
Jam Sudah menunjukkan pukul 11 malam, Ryan tidak bisa tetap di kamar Sela, terlebih lagi dengan kondisi mereka berdua yang telan*jang bersama.
Ryan mulai membenahi pakaian Sela dan mengenakkan kembali ke tubuhnya, merapikan tempat tidur dan menyemprotkan pengharum ruangan, untuk menyembunyikan aroma tidak sedap jika ada yang mencium.
Segera saja keluar melalui pintu belakang, sejak kecil Ryan dan Reina sering menyelinap keluar dan masuk melalui pintu belakang, sehingga dia tahu kemana harus pergi.
Tapi setelah dia menerobos keluar melewati pagar, Reina berdiri tepat di depannya.
"Sedang apa kau menyelinap keluar dari rumahku." Ucapnya menatap Ryan penuh curiga.
Terhembus nafas panjang karena Ryan jelas sangat terkejut, dia takut di sangka maling atau semacamnya... "Reina... Kau membuatku terkejut."
"Sudah terkejutnya ?, Jadi apa yang kau lakukan." Balas Reina menunggu jawaban.
Ryan pun memikirkan alasan yang tepat...."Soal itu.... Aku ingin bertemu denganmu dan mengantarkan tas yang tertinggal di rumah sakit, tapi karena sudah malam, aku masuk lewat pintu belakang dan menaruh tas mu di ruang tamu."
Untungnya apa yang Ryan katakan adalah benar, tas milik Reina, dia taruh diatas sofa ruang tamu. Sehingga, Reina bisa memastikan itu sendiri.
"Apa hanya itu...." Tanya Reina sengit.
Tiba-tiba saja, otak Ryan bekerja tiga kali lebih cepat untuk mencari alasan dari pertanyaan Reina.
Sebuah simulasi imajinasi pun terbentuk di dalam pikiran Ryan..
Saat seseorang mengatakan 'Apa hanya itu...' maka terbentuk dua opsi pilihan selanjutnya, dimana artinya, Reina mengharapkan hal lain untuk dibicarakan, atau juga dia sedang tidak ingin berbicara panjang lebar.
Namun ini akan menjadi hal yang rumit.
Dimana jika Ryan menjawab... 'Ya hanya itu'. Dan Renia sedang tidak ingin bicara dengannya, maka dia akan membalas ...'Oh begitu' semua selesai. Ryan aman dan Reina pulang tanpa peduli dengan hal yang lain-lain.
Tapi yang jadi kekhawatiran Ryan adalah ketika Reina 'mengharapkan hal lain'... Tentu jawaban Ryan akan membuat Reina marah dan curiga. 'Untuk apa dia rela datang larut malam demi mengantar sebuah tas ?.'
Jika itu terjadi maka, Reina akan mencari segala kemungkinan tentang tujuan Ryan. Dan yang paling gawat, ketika dia sadar bahwa di dalam rumah hanya ada Sela seorang.
Dia pun tahu bahwa hubungan antara Ryan dan Sela terbilang akrab, bahkan dia sempat memergoki ibu tirinya itu makan bersama di restoran saat hari pertama Ryan mudik.
Reina akan menuduh bahwa Ryan mencari kesempatan di saat Brahman pergi keluar kota, Reina belum pulang dan Sela sendirian di rumah, kecurigaan itu sangatlah berbahaya.
Terlepas dari masalah Ryan, sejak awal antara ibu tiri dan anak tiri akan selalu mencari kelemahan masing-masing. Sedangkan sekarang, kelemahan Sela ada di jawaban Ryan.
Ryan pun memilih pilihan kedua. Dimana dia harus mencari alasan lain yang di inginkan oleh Reina.
"Dan juga aku ingin meminta maaf tentang siang tadi." Lanjut Ryan mengatakannya.
Namun sikap Reina tidak berubah, dia masih keras kepala dengan wajah marah...."Untuk apa kau meminta maaf, kau tidak salah, jelas kalau kau membutuhkan bantuan dari wanita lonet itu."
Ryan sadar, Reina lebih seperti, dia sedang merajuk, dia tahu itu, seorang wanita yang tidak mau dianggap mudah menerima permintaan maaf dari orang lain.
"Memang benar, aku butuh bantuan Sela, tapi aku juga harusnya sadar, kau sangat penting untuk ku. Maaf karena semua masalah yang terjadi aku terlalu bingung." Coba Ryan membuat alasan.
"Baguslah kalau kau mengerti." Tiba-tiba saja Renia mengambil tangan Ryan dan di pegangnya lembut.
'Kenapa ?, Apa yang terjadi...' Pikir Ryan dari perubahan sikap Reina.
Ryan bingung, karena dia melihat wajah Reina yang tampak malu-malu bahkan sekedar mata yang saling bertatapan dan ini baru pertama kali, setelah sekian lama mereka kenal.
"Hei... Ryan apa aku benar-benar penting bagimu." Tanya Reina ingin meyakinkan ucapan yang dia dengar.
"Ya, kau sangat penting untukku, sejak dulu hingga sekarang, hanya saja, aku tidak bisa menunjukkan itu." Jawab Ryan mengikuti alur pembicaraan secara otomatis.
"Kalau begitu buktikan, aku tidak ingin omong kosong saja." Balas Reina.
Ragu-ragu Ryan memberikan bukti seperti yang Reina minta, sejak awal, pembicaraan ini adalah siasat agar dia tidak mencurigainya di tengah malam keluar lewat pintu belakang.
Tapi sekarang, kata 'Penting' yang Ryan ucapkan sebelumnya, membuat Reina merasa perhatian Ryan secara khusus hanya untuk dirinya seorang.
"Apa pun yang kau inginkan."
"Cium aku." Kata Reina tanpa berpikir hal lain.
Ini menjadi satu-satunya pilihan bagi Ryan, apa bila menolak kemarahan Reina akan semakin menjadi-jadi. Dianggap semua perkataan Ryan adalah kebohongan dan berimbas menjadi hal-hal yang lebih rumit.
Ryan menarik tangan Reina dan membuatnya berdiri semakin dekat hingga saling bersentuhan, Reina masih tertunduk malu, tapi Ryan mulai mengusap rambutnya perlahan. Mengambil dagu Reina dan siap untuk memberi satu ciuman.
Namun belum sempat bibir mereka bersentuhan, sorotan cahaya senter menyilaukan pandangan mata dan satu suara yang Ryan kenal memanggil.
"Siapa disana..." Itu adalah suara dari pak Jaruki.
Segera saja, Ryan membawa Reina pergi, tanpa tahu mau kemana, tapi yang mereka dapati, kini berada tidak jauh dari rumah Ryan sekarang.
"Reina, apa kau baik-baik saja." Ucap Ryan.
Berlari secara terburu-buru dan cukup jauh hingga sampai di dekat Rumah Ryan, tentu membuat Reina lelah. Ketika dia berbalik, tangan Reina melingkar di kepalanya, menarik paksa dan bibir pun saling bersentuhan.
Sela menjadi sosok wanita dewasa dan mencoba mendominasi tanpa memberi Ryan kesempatan.
Sedangkan, Reina menjadi gadis lugu yang lembut, malu-malu dan mengikuti bagaimana cara Ryan mengarahkannya.
Setelah beberapa menit beradu ciuman dan permainan lidah yang begitu sengit. Reina melepaskan diri.
"Rasanya seperti Alkohol, apa kau minum sesuatu ?." Ucap Ryan.
"Itu karena aku ingin melupakan kekesalan ku." Jawabnya.
"Kau harusnya tidak minum sesuatu yang seperti ini."
Perlahan Reina bergerak ke telinga Ryan.
"Aku tidak ingin pulang, biarkan aku menginap di rumahmu." Bisik Reina dengan wajah dipenuhi keinginan akan sesuatu yang lebih.
"Apa aku boleh menolaknya."
Tapi Reina memberi pelukan erat...."Tentu saja tidak, kau tidak boleh menolak seorang wanita yang sedang jatuh cinta dan ingin menghabiskan waktu bersama."
"Baiklah."
Suasana sekitar rumah yang sepi, tidak akan ada satu orang pun sadar, jika saja Ryan membawa wanita masuk kedalam.
Hingga pintu terkunci, Reina seperti tidak bisa bersabar, bergerak cepat memberi ciuman kedua kali tanpa ragu.
"Apa kau tidak bisa bersabar, aku bahkan belum mandi sejak siang tadi."
"Aku pun sama."
"Kalau begitu biarkan aku mandi terlebih dahulu." Ryan tentu tidak nyaman setelah berkeringat di dalam kamar bersama Sela.
"Untuk apa ?. Aku bisa mencium aroma harum darimu." Jawab Reina selagi mencium Ryan dalam perlukannya.
Seketika Ryan terkejut, dia mendorong tubuh Reina untuk menjauh, dia bisa saja sadar, jika aroma yang diciumnya adalah sisa dari parfum di tubuh Sela.
"Tidak, aku berkeringat dan lengket, kau duduklah terlebih dahulu, biarkan aku mandi." Ucap Ryan gugup.
"Tapi aku tidak keberatan."
"Kau tidak keberatan, tapi aku merasa risih. Jika tolonglah, kau jangan bersikap egois lagi Reina."
"Aku mengerti." Reina mengangguk lemas dengan wajah murung.
Dia benar-benar terlihat seperti seorang anak kecil yang diambil mainannya dan Ryan ingat tentang masa lalu meraka, bagaimana saat Reina murung seharian karena tidak mengajak dia bermain. Sungguh tidak berubah.
Ryan segera saja membersihkan diri agar aroma parfum yang masih melekat di tubuhnya hilang. Tapi saat ini, Ryan benar-benar rumit, meski sudah bermain bersama Sela, tidak menurunkan semangat ketika merasakan ciuman Reina.
Sebagai lelaki yang selalu menjaga kesehatan dengan berolahraga dan membentuk tubuh dari latihan fisik, ketahanan Ryan sangatlah kuat.
Bahkan, berkelahi melawan tiga orang anak buah Juna, tidak membuatnya lelah. Meski pun saat pertarungan di kamar Sela, cukup menguras tenaganya tapi itu belum sepenuhnya lunas.
Hingga selesai mandi, Ryan berjalan keluar dan melihat sosok Reina berbaring di atas ranjangnya hanya menggunakan pakaian dalam saja. Dia seperti sedang menunggu dan tersenyum lebar ketika Ryan sudah datang.
Ditariknya paksa untuk jatuh di atas ranjang bersama, gadis ini menunjukkan pesona yang jelas berbeda dari Sela. Meski belum tumbuh sebesar milik wanita dewasa, tapi itu sudah cukup membuat siapa pun penasaran tentang kelembutan yang tersimpan di dalam pakaiannya.
"Kenapa kau melihatku dengan serius, apa kau menginginkan sesuatu."
Ryan tidak bisa menjawab pertanyaan Reina itu, hanya diam, tapi secara sengaja dia mendekatkan diri agar kulit mereka saling bersentuhan.
"Kenapa kau diam saja Ryan, apa aku tidak menarik untuk mu." Tanya Reina merayu
Menggeleng kepala Ryan secara otomatis.
"Apa kau tahu, setiap kali aku bersama Juna dan teman-temannya itu, mereka melihatku penuh nafsu, itu sangat tidak menyenangkan, mereka ibarat hewan yang memikirkan betina untuk di kawini."
"Jika kau tidak senang untuk di lihat, kenapa kau menunjukkan kepadaku." Balas Ryan.
"Kau berbeda Ryan, sejak dulu, aku sudah jatuh cinta kepada mu, tapi setelah kau kembali, kau berubah, aku menginginkan Ryan yang dulu." Jawab Reina tersenyum di depan wajahnya.
"Aku tidak pernah berubah, tapi aku sadar diri, kau anak orang kaya, sedangkan aku ...." Rumit senyum Ryan menggambarkan tentang dirinya.
"Aku tidak peduli, selama itu kau, kau bebas melihatnya atau pun merasakannya." Ucap Reina merayu.
Hanya mendengar rayuannya saja, Ryan menjadi bersemangat, dia tidak menunjukan keraguan, dan mulai membelai apa yang diberikan oleh Reina.
Sebuah kelembutan pas dalam genggaman tangan, tidak besar dan tidak kecil, sensasi empuk dan penuh gairah, ciuman yang Reina berikan pun membangunkan pikiran liar kembali ke permukaan.
Melepas satu persatu pakaian, hingga tidak ada yang menghalangi pandangan mereka, tapi itu menjadi pertama kalinya bagi Reina, dia mencoba terbiasa, meski rasa perih ketika Ryan memulai permainan.