
Ryan kini tahu tujuan kenapa Narmo ragu-ragu dan berubah pikiran ketika ingin mengajaknya pergi main. Ternyata dia dipaksa oleh Juna untuk membawa Ryan ke tempat janjian.
Narmo sebenarnya tidak mau menuruti keinginan Juna itu, karena tahu bahwa Ryan akan ada di dalam masalah, tapi jika dia menolak, maka Narmo sendirilah menjadi bahan perundungan mereka.
Ryan menunjukkan ekspresi marah...."Aku benar-benar muak dengan perbuatan mereka."
"Kalau begitu, sebaiknya kita tidak perlu datang ke sana." Balas Narmo.
"Jika itu aku lakukan, maka kau yang di hajar."
Seteguk air ludah Narmo telan...."Tidak apa-apa, aku...."
Tapi di potong perkataan Narmo dengan tepukan tangan di pundak... "Jangan bicara seperti kau sudah mampu mengeluarkan kekuatan kyubi dari dalam tubuhmu."
"Mustahil aku melakukannya."
"Karena itu, biar aku mengurus mereka, kau cukup ikuti apa yang aku rencanakan." Balas Ryan tersenyum sendiri.
Ryan tidak bisa melihat temannya sendiri mendapat masalah, karena itu tanpa banyak bertanya dia mengikuti apa yang Juna inginkan.
Berjalan menuju lokasi... Narmo terlihat khawatir, kebingungan dan juga takut, semua itu tergambar jelas di wajahnya yang begitu lugu.
"Apa kau yakin dengan ini."
"Kenapa harus ragu-ragu, aku bukan orang bodoh yang secara sukarela datang tanpa persiapan."
"Baiklah. Aku akan berusaha." Jawab Narmo dengan mengepalkan tangan.
Memang benar, apa yang Ryan dapati di pinggiran taman itu adalah Junaidi dan anak buahnya duduk dengan santai sambil menikmati rokok di tangan.
Mereka secara sengaja sedang menunggu kehadiran Ryan, tertawa terbahak-bahak ketika melihat Ryan dan Narmo berjalan mendekat.
Narmo menunduk takut. Ryan sudah mempersiapkan diri dengan apa yang akan terjadi nanti.
"Oh, kalian sudah datang."
"Ternyata orang bodoh itu cukup berguna untuk kita suruh." Tawa teman sebelahnya.
Terhembus nafas panjang melihat wajah Narmo yang begitu bersalah.... "Tidak apa biar aku urus mereka, kau pergilah."
"Tapi..."
"Tapi apa ?, Kau mau disini ikut kena hajar sama mereka." Tegas balasan Ryan kepada Narmo.
"Aku.... Aku..."
"Pergi !!!." Keras teriakan Ryan menyuruh Narmo pergi.
Narmo berlari karena takut melihat mata Ryan yang marah.
"Oh, oh, oh, kau cukup berani untuk membiarkan temanmu pergi, dan disini sendirian sekarang." Tawa Juna keras mengejek Ryan.
"Dan kau sangat serakah, apa disekolah belum cukup menghajar ku, lihat bahkan luka kemarin masih ada." Balas Ryan.
"Aku kemari cuma mau ngasih peringatan. Jangan dekati Reina."
"Apa kau bercanda ?, Aku diminta oleh ayahnya, dan kau melarang ku ?, Katakan itu sendiri kepada Ayahnya Reina."
Ryan melepaskan baju sekolah dan dimasukan kedalam tas, tentu akan jadi masalah jika didapati murid sekolah Nawasena membuat keributan.
"Kau banyak omong Ryan. Bawa dia kebelakang." Ucap Juna memberi perintah.
Dua orang datang mendekat, mereka menjaga belakang Ryan agar tidak pergi, ikut saja apa yang Juna inginkan untuk masuk ke sebuah gudang kosong.
Ryan sudah cukup menahan diri ketika di sekolah, bahkan tidak terhitung berapa banyak pukulan yang dia terima tanpa bisa melawan.
Tapi baru Juna bicara satu suara dering ponsel panggilan masuk di jawab olehnya, perasaan kesal karena waktu bermain sudah diganggu, meski begitu Juna lebih menuruti keinginan ayahnya.
"Gua pulang, bokap pengin ngajak pergi, kalian beresin anak ini, hajar dia sampai habis." Perintah juga seenaknya sendiri.
Setelah Juna pergi, satu orang berjalan maju dan mencekik leher Ryan, jika sebelumnya Ryan masih menahan diri untuk tidak melawan sekarang pun masih sama.
Hanya saja sorot mata tajam dan senyum mengejek Ryan seakan memprovokasi kelima anak buah Juna agar tidak segan-segan memukul.
"Apa hanya segini ?." Ryan tertawa.
Melihat ejekan Ryan itu empat orang lain datang dan melayangkan kepalan tangan berulangkali. Diterima dengan lapang dada, ikhlas lahir dan batin, tanpa mau membalas, Ryan menerima meski sudah babak belur.
"Sepertinya sudah cukup...." Gumam Ryan.
Mereka bingung mendengar perkataan Ryan...."Apa yang kau katakan ?."
Tanpa ragu, tanpa disangka-sangka, dan tanpa perlu menahan diri lagi, satu tangan maju dan memberi pukulan telak hingga menjatuhkan orang yang ada di depan.
Pukulan Ryan benar-benar kuat dan itu cukup untuk membuat satu orang jatuh berguling-guling menahan rasa sakit.
Terlihat darah mengalir di hidung hanya dengan saru pukulan. Jelas mereka semua terkejut, bagaimana orang yang disekolah tampak culun dan lebih banyak diam, kini bertindak berani.
"Ternyata kau orang yang keras kepala, tanganku seperti memukul batu." Ucap Ryan mengejek.
"Kau .... Sialan." Mereka mulai maju bersamaan.
Dan Ryan pun mulai melawan, meski mereka kelas tiga yang sudah tinggal kelas dua tahun, terlihat pula wajah boros dan tua berkumis itu, tidak perlu ada sopan santun lagi hanya karena mereka lebih tua.
Satu demi satu Ryan menghajar dengan ganas, dia tendang, pukul, lempar, banting, injak, pukul kiri, pukul kanan, tendang kiri, tendang kanan, pukul lagi, tendang lagi, injak lagi, banting lagi, sampai tiga kali, dan masih di tambah dengan tamparan keras di wajah oleh Ryan.
Ryan berdiri membersihkan sisa kotoran yang hinggap di pakaiannya..."Kalian benar-benar lemah."
Hingga satu orang yang jelas masih berdiri meski wajahnya babak belur, dialah Ryan, jika sejak awal Ryan melawan tentu tidak akan kacau balau wajah itu.
Tapi ini hanya sedikit rencana, karena dia bukan orang bodoh yang akan mengulang kesalahan untuk kedua kali, jatuh di lubang yang sama seperti seekor keledai, atau membuat masalah dimana kesempatan kedua berakhir tanpa mengubah apa pun.
Hanya bersikap sabar menerima perlakuan kasar dari orang-orang tentu membuat emosi sampai ke ubun-ubun, tapi dengan melampiaskan kemarahannya begitu saja, tidak akan membuat Ryan merasa senang. Bahkan berbalik menjadi masalah untuk ibunya nanti.
"Ingat Ryan kau akan menerima balasan ku nanti." Satu orang itu jelas tidak terima dengan tindakan Ryan.
"Apa ?, Apa yang kau katakan ?, Balasan ?, Memang siapa yang salah disini ?, Tentu saja kalian."
"Bapakku polisi."
Senyum di wajah Ryan mengejek, dia tidak peduli untuk itu ... "Lantas ?, Kau bercita-cita juga menjadi polisi seperti bapak kau."
"Aku akan mengadukan semua." Jawabnya marah.
"Sudah besar kok beraninya ngadu... Tapi apa kau lihat wajahku ini perduli ?."
"Kau...."
"Mau bapak kau polisi, Mentri, bupati, camat, lurah, tukang becak, tukang jahit, tukang parkir, tukang angkut barang orang, kuli bangunan, kuli tinta, kuli panggul, pemilik toko sembako, atau pun pengacara yang suka nganggur dan banyak acara, aku tidak takut." Ryan semakin senang mengejek mereka.
Ryan berjalan pergi meninggalkan mereka yang hanya bisa tergeletak lemas dengan tubuh kesakitan.
Sedangkan tepat di luar, sudah ada satu orang bertubuh besar datang mendekati Ryan.
"Benar begitu Narmo." Ucap Ryan santai.
"Kenapa Ryan ?."
"Tidak lupakan saja, jadi apa kau mendapatkan rekamannya."
"Tentu saja, tapi aku sempat takut Juna melihat saat dia keluar."
"Tubuh kau gede, sama orang kerempeng saja takut, percuma daging rendang sama kepala kakap yang kau makan setiap hari."
"Itu tidak ada hubungannya, dan juga aku tidak setiap hari makan rendang." Balas Narmo.
Ryan tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti dulu, karena dia bukan orang bodoh, hanya bersikap sabar untuk menghindari masalah. Ketika dia kalah dengan kekuatan, maka berusahalah menjadi pintar.