I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
Bab. 20 Becker emang ga serius Nay!



Sebulan telah berlalu.


Jesyca berjalan memasuki ruang kelas di kampusnya, Naya berdiri pada samping dinding penghalang antara kelas yang lain. Naya mencoba menyapa Jesyca namun gadis gila itu tidak meresponnya, malah langsung masuk ke kelas tanpa menoleh kearah Naya.


Naya semakin bingung dengan sikap Jesyca. Selama dia dekat dengan Geo sang driver yang akhirnya cintanya tak sepanjang umur jagung, karena Geo tidak pernah mencintai dirinya dengan tulus.


Di dalam kelas Jesyca dan teman lainya asyik mengobrol. Melihat gerombolan anak - anak antara Jesyca juga Linda, Naya ingin bergabung tetapi mereka membubarkan diri setelah melihat Naya mendekati.


"Kenapa semua orang jauhin aku," lirih Naya dalam hati seraya mendaratkan bokongnya di kursi.


"Woi, liat ada cewek gatel yang duduk di sebelah sana!" lantang Riko dari kursi paling belakang sendiri, menunjuk Naya yang duduk di tengah kursi kelas.


"Mana?" tanya Cecil mahasiswi yang lain.


"Itu, si Naya. Dia tergila - gila sama supir Jesyca." ucap Riko begitu keras hingga semua teman - temannya melihat geli kearah Naya.


"Hah? supir ganteng loe itu Jes? diakan mirip sama pemain sepakbola timnas." bisik Byanca dari belakang Jesyca duduk.


"Eh, emang dia asli pemain bola lah," cetus Linda tiba - tiba.


Lalu dengan sigap lupa akan janjinya dengan Geo mulut Linda di tutupi dengan kedua telapak tangannya, Jesyca yang melihat reaksi aneh Linda menjelingkan mata.


"apa Lin?" selidik Jesyca.


"Ohhh.... enggak, itu bu dosen kesini." tunjuk Linda mengalihkan pembicaraan.


Sementara Byanca dan Cecil penasaran dengan pengemudi baru Jesyca itu, mereka berdua ingin mencari tahu siapakah Geo sebenarnya.


Seorang wanita setengah baya, bertubuh kurus tinggi memasuki kelas dengan membawa tas di ketiaknya dan menjinjing tas laptop di tangan kanannya. Tatapan beliau sangat tajam, wajahnya tegas hingga para mahasiswa di kampus itu takut untuk mengangkat kepala. Namun, tidak untuk si Jesyca Anggelin dia malah sering adu mulut dengan wanita yang bernama Elma. Wanita yang berstus dosen itu, mendaratkan barang bawan dan dirinya duduk pada kursi kebesaran yang terletak di depan kelas.


"Selamat pagi semua," ucap Elma memberi salam pada semua mahasiswa didiknya.


"Hari ini, kalian ada partner baru. Ibu harap semua menerima kehadiran dia, Revano silahkan masuk," kata Elma lalu mempersilahkan soerang mahasiswa baru di kelasnya.


Pria berumur kira - kira sembilan belas tahun lebih, memasuki ruangan kelas dengan gaya style yang memukau para kaum hawa, wajahnya tak kalah rupawan dengan anak laki - laki lainnya malah lebih tampan dan rapi.


"Oke, silahkan perkenalkan diri kamu." perintah Elma tegas pada pria muda itu.


"Hai, gue Revano Alkana. Sebenarnya enggak tertarik kuliah disini dan ngak level temenan sama kalian," cetus pria itu dengan angkuhnya.


"Uuuuuu...." sorak ketus dari semua mahasiswa di kelas itu.


"Tolong jaga etika!" tegas Elma.


"Oke, gue mau duduk." alih Revano seraya berjalan ke tengah kelas.


Elma sang dosen hanya menggelengkan kepala, sedangkan Revano berdiri di dekat kursi Jesyca yang sedang asyik duduk memainkan leptopnya.


"sssttt.... an***ng minggir loe!" usir Revano pada Jesyca.


"apa? loe ngusir gue! anak baru jangan sok bertingkah deh, loe belum kenal siapa gue." tukas Jesyca dia masih antusias dengan leptopnya.


"Heh, per**k! semua orang dikelas ini harus nurut sama gue, dan termasuk loe!" bentak Revano.


Hingga membuat semua isi kelas berlalih memperhatikan mereka. Suasana menjadi runyam kalau sudah bertentangan dengan Jesyca, begitu juga Elma langsung pergi melangkah mendekati Revano dan Jesyca yang sedang berdebat.


"saya diusir sama anak baru ini bu," jawab Jesyca.


"kamu lihat, di pojok sana ada kursi kosong." tunjuk Elma pada Revano.


Pria muda itu, mengalah karena dia tidak ingin debat terlalu lama dengan dosen perempuan di kelasnya. Revanopun duduk di kursi pojok yang ditunjuk oleh Elma tadi, jam mata kuliahpun dilanjutkan. Jesyca berbalik badan menatap sinis anak baru yang tadi mengusir serta mengatai dia kasar, dalam hati dia akan membalas perbuatannya.


"loe liat nanti," ucapnya dalam hati mengancam Revano.


••••


Jam mata kuliah sudah usai tinggal menunggu jam selanjutnya para mahasiswa keluar kelas, ada yang ke kantin ada juga pergi keluar kampus. Sementara Jesyca diajak Linda untuk pergi ke toilet, saat melangkah ke toilet dia melihat mahasiwa baru di kelasnya tadi. Jesyca membisikan sesuatu pada Linda tampaknya Jesyca akan membuat rencana mencelakai Revano.


"kita siram pakek air, di kasih pewarna yang ga bisa hilang." ide Jesyca.


"jangan Jes, kita nanti kena masalah. Kayaknya, dia bukan anak sembarangan deh," celetuk Linda.


"alah, loe ngak mau bantuin gue. Ya udah, sendiri aja." ujar Jesyca diapun berlalu meninggalkan Linda seorang diri di depan toilet.


Jesyca berjalan cepat, sesaat mengendap di toilet lelaki dengan sigap dia mengambil ember dan memberi sesuatu dari dalam tasnya. Cat berwarna merah darah, dia angkat ke atas tepat di ruang dimana Revano masuk. Ketika pria itu keluar dari bilik toilet ember yang Jesyca taruh terjatuh tumpah menggenai kepala hingga tubuh Revano, berubah menjadi merah seperti sundel bolong merah darah.


"brengsekkkk!" geram Revano.


"per***k, siapa yang ngerjain gue!" teriaknya di toilet itu sendiri.


Jesyca dari luar mendengar jeritan Revano hanya cekikikan geli sendiri karena merasa puas membuat Revano menderita.


"rasain loe." ujar Jesyca terkekeh bangga.


"hati - hati Jes, filing gue ngak enak nih." sambar Linda.


"tenang, Jesyca punya bodyguard." Jesyca pergi menarik Linda dari toilet.


Sementara Revano mengumpat pada dirinya sendiri, dia keluar dari toilet jadi bahan tertawan semua mahasiswa dan di bully oleh geng Riko.


"Kuntilanak merah, kena kutukan." teriak Riko dari kejauhan.


Semua yang melihat kearah Revan tertawa geli.


"anak baru sok loe, rasain!" cetus David.


"Rasain, kuntilanak merah songong!" sahut Roni.


"makanya, kalau masih baru jangan belagu." alih Cindy pula.


"denger - denger, loe Revano yang kuliah disini cuma bantuan kemiskinan itu yah." ketus Nadia pada Revano.


Revano mati kutu, dia berjalan terunduk menuju gerbang kampus dan para teman barunya masih mengikuti dia pergi. Membuli Revano dengan sebutan kuntilanak merah, nyali pria sombong itu menciut sedakan dunia baru di kampus C itu runtuh seketika.


"sial! semua ini gara - gara perempuan tua itu, nyuruh kuliah segala. Mending jadi copet malah dapet duit," kilah Revano kesal.


Dia pergi berlari cepat, meninggalkan kumpulan mahasiswa yang menyerangnya dengan bulian. Telinga Revano terasa panas mendengar semuanya, Jesyca tertawa puas melihat kejadian lucu baginya.


"hahaha....mampus loe," kekeh Jesyca puas.