I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
Bab. 25 Aku bukan pelakor



••••


Di kediaman Henderson.


Tampak ibu - ibu sosialita sedang berkumpul arisan pertemuan seperti biasanya. Nyonya Ratih, tampak antusias menyambut para sahabatnya datang kerumah. Semua geng sosialita itu hadir tanpa terkecuali Famala yang hobbynya pamer barang branded, dia datang seraya menenteng tas mewah yang baru dibelinya dan mengenakan dress ala Eropa berlabel C***l.


"jeng Ratih, apa kabar. Ya ampun ternyata tinggal disini toh." sapa Famala dengan gaya centilnya.


"baik jeng, aduh calon besan makin glowing aja." puji Ratih seraya mencium pipi kanan kiri Famala.


"Thankyou jeng, btw kalau boleh tau calon mantu saya bisakan hehehe...." kekeh Famala. Dia menyambut pelukan Ratih.


"Kebetulan, ada di atas. Biarin nanti di panggilin sama asistenya ya jeng." kata Ratih.


"okey," balas Famala tersenyum girang.


Ibu sosialita yang kurang menyukai Famala berbisik - bisik menggunjing Famala, beruntung dia tidak dengar kalau sampai ketahuan bisa fatal nantinya mereka.


Suguhan mewah tersedia di ruang tamu berukuran luas dan megah itu. Para ibu - ibu sosialita, mencicipi makanan ringan.


"enak banget cakenya jeng," seru Esti.


"Iya, ngak kaya cake yang pernah aku makan lho." sahut Herlina.


"Terimakasih ajeng semua, ini buatan asisten rumah tangga saya yang baru." papar Ratih.


"pasti, masakan besar kayak lauk pauk juga enak ya jeng?" tanya Famala yang menyerobot percakapan.


"Tentunya, pokoknya sekarang serba enak." ujar Ratih.


Famala hanya menggaguk, dia menikmati hidangan ringan yang menggugah lidahnya.









Saat semua sosialita masih asyik berkumpul, Becker turun dari lantai atas dia mengenakan jas kantor. Karena Becker sudah berhenti menjadi driver palsu Jesyca sekarang tugasnya bekerja dikantor sang daddy dan berlaga di lapangan sepak bola.


Sesampainya di lantai bawah, tepatnya ruang tamu tempat para ibu sosialita masih berkumpul Becker menyapa teman - teman mommynya. Semua sosialita itu, tampak terpana melihat ketampanan Becker yang selalu mereka lihat di layar kaca ketika bermain sepak bola.


Begitu juga Famala, dia tercengang melihat Geo di dalam rumah Ratih. Tapi, memang jelas kalau itu adalah driver pribadi putrinya yang menghilang selama dua minggu ini.


"Ge, Geo...." Famala terbata saat Becker menyalaminya.


Ratih menautkan kedua alisnya, dia tidak tahu yang di ucapkan Famala begitu pula ibu sosialita lainnya.


"Maaf tante, saya Becker." sela Becker saat menyapa Famala tanpa ada ekspresi terkejut.


"Jadi, sebenarnya kamu." Famala semakin tak faham dia jadi kebingungan.


"Iya, om Wisang merintahkan saya untuk menyamar sebagai driver pribadi Jesyca." jelas Becker gamblang dan didengarkan oleh mommya serta semua ibu sosialita.


Semua jadi terkejut heran.


"Apa?" tanya Famala lagi, dia tampak syok sekali.


Suasana di ruang tamu itu semakin menegangkan, begitu juga Ratih. Dia yang tidak pernah tahu kalau putra sematawayangnya gagal tunangan, Ratih jadi sedih mendengar penjelasan sang putra.


"asataga, suami jeng Famala kelewatan, masak calon mantunya suruh jadi driver." celoteh Esti, dia sengaja memancing suasana.


Famala tak berani berkomentar dia sekarang malu tidak ketulungan. Karena, semua ibu - ibu sosialita di rumah Ratih sedang memandangnya rendah.


"Becker, kalau mau kerja pergi aja ya nak." bisik Ratih dari samping.


Beckerpun mengikuti permintaan sang mommy, dia pamit pergi. Famala masih menahan malu di depan Ratih yang kini memandang kurang menyukai Famala.


"Alah, jeng Ratih. Jangan mau besanan sama jeng Famala yang hobbynya pamer. Paling dia cuma mau harta jeng Ratih aja," seru Esti lagi.


Ratih hanya memandang sengit wajah Famala, setelah Becker mengatakan kejujurannya tadi. Ratih tahu betul sifat dan lejujuran sang putra.


"Saya juga, enggak tahu kalau Geo anu maaf, Becker putra jeng Ratih." lirih Famala menunduk malu karena semua mata tertuju kepadanya.


Ratih tidak menanggapi Famala, dia berpura - pura melanjutkan acara arisan kembali. Wajah Famala menjadi lesu, Esti yang kurang menyukai Famala tampak tersenyum mengejeknya.


"Jeng, saya pamit dulu ya." pinta Famala akan pergi menghidari kumpulan sosialita.


"Oh, iya silahkan." ucap Ratih tak berekpresi apapun.


Famala pergi dari ruangan itu, dia melangkah keluar rumah milik keluarga Henderson. Ketika, sudah sampai di teras tidak sengaja tubuhnya menabrak seseorang yang berjalan dari arah samping rumah Ratih, begitu melihat wajah orang yang tak sengaja menabraknya itupun dia tambah tercengang bukan kepalang.


"Hah, La, La, Lanni?" tanya Famala terbata, menatap wanita yang mengenakan daster agak lusuh tepat di depannya


"Famala," sontak Lanni menatap Famala dengan mata membulat.


"kamu, ngapain di sini?" tanya Famala pada wanita setengah baya yang mengenakan daster lusuh itu.


"aku jadi pembantu di rumah ini, heh tidak ingat kau pelakor! delapan belas tahun yang lalu, aku dan anakku kau singkirkan. Kau wanita licik." ketus Lanni langsung mengingatkan masa lalunya.


Famala terdiam membisu, dia memang merasa bersalah atas sikap masa lalunya.


"dimana ayah Revano? dimana suamiku, mas Wisanggeni. Sudah cukup kau buat kami menderita seperti ini." imbuh Lanni jemarinya seraya menunjuk wajah Famala yang terpolesi lapisan bedak.


"kau hidup bahagia bukan?" tanya Lanni lagi.


"Aku dan Revano datang ke Jakarta ini, ingin mencari mas Wisanggeni."


Tubuh Famala seakan mau ambruk seketika di teras megah rumah Ratih saat itu juga, namun ia masih tersadar karena kesalahan masa lalunya. Sudah tidak dapat berfikir lagi, Famala buru - buru melangkah meninggalkan Lanni yang kini mengintimidasinya.


"Jangan pergi!" cegah Lanni mencengkram kuat tangan Famala.


"Kembalika kebahagian kami, seperti dulu." tukas Lanni lagi, matanya menatap tajam Famala.


"kau pelakor murahan, hanya numpang kekayaan mertuaku." ketus Lanni lagi.


"Mampus, mati aku kalau orang di dalam ada yang dengar." ucap Famala dalam hati.


Sebenarnya, dari pintu keluar Esti mengikuti kepergian Famala. Dan sempat Esti mendengar semua tuduhan dari asisten rumah tangga Ratih, sengaja Esti pura - pura melangkahkan kaki keluar agar Famala menjadi semakin malu dan terpuruk.


"Eh, jeng Famala. Astaga, yang dikatakan sama bibi ini benar ya? jadi pak Wisanggeni itu suami rebutan." selidik Esti ingin tahu.


"Diam kamu, dasar perempuan tokai." kelit Famala menghardik Esti, baginya sudah kelewatan.


"yang tokai, ganjen itu kau Famala." alih Lanni.


"Hahaha.... Famala, ck, ck, ck dasar ngak tahu malu, suka pamer barang branded juga kekayaan. Eh, ternyata cuma rebutan bukan hak dia." ejek Esti terkekeh geli.


"Ini, teman sosialita anda ya bu, dia sudah menghancurkan kebahagian saya dan merebut yang saya miliki." ujar Lanni pada Esti.


Mama dari Jesyca itu semakin terpojokkan, dia tidak mampu mengadahkan wajahnya lagi. Fikirnya akan pergi kalau Lanni dan Esti terlena ketika sedang menhardiknya, kini status Famala sudah tercoreng di depan para sosialita dan masa lalu yang amat bahagia baginya kini berubah menjadi kelam.