I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
Bab. 11 Tante Famala



Kumpulan para sosiallita sedang mengobrol, mereka tanpak bersuka cita melihatkan barang branded miliknya masing - masing. Ada juga emas ataupun berlian yang di perlihatkannya, Famala tampak begitu menawan saat menggunkan kalung emas bermata berlian di gantungan rantainya, walaupun leher Famala sudah agak keriput tetapi tak nampak lekukannya mungkin karena perawatan atau dempulan kosmetik yang ia gunakan.


Saat, sedang asyik mengobrol dengan teman satu sofa tiba - tiba saja Ratih datang dan duduk disamping Falama. Mereka saling menyapa karena sudah mengenal beberapa tahun yang lalu, Ratih dan Famala merupakan orang terkaya di ibu kota. Tetapi Ratih tidak sombong ataupun kasar pada orang dibawahnya, sedangkan Famala lebih angkuh seperti sang putri Jesyca. Wanita setangah baya itu suka memperlihatkan apapun yang ia beli kepada semua rekan arisan sosialita.


Malah hari ini, Famala dan Ratih membicarakan tentang menantu idaman yang ia mau.


"jeng Famala, punya anak gadis cantikkan?" tanya Ratih.


"Ya punya, anakku sematawayang ya Jesyca. Dia gadis baik anggun. Suka dandan," jawab Famala, memuji putrinya namun tidak sama dengan kenyataan.


"wah, itu sih kreteria menantu idaman saya lho jeng." tambah Ratih bersemubinar.


"ah, masak sih? tapi Jesyca masih kuliah. Sebentar lagi selesai sih, rencananya saya suruh bekerja gantiin papanya." papar Famala dengan lerus dan logat gemulai khasnya.


"Cepet itu kalau tinggal setahun, mending jodohin aja sama si Becker. Anakaku yang atlet bola dunia itu," ucap Ratih.


"boleh juga, tapi saya ya mesti tanya dulu dong. Jesyca mau apa ngak." ujar Famala.


"pasti Jesyca bakal mau, karena anak saya tampan. Juga mapan lho jeng." kata Ratih memmuji anaknya sendiri.


"Saya boleh liat ngak, itu fotonya anak jeng Ratih." Famala berharap tahu.


"oke deh," Ratih mengeluarkan ponselnya.


Tetapi benda persegi panjang yang ada di tangan Ratih, berbunyi cukup keras dengan terpaksa wanita itu menekan layar dan menempelkan ke daun telinganya. Telfon dari sang suami tuan Henderson meminta Ratih untuk segera datang ke kantornya karena ada acara mendadak di kantor perusahaan sang suami.


Akhirnya, Famala dan teman solialita yang lainnya di tinggalkan. Ratih pergi, setelah beberapa menit yang lalu Ratih pergi, Famala memamerkan tas branded keluaran terbaru.


"liat deh ajeng - ajeng semua. Aku beli tas baru nih, tau ngak harganya berapa?" ucap Famala seraya meletakan tasnya di atas meja kaca.


"bagus lho, jeng ini harga berapa?" Karmila ingintahu, yang duduk agak berjauhan dengan Famala.


"murah kok jeng. Seratus limapuluh juta dapet tas ini," jawab Falama dengan menggoyangkan jemari yang terselip cicin permata berlian.


"eh, itu juga pakek cincin cantik?" tanya Nunik pula.


"oh, ini hadiah ulang tahun saya kemarin. Suami saya dong yang ngasih," ujar Falama dengan logat gemulai dan sok lembut.


"heleh, paling imitasi. Cuma batu akik, terus itu tasnya ngak asli," bisik yang lainnya.


"kayaknya sih semua palsu, Famala emang suka nglebih - nglebihin biar dikira dia paling kaya sendiri diantara kita." kata yang lain pula.


Beruntung Famala tidak mendengar, kalau sampai dengar dia dibicarakan oleh teman yang tidak suka cara Falama maka mama Jesyca itu tak segan menampar atau menjambaknya. Sifat jelek Famala menurun ke sang putri Jesyca, karena sejak kecil sudah di manja dengan harta yang berlimpah.


"Besok, saya juga mau ke luar negri kok Jeng." Famala seperti memberi penggumuman pada teman - temannya.


"iya, ke mana jeng? terus pergi sekeluarga?" tanya Karmila ingin tahu.


"ke Sweetzeland dong." kata Falama melenggak lenggokan kepalanya.


Famala hanya terkekeh bahagia, beberapa teman sosialitanya yang duduk di pojokan mendengar ucapan Falama jadi panas.


"semoga aja, pesawat yang di naiki si sombong Famala jatuh ke segitiga bermuda." cetus perempuan berambut tebal.


"Aku juga berharap, kayak gitu jeng. Biar mampus tau rasa dia." sambung lainnya.


"sama.sebel aku rasanya pengen nampar mulut angkuhnya," tambah perempuan berbadan gemuk namun terlihat rapih dan cantik.


"ssst, udah nanti kedengeran kita bisa di gampar. Kayak ngak hafal watak Famala." tukas Melinda.


Mungkin Famala sempat curiga mendengar bisikan goip di sudut kursi tempat teman sosialitanya duduk. Karena wajah mereka terlihat masam dan sadis oleh Famala, wanita setengah baya itu melirik para wanita sosialita yang tadi membicarakannya. Tak selang beberapa lama para kumpulannya berpamit mengundurkan diri, sekarang hanya tinggal Famala dan Karmila. Sepertinya Famala merasa kalau dia sudah diacuhkan oleh para sosialita, darah di aliran tubuhnya mulai memuncak panas seketika ingin mengejar keluar mereka dan ingin menjambak mereka satu persatu.


"please, Falama mereka benci sama ucapan sombongmu. Kalau kamu ketemu kami ngak pamer sehari aja bisa ngak sih?" kelit Karmila yang sebenarnya kesal pada Famala.


"ya ngak bisa dong. Emang aku orang kaya dan terkaya di ibukota ini, mungkin tahun depan lebih kaya lagi!" tukas Famala dengan angkuhnya.


"hei, Famala kamu ngak tahu. Kalau suatu saat suami kamu sakit atau kecelakaan dan amit - amit meninggal dunia, harta yang kamu banggakan itu akan sirna. Kenapa? karena yang mencari harta adalah Wisanggeni, bukan kamu! kamu hanya menikmati." kata Karmila menekan dan menggingatkan Famala agar tidak menyombongkan diri.


Mama Jesyca itu terdiam, tidak bisa berucap sepatah katapun. Dalam fikirannya memabayangkan hal mengerikan terjadi pada dirinya sendiri, jika dia meninggal dunia tidak dapa menikmati kekayaannya, meninggalkan Jesyca sendiri dan suami kebangganya menikah lagi.


"Aku pergi dulu Famala," ucap Karmila bangkit dari sofa mewah itu.


Famala terperanjat dari lamunannya. Dia melihat teman sosialitanya pergi meninggalkannya semua, jantung Falama berdetak cepat ia takut kalau itu adalah penyakit. Namun dirinya masih bisa mengontrol, perlahan menghembuskan nafas dan meminum minuman yang masih ada di depan mejanya.


"Astaga, jadi aku selama ini suka pamer? dan semua teman sosialitaku....?" Famala memegang kepalanya sendiri.


"huh, kalau mereka enggak mau berteman sama aku. Terus aku nanti temenan sama siapa?" tanya Famala sendiri di sofa yang tinggal dirinya sendiri.


"oh tuhan, kirain temenan sama orang kaya mereka itu ihklas ternyata mereka hanya ingin terlihat kaya. Iya, kaya seperti aku. Aku memang orang kaya raya dan terlahir kaya." ujar Famala sendiri, dia bangkit dari sofa dan melangkah meninggalkan lestoran mewah besar itu.


"Mrs. Famala," suara seorang pelayan memanggilnya.


Famala menoleh ke belakang.


"iya mbak?" tanya Famala.


"maaf, teman - teman anda belum membayar. Mohon pergi ke kasir dulu," ucap pelayan yang tadi memanggilnya,


"apa?" hentak Famala terkejut, matanya membulat.


"silahkan kekasir, mari ikut saya akan saya antarkan."tambah sang pelayan lagi.


" Sialan, dasar sosialita miskin taunya mintak tlaktir aku." dengus Famala dalam hati.


Dia mengikuti langkah sang pelayan menuju meja kasir, Famala mengeluarkan kartu kriditnya dan membayar semua makan dan minuman yang di pesan oleh teman - temannya sosialita tadi. Jumlah uangnya sekitar lima juta empat ratus tigapuluh ribu rupiah.


"gila!kalau tahu bakalan aku yang bayar, aku ajak aja ke lesehan pinggir jalan mereka!" keluhnya, setelah membayar dan diapun pergi.