Ice Cream

Ice Cream
ICU



Ya, selama bertahun-tahun menjadi istri Abram dan mengenal seorang Brahman. Istianti tahu bahwa Brahman memang rakus, gila akan kekuasaan, suka memanfaatkan orang lain dan juga tidak mau diremehkan.


Tapi sekarang lelaki itu menunjukkan ekspresi wajah serius, seakan tidak ada kebohongan yang tersirat dari ucapan dengan membawa nama Adisaka, salah satu menantu keluarga Jayanaga dan juga suami dari saudaranya.


"Bagaimana mungkin kau membawa Adisaka dalam kasus ini, sedangkan selama Tiga tahun, dia tidak dinyatakan terlibat tentang kematian Abram." Ucap Istianti bingung.


Tawa Brahman tidak lepas...."Apa kau lupa Isti, seberapa kuat keluarga Jayanaga, mereka hanya perlu duduk dan memberikan uang kepada para preman itu untuk membuat keributan di tempat ku."


Sama seperti yang Brahman lakukan di dalam pekerjaannya sendiri, demi menghindari kemungkinan terburuk, Brahman tidak perlu turun tangan, dia memerintahkan orang lain agar semua urusan beres.


Setelah kejadian itu, Brahman di larikan ke rumah sakit untuk beberapa Minggu, hanya saja proyek pembangunan jalan tol trans Sumatra harus di pindah alih ke kontraktor lain.


Itu memang masuk akal karena perusahaan yang di keluarga Jayanaga sebagian besar telah di wariskan ke setiap anak-anak mereka, begitu pula dengan Adisaka, dia mendapat bagian untuk mengurus perusahaan kontraktor, dimana itu juga adalah saingan bagi perusahaan milik Brahman.


"Meski begitu, kau tetap menjadi alasan kenapa Abram tewas, jika saja... Jika saja dia tidak mengikuti mu, tentu tidak akan terjadi." Istianti tidak mau menerima ucapan Brahman.


"Semua yang kau katakan, tidak lebih dari pelampiasan kemarahan mu saja dan kau menunjukkan itu kepadaku sebagai alasan."


"Kau tetap harus menerima dosa-dosa mu." Tegas jawaban Istianti dengan pendirian tegas.


"Teruslah bicara, tanpa keluarga Jayanaga, kau hanya Janda miskin yang sakit-sakitan. Harusnya kau lupakan semua yang terjadi, pulang ke tempat keluarga mu dan hidup bahagia di masa tua nanti."


"Kau tidak perlu mengurusi masalahku tentang keluarga Jayanaga."


"Baiklah, aku sudah cukup denganmu, kau bisa kembali bekerja saat kau sembuh, atau mencari pekerjaan lain yang lebih baik, itu terserah kau Isti." Ungkap Brahman diakhir pembicaraannya.


Brahman pergi meninggalkan Istianti, dia tidak peduli kemarahan Isti yang masih membara dan mungkin ingin membalas dendam.


Berjalan keluar, Brahman melihat Ryan yang berada di kursi tunggu tamu, dia mendekat dan duduk di sampingnya.


"Pak, apa susah selesai."


"Ya begitulah.... Hmmm apa kau tidak ingin tahu apa yang kami bicarakan."


"Tidak pak, itu adalah urusan ibu dan pak Brahman, aku tidak berhak tahu."


"Baguslah, Abram mendidik mu untuk menjadi orang yang patuh kepada orang tua, jangan kecewakan Abram... Aku bisa janjikan masa depan cerah dan semua kekayaan, kau hanya perlu menurut dan patuh kepada ku."


"Aku akan mencobanya pak." Tersenyum Ryan menjawab.


Tentu, jawaban yang Ryan beri kepada Brahman hanya sebatas cara menjilat untuk tetap berada di titik aman. Ryan tidak bisa berterus terang mengatakan seberapa benci dia kepada lelaki tua sombong satu ini, karena bagaimanapun juga, biaya perawatan rumah sakit di ruang VIP berasal darinya.


"Kalau begitu jaga ibumu... Semoga dia lekas sembuh..."


"Terimakasih pak."


Selesai dengan Ryan, Brahman pun beranjak masuk kedalam mobil, mengambil ponsel dan melakukan satu panggilan ke kontak yang tidak bernama.


Sedikit pembicaraan cukup serius antara Brahman dan orang itu... "Kau urus semua, aku tidak ingin ada satu bukti pun yang tertinggal."


[Baik pak, aku pastikan semua beres.]


"Aku tunggu hasilnya."


"Tidak ada yang bisa merusak hidupku, Isti.... kau salah jika berurusan denganku adalah hal mudah, Aku akan membayar semua hutang itu kepada Ryan, aku pastikan dia tidak akan mengikuti keinginan mu lagi." Gumam Brahman.


Brahman sadar, semua bukti kejahatan yang dia lakukan adalah milik Abram, dan Isti ingin menjadikan itu sebagai senjata demi membalas dendam. Maka, dia harus menyingkirkan orang yang memberi ancaman besar bagi hidupnya.


*******


Malam hari...


Seperti biasa, Jaelani datang untuk menggantikan Ryan yang sudah sejak siang menjaga ibunya. Tapi kini Jaelani bersama Nella.


"Kenapa kau disini." Tanya Ryan.


"Aku ingin menjenguk Tante Isti ... Apa itu salah ?." Nella menjawab seakan tidak senang untuk pertanyaan itu.


"Ya bukan salah, tapi jam besuk sebentar lagi akan selesai, hanya satu orang yang boleh menunggu di rumah sakit."


"Paling tidak aku ingin tahu, apa Tante baik-baik saja."


Rumit hati Ryan untuk menjawab pertanyaan Nella, dia merasa khawatir, karena siapa pun bisa melihatnya, jika tidak ada kemajuan dari perawatan yang dijalani oleh Isti hingga saat ini.


"Tante pasti akan baik-baik saja, jadi tidak perlu khawatir Nella." Yang menjawab itu adalah Isti sendiri.


Penuh keyakinan dan harapan jika penyakit yang dia alami sekarang akan sembuh, tapi bagi Ryan gambaran dari ibunya tidaklah demikian.


Sang ibu hanya ingin membuat semua orang bernafas lega, tidak ada kekhawatiran kepada dirinya dan tetap tersenyum meski harus terpaksa.


Nafas berat, wajah pucat dan suara detektor jantung terdengar semakin lemah, ibu yang bekerja siang hingga malam kini terbujur lemah, tanpa bisa Ryan lihat lagi semangat seperti dulu.


Hingga seorang suster berjalan masuk untuk melakukan perawatan terhadap Istianti di jam malam. Semua orang di dalam ruangan pun di minta keluar hingga suster itu menyelesaikan tugasnya.


"Sekarang, kalian berdua pulang lah dan ingat Ryan. Kau harus masuk sekolah besok, jangan buat ibumu marah, itu akan menganggu kesehatannya." Jaelani pun memberi peringatan keras.


"Baik pak, aku mengerti." Ryan tidak bisa menolak karena memang itu yang ibunya inginkan.


Namun barulah beberapa langkah Ryan dan Nella akan pergi, dari ruang perawatan Istianti, suster itu dengan tergesa-gesa mengeluarkan ranjang pasien yang ditempati oleh Isti keluar kamar.


Dari ruang para perawat jaga pun berlarian mendekat dan ikut membantu ketika harus membawa seseorang yang mengalami kondisi kritis.


Ryan melihat ibunya lewat, tentu perasaan tidak nyaman pun datang, dia ikut mengejar, hingga di hentikan oleh suster ketika ibunya masuk kedalam ruang ICU.


"Apa yang terjadi suster." Ryan kebingungan untuk bertanya.


"Kami akan memeriksanya, bapak dan kakak silakan tunggu di luar."


"Tapi...." Ryan tidak bisa bersabar.


"Tolong mengerti pak, kami akan melakukan segala cara, jadi berdoa lah agar ibu Isti bisa selamat."


Semua orang duduk lemas selagi menunggu di luar, malam ini menjadi malam terpanjang dalam hidup Ryan, karena dia sadar apa yang terjadi sekarang membuatnya ingat tentang sang ayah.


Dimana suasana saat itu, kegelisahan datang, gemetar sekujur tubuh selagi mulut tidak berhenti untuk memanjatkan doa dan pada akhirnya harapan mereka harus terputus oleh kematian.