
Ruang makan orang kaya selalu berbeda dengan lesehan lantai milik orang miskin. Mereka hidup dibawah ruang terang berlampu kristal, meja panjang kayu jati, banyak makanan tertata rapi, bermacam bentuk, bermacam model, wortel berukiran burung terbang, atau semangka yang dibuatnya seperti bunga.
Tidak ada yang terlewat dari kandungan nutrisi, protein, karbohidrat, mineral, vitamin, lemak jenuh, atau pun keseimbangan gizi, semua itu di hitung sedemikian rupa oleh para ahli masak yang profesional bersertifikat dan memiliki pengalaman menu-menu dari appetizer, main course, desert.
Nasi hangat uap mengepul, lauk diambil berurutan, sendok garpu dan piring marmer tersedia. Semua penuh aturan, sopan santun, tata krama, hanya untuk mengisi perut mereka yang dipenuhi lemak dan kolesterol.
Mahal ?, tentu saja. Udangnya saja harga motor sport seken, surat-surat komplit, pajak panjang pula. Sehat ?, Jangan ditanya, empat sehat, lima sempurna, pokoknya. Higenis ?, Sudah pasti. Enak ?, Behhh gaya restoran berbintang... Meski pun, semua hanya akan menjadi kotoran dan berakhir dalam toilet, tidak bisa di daur ulang.
Jika dihitung-hitung satu kali buang hajat sama dengan bayar pajak motor dua tahun, itu sebuah kerugian yang di miliki oleh para orang kaya.
"Reina, bagaimana sekolah mu." Bertanya Sela selayaknya menjadi ibu bagi Reina.
"Biasa aja, Ya seperti itulah." Jawab Reina seakan tidak perduli.
"Biasa seperti apa ?."
"Hanya duduk dan menunggu jam pulang, memang apa yang kau harapkan ?, aku bertarung melawan Monster atau raja iblis dari dimensi lain gitu ?." semakin kesal Reina dengan pertanyaan ibu tirinya.
"Tidak begitu juga... Sudahlah, yang penting kau tidak membuat masalah, dan jangan terlalu banyak membolos." Sela menyesal sudah bertanya.
Reina pun dengan malas menjawab..."Ya, Aku tahu."
Brahman memang tahu, jika Reina belum menerima Sela sebagai pengganti ibunya yang sudah meninggal, tapi itu bukan hal penting untuk dia pikirkan secara serius.
"Dan juga, kau jangan terlalu dekat dengan Ryan, dia tidak lebih orang yang ayah suruh untuk mengawasi mu saja." Kali ini Brahman angkat bicara.
"Ayah selalu saja menganggap semua orang sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan."
"Itu memang benar dan kau harus tahu itu. jika mereka tidak memberi manfaat sebagai sesuatu yang menguntungkan, mereka tidaklah berguna."
Setelah hari-hari sepeninggal sang ibu Kandungnya, semua hal bagi Reina terasa tidak menyenangkan. Tapi saat itu Reina merasa bahagia dengan apa yang dia miliki, sebagai orang yang hidup penuh kasih sayang dan menikmati waktu bersama seperti layaknya keluarga.
Bahkan saudara lelakinya pun lebih memilih hidup sendiri dengan alasan kuliah, padahal Reina tahu, bahwa mereka sudah merasa muak dalam kehidupan di rumah ini.
Satu sendok makanan di piring Reina telan, rumit wajahnya menunjukkan rasa lain dari apa yang masuk ke dalam perut.... "Tidak enak."
Reina tutup telinga atas semua ucapan dari Brahman. Hanya tiga suap dan segelas air putih, Reina selesai untuk makan malam yang begitu tidak menyenangkan. Dia berdiri dan beranjak pergi menuju kamar.
Berada di antara keheningan kamar yang gelap dan berantakan, jendela terbuka, angin berhembus menerpa rambut panjangnya. Tapi membuat Reina tenang, satu batang rokok dia ambil dari bungkus mulai dinyalakan.
Hembusan asap keluar dari mulut, wajah tanpa senyum, hanya melihat keluar untuk semua masalah yang terjadi dalam hidupnya.
"Aku benar-benar muak dengan semua ini." Gumam Reina sendiri.
Dengan suasana yang membuat Reina pusing, dia memilih untuk keluar rumah dari pintu belakang tanpa diketahui oleh siapa pun.
*******
Sementara itu, di rumah yang hanya diterangi lampu 5 Watt, meja usang dan kursi lapuk. Saat tudung saji dibuka, hanya ada nasi, sambal, telor dadar yang cukup besar karena dipenuhi tepung agar lebih maksimal.
Sederhana, sangat sederhana, tapi mereka merasa menikmati waktu dengan semua yang dimiliki atas rejeki dari pemberian Tuhan.
Isti dan Ryan duduk di atas meja makan, mengunyah setiap makanan dari sendok nasi yang masuk kedalam mulut.
Namun di dalam heningnya Ruang makan yang tergabung dengan dapur itu, Istianti melihat Ryan sejenak.
"Ryan, apa sekolah baik-baik saja." Bertanya Istianti untuk sekedar alasan.
"Tidak juga, ada banyak masalah yang terjadi."
Istianti seakan paham dengan luka lebam di wajah anaknya itu, tidak perlu repot-repot menutupi, dia sudah cukup terbiasa melihat situasi yang di alami Ryan.
Nafas yang panjang dan berat keluar dari mulut Istianti... "Kau sedikit lah bersabar, jangan bertindak nekad seperti dulu."
"Aku tahu ibu, jangan khawatir tentang hal itu, aku tidak akan membuat masalah lagi."
"Baguslah kalau kau mengerti."
Bagi siapa pun yang melihat kondisi rumah serba kekurangan itu akan merasa iba dan merasa kasihan. Tapi Ryan atau pun Istianti sangat pantang menerima belas kasih dari orang lain.
Mereka masih memiliki tangan untuk bekerja, maka mereka lakukan sekuat tenaga. Mereka masih memiliki kedua kaki untuk berdiri, maka tidak ada yang harus di takuti saat tersesat, dan mereka masih memiliki nyawa untuk hidup, maka hidup ini adalah pilihan mereka.
Ryan tahu akan raut wajah dari ibunya sekarang, jika ada yang dipikirkan dengan serius. karena sejak dia sadar bahwa kematian ayah menjadi keterpurukan mereka, ibunya masih berjuang tanpa mengeluh.
"Ibu aku hampir tidak tahu apa pun tentang kematian Ayah, padahal dulu ibu benar-benar membenci ketika pak Brahman menawarkan bantuannya, karena ibu berkata bahwa kematian ayah adalah salahnya, tapi kenapa ibu begitu mengandalkan pak Brahman untuk hidup kita yang sekarang." Ucap Ryan untuk satu ketidaknyamanan melihat ibunya.
"Apa kau pernah mendengar, jika kita tidak bisa menang melawan musuh, cara terbaik untuk membalik keadaan adalah bergabung bersama mereka." Itu yang bisa dia jawab sekarang.
"Bagaimana ibu yakin bisa membuat Brahman membuka suara atas kematian Ayah." Seakan Ryan tahu seperti apa lelaki itu.
"Tidak mungkin semua terjadi dengan instan, tapi .... Ya, ibu akan cari tahu dan Brahman itu akan membayar hutang yang dia miliki."
Ryan bisa menyadari bahwa dibawanya kembali ke kota kecil ini, bukan tanpa alasan, jika hanya sekedar pindah sekolah karena masalah perkelahian, tidak lah perlu jauh-jauh.
Tapi dari semua itu Ryan tidak banyak membahas perihal kematian ayahnya di depan sang ibu, paham atas tindakan itu, dia merasa bahwa tidak akan pernah melupakan segala hal tentang dendam.
"Kau tidak perlu memikirkan tentang ibu, kau hanya harus menyelesaikan sekolah dan hiduplah lebih baik di masa depan nanti."
"Aku tidak tahu, apa kita akan baik-baik saja di masa depan."
"Ibu janjikan itu, karena kau akan tahu, bahwa kita bisa melewati semua masalah yang terjadi."
Entah darimana keyakinan dari Ibunya, Ryan tidak menganggap bahwa semua yang sedang terjadi akan membuat hidup mereka lebih baik. Hanya saja, raut wajah sang ibu memaksa untuk Ryan percaya.
"Ya aku akan berusaha ibu." Jawab Ryan.
Tidak ada hal lain untuk Ryan yakini sekarang, kecuali dirinya sendiri dan ibunya, karena semua orang hanya akan melihat bagaimana keluarganya menderita, tanpa sekali pun bisa membantu.