I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
Bab. 33 Runyam



Di ruang keluarga rumah megah Wisanggeni semua berkumpul mesra membicarakan pernikahan Jesyca yang akan di adakan tiga bulan lagi.


Ibunda Tjokcro Aminoto, mewejangi Jesyca juga kedua orang tuanya Famala dan Wisanggeni.


"kehidupan rumah tangga itu tidak semudah seperti yang kamu fikirkan cucuku. Mulai dari sekarang, nenek pinta kamu rubah cara hidupmu yang sangat bebas agar kelak kamu bisa menjadi ibu rumah tangga terbaik untuk keluargamu," Papar nyi Tjokcro.


Jesyca tertunduk wajahnya, gadis itu meresapi ucapan neneknya. Begitu juga Wisnaggeni karena selama ini dia salah mendidik anak gadis sematawayangnya, tingkah laku Jesyca sungguh sangat buruk terlebih dia angkuh kepada orang yang tidak banyak memiliki harta.


"kamu juga Famala, anak perempuan seperti Jesyca seharusnya di ajari perbuatan baik. Ibu sering dengar kalau Jesyca suka pergi ke tempat jahan*m seperti club malam, kamu tahu itu." imbuh nyi Tjokro Aminoto lagi.


Famala sangat malu mendengar hal demikian, apa lagi yang mengutarakan sang mertua yang sangat ia hormati. Memang Famala merasa bersalah atas hal mendidik putrinya ia lebih mementingkan urusan sosialita, karena bagi Famala itu lebih dari penting.


"nenek harap, sebelum kamu menikah mulai detik ini rubahlah sikap, tindak tandukmu dan ikuti adat budaya nenek moyang kita." tutur sang nenek pada Jesyca.


"kamu sanggup cucuku?" tanya nyi Tjokro Aminoto pada Jesyca yang duduk menuduk di sofa samping mamanya.


"jawab Jesyca, papa ingin kamu menjadi pribadi yang lebih baik." sahut papa Wisang.


"Jesyca," suara Famala memanggil nama anaknya yang duduk di sampingnya.


"sa-sanggup nek, ma, pa." jawabnya sedikit terbata.


"Yakin, ingat mulai sekarang ya cu," tambah nyi Tjokro.


Hanya anggukan kepala dari Jesyca tanda menyetujui permintaan sang nenek, dia sendiri belum yakin jika dapat menjadi orang yang baik, sejak kecil Jesyca jarang di perhatikan oleh kedua orangtuanya dengan alasan kesibukan masing - masing.


"Jesyca, menjadi wanita anggun itu bahagia kok. Contohnya seperti tante kamu Yasinta dia perempuan yang anggun dan sopan." kata Nyi Tjokro.


tampak merah merona pipi senja Famala, ia terdinggung dengan ucapan sang mertua yang ia banggakan itu.


"tapi, Famala juga sempurna bu. Dia bisa melahirkan dan membesarkan cucu ibu," sahut Wisang membela istrinya.


"Mana buktinya, lha wong Famala jarang banget berwaktu sama Jesyca dan membiarkan anak gadisnya bertingkah ucap sesukanya." tukas nyi Tjokro Aminoto menatap sinis Famala.


"Apa kamu tidak berfikir, jika suatu saat anakmu akan di pinang oleh laki - laki pujaanya dan dia di jadikan ibu oleh anak besanmu nanti!" sembur nyi Tjokro Aminoto kesal.


"Seandainya dulu kamu, menikah dengan Lanni mungkin anakmu akan menjadi pribadi lebih baik." cetus nyi Tjokro.


"Ibu, tolong jangan ungkit masa lalu! Sekarang keluargaku Famala dan Jesyca anakku, bagiku ini sudah cukup sempurna dan satu asal ibu tahu Lanni menghianatiku pergi dengan lelaki lain!" sahut Wisanggeni dengan nada amarah yang cukup tinggi, lalu dirinya bangkit pergi dari ruang keluarga itu.


Jesyca juga berdiri ia berlari naik ke atas sedangkan Famala masih tetap di posisi duduknya menghadap sang mertua.


"kenapa bu, masih saja membadingkan Famala dengan perempuan pilihan ibu?" tanya Famala pelan.


"Atau dia lebih sempurna, karena menjadi ibu untuk cucu lelaki yang tidak sedarah dengan mas Wisanggeni." imbuh Famala memaparkan yang ia ketahui.


Nyi Tjokro Aminoto terdiam seribu bahasa, dia tidak menjawab pertanyaan menantu yang mengesalkan baginya.