
Di ruang makan keluarga Brahman...
Atmosfer suasana di dalam keluarga Brahman tetap terasa berat, entah itu bagi Reina atau pun Sela. Mereka berdua tidak menunjukkan keakraban satu sama lain.
Tapi untuk sekarang, Reina duduk diam selagi menikmati waktu makan bersama tanpa menolak. Sela menyadari ada suatu alasan dari sikap Reina yang tidak biasa di hari ini.
Secara inisiatif sela bertanya..."Apa kau ingin mengatakan sesuatu Reina ?."
"Kenapa kau mau tahu ?, ini bukan urusanmu." Jawab Reina.
Brahman cukup bosan untuk keributan antara Reina dan Sela, seketika itu juga dia memberi kode 'Batuk' demi menghentikan sikap Reina. Dan cukup efektif, karena seketika Reina diam tanpa memperpanjang perdebatan mereka.
"Berapa kali ayah bilang, cobalah untuk bersikap sopan dengan ibumu." Tegasnya.
"Tapi tetap saja, meski ayah sudah menikahinya, dia bukanlah ibuku."
"Reina, jangan egois."
"Ayah...." Reina pun tidak berani melawan.
Sela sedikit tersenyum, karena cukup puas dengan sikap Brahman yang tegas kepada putrinya.
"Sudahlah papa, jangan memaksa Reina, aku baik-baik saja." Rayu Sela.
"Ok, ok, jadi apa yang ingin bicarakan Reina."
"Ini soal Ryan." Balas Reina.
"Oh, kenapa dengan dia ?, Apa dia membuat masalah untukmu." Tanya Brahman seakan tidak terlalu peduli.
"Tidak denganku, tapi dengan Juna."
"Apa yang terjadi ?." Kini giliran Sela yang bertanya.
Semakin tidak senang ketika Sela ikut dalam pembicaraan ini dan berkata... "Apa itu penting untukmu ?."
"Reina." Brahman memberi peringatan sekali lagi.
"Ayah... Dia di tuduh memukuli teman-teman Juna, aku ingin ayah menolong Ryan." Perjelas Reina.
Namun mendengar hal itu, Brahman tidak menyembunyikan kerumitan di wajahnya..."Bagaimana bisa terjadi ?, Bukankah bocah itu sudah mendapat masalah di sekolah sebelumnya, tapi sekarang ingin berbuat kesalahan yang sama, sungguh tidak tahu diri."
"Aku tidak merasa jika Ryan bersalah, karena aku sendiri tahu ryan selalu mendapat perundungan di sekolah." Reina berusaha meminta dengan memberi alasan yang tepat.
"Menyusahkan saja, siapa yang dipukuli oleh Ryan."
"Mereka ada tiga orang dan itu...."
"Itu hanya perkelahian kecil, jika Ryan meminta maaf, semua akan selesai, tidak perlu ayah turun tangan." Jawaban Brahman tidak membuat Reina merasa lega.
Reina sangat paham tentang sifat Juna, ketika dia tidak menyukai satu orang dan itu mengganggu dominasinya di dalam sekolah. Satu hal yang pasti terjadi, dia akan melakukan segala cara demi mengeluarkan orang itu.
"Tapi ayah...."
"Tidak ada kata tapi, biarkan saja." Brahman menolak.
Wajah Reina semakin murung, satu-satunya orang yang mampu mengatasi masalah Ryan tidak lagi memberi harapan. Dia tidak bisa berbuat apa pun.
Sela pun angkat bicara..."Tunggu papa, tapi tidak mungkin Ryan bersalah, jelas sekali mereka bertiga, sedangkan Ryan sendirian, tentu saja namanya pengeroyokan, jika Ryan melawan itu sama saja dengan membela diri."
Brahman menghentikan sendok dan garpu di tangannya, mengangguk paham atas penjelasan Sela.
"Kau benar, baiklah, ini tidak akan sulit, biar besok aku akan bicara dengan kepala sekolah." Mudah Brahman menerimanya.
Reina tidak senang ketika Sela ikut campur dalam urusan Ryan, tapi dia harus bisa terima, karena perkataan ibu tirinya itu, ayahnya mau membantu tanpa banyak pertimbangan.
Selesai makan malam dan tujuan Reina untuk meminta tolong kepada ayahnya, dia kini menunggu Sela di luar kamar.
"Ini bukan sesuatu yang menguntungkan, bahkan merepotkan, tapi melihatmu cemburu itu sangat lucu." Balas Sela tertawa kecil.
"Siapa yang cemburu." Reina tersulut emosi.
"Apa kau pikir aku tidak tahu ?, Kau yang bahkan tidak peduli dengan urusan orang lain, kini meminta bantuan demi Ryan, kalau bukan perhatian karena suka, lantas apa lagi ?." Sela menjawab dengan tertawa puas dan berjalan masuk kedalam kamar melewati Reina.
Seakan tidak bisa membalas perkataan Sela, Reina kesal hingga menendang pintu dan itu terasa sakit.
Keesokan harinya di sekolah....
Tanpa perlu ada yang Ryan takutkan, dia menyambut sosok Juna saat berjalan ke arahnya. Kesombongan Juna bisa terlihat jelas dari caranya tersenyum, tapi dibalas pula oleh Ryan dengan senyum lain penuh rasa percaya diri.
Setiap orang di dalam kelas tentu sadar, ketika Juna datang maka masalah akan terjadi.
"Sungguh kasihan sekali nasibnya, sudah miskin cari masalah pula dengan Juna."
"Baru satu Minggu dia pindah sekolah dan sekarang harus di keluarkan dari sekolah, itu menjadi rekor baru."
"Sebaiknya kita bersiap-siap membuat acara perpisahan."
Bermacam komentar itu datang, dan Ryan pun bisa mendengar semua secara jelas.
Tapi Ryan tidak ingin harga dirinya terinjak-injak lagi. Perlawanan terhadap ketidakadilan menjadi satu-satunya cara menunjukkan diri bahwa dia adalah seorang lelaki.
"Akhirnya elu datang juga, sampai bosan gua menunggu." Ucap Ryan meregangkan otot.
"Apa kau tidak bisa sedikit bersabar, karena pada akhirnya kau akan dikeluarkan dari sekolah."
"Dikeluarkan ?, Apa benar begitu." Ryan meremehkan.
Juna tidak menyukai seseorang yang menjawab pertanyaannya dengan berani, ibarat dia adalah tokoh utama di sekolah ini, sedangkan orang lain hanya NPC. Sehingga Juna ingin membuat semua orang sadar tentang posisi mereka di sini.
"Sekarang, kau ikut aku ke ruang kepala sekolah, aku sudah mempersiapkan kejutan besar sebagai hadiah." Ucap Juna membawa Ryan keluar kelas.
Mengikuti Juna pergi dan memang benar saja, jika saat ini, ada lima enam orang yang hadir di ruang kepala sekolah untuk pembicaraan serius mereka.
Tiga orang diantaranya adalah pak Brahman, Sela dan juga Isti, cukup menegangkan suasana ketika sorot mata semua orang tertuju kepada Ryan.
Hingga satu orang tua datang dengan ekspresi marah...."Jadi Bocah ini yang sudah memukuli Putraku."
Satu tamparan datang, namun Ryan menghindar dan itu hinggap di wajah Juna dengan suara keras.
"Kenapa kau menghindar." Ucap lelaki tua itu dengan terkejut.
"Jika aku tidak melakukannya, itu akan terasa sakit." Jawab Ryan dengan santai.
Sekali lagi, tamparan akan datang, tapi sosok Brahman berdiri dengan suara keras untuk membuatnya berhenti.
"Jangan seenaknya pak Jiwo, meski pun kau marah, kita disini adalah untuk membicarakan solusinya, bukan main pukul." Ucap pak Brahman tegas.
Semua orang tentu sadar, bahwa sosok Brahman bukan sembarangan, mereka harus memberi wajah dan sikap yang baik kepadanya.
"Pak Brahman, aku tahu, kau menggunakan namamu sebagai wali dari bocah ini, tapi apa kau sadar. Jika dia melakukan hal buruk, itu sama saja dengan mencoreng namamu sendiri." Balas orang tua bernama Jiwo.
"Tidak perlu mengurusi masalahku, tapi di sini aku yang bertanggung jawab, jadi kau harus bisa menjaga sikap."
Kepala sekolah mencoba melakukan perannya sebagai moderator. Berdiri penuh wibawa dan menenangkan suasana.
"Apa yang dikatakan oleh Tuan Brahman itu benar, cobalah untuk bersikap tenang dan selesaikan masalah dengan kepala dingin." Ucap kepala sekolah.
Melihat Jiwo kembali duduk, maka pak kepala sekolah memulai sidang penentuan nasib Ryan.
Dia bisa melihat ekspresi Ibunya khawatir, tidak ada yang berharap jika kejadian seperti ini hadir kembali. Meski begitu, Ryan sudah mempersiapkan semua rencana sehingga tragedi di masa lalu tidak terulang kembali.