I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
Bab. 26 Seandainya



"Aaaarrkkk!" gema suara teriakan Famala begitu kuat di dalam rumah yang berukuran cukup besar.


PRAANGG!!


suara pecahan benda di ruang tengah.


Dua orang wanita asisten rumah tangga Famala berlari ke sumber suara tersebut, melihat serpihan pecahan lampu di lantai berserakan. Surti dan Inah membulatkan mata, selama ini nyonyanya Famala tidak pernah marah hari ini beliau bagaikan harimau akan menerkam mangsanya.


"nyonya, dia kenapa apa atuh. Kayak kesurupan gituh," ujar Inah meringis ketakutan.


"Ngak tau, entah semua orang rumah jadi kayak gini semua, non Jesyca nangis terus, pak Wisang diam aja. Ntah, Surti bingung nih." kata Surti menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Surti dan Inah masih berdiri dari pintu dapur, sedangkan tangan Famala gemetar dia meremas dress yang ia kenakan sekarang. Rasa kesal menghantui hingga pucuk kepala wanita setengah baya itu, bayangan indah di masa depan mungkin akan sirna seketika. Dan membawa luka perih di hatinya.


"Lanni, an***ng! kenapa kamu masih hidup!" lirih Famala tubuhnya jatuh kelantai perlahan, matanya sembab karena air dari kelopak keluar bercucuran.


"haaaaaahhh! seharusnya, dunia semua ini milikku, Lanni m**ti saja." imbuh Famala lagi.


Terus menangis sejadinya, memaki Lanni asisten rumah tangga Becker. Entah dulu apa jadinya sehingga Famala seperti menggenal Lanni lebih jauh, mungkin mereka bersahabat atau musuh.


Tas mewah yang dikenakan Famalapun dilemparnya jauh ke dekat pintu masuk rumah, alat makeup seperti bedak lipstik keluar berhamburan. Surti dan juga Inah pergi menghampiri sang majikan, Surti memunguti benda yang berceceran sedangkan Inah menenangkan nyonya Famala.


"Udah, cup ya nya. Jangan sedih nanti Inah te sedih juga atuh," sela Inah seraya mengelus Famala.


"haaaaaa....aku benci dengan hidup ini," ujar Famala seraya menangis meraung seperti anak kecil kehilangan mainan.


"ayuh nya, duduk dulu atuh." ajah Inah memapah ke sofa.


"biarin Surti ambilin air putih," sela Surti.


Surti berjalan ke belakang mengambil segelas air putih untuk sang majikan, beberapa menit kemudian dia keluar memabwakan air dalam gelas tersebut. Setelah itu, Famala meminum airnya dan sedikit tenang. Surti membersihkan serpihan pecahan kaca lampu yang dipecahkan Famala tadi.


Jesyca, turun dari kamar karena di bawah terdengar berisik diapun turun. Dan ketika sudah berada di bawah Jesyca terkejut.


"astaga, mama kok nangis? terus ini lampu dindingnya pecah. Mama ngertikan kalau ini lampu koleksi papa!" kelit Jesyca pada mamanya.


"Dasar, anak so***ong mamanya lagi sedih gini malah mikirin lampu koleksi." sahut Famala kesal.


"dih, lagian kenapa pagi jelang siang gini nangis?" tanya Jesyca seperti tak peduli dengan kesedihan mamanya.


"Males! cerita sama kamu, sana pergi!" sentak Famala mengusir Jesyca.


"Okey, Jesyca suntuk dirumah." ucap Jesyca seraya pergi meninggalkan Famala dan dua asistennya yang sedang bersih - bersih.


Gadis itu keluar dari rumah menuju parkiran mobilnya, dia memasuki mobil yang sering di kendarai Geo alias Becker, sekarang tidak ada supir pribadi dirinya sendiri harus menyetir kemanapun ia pergi.


Hari ini, Jesyca ada jam kuliah dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beruntung waktu siang itu tidak macet hanya sepuluh menit sampai di halaman kampus Jesyca memarkirakan mobilnya.


Sekarang. Revano tengah berdiri di samping mobil Jesyca ia bercagak pinggang memandang sengit gadis cantik itu.


"Heh, Jesyca Anggeline." panggil Revano tersenyum kecut.


"hai, ada apa loe tiba - tiba nyamperin Gue hmmm?" tanya Jesyca santai seraya berdehem.


"loe ya, yang itu hari nyiram gue pake tinta merah darah?" tekan Revano pada Jesyca.


"Loe yakin itu gue," ujar Jesyca meletakan sikutnya ke atas mobilnya.


"iya dong, kata Naya loe tersangkanya." ucap Revano.


"Pe**k, udah aku maafin bisa - bisanya dia buka aibku, atau semua ini Linda?" kata Jesyca dalam hati.


"Iya kan!" sentak Revano lagi.


"No, loe cari CCTV dulu baru nuduh gue! percaya aja sih ama Naya mulut co**an kaya dia." ketus Jesyca matanya menghardik tajam kearah Revano.


Revano akhirnya terdiam, Jesyca bisa kabur darinya dan sedikit menjorokan pundak pria itu. Gadis itu pergi dari Revano.


"yes, jangan sampe kena Jesy," bisiknya dalam hati bangga. Seraya berjalan menuju ruang kelas.


Jesyca, mengeluarkan handphone canggihnya di layar masih ada gambar Geo alias Becker. Diapun jadi sedih saat melihat senyum Becker mengembang di layar pintar tersebut.


"Apa kabar loe, kenapa semua jadi begini?" bisik Jesyca dalam hati sedih, langkahnya terhenti dia bersandar sejenak di dinding.


"Harus beraniin diri, aku telfon ajalah." ujar Jesyca bersemangat.


Diapun mencari nomor telfon Becker lalu menyambungakannya pada Becker yang disebrang sana.


Nut....


Nut....


Nut....


Telfon tersambung.


Disebrang sana.


\*\*\*\*


"kenapa sih dia, masih hubungin aku!" ketus Becker kesal.


Diapun berpamitan pada karyawan serta claennya untuk menerima telfon dari Jesyca.


"Terpaksa aku angakat, dasar cewek gila." sergah Becker seraya mengangkat telfon.


"Gegeo...." sapa Jesyca disebrang sana terbata.


"Ada apa lagi sih?inggat, aku sudah bukan boddyguardmu atau supir kamu." jawab Becker ketus.


"dan aku juga bukan Geo," tambah Becker lagi membetak Jesyca disebrang sana.


"Oh, iya Becker. I Love you," suara Jesyca parau di sebrang sana.


Bryan Alison Becker rasanya ingin terbang melayang bersama Jesyca saat itu juga. Jantungnya bergetar tak menentu, berjuta perempuan berlomba merebutkan hatinya hanya Jesycalah yang mampu menggetarkan hati Becker sekarang ini.


Bagai harum semerbak mawar menerpa hidung dua insan yang sekarang melakukan panggilan telfon itu. Rasanya, Becker ingin berlonjak atau berjoget mendengar ucapan Jesyca.


"Oh, Tuhan. Beneran, apa cuma PHP cewek sinting ini." kelit Becker dalam hati.


"Hallo, Becker...." suara Jesyca membuka percakapan lagi.


"Eh, aapp.... iya Jes," jawab Becker gagap.


Jesyca disebrang sana tersenyum manis mendengar ucapan Becker terbata. Diapun membayangkan jika dirinya dan Becker berpacaran bagai seorang raja dan ratu di dalam istana yang indah.