
Ryan tidak segera pulang, kembali masuk menemui Paman Alex yang duduk santai selagi membaca beberapa lembar kertas dari jumlah hitung penjualan barang di tempat hiburannya.
"Oh Ryan, apa kau sudah selesai melihat-lihat." Tanya Alex dengan akrab.
Dengan sopan Ryan menjawab... "Ya begitulah paman."
"Baguslah, kemari dan duduk, ada yang ingin aku bicarakan."
Ryan mengambil satu kursi di dekat meja..."Tenang apa itu paman ?."
"Bagiamana kabar ibumu, apa dia baik-baik saja ?."
"Aku tidak bisa bilang semua baik-baik saja, tapi untuk beberapa alasan, ini sudah lebih baik setelah kami pulang ke rumah." Ryan tersenyum pahit.
"Apa yang sebenarnya terjadi ?."
"Aku dikeluarkan dari sekolah karena perbuatan orang lain." Balas Ryan dengan kepalan tangan erat penuh emosi.
Ryan cukup santai membicarakan banyak hal tentang keluarganya kepada Alex, karena memang hubungan antara Alex dan Ayahnya tidak terjalin satu dua tahun saja.
"Jadi apa ibumu sudah bekerja ?." Kembali Alex bertanya.
"Pak Brahman memberi ibu pekerjaan di rumahnya."
"Brahman.. Hmmm, ya bagaimana pun hanya dia yang mungkin memberi bantuan untuk sekarang, aku bisa mengerti."
Melihat ekspresi Alex cukup rumit dalam gumaman suara tidak jelas menyebut nama Brahman. Ryan merasa ada masalah antara keduanya.
"Kenapa paman begitu risih mendengar nama pak Brahman." Balas Ryan bertanya.
"Tidak juga, aku merasa cukup disayangkan setelah kejadian yang menimpa ayahmu karena bekerja di tempat Brahman, kini ibumu juga harus bergantung kepada Brahman." Ucapnya.
"Mau bagaimana lagi paman, mencari pekerjaan sulit, dan Brahman pun berjanji memberi beasiswa sampai lulus nanti."
"Itu harusnya menjadi hal baik, tapi... Ya aku sebagai teman ayahmu, aku lebih ingin kau dan ibumu sedikit menjauh dari urusan Brahman." Balas Alex begitu enggan.
"Apa akan menjadi hal buruk ?." Ryan cukup penasaran.
Tapi gelengan kepala Alex seperti menjawabnya..."Entahlah, tapi sejak dulu, aku tidak menyukai lelaki buntal itu, dia selalu memanfaatkan ayahmu untuk kepentingannya sendiri."
"Aku tahu, sejak dulu, ayah bekerja keras demi Brahman, menghabiskan waktu untuk membangun perusahan milik orang lain sampai akhirnya meninggal."
"Sudahlah, tidak usah kau pikirkan terlalu dalam."
"Baik paman."
"Iya, aku berikan kau nomor telepon ku, jika ibumu membutuhkan bantuan, suruh dia menelfon saja."
Ryan berdiri dan sopan...."Aku mengerti, jadi jangan khawatir paman dan terimakasih, aku pergi dulu."
Keluar ruangan, Ryan ingin pulang lewat pintu belakang melewati tempat Istirahat karyawan. Disana ada beberapa wanita penghibur yang bekerja disini. Salah satunya adalah Ayu.
"Bocah... Aku minta tolong kepadamu." Ucapnya kepada Ryan.
Sebagai seorang yang menghormati sosok lebih tua, Ryan pun mendekat...."Apa yang bisa dibantu kak ?."
"Kau dari sekolah Nawasena kan ?."
"Ya, dari mana kakak tahu."
"Arum yang bilang kalau dia kenal kau di sekolah." Jawabnya.
"Ah soal itu..."
Melihat buku tulis yang ada di tangan Ayu atas nama Arumi Nissa, Ryan pun tidak terlalu repot untuk sekedar memberikan ke kelasnya besok.
Sekilas Ryan membuka satu halaman paling belakang, ya ada tulisan kecil atau hanya sekedar ungkapan hati yang tidak bisa dia ucapkan. Tapi Ryan tersenyum sendiri dan menganggap itu menjadi hal lucu.
"Baiklah." Jawab Ryan.
*******
Rumah kontrakan sempit, pengap, lapuk, berantakan, kumuh, dan hampir tidak layak huni jika bukan karena ada atap yang menutupinya.
Ini adalah tempat tinggal Arum bersama dengan Adik laki-lakinya, Zain. Pintu kayu kusam terbuka, nyala lampu kuning lima Watt menyinari ruangan tanpa ada barang mewah di dalamnya.
Tidak ada hal menyenangkan, semua tampak kusam, menyedihkan dan melankolis, atau barang-barang elektronik pun, hanya televisi tabung 14 inci tua, dan sebuah ponsel jadul yang Arum beli untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Tatapan melihat langit-langit, jaring laba-laba seakan menjadi dekorasi yang sesuai untuk settingan rumah angker. Tapi tidak bagi Arum dan Zain, kakak beradik itu sudah menempati kontrakan selama dua tahun, begitu juga semua kehidupan sengsara yang dia jalani setelah ibunya pergi.
Mau tidak mau itulah yang bisa mereka terima, meski menolak tapi tidak ada kesempatan untuk berharap lebih, karena siapa lagi yang akan menolong, selain dirinya sendiri.
Arum bekerja keras untuk tetap melanjutkan hidup, hanya dia menjadi satu-satunya tumpuan harapan sebagai seorang kakak agar Zain tetap bersekolah.
Buku-buku sekolah, tas usang, pensil sepanjang kelingking, penghapus setengah pakai dan gambar pemandangan alam matahari terjepit di tengah-tengah dua bukit.
Wajah Zain yang begitu damai terlelap dalam tidur, hanya berselimut sarung dan bantal tipis seadanya. Arum menaruh kantong plastik berisi ayam goreng di atas meja.
Perlahan, lembut dan hati-hati Arum membangunkan Zain, wajah malas masih mengantuk tetap dipaksakan untuk membuka mata.
"Kakak ?."
"Zain ayo bagun, kita makan, kakak bawa ayam goreng." Ucap Arum tersenyum.
Hanya makanan itu yang bisa membuat Zain senang, sebuah kesederhanaan bagi orang lain. Tapi untuk mereka, menjadi hal luar biasa tanpa bisa dinikmati setiap hari.
Penuh semangat, senyum sumringah dan kebahagiaan tanpa dusta didalam kotak kertas bergambar ayam sedang mengacungkan jempol.
"Kakak hari ini aku bertemu kakak baik, dia mengajakku main." Ucap Zein polos.
"Kakak siapa ?."
"Lupa namanya siapa, tapi dia memberi aku jajan."
"Jangan sembarangan kenal sama orang di jalan, nanti kalau Zein di cilik bagaimana."
"Tapi dia pake baju sama kaya kak Arum." Ungkapnya selagi mengunyah makanan.
Tentu tidak terpikir siapa anak SMA yang mau main dengan seorang anak kecil, terlebih lagi mereka berasal dari sekolah elite. Para anak orang kaya itu selalu memandang jijik kepada orang miskin seperti Zein atau pun anak-anak melarat lain.
Tuntas semua makanan, Zain hanya duduk-duduk santai sembari menyaksikan acara komedi malam di televisi. Sedangkan Arum membenahi tas dan buku pelajaran untuk besok bersekolah.
Berulang kali membuka dan menutup tas yang kusut itu, mencari-cari di setiap tumpukan buku dimana sebelumnya tertata rapi kini berhamburan kesana kemari.
Dia merasa ada yang hilang, memang benar satu buku tertinggal di dalam loker tempatnya kerja. Hanya saja Arum menganggap kalau buku itu tidak terlalu penting, sehingga tidak ada niat kembali untuk mengambilnya.
"Bagaimana ini, mana besok harus di berikan oleh guru." Bingung wajah Arum.
Pasrah saja Arum untuk buku yang tertinggal itu, meski sekarang dia pergi mengambilnya, semua percuma, karena angkutan umum sudah berhenti. Dan jarum jam menunjukkan waktu tengah malam, ini berbahaya untuknya pergi ke luar.
Menutup tas dan merebahkan diri di atas kasur lantai, matanya terpejam.... "Lupakan saja. Aku ingin tahu hukuman apa yang aku dapat besok."
Namun sepintas bayang-bayang sosok Ryan terlintas di benak Arum, ketika sebuah masalah datang kepadanya, setiap orang tidak ingin hadir untuk menjadi pembela kebenaran.
Tapi satu lelaki itu berdiri tegak menyelamatkannya dari masalah, sedikit hati Arum, dia ingin berterimakasih, karena untuk pertama kali dalam hidup, ada seseorang datang memberi pertolongan.