
Dari luar kelas, Reina yang berjalan dengan Juna tanpa sengaja melihat tindakan Sea dan itu membuat mereka tertawa terbahak-bahak, kecuali Reina.
Secara khusus, Reina melirik ke arah Sea dengan kemarahan, bahkan tanpa perlu bicara, makna di balik suasana diamnya Reina itu sudah bisa menjadi arti yang panjang.
"Ini bodoh sekali, Sea mengajak lelaki pecundang itu pergi keluar." Ucap Juna meremehkan.
Di ikuti oleh teman lain ... "Sungguh aku tidak habis pikir, bagaimana mungkin wanita secantik Sea tertarik dengan dia. Kalau begitu, harusnya aku bisa melakukan lebih."
"Kau benar, jika lelaki model begitu saja bisa mendapat perhatian Sea, kau pasti mampu memacari Agnes Monalisa."
Reina tidak bisa menerima jokes yang Juna dan teman-temannya ucapkan.
"Rein, kenapa lu cuma diam ?." Tanya Juna.
"Memang apa yang lu harapkan Jun ?, Pemandangan ini gak enak di lihat, ayo kita pergi."
"Sebentar, gua disini punya urusan dengan Pecundang itu." Balas Juna menolak ajakan Reina.
Tentu Reina paham siapa orang yang dimaksud oleh Juna..."Apa yang terjadi ?."
"Dia..." Tunjuk Juna ke arah Ryan di dalam kelas.
Dan lanjutnya bicara..."Sudah ngebuat tiga orang ini babak belur, gua harus cari perhubungan."
"Jadi itu alasannya, mereka sampai di perban." Kini Rein bisa tertawa.
"Ini artinya dia sudah berani cari masalah sama gua."
"Ayolah, dia gak penting, bukankah kita janji buat jalan." Balas Reina menarik tangan Juna.
"Tapi...."
Reina memaksa Juna .... "Tapi apa ?, Kalo mereka bertiga lebih penting, gua pulang, gak ada artinya buat deket sama cowo yang kurang peka."
"Ok, ok, ayo pergi."
Hanya saja tiga orang bawahan menjadi bingung...."Bos, gimana dengan kita."
"Elu urus aja sendiri." Juna tidak peduli.
Seperti yang diharapkan oleh wanita tercantik di sekolah dan anak keluarga konglomerat terkenal di kota, Reina mengubah suasana hati Juna hanya dengan sedikit rayuan.
Perihal ajakan Reina, tidak lebih sebuah siasat agar membuat Ryan terhindar dari masalah yang akan terjadi.
Hanya saja, tepat sebelum Reina membawa Juna pergi. Ryan berjalan keluar dan seketika membuat Reina tertegun, dimana tepat di belakangnya Sea datang mendekat.
"Oh, Reina aku baru mau menjemput mu di kelas, tapi kau sudah di sini. Apa kau akan pulang sekarang ?."
"Tidak, gua mau pergi dengan Juna, elu pulanglah sendiri." Jawab Reina.
"Apa kau sudah mengabari ayahmu."
"Kenapa kau mengaturku, memang Elu pikir gua anak kecil yang harus di awasi setiap saat." Keras suara Reina marah.
"Ok, aku tidak akan bertanya lagi." Balas Ryan dan diam.
Langkah kaki Sea semakin dekat hingga berdiri sejajar dengan Ryan. Sepintas lengkungan senyum penuh arti tersirat di wajah wanita itu dan tidak ada keraguan mengambil tangan Ryan untuk di genggamnya perlahan.
Tentu, itu adalah rencana Sea, dia mengikuti perkataan Wina, bahwa, jika ingin menyulut emosi Reina maka buatlah hubungan dengan Ryan.
Dan Sea bisa melihat ekspresi kesal di wajah Reina sekarang.
"Putri manja anak ayah satu ini, sudah merasa dewasa ternyata, sampai-sampai menolak perhatian dari Ayah, gak usah sekolah gih, kerja aja cari uang biar gak jadi beban keluarga." Sindir Sea kepada Reina.
"Elu tuh yang beban, jangan seenaknya sendiri ngatain orang, gua punya kaca, nih pake."
"Soal kaca gua juga punya, tapi gua gak perlu tuh, soalnya gua cantik."
"Nih ngomong sama tembok." Balas kembali Reina.
Ryan jelas tidak menyukai suasana keributan antara dua orang yang saling beradu.
"Kau diam saja." Balas Sea keras.
"Elu diam." Di ikuti oleh Reina.
"Ok." Singkat jawaban Ryan dan dia segera tutup mulut.
Hubungan antara Reina dan Sea jelas tidak bisa dikatakan akrab, bahkan sebaliknya, mereka berdua membenci satu sama lain untuk beberapa alasan.
Ryan tidak peduli soal itu.
Sedangkan masalah utama yang Ryan harus hadapi adalah lelaki di sebelah Reina, Juna. Beberapa hari lalu, tiga orang bawahan Juna di hajar oleh Ryan dan bekas luka di wajah mereka masih di tutupi perban.
Juna tidak tahu bagaimana Ryan melakukan itu kepada tiga bawahannya. Tapi mendengar kalau mereka masuk puskesmas karena perkelahian, tentu alasannya satu, itu adalah perbuatan Ryan.
"Baiklah, kalian berdua selesaikan semua baik-baik, aku akan pulang." Ryan berpamitan.
Segera saja Juna berdiri menghalangi Ryan tepat di depan. Tahu jika kehadiran manusia satu ini akan membawa masalah kepadanya, Ryan membalas tatapan mata Juna dengan tegas.
"Apa ada yang elu omongin ?, Cepatlah, gua gak punya banyak waktu buat ngadepin orang model elu."
"Gua bertanya-tanya, kenapa masih berani datang ke sekolah setelah melakukan kejahatan, Elu benar-benar punya nyali, pecundang." Ucap Juna memprovokasi.
"Kau sedang membicarakan ku ?."
"Memang siapa lagi."
"Maaf saja, tapi karena gua tidak merasa sudah melakukan kejahatan, jadi...."
"Santai sekali hidup lu, karena perbuatan elu, mereka bertiga harus dibawa ke puskesmas untuk di rawat."
"Bukankah kalian semua orang kaya, kenapa ke puskesmas ?, Apa mungkin juga... kalian menggunakan BPJS kesehatan untuk masyarakat kurang mampu ?, Sungguh tidak punya malu."
"Teruslah elu bicara seakan tidak merasa bersalah. Gua sudah punya bukti visum pemukulan yang elu lakuin."
"Wah gua takut ...." Tapi wajah Ryan tidak menggambarkan demikian. Ada sebuah senyum yang mendorong Juna agar lebih termotivasi.
Juna tentu tidak melepas kesempatan untuk membuat perhitungan kepada Ryan, dia sudah siap dengan laporannya kepada kepala sekolah.
"Kalau begitu, lihat saja besok, pecundang, elu bakal nangis minta maaf dan menjilat sepatu gua."
"Sayang sekali. Itu tidak akan pernah terjadi."
"Tertawa lah selagi elu bisa."
"Waahhhh, Gua gak sabar buat besok."
Juna berjalan pergi dengan tawa senang, dia sebagai anak pemilik yayasan Nawasena, dihormati oleh semua orang di sekolah, dari senior atau pun junior, dari guru tetap hingga honorer, dari penjaga kantin hingga petugas kebersihan. Tidak ada satu pun berani bersikap sombong, hanya Ryan, secara langsung membuat permusuhan.
"Rein, ayo pergi..." panggil Juna.
"Gak jadi, gua udah gak mood gara-gara wanita ini, elu ajak aja tiga orang itu." Balas Reina marah.
"Kenapa."
"Gak perlu tanya, pergi sana."
"Ok." Juna pun tidak berani memaksa seorang Reina.
Berbeda dengan Reina yang cukup khawatir mendengar ancaman Juna kepada Ryan, sedangkan orang yang dia khawatirkan masih cengengesan sendiri seakan tidak memiliki masalah.
"Kenapa kau begitu santai." Tanya Reina bingung.
"Kenapa juga aku harus tegang ?." Balas Ryan tersenyum sendiri.
"Apa kau paham, jika kau bisa di keluarkan dari sekolah karena Juna."
Ketika senyum melengkung di wajah Ryan muncul, dia pun menjawab...."Santai saja, aku bukan orang bodoh dan melakukan kesalahan yang sama seperti dulu."
Meski pun Ryan bicara seperti itu, tapi tetap saja, Reina tidak bisa bersikap tenang, satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan Ryan di posisi sulit adalah ayahnya.