
Tidak berkutik sang ajudan Bupati, pak Sudarso ketika melihat seorang manusia bertubuh besar seperti beruang berdiri di depan matanya.
"Siapa kau, berani-beraninya menahan tanganku." Ucap pak Sudarso kesal.
"Aku ?, Aku hanya pemilik toko sembako." Jawab Jaelani tersenyum.
Perkenalan yang low profil dari Jaelani, padahal sosok pemilik toko sembako itu adalah mantan kepala mafia di wilayah kota ini dan sangat di takuti pada jamannya.
Sayangnya, nama besar Jaelani sudah menjadi cerita lama yang dilupakan banyak orang, tapi tetap saja, dari sorot mata tajam dan cincin batu akik sepuluh jari membuat mental siapa pun langsung tiarap.
Lepas tangan Sudarso dan berkata..."Cih, hanya pemilik toko sembako, asal kau tahu, aku ini...."
"Kau adalah pak Sudarso ajudan Bupati yang tinggal di kompleks merak nomor 32 rumah bercat ungu." Lanjut Jaelani atas perkenalan sang ajudan Bupati, Sudarso.
Itu membuatnya terkejut..."Darimana kau tahu !!?."
"Pak walikota sendiri yang mengatakannya kepadaku." Balas Jaelani santai.
Tentu wajah Sudarso menjadi lemas dan kesombongannya sebagai ajudan Bupati runtuh seketika, dimana dia tidak bisa membayangkan, seorang pemilik toko sembako mengenal walikota.
Lebih dari sekedar saling kenal, karena mustahil bagi orang-orang berstatus biasa saja, bisa mengetahui informasi yang cukup rinci.
Pak Sudarso kembali duduk di kursinya dengan tenang, dia tidak menunjukan sikap arogan atas jabatan yang dia miliki.
"Ryan, apa kau baik-baik saja." Tanya Jaelani.
"Iya pak Jaelani, terimakasih karena membantu ku."
"Bukan masalah, aku hanya mendengar cerita dari Nela dan Narmo kalau kau mendapat masalah di sekolah, jadi aku cepat-cepat datang kemari."
Senyum Ryan tidak bisa sembunyikan, Nela dan Narmo memang pantas untuk dianggap olehnya sebagai teman sejati.
Namun dari sisi lain, Brahman mulai berkicau..."Bantuanmu itu tidak diperlukan, disini sudah ada aku, aku yang akan mengurusnya, kau pulang saja, jaga toko mu, mungkin ada maling lewat membawa lima karung beras."
"Aku pikir siapa yang bicara, ternyata oh ternyata, bapak Brahman, sungguh, pertemuan yang tidak menyenangkan." Balas Jaelani sengit.
Tersirat wajah tidak senang dari Brahman atas kehadiran Jaelani.
Bukan rahasia lagi jika dua orang ini adalah teman masa kecil dan juga rival di dalam bisnis. Tapi itu dulu, ketika Jaelani masih aktif di urusan bisnis mafia. Hingga dia memutuskan untuk pensiun, Brahman memiliki lebih banyak kekuasaan di kota.
"Ternyata kau masih hidup, Jae, lama aku tidak melihatmu hingga aku pikir ingin berkunjung dan membawa karangan bunga turut berdukacita." Sindir Brahman terdengar seperti penghinaan.
Dan Jaelani tidak mau kalah...."Harusnya aku yang bertanya seperti itu, bahkan aku sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari dan tinggal di beri namamu saja."
"Cih dasar orang tua kolot."
"Kau sendiri juga tua, lihat perutmu itu sudah berisi kolesterol jahat sumber penyakit dari uang haram yang kau makan."
Keributan ini sudah biasa terjadi ketika mereka berdua saling bertemu di satu tempat yang sama.
Hingga terkadang Ryan berpikir kalau dendam dua orang tua ini sudah di teruskan kepada Nela dan juga Reina. Tapi seakan tidak ada yang berubah, entah ayah atau pun anak, keduanya saling meributkan hal-hal tidak penting.
"Dasar otak udang."
"Kau toples rengginang."
"Rohmad."
"Sueb."
Ryan berjalan mendekat ke tempat ibunya dan bertanya.... "Siapa Rohmad dan juga Sueb, bu."
"Itu nama ayah mereka berdua." Jawabnya berbisik.
Lanjut Jaelani dan Brahman bertukar hinaan.
"PDI...."
"******...."
Sekali lagi, Ryan tidak mengerti kenapa...
"Itu panjang ceritanya, apa perlu ibu jelaskan."
"Tidak perlu bu, nanti saja."
Ryan dan semua orang jelas bingung melihat mereka berdua saling beradu mulut, caci maki atau memanggil nama ayah masing-masing, hingga partai politik yang harusnya bukan ejekan pun ikut dibawa-bawa.
"Apa kau mau cari ribut denganku." Brahman berdiri.
Jaelani tidak mundur...."Siapa takut, tiga puluh tahun lebih aku menunggu, mungkin ini saatnya mengakhiri hidup mu."
"Aku pun sama, menyesal lah kau karena membuatku marah."
Seketika itu juga, sebelum pertengkaran dua orang tua menuju titik puncak, Sela berdiri untuk menarik Brahman agar kembali duduk.
"Papa, sudahlah, jangan buat keributan disini." Ucap Sela.
"Ok, baiklah. Sayang." Emosi Brahman pun lenyap.
Melihat sosok Sela yang merayu Brahman, Jaelani seketika lemas, terlebih ketika dia mendengar kata sayang sebagai jawaban itu, seakan ditunjukkan secara telak bahwa Jaelani kalah.
Dia memang tahu kalau Brahman menikah lagi setelah istrinya meninggal, tapi siapa sangka, bahwa istri baru yang Brahman punya sangatlah cantik dan juga aduhai.
"Jangan merasa kau sudah menang karena istri mu itu, Brahman, aku pasti membalasnya." Tegas ucapan Jaelani meski harus menelan kekalahan telak.
Kembali ke inti permasalahan Ryan dan tiga anak beban keluarga.
Wajah murung, bingung dan juga takut tampak jelas ditunjukkan setelah video yang Ryan bawa sebagai bukti memperkuat kesalahan mereka.
"Baiklah, karena Ryan sudah menunjukkan bahwa apa yang dia lakukan adalah untuk membela diri, aku putuskan Ryan tidak bersalah." Berkata Pak kepala sekolah memberikan hasil persidangan.
Tidak ada yang berani menentang keputusan kepala sekolah, atau lebih tepatnya, semua orang takut kepada Brahman dan juga Jaelani.
Kehadiran mereka berdua menjadi pelindung Ryan tentu menciutkan nyali siapa pun saat berhadapan langsung.
"Sekarang untuk kalian bertiga, akan bapak skors selama tiga Minggu." Tegas hukuman dari kepala sekolah.
Satu orang tua seakan tidak terima..."Tapi pak, ini memberatkan ku sebagai orang tuanya...."
"Tidak ada kata tapi pak Jiwo.., Ini adalah hukuman ringan, daripada anakmu aku keluarkan." Ketegasan Kepala sekolah tidak kendur.
"Baik pak, kami terima konsekuensinya."
Bagi para berandalan ini skorsing tiga Minggu lebih seperti libur panjang. Meski pun Ryan ingin mereka dikeluarkan saja, karena tidak ada untungnya membiarkan pembawa masalah tetap berada di sekolah.
"Dan kau Juna...."
Juna terkejut..."Aku ?."
"Ya kau, bapak sedikit berharap kau berubah Juna, ayahmu memercayakan mu kepada bapak, tapi kau malah mencoba melindungi mereka, apa kau tahu itu salah."
"Maaf, aku hanya bertindak sebagai teman."
"Tapi tetap saja, salah adalah salah, kau harus tahu itu, ini peringatan terakhir, sekali lagi kau terlibat dalam masalah, kau juga akan di skors." Kepala sekolah memberi sedikit nasihat, meski tidak yakin jika Juna akan patuh.
"Baik pak, maafkan aku." Balas Juna terdengar menahan emosinya.
Juna lepas dari hukuman apa pun, karena dia ikut terekam di dalam video, dan yang terpenting, dia adalah anak pemilik yayasan Nawasena, sehingga pak kepala sekolah pun tidak berani memberi skorsing.
Ketiga wali murid hanya bisa pasrah, berjalan pulang membawa anak mereka dengan perasaan marah.
Pak kepala sekolah pun memberi permintaan maaf kepada Ryan, karena dia tidak bersikap adil dan mencurigai bahwa Ryan adalah siswa yang bermasalah.
"Bapak sangat kagum dengan kemampuan mu dalam berbicara Ryan, apa kau bercita-cita untuk menjadi anggota dewan ?."
"Tidak pak, aku hanya bisa berbicara, tapi tidak ahli dalam membuat janji." Jawab Ryan.
"Hmmm itu pun tidak apa-apa."
Ryan bisa melihat ada senyum tipis melengkung di wajah ibunya, ekspresi wajah penuh dengan perasaan lega dan itu menunjukkan bahwa mereka tidak lagi harus di hina.