I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
Bab 45.



••••


Amterdam sore sekitar pukul 5.20 waktu Belanda, tepatnya di stadion sepak bola Johan Cruijff Arena bangunan yang cukup megah bernuansa modern. Lapangan sepak bola menghijau bagai permadani, di atap stadion dapat buka tutup entah otomatis atau memang ada operator stadion yang menjalakan tugas tersebut.


Becker bersama beberapa belas teman club bolanya sedang melakukan latihan, karena minggu depan akan berhadapan dengan negara tetangga untuk piala Eropa.


Jesyca setia menunggu di kursi kosong, hanya ada beberapa orang duduk pada kursi stadion itu, mungkin keluarga pesepak bola atau sekedar menonton latihan sepakbola saja.


"Hmmm, bosen juga sih nunggu laki lagi maian si bulat," decah Jesyca menggerser tubuhnya.


Tangan indah Jesyca meraih handphone yang berada di dalam tas, ia menyekrol benda kotak tipis lonjong itu, di medsos Jesyca chek tidak menemukan berita tentang kehilangan Naya lagi. Akhirnya kerja sama dengan Linda berhasil.


"Yes, udah ngak ada lagi. Lagian sekaya apa sih suami Naya itu, mentok cuma pengusaha sawit." pekiknya merendahkan orang yang belum pernah ia temui.


"Tapi kok kaya banget, bisa bayarin media di Indonesia sih," kernyit Jesyca lagi, dia semakin heran dengan suami Naya.


"Walaupun Naya nyebelin, pernah cinta berat ama Becker tapi dia seengaknya sering nolongin nilai kuliahku," batinnya, mata Jesyca menatap dalam foto Naya di handphonenya.


Lalu ia tutup handphonenya dan memasukan ke dalam tas kembali. Terlihat Becker masih melakukan latihan gerakan menggiring bola, Jesyca sebenarnya sudah bosan duduk di tempat yang sama.


"Huh, kalau ngak laki gue males kaya orang hilang sendirian duduk di sini," gerutu Jesyca.


Tampak jelas kaki Becker dari kejauhan menendangi si bulat dengan lincahnya. Bergantian lawan latihnya, pelatih sepak bola memberi aba - aba dengan seksama. Sudah dua jam mereka asyik memainkan bola di tengah lapangan, walau musim dingin menerpa tubuh mereka tetap bersemangat dan di siplin.


* * * *


Setalah selesai berlatih sepak bola, Becker mengajak Jesyca pergi ke pusat perbelanjaan yang terbesar di kota Amsterdam. Kalverpassage mall paling terbesar juga termegah di kota itu, bangunanya cukup estetik dengan gaya klasik namun tidak membuat kuno tetap moderen.


Di dalam mall ruko - ruko menjual merek ternama dari buatan negara sendiri hingga negara lain ada di dalam pusat perbelanjaan itu.


Jesyca paling bahagia dan otak di dalam kepalanya semakin dingin moodnya, wanita itu langsung memasuki toko bermerek dari negara Prancis. Ia memilih beberapa baju dan sepatu hak tinggi yang sudah di incar dari tadi. Tetapi, mata Becker mengarah ke tempat pakain tidur yang di gantung. Warna biru tua sengaja Becker memilih lingerie yang hanya tertutup belahan dada, bawah kain itu sangat minim yang ada hanya kain biru tua berbentuk segitiga.


"Sayang, lihat ini bagus banget buat kamu." tawar Becker tersenyum singerai menyodorkan lingerie tersebut.


"Iihh, kayak gitu juga males pakek. Mending telan*ng bulat aja sekalian," tolak Jesyca, dia enggan menerima kain dari suami berhotak mes*m itu.


"Ck, jadi kamu nolak lengerie ini." ucap Becker, ia meletakan kain itu lagi ke tempat asalnya.


"Bukan gitu, kan lebih cepet kalau ngak pakek," kekeh Jesyca mencubit perut datar Becker.


"Iya juga sih, aku juga lebih seneng yang kamu mau sayang," serunya menatap mesra sang istri tercintanya.


"Milih aja, mau yang mana?" imbuh Becker pada Jesyca.


Becker hanya mengangguk, dia bahagia jika Jesyca mendapat apa yang di inginkan. Setelah Jesyca membayar ke kasir, mereka melanjutkan belanja ke toko perlengkapan dapur di dalam mall itu. Jesyca cincay semuanya ke dalam ranjang, karena dirinya belum pernah sekalipun berbelanja peralatan dapur.


Karena Jesyca ingin belajar memasak dari nol, melihat titurial yang berada di media sosial. Kadang masakannya terasa aneh, terkadang juga enak. Sudah dua hari semenjak kedatangagan mereka di negri kincir angin itu, Jesyca gemar memasak sesuatu untuk Becker.


"Nanti malam, buat spageti enak ya kayaknya," cetus Jesyca saat memilih sayuran di supermarket dalam mall itu.


"Boleh, sesuka kamu. Tapi besok pagi aku mau sarapan soup mie kuah Singapore," lancah Becker.


"Buatin ya, sayang." imbuh Becker minta.


"Iya, aku belajar dulu ya sayang," sela Jesyca.


"Iya," jawab Becker singkat.


Jesyca meneruskan belanjanya lagi. Satu jam kemudian semua barang yang di beli mereka sudah masuk ke dalam bagasi mobil, dan Becker mengemudikan kuda besi itu menuju apartement yang tidak begitu jauh dari pusat belanja.


Di apartement Jesyca menata barang belanjaannya dan ia memulai memasak soup bihun Singapore permintaan sang suami, Jesyca sambil melihat tutorial memasak di yo*tube, ia memang tidak pandai memasak air sekalipun.


Tidak butuh waktu lama, masakan yang di olah Jesyca sudah terhidang di meja makan dekat dapur masaknya. Setelah memasak Jesyca segera mandi sesudah itu dia mengajak suaminya untuk menyantap makan malam bersama, dia  jadi dag dig dug ser. Apakah Becker akan memuji atau tidak ketika nanti menyicipi masakannya.


Sepasang suami istri itu kini duduk kursi makan saling bersampingan, Jesyca mengambilakan soup yang ia masak tadi. Dia meletakan kuah dan isinya ke dalam mangkuk sup.


"Mmmm.... baunya seger nih, harum." puji Becker sebelum menelan sup yang di buat oleh Jesyca.


"Belum masuk ke mulut lho sayang, " celoteh Jesyca, ia berfikiran sebentar lagi akan dapat cibiran dari mulut Becker.


Becker mulai menyantap sup buatan sang istri, baru satu sendok bulat itu dia memasukan ke dalam mulut dan mengalir ke tenggorokan.


"Enak lho sayang, ternyata cewek badung kaya kamu pinter masak juga," cetus Becker seraya terkekeh geli.


"Sialan, ya iya dong biar kamu ngak sering makan di luar." ucap Jesyca.


Cup!


Kecupan mendarat di pipi Jesyca, membuat kulit putih bersih itu terlihat merah muda. Jesyca menoleh kearah samping, lalu dirinya beralih ke pangkuan sang suami.


Tangan Jesyca bergelayut manja mengantung di leher Becker. Makan malam yang akan mereka mulai malah jadi berubah suasana menjadi hangat dan lembut, Becker mencium bibir ranum Jesyca di lumatnya hingga lidah mereka saling bertemu.


Rangkulan tangan Jesyca semakin erat, Becker tidak mau kalah. Tangan kekar miliknya memeluk pinggang ramping Jesyca, suasana malam yang dingin mencekam berubah menjadi hangat, sesekali lengguhan keluar dari pita suara Jesyca membuat Becker semakin gencar dengan aksinya. Karena Jesyca yang memulai dulu menggangu suaminya yang akan menyantap masakannya.


Biar bagaimanapun, Jesyca sudah kecanduan terangsang oleh sentuhan sensitif suaminya. Sama halnya dengan Becker, tanpa cinta dari Jesyca dia tidak akan sempurna.