
\*\*\*\*\*\*
Pagi hari tuan Wisang sudah selesai sarapan, begitu juga Jesyca dan mamanya Famala. Semua hendak pergi, sebelum bepergian di ruang makan tuan Wisang mengatakan sesuatu pada Jesyca.
"Nanti malam," ucap tuan Wisang.
"Kenapa pa," jesyca mengernyitkan dahi.
"Ya, kamu akan segara kami tunangkan." sela Famala.
Jesyca berbinar bahagia, tetapi setengah hatinya belum siap menerima jika takdir jodohnya secepat kilat.
"Apa pa, ma. Ini ngak terlalu cepat?" kelit Jesyca.
"Biar ceapt lebih baik, agar sifatmu itu bisa dididik Becker." tukas papa Wisang pada Jesyca.
"Jesy udah usaha pa, buat rubah." sahutnya.
"Tapi, kamu masih sering du**em pergi ke club malamkan?" tanya Famala seraya menggebrak meja makan.
"Astaga ma, udah lama ngak pergi. Jesyca kapok tau gara - gara di kejar preman kampungan," papar Jesyca jujur.
"Salah kamu, pergi aja ke tempat itu terus dasar anak nakal. Papa malu tahu!" omel tuan Wisang, mata tajamnya menghardik anak perempuan sematawayangnya.
"Papa, mama ngak mau tahu. Secepatnya kamu harus tunangan, soal kuliahmu itu papa udah tahu tingkahmu di kampus." imbuh Wisanggeni.
"Jujur ya, sama mama kamu ngak pernah ngerjain tugas kuliahkan?" selidik Famala.
"Ma**us, tahu dari siapa sih mama sama papa." batin Jesyca.
"Anu, ma pa.... terserah aja, Jesyca ikut. Udah ya mau berangkat." alih Jesyca bangkit dari tempat duduknya dan pergi berjalan keluar rumah.
Saat sudah diluar rumah dia mendapati mobil yang pernah melihat di suatu tempat, mobil sedan berwarna putih mengkilap sedang parkir dihalaman rumahnya. Hennessey Venom F5, dari dalam muncul seorang pria menggunakan baju kemeja berjas hitam keluar dari dalam mobil.
Jesyca terpana melihat kedatangan pria tampan berkharisma tersebut. Langsung saja dia menghampirinya, dan memeluk sang pria cassanova itu.
"Geo, eh.... Becker," sapa Jesyca seraya memeluk leher pria itu.
"Pagi, jangan panggil nama aja dong." keluhnya, iapun membalas pelukan Jesyca.
"Terus apa?" tanya Jesyca.
"Sayang kek,apa kek." kelit Becker sedikit menampakan kekesalannya.
"Oh, iya sweety aja ya hehehe...." kekeh Jesyca.
"Nah, gitu dong." alih Becker tersenyum puas.
"Sepagi ini mau ngapain kesini?" tanya Jesyca.
"Hmm, kamu hari ini kuliah ada berapa jam?"
"Hari ini, jadwalku.... mmmm, ngak tahu hehehe," kekeh Jesyca menjawab jujur.
"Ck, percuma kuliah mahal - mahal. Jadwal aja ngak ngerti, udah langsung kawin aja." sungut Becker melepas pelukannya.
Jesyca memasang wajah cemberut, lalu Becker membukakan pintu mobil untuk calon tunangannya. Dan sebelum ia pergi, Famala juga Wisanggeni datang menghampiri mereka.
"Kalian, emang cocok hehehe...." sela Famala.
"Makasih tante," jawab Becker tersenyum.
"Tapi, jangan jadi supir boongan lagi. Dan panggil saya mama," tegas Famala.
"Iya ma," cetuk Becker.
"Ingat, jangan ngebut." sahut Wisanggeni.
"Eit, siapa suruh panggil om papa! nanti malam sesudah tunangan baru boleh panggil saya papa,hehehe...."
"boleh, tapi jangan di batalin lagi ya pa, Becker udah cinta sama anak papa yang paling cantik ini." ujar Becker seraya melirik ke arah Jesyca.
Membuat gadis itu tersipu malu. Kemudian mereka berdua berangkat, Becker mengajarkan pada Jesyca sebelum berpergian harus pamit pada kedua orangtua dan mencium punggung tangannya.
Jesyca mengikuti ajaran Becker, langsung saja setelah itu tancap gas menuju kampus tempat kuliah Jesyca. Sedan yang di tumpangi mereka masuk ke halaman kampus, semua mata di tengah halaman itu melihat kedatangan mobil berwarna putih mengkilap. Mereka mendekatinya dan ingin mengetahuinya siapakah penunggangnya, dan keluarlah Becker, Jesyca.
"Jesyca, ternyata loe. Emang ngak kaget," cetuk salah satu mahasisiwi.
"Ya ampun, inikan pemain bola, Bryan Alison Becker." seru Bianca teman sekelas Jesyca.
Semua para mahasiswa baik laki - laki atau perempuan mengerubungi Jesyca dan Becker.
"Loe, Bryan Alison kan?" tanya perempuan berkacamata.
"Bukan woi, dia ini supir Jesyca hahaha...." ujar Riko terbahak - bahak.
"Betul, ini Bryan Alison Becker. Dan dia tunangan gue, nanti malam kalian semua gue undang ke acara tunangan kita." lantang Jesyca pada semua teman kampusnya yang mengerubuti dirinya dan Bekcer.
Riko terkejut membulatkan mata, di sela kerumunan itu ada juga Naya diapun terlihat patah hati. Belum terima jika Geo alias Becker resmi menjalin hubungan dengan sahabatnya entah sejak kapan.
Naya pergi berlari menjauhi kerumanan itu, ia menangis sejadinya di toilet tangannya menggengam erat seakan mau menghantam. Tangis Naya tidak bisa berhenti, ketika itu Linda memasuki toilet dan mendapati Naya menangis tersedu - sedu.
"Napa loe Nay?"
Ia hanya geleng - geleng kepala, tidak mengucapkan sepatah katapun pada Linda yang berdiri di sampingnya.
"Cerita, please. Kita udah lama lho temenan," ucap Linda lagi.
" Kalau, loe ngak cerita berarti kita udah ngak sahabatan." tambah Linda kembali.
Akhirnya, Naya mengeluarkan suara seraknya.
"Gue, ngak bisa Lin." sahutnya sesengukan.
"Ga bisa gimana?" Linda bingung.
"Jesyca mau tunangan, sama Geo nanti malam. Dan gue masih punya perasaan sama itu cowok," ungkap Naya jujur.
"DAM!" batin Linda, dia menjadi merasa bersalah atas dirinya dulu.
"Coba aja, loe belajar ihklas suatu saat akan dapat cowok terbaik yang mencintai loe tulus," hibur Linda, seraya memeluk Naya.
"Kirain dulu Geo suka beneran ama gue, ternyata dia juga cuma nyamar jadi supir Jesyca." Naya masih menangis sesenggukan.
Linda merangkul tubuh Naya, dia merasa bersalah atas semua ini. Karena, ide gilanya saat itu Becker suruh memacari Naya hanya untuk memanasi Jesyca dan kenyataanya tidak berhasil.
•
•
•
•
Di dalam ruang toilet berbeda, Riko juga meluapkan kemarahannya sendiri. Selama ini dia menggangap dirinya bodoh, tidak menunjukan hati yang sesungguhan pada Jesyca bahwa sebenarnya diapun mencintai Jesyca.
Sekarang, nasi sudah menjadi bubur Jesyca termyata akan ditunang oleh pesohor negri ini. Yang selama ini di mata Riko adalah pria rendahan seorang driver untuk Jesyca, namun ternyata itu adalah tidak benar karena Geo tidak ada dan Becker lah pemenangnya.