I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
Bab. 27 Canggung tapi cinta dihati



\*\*\*\*


Jesyca mematikan handphonenya lalu menyimpan kedalam tas, ia berbalik badan dan berjalan kearah pintu kelas. Baru beberapa langkah sudah di panggil oleh kedua sahabatnya, Naya dan Linda.


"hei, Jesyca." sapa Linda seraya tersenyum.


"nanti malam, ke ckub kayak dulu lagi yuk." ajak Naya.


"Ogah, males sama temen bermuka dua kayak kalian! minggir!" bentak Jesyca dengan nada judesnya.


Jesyca berjalan lagi pergi dari Naya dan Linda, dua sahabat Jesyca saling bertatapan tak mengerti.


"Kenapa lagi sih?" tanya Naya pada Linda.


Linda hanya menggelengkan kepala serta mengangkat bahunya. Wajah Linda seperti was - was pada Jesyca takut sesuatu terjadi padanya.


Suasana di dalam kelas riuh, sebelum dosen jam mata pelajaran dimulai. Jesyca duduk di belakang dengan tiga orang gadis teman kelasnya, mereka adalah Lisa, Tiwi dan Rania. Keempatnya termasuk Jesyca sedang membicarakan pelajaran yang akan dimulai sebentar lagi, karena ada tugas Jesyca mencontoh pekerjaan Rania mahasiswi dengan nilai yang paling bagus sendiri di kelasnya.


Jesyca sendiri ketika masuk ke universitas Pancasila sakti tidak menggunakan ilmu otaknya ataupun nilai kelulusannya, dia memberikan beberapa jumlah uang dari papanya untuk profesor yang menjabat di universitas tersebut. Karena, ada juga Naya dan Linda temanya sejak bangku SMA ia manfaatkan untuk mengerjakan segala jenis tugas kuliah.


Seorang dosen laki - laki bertubuh gempal memasuki ruangan, dia adalah pak Pengky dosen humoris pada semua mahasiswa. Suara seruan tepuk tangan serempak menyapa beliau dan sorak sorai layaknya melihat pertandingan sepak bola memenangkan permainnanya.


"Kita sambut, sodara Pengky yang paling tampan sekampus Pancasila Sakti." seru Riko berdiri di kursinya yang berjajar di tengah.


Isi kelas jadi semakin riuh lagi dengan suara tepuk tangan dan siulan dari mahasiswa. Revano hanya diam sepertinya, dia tidak tertarik dengan kelas dosen Pengky.


"Terimakasih semua,mari kita lanjutkan mata kuliah yang minggu lepas, silahkan buka laptop masing - masing." perintah dosen Pengky.


Revano bengong lagi, semua teman kelasnya mengeluarkan laptop hanya dia saja yang tidak mengeluarkan pasalnya tidak mempunyai benda itu.


Dosen Pengky matanya melirik ke arah Revano yang terbengong, beliau menanyainya dari depan kelas.


"Saudara, keluarkan leptop anda. Yang duduk di pojok berkaos biru tua," ucap dosen Pengky menunjuk Revano.


"aduh pak, saya ga ada leptop." kata Revano jujur.


"Hmmmm, kalau begitu anda perhatikan saya saja dan catat di buku." kata dosen Pengky seraya berdehem pada Revano.


Pria muda itu hanya mengganguk, kali ini dia lebih sopan dari sebelumnya setelah semua teman - temannya membully Revano.


"Yaelah, dasar misqueeen hari gini ga mampu beli leptop, ma**i aja loe," seru Riko menyindir Revano.


"Diakan bekas copet, pernah liat kok aku waktu dipasar senen." sela Rihanna yang duduk di belakang Revano.


"sudah - sudah! kita lanjutkan mata kuliah kita. Disini bukan untuk saling mengejek, kita mencari ilmu." tukas dosen Pengky datar.


Revano menahan amarahnya dalam benak pria muda itu akan membuat perhitungan dengan Riko sewaktu - waktu, kedua dengan Rihanna akan membalas mulut kejamnya, ketiga tentu Jesyca gadis kejam yang pernah ia temui seumur hidupnya.


"si**l orang kaya seperti mereka memang sombong semua." ucap hati Revano.


Semua mahasiswa kembali tenang mereka melanjutkan pelajaran dan dibimbing oleh dosen Pengky hingga jam berakhir.


\*\*\*\*


Di dalam rumah mewah, malam itu Famala masih terdiam duduk di ruang tengah, Wisang duduk disampingnya mengahadap televisi. Wisang membuka percakapan karena selama empat puluh menit Famala tidak menyapanya.


"Mah, malam ini kita diundang makan malam sama Henderson dirumahnya."Wisang membuka pembicaraan.


Famala menoleh kearah suaminya.


" Terus, papa mau pergi kesana?" tanya Famala.


"Iya ma, papa mau minta maaf sama Henderson dan putranya." jawab Wisang pelan wajahnya menuduk.


"Becker! si pemain bola yang jadi supir palsu anak kitakan?" tanya Famala lagi.


"Mama tahu." Wisang menoleh kesamping tepat depan wajah Famala.


"jadi, mama udah tahu." tanya balik Wisang lagi.


"Dan...." suara Famala terputus.


Karena Jesyca menghampiri mereka dari atas.


"Pa, ma, ayuk hangout sekali aja, kaya jaman Jesyca kecil dulu." rengek Jesyca tiba - tiba.


"Boleh sayang, tapi kita diundang makan malam kerumah temen papa. Jesyca ikut ya," kata Wisanggeni.


"oke pa," seru Jesyca menuruti papanya.


"dandan, yang feminim!" sela Famala.


"Iya - iya ma." sergah Jesyca seraya melangkah gontai.


\*\*\*\*


Satu jam kemudian mobil yang di gunkan oleh keluarga Wisang sudah sampai di pelataran rumah Henderson, Jesyca termangu ternyata dia diajak bertamu kerumah Becker. Dalam hatinya berbunga - bunga, sedangkan Famala tampak tegang seperti ketakutan akan kehilangan orang yang dicintainya.


Dua orang ajudan Hensrson mempersilahkan keluarga itu masuk rumah. Ratih, Henderson dan Becker menyambut kedatangan mereka. Mata Becker tertuju pada Jesyca gadis itu tampak berbeda dia lebih feminim dari yang pernah Becker lihat, cantik mempesona di mata Becker.


"Jeng, Famala ya ampun ternyata ini anakmu. Cantik banget," puji Ratih tersenyum bangga melihat Jesyca.


"Mommy, inikan calon mantu kita." sela Henderson terkekeh.


Wisang dan Famala tersenyum lebar. Jesyca dan Becker hanya berpandangan bersama, mata elang Becker takjub melihat bidadari didepan matanya.


"gila, ternyata Jesyca cantik." ucap Becker dalam hati.


Henderson mempersilahkan tamunya menuju ruang makan, Famala matanya memcari - cari dimanakah Lanni berada dia takut jika Lanni membuat masalah lagi.


Herderson duduk di samping istrinya Ratih, Wisang duduk di samping Famala berhadapan dengan Henderson dan sang istri. Jesyca duduk di samping Becker, mereka tidak saling menyapa.


"Kalian ini serasi lho," sela Ratih.


"iya, kapan Jesyca lulus kuliah?" tanya Henderson pada kedua orang tua Jesyca.


"Masih setengah tahun lagi," jawab Wisang.


"Sebentar tuh, cepet aja mereka di tunangin." langsung saja Ratih to the point.


"Becker, dari tadi diam aja. Sapa dong Jesyca," imbuh Ratih lagi.


"Hai," sapa Becker pelan.


Jesyca tak membalasnya mereka jadi canggung. Tidak seperti saat Becker menjadi driver untuk Jesyca.


"menurut saya ya jeng, biar mereka aja yang nentuin kan mereka yang jalanin nantinya." cetus Famala lembut pada kedua orangtua Becker.


"Betul juga kata bu Famala," sanggah Hemderson.


"Jesyca, kamu sudah tahukan kalau akan ditunangkan dengan Becker?" tanya tuan Wisang.


"bubukannya dibatalin yah pa? Kan dia ketahuan jadi supir pura - pura aku." cetus Jesyca agak terbata.


Ratih sedikit terkejut mendengar ucapan dari mulut Jesyca, ternyata yang dikatakan para teman - teman sosialitanya waktu ariasan dirumahnya adalah benar.


"Kok gitu?" ujar Ratih dengan nada tinggi.


"karena...." ucapan Wisang terputus.


"Karena Becker mau apa adanya didepan calon istrinya." sela Henderson memutus ucapan Wisang.


Jantung Becker semakin berdetak tak menentu, memang sudah waktunya dia segera memiliki pasangan hidup, jarak umur mereka terpaut tujuh tahun namun tidak membuat rasa cintanya surut untuk Jesyca.