
Reina tidak bisa fokus untuk mendengarkan guru di depan kelas itu membicarakan tentang sistem reproduksi tanaman antara benang sari dan putik bunga.
Isi pikiran Reina sekarang terpenuhi oleh Ryan. Dia merasa khawatir dengan kondisi menyedihkan karena di pukuli anak buah Juna, mereka tidak main-main saat menghajar orang lain.
'Sial, gimana kalo Ryan sampai masuk rumah sakit.'
'Tapi kalo Gua tadi nolongin Ryan, bisa-bisa dia tambah babak belur nanti.'
'Aaaaahhhhhhh, Si*al, si*al, si*al, Gua harus lihat, kalo sampai masuk rumah sakit gawat...'
Reina berdiri tiba-tiba, guru pun melihatnya dengan pertanyaan seperti biasa... "Ada apa Reina."
"Pak, aku mau ke toilet." Jawab Reina beralasan.
"Ya, silakan."
"Terimakasih....." Segera saja Reina berlari meninggalkan kelas.
Kembali ke toilet tempat Ryan di pukuli, dia tidak ada di sana, melihat ke kantin pun, tidak mungkin orang yang babak belur dengan santainya memakan gorengan.
Melihat orang-orang yang berkontribusi dalam tindak pembullyan terhadap Ryan, Reina berhenti untuk bertanya.... "Gun, Sen, kemana anak itu."
"Anak mana maksud Lo Rein." Bertanya mereka berdua bingung.
"Yang kalian berdua hajar tadi."
"Gua gak tahu."
"Kenapa Lo gak tahu." Reina terlihat kesal.
"Nela membawa anak itu pergi."
Reina merasa kesal kepada Nela...."Si*al, dia ikut campur segala."
Dan satu-satunya yang mungkin terjadi adalah dia dibawa pergi ke UKS oleh Nela, meski itu akan menjadi pertanyaan tentang semua luka di wajahnya.
Dengan langkah kaki terburu-buru Reina terus berjalan menuju ruang UKS seperti yang dia pikirkan jika Ryan dibawa oleh Nela ke sana.
Tapi tidak jauh dari UKS, seorang wanita dengan kacamata dan mulai mengikat rambutnya itu barulah pergi dari tempat yang ingin Reina tuju.
Berdiri di tengah jalan, Reina secara sengaja menghentikan langkah gadis berkacamata yang jelas-jelas tidak dia kenal.
"Hei cupu, kenapa Lo keluar dari ruang UKS." Ucap Reina dengan nada tidak menyenangkan.
"Renia, aku hanya mengantarkan teman." Jawabnya dengan lirih.
'Teman ?... Ryan ?, Tidak-tidak, dia baru masuk sekolah hari ini, gak mungkin sudah berteman, apa lagi sama gadis cupu.' pikir Reina.
"Yaudah Lo pergi sana." Reina tidak memiliki urusan lain.
Reina hanya berpikir jika itu memang sebuah kebetulan melihat dia disini, karena yang dikatakan oleh anak buah Juna kalau Nela membawa Ryan ke ruang UKS. Bukan gadis cupu berkaca mata.
Cukup keras Reina membuka pintu hingga membuat Ryan terkejut, tentu siapa yang menyangka, dari sekian banyak murid untuk beralasan pergi ke UKS. Ryan akan bertemu gadis ini dengan muka juteknya.
"Reina apa kau tidak mengerti arti tulisan Be quiet..." Ucap Ryan kesal dengan tingkah wanita ini.
"Sudah untung Gw dateng kemari, dan lo komentar jangan berisik." Dibalasnya balik oleh Reina keras.
'Ya siapa juga yang ngarep Lo dateng, pala Gw sakit tahu.'
"Ok, ok terserah kau saja, tapi gua mau istirahat jadi jangan berisik." Ryan tidak bisa membantah apa pun keinginan wanita ini.
Masih tetap menunjukkan wajah penuh kesombongan Reina duduk di kursi sebelah ranjang istirahat Ryan. Dan Ryan benar-benar tidak tahu apa yang diinginkan Reina.
Dia bukan orang spesial bagi kehidupan Reina, bahkan untuk di bilang penting sekali pun, Ryan lebih seperti bumbu penyedap rasa bagi kehidupannya yang membosankan.
"Ini masih jam pelajaran, apa kau tidak kembali ke kelas." Bertanya Ryan karena terlihat Reina begitu santai.
"Untuk apa ?." Balas Reina dengan balik bertanya.
'Untuk belajar lah taplak.'
"Itu bukan urusanmu, jadi gak usah banyak tanya soal sekolah kepadaku, bokap aja santai-santai aja gitu." Tersenyum Reina yang tidak perduli ucapan Ryan.
'Soalnya bapak Lo itu orang kaya.'
Tiba-tiba saja tangan Reina menyentuh pipi lebam Ryan yang masih bengkak sebelah, rasa sakit itu membuatnya benar-benar terkejut.
"Apa itu sakit." Sebuah pertanyaan yang aneh, karena terlihat dari ekspresi Ryan sangat jelas sakitnya benar-benar terasa.
"Ya sakitlah, kalau Lo gak mau pergi, tolong dengan teramat sangat jangan lakukan apa pun." Pinta Ryan tersenyum tulus.
Tapi seakan ucapan Ryan ibarat angin yang numpang lewat di telinga Reina, dia berjalan ke kotak P3K untuk mengambil sebuah plester, obat merah, minyak kayu putih, kapas dan etanol.
"Dimana guntingnya."
"Apa yang ingin Lo mau lakuin." Ryan merasa khawatir.
"Sudah jelas, gua mau ngobatin Lo." Santai Reina menjawab.
"Jangan, tolong jangan, gua ngerasa ini sudah baik-baik saja." Jawabannya semakin membuat Ryan khawatir. Khawatir keselamatannya terancam.
Entah kesurupan setan apa Renia sehingga berinisiatif untuk mengobati lukanya, tapi tidak membuat Ryan senang, karena ini lebih seperti dia ingin bermain-main kepadanya.
"Sudah diem Lo, biar gua obatin luka di pipi Lo itu."
"Apa Lo yakin." Ryan ragu-ragu, dia tidak yakin untuk Reina.
"Kenapa Lo ngomong gitu, Lo pikir gua gak bisa apa ?." Reina terlihat sombong.
"Bukan di pikir lagi, lihat aja itu... kenapa Lo tuang Etanol ke dalam gelas." Ryan bingung.
"Lah ini tulisannya Alkohol 98%, jadi buat Lo minum, kan ?." Entah darimana isi pikirannya berasal.
'Lucu nih anak, gua pulang ah.'
Hanya itu pilihan Ryan, karena bisa dipastikan jika Reina berniat membunuhnya.
"Kemana Lo." Pertanyaan yang aneh untuk Ryan.
"Dari pada gua mati, lebih baik pulang."
"Tunggu dulu Ryan." Tapi Reina memanggil.
Tangan Ryan di tarik paksa, hingga membuatnya jatuh dan mendorong Reina ke lantai. Mata yang saling berhadapan, dan hidung saling menyentuh, masih tercium aroma pasta gigi tercampur rokok dari mulutnya.
Tapi sangat jelas diantara mereka tidak menunjukkan ada perasaan apa pun. Reina dengan tenang terdiam, begitu pula kepada Ryan.
Hanya saja aset pribadi Reina benar-benar menyentuh Ryan dengan lembut, bisa terbayang sebuah rumus ⅔ π r³ dengan panjang diameter 15 Centimeter di dalam kepala.
"Apa yang kau lakukan, menyingkir dariku." Ryan patuh saja seperti perintah Reina.
"Ini salah mu karena menarik tangan ku."
"Sudah aku bilang tunggu, dan kau mau pergi, padahal sudah berbaik hati aku akan mengobati luka mu itu." Reina tidak ingin disalahkan.
'Elu bilang ngobatin, Gua minum Etanol itu, lunas nyawa.'
"Itu tidak perlu, terimakasih karena kau datang kemari, jadi tolong pergi, lanjutkan belajar, dan aku ingin Istirahat." Ucap Ryan bahkan dengan nada sopan.
Reina berdiri dan berjalan keluar sambil mengoceh..."Dasar tidak tahu di untung, aku gak bakalan perduli lagi."
Dibantingnya pintu dengan keras hingga kaca jendela bergetar, Ryan tidak paham cara berpikir gadis itu, waktu memang sangat menakutkan. Bayangan gadis kecil yang cantik, imut dan lucu. Kini berubah drastis menjadi pemarah, judes dan kasar.
Meski harus Ryan akui, jika Reina jauh lebih cantik setelah dewasa, dan terlebih dengan dua gumpalan daging yang sudah tumbuh di balik baju itu.
"Aku pasti sudah gila memikirkan hal itu." Gumam Ryan sendiri.
Ryan coba menolak isi pikirannya sendiri, tapi terbayang jelas bentuk bulat yang baru saja dia rasakan.