
Didalam ruang makan mewah bagai hotel first class, sebuah meja makan persegi panjang tertatarapih makanan berbagai macam. Empat orang sedang duduk di meja tersebut dengan dilayani empat orang asisten masing - masing orang.
"bagaimana, perkembangan kamu deketin Jesyca?" tanya nyonya Ratih ingin tahu.
"Mmmm, belum ada banyak kemajuan mom, kan baru sebulan." jawab Becker dengan wajah serius.
" bulan ini, harus ada perkembangan. Kalau tidak! terpaksa Daddy nikahkan kamu dengan Tania." cetus tuan Henderson, tatapannya datar.
"dady, Tania itukan teman kecil Becker. Mereka juga enggak saling cinta." sela nyonya Ratih membela sang putra.
"Tania lagi, kalau dady suka ya nikahin sana." Becker mengerucutkan bibirnya.
"Udah, lah mommy sama dady sukanya jodohin anak." tukas Brenda Alison adik perempuan satu - satunya Becker.
Sedangkan Becker hanya diam saja, tidak mau menanggapi ucapan orang tuanya. Dalam hati pria itu hanya ada Jesyca seorang walaupun dia adalah gadis buruk di mata orang, rencana Becker membuat gadis itu berubah seratus persen sebelum penyamarannya usai.
Tuan Henderson, tidak mengucap apapun lagi. Beliau menikmati makanan yang disantapnya, tak ingin jika anak - anaknya tertekan karena perjodohan karena jaman sekarang sudah tidak seperti dulu lagi. Henderson dulu dijodohkan oleh mendiang orangtua angkatnya, awalnya dia dan sang istri Ratih tidak saling mencintai karena Ratih perempuan angkuh anak orang terpandang didesanya. Tapi Henderson dapat menahlukan keras kepala, serta kesombongan Ratih.
Makan malam singkat telah usai, Becker berpamitan keluar karena rekan - rekan club bolanya mengajak nongkrong. Becker pergi dia mengendarai mobil pribadinya, Jaguar buatan Eropa berlari di jalanan ibu kota. Bagaikan pembalap profesional Becker mengemudikan mobil kesayangannya, sesampainya di sebuah club malam dia turun dari mobil tak asing karena club itu adalah langganan Jesyca. Dia harus hati - hati, jika gadis gila itu tahu kalau Becker adalah Geo akan sia - sia saja pengorbanan untuk mendekati Jesyca.
Becker memasuki club malam yang megah dan mewah itu. Tidak semua kalangan orang mampu masuk ke club malam bergensi di kota metropolitan, karena Becker mempuyai uang yang lebih diapun menyempatkan menongkrong dengan teman - teman timnya di club itu. Sampai di dalam ruangan, lampu diskotek berkelap - kelip menyapa Becker hentakan musik begitu keras memecah gendang telinga. Para gadis tunasusila menawarkan jasa untuk lelaki hidung belang yang mau membelinya sesaat, Becker melihat wanita yang demikian dia jadi ingin mengeluarkan makanan yang tadi di santapnya.
Teman club Becker semua memyapnya kecuali Domanic pria itu tak nampak batang hidungnya, mungkin dia sedang sibuk hal lain atau malah enggan berkumpul dengan teman clubnya.
"Bro, mana gandengan loe?" sela Anton teman club bolanya.
"hahahaha.... masih di umpetin," jawab Becker terkekeh dia duduk di sofa.
"Cari aja, tuh banyak." seru Ryan.
"biarin, nanti juga ada kok yang nyamperin Becker." imbuh Jhono.
"hahaha, gue ngak terlalu minat sama perempuan disini bro." cetus Becker tebahak.
"yakin loe? murah lho Beck, satujutaan hahahaha...." gelak Anton.
"ck, ngaklah gue sendiri aja." kata Becker.
Becker melihat kanan, kiri, depan lurus di club malam itu tak terlihat batang hidung Jesyca atau teman - temannya. Dia waspada jika ada yang tahu penyamarannya sebagai driver, maka dari itu pria itu tidak luput pandangan matanya ke manapun dalam ruangan itu.
Seorang wanita cantik,menggunakan rok pendek bertangtop merah mendekati Becker. Gadis itu tiba - tiba duduk di paha Becker yang kekar, membawa segelas minuman beralkohol.
"tampan, temani aku yuk. Setengah jam aja, murah kok." ucapnya menawarkan harga dirinya.
"tolong anda turun! sangat tidak sopan kelakuan seperti ini." ketus Becker.
"aduh, jangan marah dong sayang. Akukan cuma nawarin kamu, aku masih enak kok. Ngegigit." bisiknya, menggoda Bencker.
"Saya enggak peduli, kesini cuma ingin kumpul dengan teman saya." tukas Becker, tangan kekarnya mendorong tubuh gadis cantik itu. Kini bokongnya mendarat di sofa, tampak teman - teman Becker tertawa puas melihat kejadiaan itu.
"aaauuu....sakit!" rintih perempuam bertangtop merah itu.
"Kamu apain sih Beckh?" tanya Anton serius.
"heh, loe dengerin ya cowok sok suci! gue disini cari duit buat biaya kuliah adik gue. Cari kerjaan susah tau, cuma ini satu - satunya kerja yang bisa bayar kuliah adik gue." ucap sang wanita bertangtop merah.
Becker terbelalak mendengar penjelasan dari perempuan yang tadi menumpangi pahanya. Begitipun semua teman club bola Becker, beberapa orang didalam club malam itu melihat kejadian yang memalukan Seorang manager datang mengahampiri Becker.
"hai, Mr. Becker terimakasih sudah sudi datang ke club ini." sambut jabat tangan pria berbadan tambun itu.
"Oh, anda manager club malam disin?" tanya Becker agak ramah.
"Betul sekali, kalau tidak terlalu nyaman saya akan antarkan anda ke lantai atas." ucap sang manager itu.
"tapi, saya dengan kawan - kawan sedang ada acara disini. Tolong perempuan itu saja yang harus pergi meninggalkan saya disini." ketus Becker tegas.
"maaf, atas ketidak nyamanannya." balas sang pria bertumbuh tambun.
Becker diam saja, menatap sinis perempuan yang merayunya tadi. Sang manager pria bertubuh tambun itu membawa wanita itu pergi dari hadapan Becker, dari lift terlihat Jesyca bertiga dengan temannya. Salah seorang dari mereka melihat Becker sedang ngobrol dengan temannya, dia Naya, menepuk punggung Jesyca.
"itu Geo," tunjuk Naya dari satu ruang yang sama, namun agak jauh.
"Mana," seru Jesyca antusias.
"Gue ngak liat," imbuh Linda.
Mereka berjalan menuju lantai atas, Jesyca melihat keraah telunjuk Naya.
Deg!
Jantung gadis itu berdetak lebih cepat dari sebelumnya, melihat Geo lebih steel dan cool dari sebelumnya. Jesyca memberanikan diri menghampiri Geo yang asyik ngobrol.
"Geo, ngapain loe disini? inikan tempat malahal tiket masuknya aja limaratus ribuan." sentak Jesyca pada pria itu.
Becker terperanjat, tetapi dia harus berakting tidak mengenal Jesyca.
"siapa lagi sih loe? mau nawarin diri lagi!" bentak Becker.
Membuat down hati Jesyca.
"oh, sorry. Kirain supir saya," ucapnya lirih.
"supir? ini temenku mbak. Dia pemain bola nasional bahkan kelas dunia, masak mbak ga kenal dan dia bukan supir mbak tau." tambah Anton menjelaskan hal sebenarnya pada Jesyca.
"mau apa?" ketus Becker.
"Pergi sana! aku ngak suka perempuan murahan." tandas Becker, dia berusaha menciutkan sifat angkuhnya Jesyca.
"Apa, aku murahan?" tanya Jesyca dari lubuk hatinya.
"Alah, udah lah Jes. Kita kesini nongkronglah, mereka kirain mau ng***te!" bentak salah seorang teman Jesyca.
Tiga gadis itu akhirnya pergi meninggalkan Becker dan temanya. Dalam hati Becker ingin meminta maaf pada Jesyca karena ucapanya membuat dia sakit hati. Sedangkan tiga gadis itu pergi dengan mulut mengomel puas memaki Geo alias Becker.