis kelamin, usia, sifat, berat badan, ini pikiran, sampai merek kosmetik murahan di wajah mereka, dapat dianalisa olehnya dengan mudah.


Jenis kelamin, jelas Sea perempuan, bukan lelaki siluman atau wanita jadi-jadian.


Berat badan, tentu tidak mungkin lebih dari 50 kilo, tubuh Sea terbilang kurus, meski pun Ryan bisa mengakui ada gumpalan lemak cukup besar yang hinggap di depan dadanya.


Usia, tidak perlulah di tanyakan lagi, karena tidak mungkin kalau usia Sea tiga puluh tahun. Kecuali dia agen Intel yang menyamar sebagai siswi sekolah dan memalsukan isi data dalam KTP.


Sisanya, sifat Sea ini benar-benar buruk.


Dan saat ini, Sea menunjukkan lirik mata tajam, senyum melengkung dan satu alis terangkat beberapa centi, itu berarti ada satu rencana licik yang ditunjukkan kepada Ryan.


Di dalam pikirannya dia seperti berkata 'Sekarang kau tidak bisa pergi dari ku, jangan berpikir untuk melawan, karena itu akan sia-sia saja.' di tambah pula dengan tawa jahat.


Sebuah makna panjang untuk sekedar lirikan mata dari Sea.


Ryan mengambil satu tempat duduk di atas sofa yang berhadapan langsung ke arah meja Alex. Tanpa dia sangka, Sea pun ikut duduk tepat di sebelahnya.


"Apa kau tidak bisa mencari tempat lain, nona Sea." Ucap Ryan dengan risih.


"Terserah gua mau duduk dimana, kenapa elu malah ngatur." Balasnya egois seperti biasa.


"Kalau begitu bergeserlah sedikit, kursi ini terasa sempit."


"Jadi elu pikir Gua terlalu besar untuk duduk di sebelah Elu."


"Ya tidak juga, tapi... Ahhh apa karep mu." Malas Ryan menanggapi perkataan Sea, karena sadar itu tidak akan ada habisnya.


Dibalik kesusahan Ryan karena merasa terganggu akan kehadiran Sea yang tidak memberi ruang di tempatnya duduk. Senyum di wajah Alex tampak aneh.


"Oh, kalian sudah sangat akrab rupanya." Ucap Alex dengan kesalahpahaman yang tidak ingin Ryan dengar.


"Tolong jangan beranggapan yang aneh-aneh paman." Jawab Ryan dengan penolakan halus dari isi pikiran Alex.


"Tidak ada yang aneh, aku hanya merasa senang melihat Sea akrab dengan temannya." Asal saja Alex bicara.


'Teman dari mananya ?. Jelas-jelas dia hanya ingin mengganggu ku, bukan seperti ingin berteman.' pikir Ryan yang tidak bisa terungkapkan.


Kembali ke topik utama yang membuat Alex ingin bicarakan, sebagai seorang karyawan bertanggung jawab, tidak baik terlalu lama meninggalkan pekerjaan. Tapi alasan utamanya adalah Dia tidak ingin berlama di dalam satu ruangan bersama Sea.


"Jadi paman apa yang ingin di bicarakan denganku." Tanya Ryan to the point.


"Apa kau betah bekerja di sini. " Itu yang Alex tanyakan.


"Aku adalah tipe orang dengan kelebihan mampu beradaptasi di segala tempat."


"Senang aku mendengarnya."


Ryan sadar, bahwa bukan sebuah basa-basi yang ingin Alex tanyakan... "Apa hanya itu paman ?, Jika iya, aku ingin segera kembali bekerja. "


"Tidak tunggu, ada hal lain." Lanjut Alex menghentikan Ryan.


"Tentang apa paman ?." Ryan pun penasaran, karena tidak biasanya Alex terlihat ragu-ragu.


"Ini tentang ibumu, Istianti."


Ryan merasa ada pembicaraan serius perihal ibunya..."Ibu ?, Kenapa dengan ibu ?."


"Apa kau tidak berpikir untuk meminta Ibumu berhenti dari pekerjaannya di tempat Brahman." Ucap Alex.


Ryan sedikit tersenyum dan menggaruk kepala...."Aku tidak bisa mengubah keinginan ibuku, dia yang memutuskan untuk meminta bantuan kepada Brahman, jadi aku hanya bisa menuruti apa yang ibu katakan."


"Ya aku paham, dia tidak berubah, tetap menjadi wanita keras kepala." Lanjut Alex tersenyum rumit.


Tentu setiap pertanyaan memiliki alasan dibaliknya dan Ryan penasaran bagaimana Alex begitu perhatian kepada sang ibu.


"Aku berpikir jika tujuan ibumu kembali ke kota ini, tentu ada sangkut pautnya dengan kematian Abram, dan aku pun tahu, Brahman adalah orang yang bertanggung jawab atas kematiannya itu." Jawab Alex terdengar sedikit berat.


Di sisi lain Sea bingung karena suasana hati semua orang menjadi sangat serius, tapi rasa penasaran tentang hubungan antara keluarga Ryan dan Keluarga Reina jelas tidaklah sederhana.


Sea lebih memilih diam, mendengar baik-baik untuk segala sesuatu yang di ucapkan oleh ayahnya dan Ryan.


"Aku tidak tahu harus menjawab apa, yang pasti, apa pun pilihan ibu, aku akan selalu ada di sampingnya. Meski pada akhirnya semua orang menjadi musuhku. Aku tidak takut." Jawab Ryan tersenyum tegas.


Menggeleng kepala Alex dengan tersenyum sendiri...."Ibu dan anak sama saja."


"Jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku akan pergi dulu paman, ada banyak pekerjaan belum selesai."


"Baiklah, tidak apa-apa." Alex pun mempersilahkan.


Ketika Ryan keluar, Sea pun mengikuti dari belakang, dia merasa ada perubahan sikap lelaki di depan matanya sekarang sangat berbeda, setelah membicarakan ayah Reina.


Entah apa yang terjadi diantara mereka, tapi Sea terpikir untuk sesuatu bisa dimanfaatkan.


"Apa ada yang kau inginkan dariku ?." Tanya Ryan dengan wajah kesal kearah Sea.


"Tidak juga."


"Kalau begitu, biasakah untuk tidak mengganggu pekerjaan ku ?."


Merasa tersinggung, Sea pun menjawab...."Gua cuma berdiri disini, jadi darimana gua ganggu elu."


Kesal Ryan dengan ocehan dari gadis satu ini..."Lihat gua sedang bersih-bersih, elu berdiri disini, jangan salahkan gua kalo elu kebawa sampah dan gua buang keluar."


"Dasar lelaki gak ada sopan-soapnnya." Cibir Sea menyindir Ryan.


"Untuk apa bersikap sopan dengan elu yang sama-sama gak punya sopan santun." Saut Ryan memberi balasan.


Sea cukup tenang dengan duduk selagi melihat Ryan membersihkan lantai, hingga setelah semua selesai, barulah dia bicara.


"Hei, gimana kalo kita pacaran." Ucap Sea kepada Ryan.


Dan jawaban yang diberikan oleh Ryan adalah sebuah ekspresi aneh seperti melihat sesuatu menjijikan tergeletak di atas lantai.


"Kenapa sama muka Elu, harusnya elu seneng, bahagia, bersyukur, karena gak mungkin ada wanita kaya gua mau sama elu."


"Itu sama artinya, elu juga sebenarnya gak suka sama Gua, jadi buat apa gua seneng." Ryan sendiri paham maksudnya.


"Gua tahu elu juga punya masalah sama Reina, kalo dia tahu, kita berdua pacaran, pasti dia marah." Itu yang Sea pikirkan.


Namun Ryan tidak setuju...."Bukannya gua udah ngomong, kalo mau bikin Reina marah, elu salah orang."


"Kenapa gak di coba aja."


"Gak perlu, gua gak mau ikut campur masalah elu sama Reina, urus saja sendiri."


Sea tidak pernah merasa sehina ini, ada banyak lelaki ingin mendekatinya, bersujud dan memohon untuk menjadi seorang pacar.


Sedangkan Ryan berbeda, dia tidak tertarik sama sekali, menolaknya secara mentah-mentah.


Berdiri tegas dengan tangan menunjuk langsung di depan wajah Ryan, sembari berkata.... "Dasar lelaki tidak tahu diri, ingat posisi elu, gua pastikan elu bakal memohon untuk menjadi pacar gua."


Ryan menjawab dengan tawa seperti melihat hal lucu...."Jangan banyak berharap, jika tidak tercapai, sakitnya luar biasa."


Tidak ada jawaban apa pun lagi, Sea segera pergi dan meninggalkan Ryan dengan semua sampah yang dia tendang hingga berantakan.