
Sela hanya menggunakan gaun tidur berwarna hitam yang tipis dan juga sedikit transparan, di tangannya memegang sebuah gelas berisi minuman berwarna merah.
"Duduklah Ryan." Ucap Sela dengan santai.
"Baik kak."
Ryan masuk begitu saja karena Sela yang memintanya. Namun melihat sekitar, dia merasa bingung, karena saat ini Sela hanya duduk sendirian, tidak terlihat sosok Brahman atau Reina di dalam ruang tamu.
Para pembantu yang melakukan tugas rumah pun berada di rumah belakang dan itu terpisah cukup jauh dari rumah utama.
"Dimana pak Brahman." Tanya Ryan.
Setelah meneguk satu gelas minuman itu, Sela menjawab ... "Ah dia... Dia baru saja menelpon jika hari ini ada urusan di Jakarta, jadi dia tidak bisa pulang."
"Oh....." Balas Ryan tersenyum sendiri.
"Ya itu benar. Semua orang pergi, yang satu urusan kerjaan, yang satu lagi entah kemana, jadi aku merasa kesepian sekarang." Ucap Sela seakan tidak peduli.
"Semua orang ?, Apa Reina tidak pulang ?."
"Aku tidak melihat anak itu sampai sekarang, aku pikir dia menginap di rumah temannya." Santai saja Sela menjawab.
Ryan tidak ingin berlama-lama...."Kalau begitu aku hanya ingin mengantar Tas Reina ini. Dan aku akan pulang kak Sela."
Tapi baru saja dia berdiri, tangan Sela segera menarik paksa Ryan untuk kembali duduk.
"Hei, aku ingin membicarakan tentang siang tadi." Ucapnya tersenyum penuh makna.
"Baiklah ...."
"Jadi sekarang kau ikut aku." Sela membawa Ryan untuk masuk ke satu kamar yang berada di lantai dua.
Tidak bisa Ryan membantah apa yang Sela inginkan, karena ini adalah soal hutang dan dia harus membayar. Namun setelah mereka masuk, Sela secara sengaja mengunci pintu.
"Kak, kenapa kita di sini ?." Tanya Ryan merasa tidak nyaman dengan situasi yang ada di hadapannya.
Sela berjalan mendekat, Ryan tidak bisa berkedip ketika melihat gaun tipis transparan yang di gunakan oleh Sela kini menampakan lekuk tubuh dari daging berkualitas.
Hingga Sela duduk tepat di sebelah tempat Ryan. Aroma harum tubuh Sela membuat siapa pun yang menciumnya tidak akan lepas. Begitu pula untuk Ryan sekarang.
Tanpa perlu basa basi lagi, Sela segera menempatkan bibirnya untuk memberi ciuman, sejenak Ryan tidak bisa berpikir, seakan hipnotis membuat pikiran berhenti. Dan cepat Ryan mendorong tubuh Sela untuk mundur.
"Maaf kak, aku tidak bisa."
"Bukankah, kau menerima apa yang kita janjikan. Aku memberikan uang kepadamu, dan kau menuruti apa yang kau minta."
"Tapi jelas, apa yang kita lakukan, salah." Balas Ryan menolak.
Sebagai seorang lelaki berusia 18 tahun, masa pubertas dimana hasrat keingintahuan tentang dunia dewasa muncul dalam pikiran. Dan hanya orang gila atau penyuka pisang saja yang menolak godaan dari wanita secantik Sela.
Sela ibarat ikan asin yang sengaja datang menawarkan diri untuk dimangsa oleh kucing pasar. Tapi sayangnya, kucing pasar itulah yang dipaksa oleh ikan asin.
Bukan berarti Ryan naif, menolak ikan asin di depan mata, hanya saja konsekuensi untuk Ryan tanggung terlalu besar, jika hal ini di ketahui oleh orang lain, bisa hancur kehidupannya.
"Bagaimana jika begini saja. Aku minta kau tidak perlu melakukan apa pun, hanya berbaring dan diam saja." Sela pun tidak berniat melepas Ryan.
"Tapi..."
"Kalau kau menolaknya, itu tidak bisa dikatakan perjanjian, aku merasa dirugikan karena kau tidak memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku."
Ryan tidak punya pilihan lain, karena bantuan dari Sela adalah sesuatu yang dia harapkan, bahkan dia pun harus siap untuk menerima semua konsekuensinya.
"Baiklah.... Aku hanya perlu diam."
"Anak baik, jadilah penurut untuk kak Sela." Bisik Sela dengan memberi satu ciuman dengan permainan lidah yang licin.
Sentuhan jari jemari Sela mengelus bagian perut, sedikit terkagum karena Dia tidak tahu jika Ryan memiliki otot perut yang terbentuk dengan baik.
Beranjak semakin kebawah, hingga tepat di sentuh oleh Sela sesuatu yang tersembunyi di balik celana.
"kakak, jangan lakukan itu." Ucap Ryan merasa malu.
Berbisik Sela dengan tangan yang tidak mau melepaskan pegangannya...."Ryan, bukankah kau juga lelaki normal, apa kau tidak tertarik untuk melakukan banyak hal dengan kakak cantikmu ini."
"Bukan aku tidak tertarik, tapi...." Belum selesai Ryan bicara, Sela cukup kuat meremas.
Ekspresi Ryan membuat Sela tersenyum sendiri...."Kau terlalu polos dan itu sangat lucu."
Ryan tidaklah sepolos yang di kira, hanya saja Ryan sadar, ketika dia coba menyentuh Sela akan sangat beresiko membawa masalah di masa depan nanti.
"Bukankah kau sudah berjanji akan melakukan permintaan ku Ryan."
"Tapi ini akan menjadi masalah jika kita ketahuan." Balas Ryan menahan suara.
Terlepas dari genggaman Sela, dia dengan senyum yang penuh kesenangan, mulai bicara....
"Ryan, aku bisa memberikan banyak hal yang kau inginkan, meski pun semua uangku adalah pemberian Brahman, tapi sebagian besar tidak pernah aku gunakan, itu terlalu banyak dan aku bahkan bisa membeli rumah mewah untukmu, jika kau mau menuruti ku." Sela secara terang-terangan merayunya.
Sejenak Ryan tertegun, dia mendengar apa yang Sela katakan. Di dalam benaknya semua terbayang jelas tentang kehidupan keluarganya selama ini. Banyak masalah datang, sang ibu harus terhina di depan matanya sendiri, tanpa bisa melawan atau membela diri. Itu semua karena satu hal, mereka adalah orang miskin.
Tawaran Sela jelas sangat menggiurkan, segala hal di dunia ini berkaitan dengan uang, selama Ryan bisa memiliki itu, tidak akan ada lagi penghinaan terhadap keluarganya.
Meski itu lelaki muda yang baru kelas dua SMA, ketika Sela menyukainya maka tidak akan mungkin dia mau melepas begitu saja.
Tapi ini seperti sebuah pelampiasan, dimana kisah cintanya harus berakhir tragis untuk mendapat kebahagiaan, dan setelah kebahagiaan itu ada di genggaman tangan sela. Kini dia ingin menumpahkan perasaan di masa lalunya kepada Ryan.
Perlahan tangan Ryan tidak lagi coba untuk melawan, Sela lebih leluasa untuk menyentuh setiap bagian tubuh, dari luar hingga dalam.
Permainan tangan Sela benar-benar profesional untuk memberi rangsangan kepada lelaki, seakan sensasi kenikmatan membuat Ryan hanya bisa menahan nafas.
"Lihat, ini semakin membesar, kau benar-benar bersemangat rupanya Ryan." Ucap Sela merayu genit.
Tapi Ryan tidak bisa menyembunyikan rasa malunya..."Kak Sela, tolong, jangan menggodaku lebih banyak lagi, aku tidak bisa menahannya."
"Keluarkan saja."
"Tapi...."
Permainan tangannya tidak bisa dihentikan, semakin bersemangat untuk mendominasi, terlebih lagi ekspresi Ryan yang berusaha menahan diri, itu terlihat lucu di mata Sela.
Hingga Ryan tidak lagi mampu bertahan dan semua harga dirinya tumpah di telapak tangan.
"Ini sangat banyak, lelaki muda sepertimu benar-benar lebih baik dari pada pria tua yang kesulitan untuk berdiri." Sindir Sela tentang seseorang.
Sela pun merasakan sendiri, bagaimana kegiatan di atas ranjang bersama Brahman adalah hal menyedihkan.
Tidak berhenti sampai disitu. Kini sela mulai menanggalkan gaun hitam tipis yang menutupi tubuhnya samar-samar, hingga tepat di depan mata Ryan, semua tampak jelas, dua benda bulat kencang dengan ujung menggemaskan bergoyang-goyang lembut seperti sedang merayu.
Terlebih ketika Sela tidak ragu-ragu memperlihatkan lekuk bagian bawah yang begitu bersih tanpa ada satu penghalang pun menutupi.
Senyum di wajah Sela semakin menggoda, dia mengambil tangan Ryan dan menempatkannya di satu tempat impian bagi para lelaki.
Perlahan semangat aset pribadi yang sudah layu karena permainan tangan Sela bangkit kembali.
"Belum aku melakukan apa pun, tapi kau sudah bersemangat, ternyata benda milik mu, lebih jujur dari pada tuannya." Senang Sela merayu.
Tentu Sela merasa kagum, dimana jika dia ingat saat-saat ketika harus melayani Brahman. Belum sempat Sela merasa puas, bahkan baru saja bermain-main menggunakan tangannya. Brahman sudah layu dan memilih tidur karena terlalu lelah.
Berbulan-bulan lamanya, hasrat Sela tidak pernah terlampiaskan, dia harus melampiaskan hasratnya bersama alat-alat penunjang kebutuhan, tapi itu masih belum cukup membuat Sela puas
Hingga kini sebuah mainan hidup yang terlihat mengagumkan dan jauh lebih besar dari semua alat penunjang kebutuhan miliknya berada di genggaman tangan.
Satu persatu pakaian dilepas oleh Sela kemudian dilempar entah kemana, seperti yang Sela perintahkan, Ryan hanya perlu diam dan biarkan dia sendiri melakukan semuanya.
Setelah semua pakaian Ryan lenyap, mata Sela yang penuh rasa penasaran menatap tajam ke satu tempat, dimana itu adalah tempat tumbuhnya harga diri seorang lelaki.
Tanpa keraguan, bergerak naik ke atas tubuh Ryan yang tidak lagi melawan. Menempatkan satu posisi untuk saling menggabungkan diri.
Perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit mulai bergerak turun. Dia yang hanya terbiasa dengan benda sebesar dua jari kelingking, kini merasakan sensasi lebih dari itu.
Sela mencoba terbiasa, namun belumlah bergerak, perasaan aneh seperti memakan sesuatu yang tidak dia telan, membuat tubuh Sela lemas. Sebuah kenikmatan yang tidak pernah dia dapatkan saat melakukan kegiatan malam bersama Brahman.
Semangat Sela berada di puncak, hasrat nafsunya memenuhi pikiran, menggerakkan tubuh tanpa berhenti, berulang kali, berulang kali, naik, turun, naik lagi, turun lagi, naik, turun dan tidak lagi naik.
Ryan bisa merasakan sensasi kenikmatan luar biasa yang membuat dirinya semakin bersemangat. Terlebih dengan sentuhan kulit secara langsung, aroma harum dari tubuh sela, dan ciuman disertai permainan lidah, Ryan hampir hilang kendali untuk memuntahkan semuanya.
Hingga di gerakan terakhir sisa kekuatan Sela, dia mendorong lebih dalam dan menelan habis. Rasa sempit, mencengkram erat, dan hisapan yang memaksa, suara erangan tertahan dari mulut Sela, dia pun terengah-engah, nafas naik turun dan perlahan menjadi terasa lembab.
Tubuh Sela jatuh, dia merasa lemas hingga di titik dimana kakinya gemetaran. Namun sayangnya, meski Sela sudah merasa cukup, bagi Ryan itu sangatlah tanggung, itu sudah berada di ujung, tapi semua selesai.
Mustahil untuk Ryan menahan diri dan melupakan begitu saja, sedangkan tubuh indah milik Sela masih saling melekat
Tanpa peduli jika Sela marah karena dia melanggar perintah, Ryan mulai membalikkan posisi. Dimana kini Sela berada di bawah dan dia di atas.
Semangat menggebu-gebu membuat Ryan tidak berhenti menggerakkan tubuhnya. Sela yang sudah lemas pun dipaksa menerima stimulasi rangsangan kembali.
"Ryan berhenti... Berhenti, aku tidak... Kuat..."
Ryan sudah tidak peduli, bahkan jika nanti dia harus menerima kemarahan Sela, pikirannya tidak bisa dikendalikan, hanya ingin semua selesai begitu saja.
Wajah sela merah, dia menggeliat, nafasnya tersengal-sengal, kemudian tertahan, kembali meronta-ronta, semakin tegang dan semakin kuat mencengkram milik Ryan, hingga semua tumpah di atas tubuh Sela.
Ryan pun sama, dia merasa lelah untuk beberapa jam bermain bersama Sela, tapi dibalik wajah lemas sela itu, ada senyum kepuasan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.