
Nela yang kini kelas tiga tentunya menjadi seorang senior, dimana Ryan harus tinggal kelas selama setengah tahun, sehingga dia mengulang kelas duanya kembali.
Cara dia melihat jelas mengejek kepada Ryan ..."kalau begitu Ryan, Lo harus memanggil Gue 'kakak senior yang terhormat' mulai sekarang."
"Baik Kakak senior yang terhormat." Ryan tidak menolaknya.
Tapi ekspresi yang Nela tunjukan jelas berbeda setelah dia mendengar panggilan Ryan... "Tunggu, sebaiknya jangan."
Melihat Nela aneh, Ryan bertanya.."Kenapa kak ?."
"Gue merinding denger panggilan dari Lo."
"Gak apa-apa kak, nanti juga terbiasa." Jawab Ryan.
"Sudah berhenti Gue bilang."
Kawan Ryan satu ini memang memiliki sikap kasar, seenaknya sendiri dan tidak feminim seperti kebanyakan wanita pada umumnya.
Dia dikenal sebagai wanita kasar sejak dulu, bagimana pun Ryan dan Nela sering kali berkelahi, dia tidak kalah dengan para lelaki, mungkin memang genetika sang ayah sebagai preman pasar lebih mendominasi dari pada kelembutan pribadi sang ibu.
Tapi karena itu juga, tidak ada yang berani mengganggu Nela di sekolah ini, dia benar-benar membuat siapa pun takut untuk mencari masalah dengannya.
Nela dan Narmo mereka memang saudara, tapi perbedaan sikap keduanya bisa di lihat dengan jelas, meski Narmo bertubuh besar, tapi sikap culun, penakut dan kurang percaya diri itulah menjadikan dia sering kena bully oleh orang lain.
Jika bukan karena Nela yang menjadi saudaranya, tentu ejekan orang lain kepada Narmo akan semakin parah, bahkan itu bisa saja membuat lelaki berwajah bodoh ini depresi.
"Ah iya, kalo gitu, bukannya si Reina itu sekarang satu angkatan sama Lo."
"Harusnya begitu, tapi Gue gak tahu dia di kelas mana." Jawab Ryan.
"Sebaiknya Lo gak usah ikut campur sama Reina."
"Itu sudah terlambat."
"Terlambat apanya ?."
"Gue masuk ke sekolah ini karena pak Brahman, jadi mau tidak mau, Gue harus nurutin apa yang Reina pengin."
"Ok itu bisa Gue ngerti, tapi sebaiknya, jangan ...."
Selagi Nela memberi peringatan kepada Ryan, satu suara datang menghentikan ucapannya itu.
"Jangan apa ?." Ternyata orang yang sedang mereka bicarakan kini muncul di belakang Nela.
Reina sudah berdiri dengan wajah sinis karena mendengar ucapan Nela yang sedang membicarakan dirinya.
"Cih... Baru Gue omongin langsung nongol aja nih anak." Nela pun seakan tidak memiliki rasa takut untuk menanggapi sikap Reina.
"Kakak kelas yang terhormat, untuk apa kakak di kelas dua ini, kalo gak ada urusan bisa gak pergi aja... jauh-jauh kalo bisa." Ucap Reina dan jelas itu bukan cara adik kelas menghormati kakak kelas.
"Memang apa urusan Lo, Gue mau di kelas dua, kelas satu, kantin atau toilet, terserah Gue."
"Mungkin kalo di toilet gak masalah, biar sekalian Gue siram sama teman-teman Lo." Seakan tidak takut Reina membalas perkataan Nela dengan berani.
Padahal dia tahu bahwa Nela bukan Cewek biasa yang bisa di usik karena nama ayahnya, sedangkan antara Brahman dan Jaelani adalah teman.
Ryan bisa merasakan jika Nela tidak lagi bisa mengontrol emosi dengan semua perkataan Reina. Terlebih lagi tangan itu sudah mengepal dan siap di hantamkan ke wajah wanita yang membuatnya marah.
Tapi sebelum itu terjadi, Ryan cepat menangkap tangan Nela, berdiri di belakangnya dan berbisik dengan pelan di telinga.
"Nela tolong jangan buat masalah, jika kau lakukan itu, aku yang akan kena marah."
Perlahan kepalan tangan Nela menjadi kendur dan menggenggam tangan Ryan keras untuk melampiaskan kekesalannya, karena tidak bisa ditumpahkan kepada orang yang tepat.
Nela beranjak pergi tanpa mengucap apa pun, hanya dengan wajah kesal dan satu jari tengah yang dia arahkan kepada Reina, kemudian dia membanting pintu saat keluar.
"Sejak dulu, Gue gak pernah suka sama wanita itu."
"Reina, jangan bicara kasar, Nela adalah kakak kelas kita, setidaknya bersikap sopan." Kata Ryan.
"Kakak kelas ?, Jangan bercanda Ryan, Gue tahu, kalo Lo itu cuma merhatiin teman lama Lo doang."
"Ok baiklah, aku tidak ingin ini menjadi masalah, bagaimana pun juga ayahmu berpesan untuk menjaga mu." Jawab Ryan.
"Apa cuma karena perintah ayah."
"Sudahlah lupakan saja, jadi apa yang kau inginkan sekarang ." Tanya Ryan karena kedatangan Reina bukan tanpa alasan.
"Beliin Gue roti ke kantin."
"Ini baru istirahat pertama, dan Lo udah laper ?."
"Gimana lagi elu dateng kepagian, jadi pagi ini Gue gak sarapan." jawab Reina kesal.
Ryan tidak bertanya lagi, hanya mengambil uang yang diberikan oleh Reina untuk membeli Roti di kantin dan beranjak turun.
Meski ini baru jam istirahat pertama, kantin sudah penuh dengan para murid yang sibuk mengisi perut, tapi di sisi lain pula, ada ruangan lain yang tersembunyi di dalam kantin.
Ryan bisa melihat dengan jelas jika di dalam sana adalah tempat untuk murid-murid nongkrong dan merokok, meski itu bukan hal asing, Ryan berusaha tidak perduli.
Entah itu di toilet atau di dalam kantin, para murid selalu memiliki tempat khusus bagi mereka semua menikmati kebebasan di luar pengawasan guru.
Meski pun pada kenyataannya, setiap guru hampir tidak perduli, karena murid-murid di sekolah ini adalah anak-anak orang penting, dan jika ada guru melakukan tindakan, itu bisa menjadi masalah untuk sekolah.
"Bi... Beli roti." Saut Ryan.
"Roti apa ?." Itu yang penjual tanyakan.
'Memang disini ada berapa macam roti, yang aku lihat hanya satu.' pikir Ryan.
"Yang bisa Reina beli." Jawab Ryan.
"Reina ?, Ah...kalau begitu." Seakan bibi penjual itu tahu maksud Ryan.
Seakan waspada, secara sembunyi-sembunyi, melirik ke kiri, menoleh ke kanan, seperti sebuah transaksi barang terlarang, hingga dia berikan permintaan Ryan.
Tapi entah kenapa, apa yang terjadi, bagimana bisa, dimana salahnya, sejak kapan berganti nama dan siapa sangka, roti yang di berikan kepada Ryan adalah sebuah benda berbentuk kotak, warna putih, memang empuk, tapi jelas tidak bisa di makan, di **** apa lagi di jilat.
Merasa aneh, namun Ryan tidak salah menyebutkan nama, jika dia ingin membeli roti bukan barang lain. Tapi dia perhatikan seksama apa yang pemilik kantin itu berikan, jelas-jelas apa yang ada di tangan adalah sebungkus rokok.
Terlebih ada gambar pasien operasi belum selesai dengan menunjukkan betapa hitam paru-paru yang sudah rusak, tentu siapa pun orang tidak akan nyaman saat melihatnya.
Masih tidak percaya Ryan kembali bertanya... "Apa memang benar ini ?."
"Itu yang biasa non Reina beli." Jawabnya.
"Baiklah, tapi aku beli rotinya juga." Balas Ryan.
"Ini ?."
"Ya itu, bukan yang lain."
Karena takut salah, Ryan juga membeli roti yang benar-benar mirip dengan roti, bukan bungkusan kotak empuk berwarna putih tanpa bisa dimakan dan harganya mahal pula.