I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
Bab. 21 Geo atau Becker?



"Kamu kenapa? jadi merah kayak darah gini nak," selidik Lanni ibu Revano.


"semua ini, gara - gara ibu! kenapa nyuruh aku kuliah di kampus ngak mutu itu," kilah Revano menyesal karena sudah menginjakan kaki ditempat yang tak ia sukai.


"lagian, kenapa kita harus jadi babu disini juga," cetus Revano lagi.


"seharusnya kamu bersyukur, bisa kuliah lagi pak Henderson ngasih kita tempat berteduh juga pekerjaan." ucap Lanni seraya menitiskan air mata.


"Revan, ngak terima dengan kehidupan ini bu." keluhnya.


"Lebih baik sekarang, dari pada kamu jadi preman copet di terminal." tangkas bu Lenni.


Revano diam tak bergeming dengan ucapan sang ibu tunggalnya, dia langsung melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Lanni adalah ibu tunggal Revano, sang ayah pergi meninggalkan mereka sejak Revano dalam kandungan. Hidup keduanya banyak kekurangan sebelum mereka di pungut oleh tuan Henderson, orang tua Bryan Alison Becker. Anak dan ibu itu di berikan pekerjaan serta rumah sederhana dekat halaman belakang rumah Henderson.


Sebelumnya, sebulan yang lalu mereka tinggal di kolong jembatan. Ibu Lanni bekerja sebagai pemulung botol bekas untuk mencukupi kebutuhan hidup, sedangkan Revano terpaksa berhenti kuliah karena tidak ada biaya lagi setelah beasiswa Revano habis. Dan tidak ada beasiswa terusan lagi, terpaksa dia keluar dari kampus dan hidup keras diluar sana. Rumah yang dikontrak bu Lanni tidak bisa membayar sewa akhirnya mereka diusir dan tidur di kolong jembatan.


Saat Revano di temukan oleh Henderson dia mencopet di salah satu mall terbesar, Revano mengambil dompet sesorang dan ketahuan diapun di pukuli masa dan diadili oleh satpam mall tersebut, Henderson mengetahuinya diapun bertindak cepat dan memberi pengarahan kepada Revano diapun dibawa kerumahnya untuk di beri pekerjaan yang layak.


••••


Di tempat lain,


"Jes, sore ini aku ada acara. Bisa pulang awalkan?" harap Geo pada sang majikanya itu.


"boleh sih, tapi besok malam loe harus anterin gue ketempat biasa." kata Jesyca ke driver palsu yang belum pernah ia ketahui kebenarannya.


"Jangan sering - sering, ketempat kayak gituan bahaya Jes! sayang banget kamu itu perempuan cantik. Coba main ketempat yang bermanfaat bagi dirimu sendiri," papar Geo.


Jesyca mengerutkan keningnya, dia tidak faham maksud perkataan Geo.


"Tempat yang bermanfaat buat diri sendiri?" tanya Jesyca tanpa jeda.


"Hmm, kaya tempat ibadah agama yang kamu anut." sela Geo saat masih mengemudikan mobil milik Jesyca.


"agama? lupa gue nganut apa, setahu gue sih papa dulu sering pergi ke mosque waktu tinggal di kampung mama dulu." jelas Jesyca.


"jadi, selama ini kamu ngak ngerti agama yang kamu anut apa? Jesyca, getup itu point penting dalam hidup seseorang." ucap Geo kepalanya geleng - geleng ngeri mendengar ungkapan dari mulut Jesyca.


"Orang tua gue, ngak pernah ngajarin tentang agama dihidup gue." sahut Jesyca.


"Its oke, kalau loe mau ngajarin gue mau kok." tambahnya lagi sudut bibir Jesyca tersemyum indah yang membuat jantung Geo berdetak tidak menentu.


"Yakin?" selidik Geo juga tersenyum penuh arti.


"Iya," ucapnya mengganguk pasti.


Mobil melaju meninggalkan jantung kota menuju rumah pribadi keluarga kecil Wisanggeni, di rumah ada Famala siang menjelang sore itu. Beliau duduk di gasebo halaman depan rumah mewahnya, seraya membaca majalah edisi terbaru dan meminum jus kegemarannya. Matanya beralih ke mobil Jesyca yang baru memasuki gerbang rumah. Beliau ingin sekali, berjumpa dengan Geo namun enggan karena Jesyca masih bersama driver pribadinya. Ketika Jesyca sudah berlalu masuk ke rumah, buru - buru Famala mendekati Geo.


"Geo," panggil Famala tanpa ada suara lembut mendayu, cukup keras dan tegas.


"Kemarin, tante lihat kamu jalan di mall sama si Ratih?" ucap Famala ingin tahu.


"oh, eh, anu. Tante salah lihat kali," sambar Geo menutupi sesuatu.


"Iya kan?"


" Ratih itu teman saya, dan calon besan saya lho. Apa kamu kerja sama dia juga?" berondong Famala.


Geo mengatur nafasnya, perlahan dia jelaskan secara rinci kejadian dimana hari sebelumnya dia terlihat oleh Famala.


"Iiiya, dia majikan saya tan," jawab Geo terbata.


Famala menatap aneh pada wajah Geo yang merah seperti menahan buang angin.


"tapi, tante lihat kamu akrab seperti ada hubungan darah dengan Ratih?" tekan Famala.


"mampus!" batin Geo.


"ngak juga sih tan, emang bu Ratih deket aja sama Geo. Cuma antara supir pribadi dan majiakan aja," jelas Geo.


"masak sih," Famala menyipitkan matanya.


Tangan wanita setengah baya itu mengulurkan ponsel yang ia gengam. Geo alias Becker syok ketika melihat, mendengar bahwa video yang Famala rekam adalah dirinya ketika sedang menemani sang mama Ratih berbelanja. Semua direkam oleh tante Famala, yang ternyata beliau mengikuti gerak langkah dirinya dan mama Ratih.


"Jujur, sebenarnya kamu siapa?"


"ahmm.... saya, Geo tan,Geo Abinawa." dehemnya.


Famala masih saja belum yakin dengan ucapan Geo, karena di dalam video ponselnya pria dan Ratih teman sosialitanya itu adalah sang driver pribadi putrinya sedang berbelanja di pusat perbelanjaan, Famala sangat yakin kalau pria muda yang bersama Ratih di dalam video itu adalah Geo.


"ngomong, kamu sebenarnya siapa?" tekan Famala lagi.


Namun Jesyca keluar dari dalam rumah, karena melihat Geo masih berada di halaman rumahnya.


"Geo, kirain belum pulang. Ngapain sih sama mama?" sahut Jesyca seraya berjalan menuju mereka.


"eh, ngak ini aku pamit sama tante Famala mau pulang." ujar Geo saat akan melangkah pergi.


"apa? tante!maksud mama apaan sih?" kelit Jesyca pada mamanya, karena dia faham betul sifat centil Famala yang sudah melekat sejak Jesyca kecil.


"Mmmaksud apa?" tanya Famala balik.


"kenapa Geo panggil mama tante, bukan nyonya atau ibu!" cetus Jesyca emosional.


"sorry, Jes. Kata nyonya Famala biar terlihat akbrab saja, karena beliau lebih suka di panggil tante." papar Geo.


"Oh ya, terus si pembongkat lain juga bisa dong panggil mama tante." ketus Jesyca.


Famala jadi diam seribu bahasa, dia tidak dapat berkutik menekan fakta siapa Geo sebenarnya. Karena Jesyca sang putri sudah lebih awal mengetahui tabiatnya.