Ice Cream

Ice Cream
Hukuman



Ryan masihlah berangkat ke sekolah seperti biasa, namun kali ini dia terlambat karena harus membenahi pakaian dan kebutuhan ibunya setelah sampai di rumah, kemudian menuju ke sekolah dimana satu arah dengan sekolah Nawasena.


Namun tetap saja, kini Ryan dan Nella harus berhadapan langsung dengan bapak Ruslani, selaku satpam gerbang sekolah Nawasena yang berdiri tegak menantang sembari bersila tangan dan membusungkan perutnya. Jangan ditanya soal perut, karena itu sudah off-side, melewati batas, kelebihan muatan, ukuran celana 54, sabuk pengaman di ujung, dan seperti percuma di pasang resleting.


Rian, Nella dan para sindikat orang-orang tidak tahu aturan sekolah, selalu datang terlambat, pakaian semrawut, rambut pirang kiri, hitam kanan, panjang sebelah, botak tengah, layaknya parade Agustusan kategori tokoh unik. Sudah mempersiapkan mental untuk mendengar ceramah panjang dari pak Ruslani.


"Kalian ini, sejak awal aku perhatikan, selalu saja datang terlambat, jam masuk itu pukul 7, tidak kurang tidak lebih." Tegas ucapan pak Ruslani sembari menunjuk kedepan.


"Tapi pak..." Mereka coba membela diri.


"Tapi, tapi, ... Bocah-bocah seperti kalian seharusnya bersyukur karena masih bisa sekolah, coba kalian bayangin ...."


Segala macam petuah, kata pengantar, kata mutiara, pantun, visi misi, kisah para pahlawan Nasional, perjuangan melawan penjajah, curhat, diakhiri dengan doa, selalu menjadi ceramah panjang dari pak Ruslani, dan itu lebih panjang dari pidato kepresidenan saat dijadikan inspektur upacara hari kemerdekaan.


"Apa kalian paham." Tegas Pak Ruslani mengacungkan tangan keatas langit.


"Paham." Serentak semua orang menjawab.


Sedangkan Ryan yang memang baru pertama kali terlambat setelah satu bulan bersekolah tentu merasa santai, dia memiliki alasan kuat dan tidak mungkin terbantahkan.


Namun untuk Nella yang sudah hobi terlambat seperti menjadi kegiatan sehari-hari, bahkan jika sehari saja tidak mendengarkan pak Ruslani berpidato, berasa ada yang kurang didalam hidupnya.


Walau Nella berangkat dari rumah setengah enam, tapi dia lebih banyak nongkrong di pinggiran jalan bersama teman-teman satu frekuensinya, tentu mereka mengenal betul jika dia termasuk anak bandel, suka berkelahi dan nilai di bawah KKM.


"An, ini salahmu, kalau kau lebih cepat kita tidak akan terlambat.... Pidatonya panjang pula." Ucap Rea sedikit berbisik agar tidak terdengar oleh pak Ruslani yang sedang memanjatkan doa penutup.


"Ya mau bagaimana lagi, aku tidak tahu bingung untuk membawa apa saja, jadi begini lah...."


Tapi di sisi lain, dua wajah tidak asing bagi semua orang barulah turun dari masing-masing mobil yang mengantar mereka, itu adalah Sea dan juga Reina.


Sedikit Ryan memperhatikan lirikan dari Sea dan Reina yang mengarah kepadanya. Bukan hal aneh jika soal Reina, karena biasanya dia akan menjemput ke rumah dan membangunkannya.


Karena kejadian yang menimpa sang ibu, itu membuat Ryan tidak punya pilihan lain untuk tidak datang ke rumah Reina dan hanya mengirimkan pesan.


Di sisi lain... Percakapan antara Ryan dengan Nella mendapat perhatian dari pak Ruslani.


Seketika, tampak jelas di hadapan mereka sosok Ruslani berdiri menatap dengan wajah rumit untuk dijelaskan, menggambarkan rasa bosan, kesal, bingung, lapar, sekalian mules, semua itu tercampur dalam satu ekspresi, bayangkan itu.


"Nella, Nella, Nella, apa kau benar-benar niat untuk bersekolah atau cuma numpang duduk biar terlihat seperti anak terpelajar." Kata Ruslani menggelengkan kepalanya tidak jelas.


"Sekolah pak." Singkat jawaban Nella menunduk lemas.


Di lanjutkan kembali oleh pak Ruslani setelah menarik nafas dalam-dalam, "Aku kenal bapak kau, kami kawan sejawat, satu nasib, satu sepenanggungan, susah senang bersama, nonton layar tancap bareng, nonton tawuran bareng, nonton orang di arak masa karena mesum pun bareng, tapi aku lihat kau kelakuan anaknya kaya gini, terlambat hampir setiap hari, apa tidak ada gitu niat buat serius."


Nella sudah merasa bosan ketika harus mendengar perkataan yang Ruslani, sudah berkali-kali hingga hafal disetiap jeda dan intonasi naik turunnya.


"Ya maap pak, aku punya usul pak, bagaimana kalau bel pelajaran bunyi setelah aku sampai di sekolah." Ucap Nella yang mencoba untuk bercanda.


"Sekalian aja kau yang pegang kunci gerbang, biar datangnya bareng-bareng sama kau." Jelas sekali pak Ruslani tidak bisa diajak bercanda.


"Hehe, bapak gak bisa bercanda nih."


"Rusak dah, rusak ! ..... cepat kalian pergi ke ruang BP, dan tulis nama kalian di daftar keterlambatan."


Beliau sudah diberikan amanah oleh kepala sekolah untuk menghukum setiap murid yang terlambat, sehingga tidak perlu ragu-ragu, ketika harus memberi hukuman.


Baru berapa langkah berjalan pergi.


"Kenapa kalian jalan."


"Lah memang kami harus apa pak ?." Balas mereka.


"Berguling !!!, sampai ruang BP, kecuali dua cewek ini, jalan jongkok aja." Walau bapak Ruslani hanya selaku satpam penjaga gerbang.


"Lah gimana denganku, aku juga cewek." Nella pun mengacungkan tangan.


Namun ekspresi bingung tersirat di wajah pak Ruslani.... "Hah, sejak kapan kau berganti kelamin Nella."


"Terserah bapak lah." Pasrah saja Nella dengan jawaban itu.


Sesampainya di ruang BP, atmosfer suasana terasa penuh tekanan karena tiga orang yang saling berhadapan beradu pandang.


Tapi hanya beberapa saat saling menatap, Reina tanpa mengucapkan satu kata pun, dia segera pergi karena tujuannya sekarang bukan mengurus Nella atau pun Sea.


"Kenapa kau tidak membangunkan ku, Ryan." Ucapnya dengan kesal.


"Maaf, untuk hari ini dan mungkin besok juga tidak." Jawab Ryan tersenyum pahit.


"Kenapa ?."


"Ibu ku masuk rumah sakit, jadi ...."


Sedikit kejutan bagi Reina mendengar penjelasan Ryan...."Kenapa kau tidak bilang."


"Bukankah aku sudah mengirim pesan."


"Ah...karena terlalu terburu-buru, Aku tidak sempat membuka ponsel."


Satu guru wanita berjalan mendekat dengan membawa buku yang akan di tulisnya nama-nama siswa terlambat. Itu adalah Bu Gea yang merangkap jabatan sebagai wali kelas untuk kelas Ryan dan juga guru BK.


Setiap siswa ditulisnya dengan tinta merah, meski begitu mereka adalah langganan dalam hal terlambat.


Ketika melihat Ryan yang berjalan maju untuk memberi penjelasan, ibu Gea mulai menggelengkan kepala..."Awalnya ibu percaya kalau kau anak yang rajin Ryan, tapi kenapa sekarang kau terlambat."


"Maaf ibu, aku terlambat hanya satu kali selama aku berada di sekolah ini dan juga aku punya alasannya." Ryan coba memberi alasan.


"Meski itu satu kali, terlambat adalah satu tindakan yang mencerminkan rasa kurang bertanggung jawab." Balas ibu guru Gea dengan tegas.


"Paling tidak ibu mendengar penjelasan ku."


"Baiklah. Coba kau katakan...."


"Ibuku masuk rumah sakit." Jawab Ryan rumit.


"Jangan sembarangan membawa nama ibumu sebagai alasan Ryan. Itu dosa."


"Kenyataannya begitu, semalam hingga pagi aku sibuk untuk mengurus keperluan ibu karena dirawat inap beberapa hari, jadi aku terlambat."


"Baiklah, tapi tetap saja, kau harus menerima hukuman." Tidak ada tawar menawar untuk membuat Ryan lepas dari hukuman.


"Ok, itu tidak masalah." Dia pun menerima dengan lapang dada.


Tapi bagi Nella, Sea dan juga Reina, mereka bertiga coba memberi alasan pun, Bu Gea hanya menunjukkan ekspresi malas.


"Reina... Padahal selama satu bulan ini kehadiran mu sudah bagus, kebiasaan terlambat tidak ada lagi, tapi kenapa sekarang kau kembali terlambat ke sekolah." Berkata Bu Gea menggelengkan kepala tidak jelas.


"Anu, Bu... Itu... Jam Weker ku rusak.. jadi..." Ucap Reina dengan alasan seadanya.


'Enak saja menganggap ku sebagai jam Weker.' pikir Ryan yang mendengar alasan Reina.


"Sudah jangan banyak alasan, kau bersihkan kamar mandi guru. Bersama Nella dan juga Sea."


"Tapi ibu, aku...."


Belum sempat Nella memberi penjelasan, ibu Gea menunjukkan ekspresi tidak senang..."Tapi kenapa ?, Kau mau beralasan."


"Ya... Karena aku ikut dengan Ryan membantu membawakan barang-barang untuk keperluan perawatan ibunya." Nella mengemukakan alasan.


Tapi wajah Bu Gea tidak peduli...."Lantas kenapa ?, Meski pun kau tidak membantu Ryan, apa itu artinya kau tidak akan terlambat, begitu ?."


Senyum Nella pahit ...."Harusnya bisa..."


"Memang seharusnya kau tidak terlambat, tapi selama sebulan penuh kau melakukannya. Mau alasan apa pun hasilnya sama saja."


Nella hanya bisa pasrah, karena memang sudah bukan hal aneh lagi jika Nella terlambat, bahkan akan menjadi keajaiban mana kala seorang Nella, datang pagi-pagi, dianggapnya sedang kesurupan atau hilang ingatan.


Dan kini giliran Sea yang berdiri di depan bu Gea, dia berkata...."Aku..."


Tangan Bu Gea segera menghentikan Sea bicara.... "Jangan banyak alasan, cepat pergi dan bersihkan kamar mandi."


Pada akhirnya tidak ada yang bisa lolos dari jerat hukum ketika Bu guru Gea sudah menuliskan nama mereka semua di dalam buku.