
Ketukan pintu terdengar dan perlahan terbuka.
"Masuk." Saut Paman Alex.
Seorang wanita cantik yang Ryan selamatkan barusan, kini berjalan masuk dengan kepala menunduk dan ekspresi wajah tampak takut.
"Arum ada perlu apa ?." Tanya Alex melihat sosoknya berdiri di sebelah Ryan.
Meski ragu-ragu wanita itu berkata..."Tidak, aku hanya ingin meminta maaf atas kejadian tadi bos, dan lelaki itu tidak salah, orang itu yang memaksa...."
Tanpa perlu diragukan lagi, Ryan mengenal, tidak juga... Sebatas sadar, bahwa wanita yang dipanggil Arum itu adalah sosok di ruang UKS dan dia bekerja di tempat ini.
"Tak perlulah kau pikirkan, dan aku sudah dengar ceritanya dari Ayu, dia yang salah karena memaksa dengan cara kasar." Jawab Alex santai.
"Terimakasih bos." Membungkuk hormat Arum dengan hembusan nafas lega.
"Apa benar tidak masalah ?, Apa paman tidak khawatir jika orang itu mencari perhitungan." Ucap Ryan.
Dibalas oleh Alex tertawa... "Alah, itu biasa disini, mereka yang mau buat keributan lempar saja keluar, memang kau pikir ini wilayah siapa ?, Tuan Jaelani tidak akan diam jika tahu ada yang mencari masalah."
"Baguslah kalau begitu paman."
Memang bukan rahasia lagi, jika Brahman, Jaelani, Alex dan ayahnya, Abram... memiliki nama besar di wilayah ini. Tapi setelah Jaelani memutuskan untuk pensiun dan membuka toko sembako, wilayah kekuasaannya di teruskan kepada Alex.
Beranjak dari tempatnya duduk, Alex menepuk pundak Ryan... "Dan juga Arum, kenalkan ini Ryan, anak dari kawan lamaku dulu, mulai besok dia akan bekerja di sini, jadi kau harus ajari dia semua untuk bantu-bantu."
"Eh... Tapi." Arum sedikit terkejut.
"Tapi ?, Apa kau ada masalah dengan Ryan ?."
"Ti... Tidak bos, aku akan melakukannya." Segera saja Arum membuang kebingungan di wajahnya.
"Bagus... Dan kau Ryan, ikut dengan Arum untuk melihat-lihat apa yang nanti kau kerjakan."
"Baik paman." Ryan pun patuh dan berjalan keluar mengikuti Arum.
Untuk kedua kalinya, ini menjadi pertemuan tidak terduga dengan wanita bernama Arum. Tentu cukup mengejutkan, dimana siapa sangka Arum yang sebelumnya membawa Ryan ke UKS, dan merahasiakan diri untuk tidak menyebutkan nama, kini bertemu di tempat seperti rumah hiburan malam.
Selain itu, penampilan Arum membuat Ryan kagum, ya... Sejak awal dia bertemu, memang jelas bahwa wanita itu sangat cantik. Tapi melihatnya dengan sentuhan kosmetik, bedak dan baju kasual, memberi nilai lebih untuk terlihat lebih menarik.
"Untuk sebelumnya terimakasih...." Ucap Arum.
"Itu tidak perlu, aku hanya sekedar lewat dan melihat kau dalam masalah." Balas Ryan.
"Tapi tetap saja.... Jika kau bukan kenalan bos, mungkin kau sudah di tendang keluar dan tidak akan bekerja disini."
"Tidak perlu berlebihan, kalau tidak bisa bekerja di sini, aku akan mencari tempat lain." Ryan menanggapi perkataan Arum dengan santai.
Arum membawa Ryan ke ruang istirahat karyawan, dan menjelaskan segala sesuatu yang akan dia kerjakan nanti. Ini tidaklah sulit, karena sebagian besar apa yang Ryan lakukan hanya mengangkat piring, gelas atau pun botol-botol bekas minum para pelanggan.
Di tambah dengan mencuci, menyapu dan membuang sampah, semua pekerjaan kasar untuk angkat-angkat barang berat. Itu bisa Ryan pahami dengan mudah.
"Jika nanti ada pelanggan yang bertindak seenaknya sendiri, jangan melakukan hal kasar apa lagi memukulnya." Ucap Arum tegas.
"Kenapa ?."
"Memang tidak mudah untuk diatasi, tapi jika kita berbuat kasar, mereka bisa saja melaporkan kepada bos dan kita semua yang akan mendapat masalah. Karena itu panggil saja penjaga untuk mengurus mereka." Jawab Arum.
"Baiklah aku mengerti."
"Apa kau benar-benar mengerti ?." Sekali lagi Arum bertanya karena khawatir jika Ryan berbuat nekad.
"Kenapa kau meragukan ku ?, Aku bukan orang bodoh yang akan bertindak seenaknya sendiri." Ryan memberi kepercayaan lewat acungan jempol.
Namun ekspresi di wajah Arum jelas ragu.... "Aku pikir karena kau kenalan bos Alex, kau tidak perduli dengan semua aturan ini."
"Bekerja adalah mencari uang, jika aku tidak mau mengikuti aturan, siapa yang akan memberiku gaji."
"Ya kau benar. Kita hanya orang miskin yang berusaha sebaik-baiknya untuk bertahan hidup, jadi ingat posisi mu."
Lepas dari semua yang harus dia jelaskan kepada Ryan, Arum pun melihat ke arah jam dinding di ruang istirahat.
"Jadi semua sudah aku jelaskan, kau bisa mulai bekerja besok jam 7 malam."
"Aku mengerti."
"Dan satu lagi.... Jangan sampai ada orang yang tahu jika kita masih dibawah umur untuk bekerja di tempat hiburan." Seperti sebuah peringatan keras bagi mereka berdua.
Sekali lagi diberikan acungan jempol kepada Arum...."Tenang saja, aku cukup pandai menyembunyikan rahasia, terlebih aku tidak memiliki alasan untuk bercerita hal-hal tidak penting kepada orang lain."
"Baguslah, karena kita bisa kena masalah jika ada yang tahu."
Selagi Arum masih menjelaskan hal-hal lain, satu wanita dengan pakaian serba minim, bahkan itu hampir tidak bisa disebut sebagai pakaian, dia berjalan masuk ke ruang istirahat dan mulai tersenyum ke arah Ryan.
"..... Loker sudah penuh, jadi kau bisa menaruh barang-barang ke loker ku."
"Oh, oh, oh, apa ini yang disebut 'cinta datang di tempat kerja'." Wanita itu berkata dengan senyum-senyum memperhatikan Ryan dan Arum.
"Kak Ayu, jangan asal bicara, kita bekerja di sini untuk mencari uang, bukan mencari jodoh." Tegas Arum membantah.
"Apa salahnya ?, Tidak ada yang melarang kita mencari pacar, dan melakukan banyak hal." Lanjut ayu memberi sindiran.
"Banyak hal seperti apa ?."
"Kau tahu maksud ku kan." Jawab kak Ayu sembari mengangkat tangan yang mengepal unik.
Kode tangan itu membuat wajah Arum merah merona, Ryan pun tahu apa yang diartikan oleh kak Ayu, tapi sikap Arum menunjukkan bahwa dia benar-benar polos.
"Kak ayu, kalau tidak ada urusan pergi saja."
"Ok, ok, jangan marah dan kau siapa namanya ?."
"Aku Ryan."
Tangan Ayu perlahan mengusap pipi Ryan dengan berani...."Ya Ryan, apa yang kau lakukan tadi benar-benar keren, mungkin dia bisa jatuh cinta denganmu."
"Pergi !!!." Sekali lagi Arum merasa kesal.
"Sepertinya kau tidak bisa diajak bercanda Arum, tapi itu membuatmu manis." Ayu berjalan pergi dengan senyum penuh makna.
Bisa terlihat wajah Arum merah dan malu karena perkataan Ayu jelas sedang menyindirnya, tapi berbeda dengan Ryan, dia cukup handal untuk menjaga emosi, sehingga tidak nampak seperti anak polos yang tidak tahu apa pun.
"Ehmmmm, jadi aku harap kita tidak bicara apa pun di sekolah tentang hal ini."
Ryan mengangguk paham, ya dia pula tidak mau ada masalah nantinya, tapi selama mereka bisa menjaga rahasia, hubungan sebagai teman sekolah akan baik-baik saja.
"Baiklah, karena jam kerjaku sudah selesai aku akan pulang."
"Ya berhati-hati lah di jalan." Balas Ryan.
"Apa kau masih mau disini ?."
"Paling tidak aku mau bicara terlebih dahulu dengan paman... Bos Alex."
"Ok, itu tidak masalah."
Arum berjalan pulang, dia sedikit mengingat tentang kejadian yang Ryan lakukan hingga memukul satu lelaki itu. Sepintas senyum melengkung di wajah, menunjukan ada hal baik datang kepadanya.
Tidak pernah dia mendapat perhatian baik oleh seorang lelaki, semua yang terjadi dalam hidupnya, hanya perlakuan kasar, penghinaan dan ketidakadilan setiap hari.
Tapi lelaki itu, Ryan... Dia tanpa perduli resiko atau masalah yang akan datang, secara sadar memberi pertolongan kepada dirinya.
"Ah.... Aku lupa buku catatan ku."
Arum ingat bahwa buku pelajaran tertinggal di dalam loker...."Biarlah, besok bisa aku ambil."