
Ryan bisa merasakan gemetar tangan Reina yang masih ketakutan untuk semua kejadian sebelumnya, mimpi buruk ketika dia harus mendapat perlakuan kasar dan niat busuk dimana hampir ternodai.
Tapi Ryan memang secara sengaja menunggu ketika Reina menerima perlakuan kasar dari ketiga lelaki itu lakukan. Semua adalah untuk memberi pelajaran bagi Reina, bahwa setinggi apa pun status keluarga yang dia miliki, tidak akan ada orang mau menolongnya di dalam bahaya.
"Aku melihatmu kemarin seperti orang yang bisa mengatur segalanya sesuai keinginan, tapi sekarang, kau tidak lebih seperti anak kecil yang ketakutan karena tidak bisa menyelamatkan diri." Ucap Ryan.
"Aku tidak merasa kejadian ini bisa kau tertawakan Ryan."
"Kau benar, tapi... apa kau mengerti sekarang Reina, ketika keluargamu tidak ada disini, kau bukan siapa-siapa, kecuali wanita yang ketakutan." Ryan secara jelas menyindir Reina.
Reina pun tahu makna yang Ryan ucapkan, dia menghentikan langkah kakinya, melepaskan genggaman tangan Ryan dan berdiri diam.
"Memangnya kau pikir aku menyukai hidup di dalam keluarga seperti sekarang." Reina bicara dengan nada tunggi.
"Dengan semua yang kau miliki, tentu kau sangat menikmatinya." Namun Ryan terus mendorong Reina.
"Kau tidak tahu apa pun Ryan."
"Ya aku memang tidak tahu... kau sudah berubah untuk segala hal, itu karena kekayaan dan kekuasaan milik keluarga Ardantio."
Itulah yang Ryan lihat dari kehidupan Reina, memiliki keluarga dengan semua bisa dia dapatkan, tanpa perlu bersusah payah, berjuang mati-matian dan mempertaruhkan harga diri untuk apa yang dia minta.
"Kau menganggap hidupku mudah ? Salah, aku tidak pernah nyaman berada di rumah bersama wanita itu." Marah Reina menjawab.
Wanita yang Reina maksudkan adalah Sela, ibu tirinya.
"Jangan bercanda, Meski pun kau menolaknya, itu tidak mengubah kenyataan, jika selama ini kau bergantung dengan nama Ayahmu."
Dengan perasaan campur aduk Reina melangkah cepat untuk pergi meninggalkan Ryan tanpa perduli menoleh ke belakang.
Sedangkan Ryan, tidak perlu mengejar atau pun menganggap bahwa apa yang dia katakan adalah salah. Karena dari sudut pandang Ryan, Reina hanya menganggap dirinya sebagai korban ketidakadilan di dalam hidup ini.
Sedangkan untuk Ryan yang sudah mengalami bermacam-macam cobaan, dia dipaksa menerima tanpa bisa tawar menawar, tentu ada rasa iri jika harus di sandingkan di dalam hidup milik Reina.
"Ya... Manusia memiliki masalah mereka masing-masing, tapi kau hanya tidak bersyukur dengan hidupmu sendiri, Rein." Ucap Ryan sendirian.
Hari yang sudah semakin larut, membawa Ryan melangkah pergi untuk kembali ke jalan menuju rumahnya.
*******
Di atas ranjang empuk...
Seorang lelaki bertubuh buntal merebahkan diri dan menikmati waktu sebelum tidur untuk membaca sebuah buku. Brahman memikirkan sesuatu yang selama ini tidak pernah terlintas di dalam benaknya.
Tentang kematian sosok sahabat karib yang bernama Abram, dialah ayah dari Ryan dan juga suami dari Istianti. Selama ini Brahman hanya menganggap semua orang di sekitarnya adalah alat untuk mencapai tujuan, tanpa mau perduli jika menggunakan cara kotor, Brahman tidak menaruh belas kasih sedikit pun.
Seperti yang dia alami sebelumnya, kehadiran Ryan dan Isti secara tiba-tiba membuat Brahman merasa tidak nyaman, karena dia sendiri tahu bahwa kematian Abram ada sangkut pautnya dengan dirinya.
Ingatan Brahman terjun bebas ke masa lalu, dua tahun saat konflik terjadi antara kelompok Brahman dan kelompok mafia lain yang jelas mencari masalah karena kalah saing dalam tender proyek pembangunan jangan tol Trans Sumatra.
Tentu bukan hal aneh, jika saingan Brahman ingin menghancurkan proyek yang ada di tangan lawan, karena itu musuh Brahman mengirimkan anak buahnya.
Saat itu, di dalam kantornya, sebuah surat dari Abram ada atas meja Brahman, ini menjadi kejutan karena bertuliskan 'pengunduran diri'.
Keras tangan Brahman menghantam meja... "Apa-apaan ini Abram, kau berniat merusak proyek ku, setelah aku menyerahkan tanggung jawab sebagai pemimpin kepadamu."
"Tenanglah Brahman, aku tidak berniat pergi sekarang, aku akan tetap melanjutkan proyek ini hingga selesai, jadi kau jangan khawatir."
"Tapi tetap saja, kau berniat untuk mengundurkan diri, kita sudah menjadi sahabat selama puluhan tahun."
"Ini bukan soal persahabatan Brahman, ini adalah tentang aku karyawan dan kau bos nya, itu tidak membuat hidup ku menjadi lebih baik." Jawab Abram dengan memahami sikap Brahman.
Itu adalah alasan yang bisa Brahman terima, tapi beberapa alasan membuatnya menjadi ragu-ragu atas tujuan Abram untuk mengundurkan diri.
Brahman tahu, seberapa besar kontribusi Abram yang membuat kemajuan pesat bagi perusahaan ini, termasuk kecerdasan dan kerja keras satu orang itulah dia bisa menyingkirkan para saingan dengan mudah.
"Aku ingin memulai bisnis ku sendiri, dan meninggalkan dunia gelap yang selama ini kita berdua lalui."
Hembusan nafas berat keluar, dia tahu akan ada waktu dimana Abram memilih jalan lain dan ini tidak bisa dihentikan...."Baiklah, lakukan apa pun yang kau mau, tapi ingat Abram, kau harus merahasiakan semua ini."
"Aku berjanji, Brahman."
Tapi keadaan berubah, ketika suara peluru meletus dan teriakan para pekerja terdengar keras. Melihat dari jendela kondisi di luar, nyatanya sudah banyak orang-orang asing berkumpul dengan tujuan yang tidak baik.
Bukan hal aneh bagi Brahman, dimana semua orang itu adalah kelompok yang dikirim oleh seorang saingan untuk menghancurkan bisnisnya.
Belum sempat mereka untuk keluar, kepulan asap dan panas api mulai menyambar ke ruangan yang menjadi tempat kerja Brahman, tindakan ini jelas tidak meminta tuntutan apa pun, saingan yang mengirim mereka hanya di perintah untuk membunuh Brahman.
Pintu terbuka dengan senjata yang diarahkan ke tempat Brahman, namun kejadian selanjutnya adalah sosok Abram berdiri melindungi Brahman dan menerima empat tembakan peluru secara langsung.
Namun ada satu peluru terlewat, dan itu menembus paha Brahman hingga membuat mereka berdua jatuh.
"Oi. Abram... Oi." Teriak Brahman memanggil nama Abram keras.
Lemas tubuh Abram dipenuhi darah yang menetes ke lantai, wajah semakin pucat dan suara lirih untuk di katakan kepada Brahman.
"Brahman, tolong... Tolong jangan libatkan Isti dan Ryan. Aku mohon." Ucap Abram perlahan.
Situasi semakin buruk bagi Brahman, melihat atap yang tidak bisa bertahan setelah terbakar akan runtuh, dan seketika itu jatuh tepat di atas kepala.
Tapi belum sempat Brahman menyelamatkan diri, tubuhnya didorong kuat oleh Abram untuk sisa tenaganya yang terakhir. Namun setelah semua terjadi, Brahman membuka mata di sebuah rumah sakit dengan luka bakar cukup parah.
Dan semua masih berbekas jelas di bagian pinggang sebelah kanannya sampai sekarang.
Itu adalah ingatan terakhir Brahman tentang Abram. Ya sebuah hutang yang tentu tidak bisa dia lupakan.
Pintu kamar perlahan terbuka, menampakkan wanita muda yang berjalan mendekat, melihat ekspresi wajah Brahman begitu rumit, itu membuatnya bertanya-tanya.
"Papa, apa yang terjadi ?." Ucap Sela.
"Tidak bukan hal penting, hanya sedikit mengingat kejadian di masa lalu saja."
"Tapi tidak biasanya papa terlihat begitu murung."
"Apa benar begitu." Bertanya Brahman yang tidak tahu tentang isi pikirannya sendiri.
Sedikit tersenyum ketika melihat wanita muda yang sudah menjadi istrinya cukup perhatian, tapi perlahan hembusan nafas berat keluar seakan memperlihatkan suatu masalah.
"Aku sedangan memikirkan soal Ryan dan Isti."
"Oh, apa yang papa khawatirkan, bukankah mereka hanya meminta bantuan saja." Balas Sela bingung.
"Lebih dari itu, antara aku dan ayah Ryan, sudah sangat lama saling mengenal, dan untuk beberapa alasan kematian ayah Ryan ada kaitannya denganku." Lemas Brahman menjawab.
"Kalau begitu kenapa papa membantu mereka jika tidak nyaman karena kejadian yang menimpa ayah Ryan."
"Ini adalah soal janji, meski pun tidak ada kaitannya dengan bisnis, tapi janji tetap harus dilunasi."
Lebih dari itu, wajah Brahman tidak seperti orang yang khawatir, melainkan suatu masalah rumit membebani pikirannya.
"Apa yang papa takutkan, tidak mungkin Ryan menghancurkan bisnis papa."
"Aku mengkhawatirkan orang yang ada di belakang Istianti."
Sela merasa penasaran..."Siapa mereka ?."
"Lupakan soal itu, mungkin memang hanya kekhawatiran ku saja." Brahman menghindar dari pertanyaan itu.
Dan membenamkan diri di dalam selimut untuk tidur menikmati waktu bersama Sela.