
Ryan ingat tentang hari itu....
Di rumah kontrakan, hembusan angin malam melewati jendela yang datang bersama polusi udara dari kenalpot kendaraan di jalan raya. Namun Ryan masih sibuk dengan tugas-tugas sekolah untuk dia kumpulkan besok pagi.
Istianti pun melakukan pekerjaan sebagai rumah tangga seperti biasanya, aroma wangi masakan yang tercium hingga ke rumah tetangga, atau pun suara mesin cuci berputar-putar membersihkan pakaian secara otodidak.
Tapi suara ketukan pintu terdengar berulang kali dengan terburu-buru, tidak ada keanehan terlintas dalam benak Ryan atau pun Istianti, beranggapan hanya petugas sampah yang ingin meminta iuran seperti biasa.
Namun suara dari orang itu memanggilnya keras...."Ibu Isti, Bu, cepat buka...."
Isti melihat jika itu adalah teman kerja dari Abram yang ada di tempat Brahman.
"Oh pak Sarwono, ada apa ?."
"Abram ... Dia mengalami kecelakaan di tempat kerja."
Jawaban dari Sarwono membuat ekspresi senyum yang sebelumnya hadir di wajah Istianti berubah terkejut. Jika hanya sekedar luka kecil tidak mungkin Sarwono datang memberi laporan, sehingga bisa dipastikan bahwa masalah besar terjadi.
"Dimana Abram sekarang."
"Dia ada di rumah sakit mitra Sejahtera."
Ryan dan Istianti bergegas pergi, mereka tidak bisa berdiam diri untuk menganggap semua akan baik-baik saja terlebih lagi, Abram bukan orang yang ceroboh hingga akan mengalami kecelakaan kerja.
Nyatanya tidak hanya Abram saja yang terluka, tapi Brahman berada di ruangan lain dengan semua alat bantu kesehatan.
Tapi Abram mendapat kondisi lebih kritis, selama tiga jam berada di ruang ICU dan banyak dokter mencoba menyelamatkan nyawanya. Hanya saja, setelah penantian panjang dengan perasaan rumit dari doa yang Istianti panjatkan, takdir tidak memberi keajaiban.
Ucapan dokter bergema di telinga saat dia mengatakan.... "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin...."
Lemas Istianti jatuh di atas kursi, dia bisa merasakan hatinya hancur, tatapan mata yang kosong dan jiwanya lepas begitu saja.
Ryan menggenggam erat tangan sang ibu, dia gemetar, tapi apa yang bisa dilakukan oleh seorang anak tiga belas tahun, hanya berusaha tetap tenang meski saat ini dia tahu, bahwa ayahnya tidak lagi hidup bersama mereka.
Dokter mengatakan jika kebakaran itu membuat Abram tertimpa puing-puing, Meksi pun tidak semua benar, karena Brahman menutupi sebagian besar fakta atas tragedi yang terjadi kepada Abram.
Tapi suatu ketika, dimana ada salah satu pekerjaan di perusahaan Brahman yang melihat langsung kejadian itu, dia bercerita tentang penyerangan sekelompok preman dengan senjata api.
Dari sinilah Isti mulai menganggap bahwa kematian Abram memang tidak wajar, jika hanya sekedar kebakaran, mereka masih bisa mengungsi sebelum bangunan runtuh, tapi kenyataannya Abram tidak selamat dan Brahman mengalami luka yang parah.
Kehidupan Istianti dan Ryan berubah drastis, sepeninggal Abram membuat ibunya itu harus bekerja keras setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Meski pun, Brahman memberi uang kompensasi atas tragedi yang merenggut nyawa Abram, Istianti secara tegas menolak untuk menggunakannya.
Dendam kepada Brahman itu dibawa oleh Isti hingga hari ini.
Hanya saja, hidup dan mati sudah menjadi urusan takdir yang maha kuasa, Isti tidak memiliki kesempatan lebih lama untuk menyelesaikan semua dendam itu hingga akhir.
Ryan tidak menyembunyikan kegelisahan hati ketika Isti berada dalam ruang ICU yang menentukan garis tipis antara hidup dan mati seorang manusia.
Nella duduk disamping Ryan, berusaha membuatnya merasa lebih baik, tapi semua percuma saja, karena dia harus berjuang menahan gelisah untuk waktu lama.
Malam itu menjadi malam terpanjang bagi Ryan untuk terus terjaga, berharap kabar baik terdengar oleh dokter yang menyatakan ibunya masih bisa selamat.
"Aku mengerti pak." Ryan menjawab lirih.
Tapi itu tidak lebih dari ucapan semata, di dalam hati siapa yang bisa melihat, bagaimana Ryan terus berdoa agar semua akan menjadi baik-baik saja.
Sudah lebih dari lima jam hingga menunjukkan pukul 3 subuh.
Hingga kini lampu ruang ICU meredup dan langkah kaki dokter berjalan keluar dengan ekspresi yang rumit.
Ryan tidak tahu harus bertanya apa, seakan-akan dari ekspresi sang dokter sudah menjawab semua pertanyaan itu. Tapi tetap saja, kegelisahan hati masih hadir dan tidak ingin beranjak pergi.
Paman Jaelani pun mewakili Ryan untuk bertanya.
"Dokter bagaimana keadaan Isti ?."
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun takdir berkata lain. Nyonya Isti tidak bisa di selamatkan."
Perasaan itu kini muncul kembali, keputusasaan yang sudah pernah Ryan alami akan kehilangan sosok penting di dalam hidupnya.
Mencoba untuk tetap tenang itu adalah hal mustahil, namun hatinya tidak mau menerima, gemetar tangan menyeka air mata yang jatuh perlahan. Kuat dia mengepal dan memukul kursi seperti sebuah pelampiasan tentang kesediaannya sekarang.
Tidak hanya Ryan, paman Jaelani dan Nella pun merasakan hal yang sama, mereka tahu jika saat ini, takdir sudah mengambil satu keputusan kepada Istianti.
Melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang ICU. Sosok Istianti kini tergeletak layu di atas ranjang tanpa suara hembusan nafas untuk mereka dengar.
Namun takdir tidak bisa diubah, semua hal dipandangan mata adalah kenyataan, ruang serba putih dengan bermacam alat kedokteran dan aroma obat-obatan yang diciumnya masih ada.
Sentuhan tangan Ryan gemetar dan mulai mengusap lembut kulit putih yang sudah pucat itu, mengangkatnya perlahan untuk dia letakkan di pipi.
Apa yang menjadi harapan Ryan sekarang, ini semua hanya mimpi dan dia ingin terbangun. Mendapati sosok ibunya berada di dapur sedang membuat masakan untuk makan malam.
Suara yang memanggil...."Ryan mau sampai kapan kau belajar, makanlah dulu."
Dan dia pun menjawab..."Ya sebentar lagi."
Jaelani menepuk pundak Ryan agar kembali menatap kenyataan, suara terdengar lirih untuk berkata.
"Kau harus kuat Nak, ini sudah menjadi takdir bagi ibumu, jika kau menyesali keputusan tuhan, maka kau akan berdosa."
"Bagaimana bisa aku harus kuat, aku kehilangan semuanya, pertama ayahku, kemudian ibuku, apa takdir hanya ingin melihat bagaimana aku hidup dengan sengsara." Keras jawaban Ryan dengan marah.
"Aku tahu, tapi kau harus bisa menerimanya, meski pun kau menangis, itu tidak akan mengubah takdir ini."
Ryan tetap tidak mau mendengar perkataan Jaelani. Nella yang tahu bagaimana kasih sayang Istianti kepada Ryan tentu menjadi kenangan besar tanpa pernah dia lupakan.
Hingga para perawat membawa jazad itu keluar dari ruangan untuk di bersihkan.
Kini tidak ada yang bisa mereka lakukan, melihat pergi Istianti dari pandangan mata.
Ryan adalah lelaki, dia tidak pernah menangis untuk semua kesengsaraan yang terjadi, namun ketika keluarganya pergi, sekuat apa pun dia berusaha menahan emosi, air mata itu tetap jatuh dan membekas tanpa bisa dia bersihkan lagi.