I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
Bab. 9 Jesyca ngamuk



Kampus Pancasila sakti, akan mengadakan rencana kemah tiga hari tiga malam. Khusus anak pecinta alam, kelas Jesyca juga mengikuti kegiatan wajib kampus. Seorang dosen memberi pengaharan kepada para mahasiswanya di ruang anak pecinta alam, tahun ini giliran Jesyca yang di tunjuk sebagai ketua untuk pelaksanaan kemah.


Sebenarnya, dia tidak menyukai hal berbau camping atau menjelajahi hutan. Dia juga tidak terlalu suka dengan hewan buas yang ada di alam sekitar. Jesyca mengambil jurusan itu, karena Naya dan Linda ada di kelas pecinta alam. Dalam pendidikan Jesyca kurang pintar, sudah dari sekolah dasar hingga kuliah tugas dari dosen akan ia lemparkan ke Naya. Dia paling jenius diantara mahasiswa yang lain, dari sekolah menengah atas Jesyca suka isil ke pria muda.


"Saya, menunjuk anda sebagai ketua pamandu perkemahan." tunjuk dosen bertubuh gembul.


"apa? kenapa bukan yang lain aja sih pak." ujar Jesyca di tengah persiapan kemping.


" harus mau, kalau tidak nilaimu 0 atau D- untuk kelas saya." tukas sang dosen.


Sorakan keras melambai kearah Jesyca, para mahasiswa kurang menyetujui jika dia dijakan ketua. Karena para teman kelasnya tahu kalau Jesyca tidak mampu menjadi ketua kemping.


"uuuu, Jesyca jadi ketua kemping? biarin kambing aja yang jadi ketuanya, anak bodoh mana bisa." teriak Riko di tengah keramaian kelas.


"woi! gua beli otak loe." teriak Jesyca berlari ke tempat duduk Riko.


Dalam kelas itu, sempat terjadi keributan. Pak Pengky sang dosen jadi kewalahan memisah perkelahian Jesyca dan Riko, semua teman - temanya termasuk Linda serta Naya memisah pertikaan mereka. Suasana ramai seperti terjadi teriakan gempa bumi melanda di kelas VIP itu, akhirnya pak Dosen Pengky menggebrak sebuah meja menggunakan sapu.


Bbraakkk! (suara gagang sapu mengetuk meja)


"Diam! bisa berhenti ngak! Kaya anak kecil kalian ini," bentak pak Pengky.


Riko terdiam, Jesyca masih menahan emosi nafasnya tidak beratur. Kedua tangannya di pegang dua temannya, karena kekuatan Jesyca seperti atlet tinju terlepas juga dan....


Bukk!


Tangan Jesyca mendarat di perut Riko, pria itu mengaduh kesakitan. Tubuhnya ambruk menjulang ke lantai, tiga temannya membantu berdiri Doni, Jhony dan Gono. Pak Pengky membawa paksa Jesyca ke ruang pembinaan mahasiswa, tenaga pria separuh baya berbadan gembul itu lebih kuat dari pada Jesyca.


Gadis itu di seret, karena dia akan kabur dari perbuatannya. Beruntung tidak ada orang lain melihat kejadiaan tersebut, hanya Naya dan Linda mengikuti temanya yang di bawa paksa oleh pak Pengky. Jesyca di masukan ke dalam kantor pembinaan, pintu tertutup dari dalam Linda juga Naya hanya melihat Jesyca dari pintu kaca. Terlihat temannya di beri pengarahan oleh sang dosen,namun tetap masih saja melawan.


"kalau sampai Riko cidera, kamu akan kami tuntut atas kasus penganiayaan dan di keluarkan dari kampus ini!" tegas wanita berwajah datar di depan Jesyca.


"tapi, Riko yang buat masalah dulu. Saya enggak sudi dong bu di injak harga diri saya," ujar Jesyca membela diri.


"kamu ini! sudah bicara sama orang yang lebih tua tolong sopan! disini bukan terminal, kalau kamu mau jadi preman bukan sini tempatnya." cetus bu Merry lagi.


"ck, bodo! gua beli ini kampus juga mampu." geram Jesyca menyombongkan dirinya, dia bangkit dan menendang meja di depan bu Merry.


"asataga! stop Jesyca," Pak Pengky setangah berteriak melihat ulah Jesyca.


"iya hallo Jes," sapa Geo di sebrang telfon.


"jemput gue sekarang." ucap Jesyca.


"aduh Jes, aku lagi ada kerjaan nih di bengkel." kata Geo menutupi kebohongannya, sebenarnya baru meeting berjumpa dengan clien.


"ngak loe, ngak kere - kere di kampus sama aja! ya udahlah gue naik taxi aja." cetus Jesyca seraya mematikan telfon dengan sepihak.


Jesyca berjalan menuju luar kampus. Dari belakang terdengar panggilan Naya dan Linda, mereka membawakan tas Jesyca yang tertinggal dikelas.


"Jes, berhenti! ini tas loe," teriak Linda berlari kecil memberikan tas gendong berwarna hitam.


Jesyca menoleh, dia menerima tas dari sahabatnya.


"oke, thanks ya Linda, Naya." ucap Jesyca.


"Loe masih kuliah disinikan Jes?" tanya Naya ingin tahu.


"masih, tuh dosen sekalian rektor! ngak berani ngusir gue." lugas Jesyca menatap dua sahabatnya.


"Gue harap loe, ngak akan keluar dari sini." tambah Linda.


"heh, ngak bakalan gue keluar, minggat aja mikir dulu." papar Jesyca.


"oke. Loe mau pulang atau....?" tanya Naya pada Jesyca.


Gadis itu akhirnya pergi seteh bercakap sesaat dengan sahabatnya. Jesyca berlalu begitu saja emosinya belum stabill. Dalam hati Jesyca masih menyumpah serapah ibu Merry yang tidak berdosa.


Mobil taxy berhenti di depan Jesyca, di segera naik ke dalam dan pergi ke arah selatan bukan rumahnya. Seperti arah club malam, setiap hari apakah dirinya tidak bosan untuk besenang - senang dalam club. Taxy berjalan menerobos keramaian kota, Jesyca yang di dalamnya menyuruh supir taxy agar cepat setelah lampu merah nanti.


"abis, ini tolong ambil jalan pintas ya." pinta Jesyca pada sang pengemudi taxy.


"Baik non." jawab pengemudi taxy patuh.


Melaju kembali,menembus keramaian kota sang pengemudi agak berhati - hati dengan mobilnya, sesampainya di sebuah pusat perbelanjaan Jesyca turun. Dia membayar ongkos taxy, dan berjalan ke dalam sebuah club. Bukan masuk ke dalam mall malah club malam langganannya, beserta memesan minuman yang kadar alkoholnya rendah, dan diberikan pada sang pelayan.


Mulut Jesyca menelan minuman beralkohol rendah itu, rasa sedikit pahit menyapa di lidahnya. Dia meminumnya kambali, hingga tetes terakhir, Jesyca memesan jus buah untuk menghidari rasa pahit dan mabuk. Siang hari tak nampak dj memainkan musik, hanya music dari komputer saja yang berbunyi melengking memecah daun telinga. Di dalam club itu, Jesyca sedang diawasi oleh seseorang pria. Kemanapun ia menggeser tubuhnya selalu sang pria mengikutinya. Tapi tidak membuat Jesyca curiga, malah dia berbincang - bincang hangat dengan sang pelayan club malam perempuan. Mereka saling bertukar cerita kehidupan, perempuan pekerja club itu ternyata seorang janda yang di tinggal suaminya pergi ke luar negri, dia memuyuskan untuk bekerja di club malam. Sama halnya sejak kecil Jesyca selalu diacuhkan kedua orangtuanya, di tinggal pergi bekerja dan bekerja terus. Membuat Jesyca kesepian hingga dia berubah menjadi nakal berani terhadap siapapun, di sisi lain dia juga bergaul dengan para teman yang salah hingga masuk kedalam lingkungan hitam juga pernah. Sekarang dia jadi sedih sendiri.