Ice Cream

Ice Cream
Ukuran baju



Sela berjalan keluar dari dalam kamar, sebagai sosok nyonya di rumah, tidak ada yang bisa berkomentar dan mengatur sikap untuk menjadi sosok baik layaknya ibu rumah tangga.


Dia masihlah seorang wanita muda ingin melakukan banyak kegiatan, seperti bersenang-senang untuk shopping, hang out atau bergosip ria dengan teman-teman sebaya.


Brahman pun tidak mengekang kebebasan Sela, selama dia tahu apa yang harus dilakukan saat di atas ranjang. Karena semua kekayaan di keluarga Ardantio sangatlah banyak, bahkan jika Sela berniat shoping setiap hari, itu belum 1 % dari aset pribadinya.


"Nyonya Sela... Selamat siang." Saut Istianti sopan memberi salam kepada Sela.


"Siang juga mbak Isti." Balas Sela.


Hanya untuk seorang Istianti saja Sela tersenyum ramah, tentu dia sadar bahwa hubungan antara Brahman dan Istianti bukan sekedar melunasi janji demi seorang sahabat.


Terlebih lagi, cerita yang di katakan oleh Brahman itulah membuatnya penasaran. Seorang Brahman Ardantio, sosok manusia tanpa pernah takut kepada siapa pun, begitu khawatir soal orang-orang dibelakang Istianti.


Tentu Brahman memiliki alasan kuat tentang siapa sebenarnya Istianti, dan itu tidaklah sederhana.


"Mbak, bisa ikut aku sebentar untuk belanja." Panggil Sela.


Merasa enggan, Isti coba menolak


..."Tapi bagaimana dengan bersih-bersih kamar dan ruangan yang lain, masih banyak pekerjaan ku, nyonya."


"Masih ada pembantu lain untuk mengerjakannya, jadi biarkan saja. Aku sendiri yang minta mbak Isti ikut."


"Baiklah Nyonya."


Beranjak menuju garasi rumah, banyak mobil terparkir untuk di gunakan Sela, padahal penghuni rumah hanya tinggal 3 orang tapi Brahman tidak tanggung-tanggung menambah koleksi mobilnya, meski pun jarang di gunakan.


Tidak perlu bingung memilih satu mobil, Sela membawa Isti untuk naik dan pergi ke mall.


Di dalam perjalanan, Sela mencoba berbasa-basi.... "Bagaimana keadaan Ryan ?, Apa dia menikmati waktu sekolahnya lagi."


"Ya ada sedikit masalah yang terjadi." Jawab Sela.


"Apa itu ?, Apa yang terjadi dengan Ryan."


"Hanya pertengkaran kecil dengan anak-anak di kelasnya."


"Hmmm Ryan membuat kesalahan ?."


"Aku yakin Ryan tidak senekat itu mencari masalah dengan mereka, karena bagaimanapun juga, dia sudah belajar dari kesalahan di sekolahnya yang lama" Istianti menjawab dengan sopan.


"Aku tidak heran, anak-anak orang kaya memang selalu membuat masalah saja."


Sela menyadari itu, hidup Sela memang tidak terlahir dari keluarga kaya raya, hidupnya dulu berada di lingkaran kemiskinan, sehingga tidak aneh ketika mendengar jika Ryan di ganggu oleh anak orang kaya yang sombong.


Sesampainya di mall, Sela bersama Isti naik ke lantai atas dimana berjejer toko-toko kosmetik, pakaian, tas, suvenir dan masih banyak lagi untuk memuaskan hasrat siapa pun untuk belanja.


Namun secara khusus, Sela masuk ke toko pakaian dimana mereka hanya menjual baju-baju milik pria saja.


"Nyonya, apa anda berniat membeli baju untuk pak Brahman."


"Tidak."


"Tidak ?, Lantas kenapa kita ada di sini." Tanya Isti.


Seakan tidak perlu menjawab, Sela pun bertanya..."Berapa ukuran baju Ryan."


"Sepertinya M, tapi nyonya kenapa dengan itu ?." Semakin bingung tentang pertanyaan Sela.


"Hmmm kalau begitu, mbak Isti pilihlah lima atau sepuluh baju yang cocok untuk Ryan." Balas Sela dengan santai.


Selangkah mundur Istianti menjawab..."Tapi, tidak, itu tidak perlu."


"Kenapa menolaknya ?."


"Aku merasa tidak pantas jika nanti dianggap pak Brahman aku meminta nyonya membelikan baju." Balas Isti memberi alasan.


Istianti seakan tidak bisa menolak pemberian Sela.


"Baiklah Nyonya. Tapi bukankah sebaiknya, nyonya membelikan baju juga untuk nona Reina juga."


"Sepertinya itu tidak perlu, Reina tidak pernah senang ketika aku membelikannya baju, bahkan aku melihat baju yang aku beli untuknya jadi kain lap." Lemas Sela menjawab dengan senyum pahit.


Beberapa baju telah dibayar cash oleh Sela, tapi tidak hanya itu, kini mereka berdua pergi ke sebuah cafe untuk menikmati waktu dengan beberapa cemilan.


"Nyonya, bagaimana hubungan anda dengan nona Reina." Kini Istianti yang coba bertanya.


Terhembus nafas Sela selagi membayangkan wajah Reina...."Itu tidak berjalan baik, dia belum menerimaku sebagai Ibunya... Bahkan aku merasa menjadi musuh di mata Reina."


"Mungkin nona Reina masih belum melepas kepergian Ibu kandungnya."


"Aku tahu itu, tapi tetap saja... Mengatur gadis kecil di masa puber seperti Reina sekarang, lebih sulit dari pada membongkar kasus korupsi proyek Hambalang." Itu yang Sela pikirkan.


Istianti cukup paham apa yang dirasakan oleh Sela. Reina adalah wanita keras kepala, sulit di atur dan seenaknya sendiri, itu karena hidup yang selalu dimanja oleh Brahman, membuat Reina tidak ingin ada orang lain berkuasa di atasnya.


Benar-benar mirip seperti ayahnya, Brahman.


"Jika boleh aku tahu mbak, bagaimana bisa keluarga mbak mengenal Brahman." Sela kembali bertanya.


"Ya itu cukup panjang ceritanya, tapi bisa di bilang Almarhum suami ku dan pak Brahman sudah saling kenal sejak kecil."


"Oh benarkah itu." Sela cukup terkejut.


"Hanya sebatas yang aku tahu, walau pada akhirnya, kaya dan miskin selalu menjadi perbandingan antara kehidupan pak Brahman dan suami ku." Sela tersenyum pahit didalam perkataannya.


Isti pun tahu keluarga Brahman memiliki kekayaan yang sangat melimpah, dibalik pekerjaan sebagai kontraktor, seluruh keluarga lain berkecimpung dalam banyak hal seperti politik atau pun bisnis besar di negara ini.


"Setelah semua kejadian buruk yang mbak Isti alami, kenapa tidak pulang ke rumah orang tua mbak saja."


Lepas pertanyaan Sela, raut wajah Istianti berubah dan menunjukkan emosi marah yang tertahan.


"Hubungan antara aku dan ayah tidak terlalu baik, bahkan jika harus memilih hidup miskin, itu lebih baik daripada pulang ke rumah." Sebuah pernyataan tegas terucap dari Isti.


Sela bingung, apa yang sebenarnya terjadi kepada keluarga Istianti, sebagai wanita dengan sifat dipenuhi rasa keingintahuan besar untuk masalah orang lain tersirat jelas di pikirannya.


"Memang seberapa lama mbak tidak pulang."


"20 tahun."


Terkejut bagi Sela mendengarnya... "Tidak baik untuk mbak marah dengan keluarga, apa lagi sudah 20 tahun, apa semua baik-baik saja."


"Sampai sekarang aku dan Ryan masih hidup, dan itu bukan masalah."


Terlihat enggan untuk Isti bercerita banyak hal tentang masa lalunya, jawaban dari Istianti pun menunjukan sikap tidak perduli.


"Aku penasaran masalah seperti apa yang mbak hadapi, sampai 20 tahun masih memendam kemarahan itu."


"Maaf nyonya, aku tidak ingin menceritakan hal itu." Istianti secara sopan menolak.


"Baiklah, aku tidak memaksa mbak Isti."


"Bagaimana pun, aku sudah bertekad untuk melupakan segalanya dari keluargaku sendiri, bahkan jika harus mati atau pulang, aku lebih baik mati." Tegas keputusan yang Isti buat.


"Jangan bicara seperti itu, mereka tetap keluarga."


"Tidak ada sebuah keluarga yang menjual anaknya demi kemuliaan...Ah maaf, lupakan saja nyonya." Pada akhirnya Isti tanpa sengaja bicara tentang rahasia yang dia simpan.


Sela bisa menyimpulkan dari sedikit ucapan Istianti, bahwa masalah yang dia miliki dengan keluarganya itu adalah tentang harga diri, kehormatan dan juga keegoisan mereka yang membuat Isti untuk pergi.


Sebuah spekulasi muncul di benak Sela adalah pernikahan yang terpaksa, pada akhirnya Isti menolak keinginan keluarga, karena dia mencintai orang lain dan itu adalah Abram, suaminya.


Waktu beranjak sore, Sela selesai belanja untuk diberikan kepada Ryan sebagai hadiah dan kembali ke rumah. Bagaimana pun juga, ini bukan tentang hobi Sela shopping, melainkan memuaskan rasa penasaran perihal Istianti.