
"Becker," panggil wanita di depannya lagi.
"Saya, buru - buru Tan, besok lagi kita ngobrol bertiga sama istriku ya." pinta Becker.
Namun Tania gadis yang memegang tangan Becker tadi, ia tetap membuntutinya hingga Becker akan masuk ke dalam pintu mobil.
Yang di dalam mobil Jesyca, tangannya memencet tombol klakson lagi dengan keras. Tania dan Becker terperanjat, Jesyca membuka kaca jendela mobilnya.
"Woi, per*k! ngapain loe pegangin tangan laki gue ha?" sentak Jesyca dari dalam mobil, kepalanya menojol ke jendela.
"Sa-sayang please, orang liat ke kamu tuh." lirih Becker meredam bentakan Jesyca ke Tania.
"Relex, aku hanya melepas rindu dengan mantan pacarku." ujar Tania dengan santai, tangannya di lipat pada bawah dadanya.
"What! Mantan pacar?" kerling Jesyca dia melihat Becker dan Tania secara bergantian.
"Bukan sayang, jangan ...." terputus Becker tidak dapat membela diri di hadapan sang istri.
"Becker. Bukanya kita dulu jalin hubungan, tapi kamu hianati aku! Lebih memilih perjodohan dengan ****** ini, sekarang kita bertemu lagi disini. Aku kangen," papar Tania, ia bergerak dengan cepat tangannya memeluk tubuh Becker yang masih lengket dengan bekas keringat sehabis sepakbola tadi.
"No! kita tidak pernah ada hubungan apapun, hanya sahabat. Itu tidak lebih," tukas Becker mendorong Tania.
Wanita itu agak terjorok ke belakang beruntung tubuhnya tidak jatuh ke tanah.
"Kamu Bryan Alison Becker," tunjuk Tania, wanita yang mengaku mantan pacar Becker itu pura - pura menangis.
"Terserah kalian! hei per*k aku ngak ngrebut mantan pacarmu ini, dia yang menyetujui perjodohan antara kami dan saling mencintai. Apa yang salah dengan datangnya cinta diantara kami ha!" cecar Jesyca. Mata Jesyca menatap Tania tajam juga kepada Becker yang ada di samping kirinya.
"Jesyca, percaya sama aku sayang." sela Becker memelas.
"Aku muak dengan kalian, an*ng semua!kau yang ****** enggak punya malu sudah mantan tapi masih gatel pegang - pegang." hardik Jesyca pada kedua insan itu.
Wanita yang berstatus istri sah Bryan Alison Becker itupun langsung pergi berlari meninggalkan Becker dan Tania, Becker menjadi murka melihat Tania.
"Kau!kep*r*t! perempuan ngak tahu malu, pergi dari sini." usir Becker.
Pria itu langsung masuk ke dalam mobil, dia bermaksud untuk mengejar Jesyca. Sedangkan Tania tersenyum dengan wajah licik.
"Hehh, aku ngak akan berhenti untuk ngejar kamu Becker." sungut Tania tersenyum licik menatap kepergian Becker.
•••••••
Jesyca memasuki kereta listrik yang ada di stasiun dekat stadiun sepak bola. Mata wanita itu sembab ia duduk di antara penumpang lainya, sepuluh menit kemudian kereta modern yang dinaikinya berhenti pada stasiun di dekat apartementnya. Buru - buru Jesyca keluar ia berjalan cepat ke arah apartementnya, dan memasuki bangunan. Jesyca langsung masuk ke dalam kamar membuka almari pakaian dan menatanya masuk ke dalam koper.
Semua barang - barangnya ia tata rapih masuk ke dalam koper, Jesyca hanya membasuh wajah yang sembab menggunkan sabun pencuci wajah. Setelah semua beres ia hendak keluar dari apartementnya, namun Becker mencegahnya pria itu tahu kalau sang istri sudah berada di dalam apartement dengan instingnya.
"Jes, tolong dewasa sedikit, kamu percaya akukan? kami ngak ada hubungan apapun, hanya teman biasa sejak kecil, aku juga ngak tahu Jesy kalau perempuan itu ada di sini." Jelas Becker saat menghadang Jesyca akan pergi.
"Please, jangan pergi aku jelasin semuanya!" imbuh Becker dengan nada suara yang sungguh kuat.
"Buat apa? ngak perlu, percuma aku berubah demi kamu. Sia - sia aja aku nikah sama kamu," sahut Jesyca netral, suaranya agak pelan.
"Jesyca, kamu bisa ngomong kaya gitu. Lebih percaya perempuan tadi ketimbang suamimu ini," keluh Becker berharap istrinya tidak melangkah keluar rumah.
"Aku ngak suka ada orang ketiga, walaupun itu belum jelas karena sebelumnya kamu bilang kalau ngak pernah jalin hubungan dengan siapapun," kata Jesyca panjang, kaki Jesyca melangkah pelan.
Tangan kekar Becker menahan langkah sang istri, Jesyca mencoba melepaskan sentuhan kuat tangan Becker, tetapi tidak mampu karena Becker lebih kuat.
"Lepasin aku, biarin tenang hidupku!" sentak Jesyca.
"Ngak, mau kemana. Kamu disini cuma punya aku," larang Becker menghentikan langkah istrinya.
"Aku mau pulang ke Indo, ngak bisa terusan disini." papar Jesyca.
"Tolong Jesyca Anggeline, aku ngak bisa tanpa kamu. Kamu pulang aku juga pulang,"Becker memohon pada Jesyca.
"Ingat, kemungkinan ada janinku di rahimmu!" celetuk Becker pada sang istri.
Jesyca diam tidak berani menjawab lagi, dia menunduk manik mata miliknya melihat kebawah perut. Terlihat perut Jesyca belum membesar, dia sampai lupa kalau kemarin habis test. Langsung saja ia berlari ke toilet mencari sesuatu yang ia gunakan semalam.
Becker tersenyum, berharap Jesyca tidak pergi dari sisinya. Pria itu mengikuti sang istri yang kebingungan mencari sesuatu di dalam toilet.
"Kamu cari apa sih sayang?" selidik Becker menurunkan nada suaranya, berharap suasana akan menjadi tenang dan Jesyca tidak pergi.
"Hih, di manasih, semalam aku taruh dekat botol sabun." decit Jesyca tengah mencari sesuatu.
"Emang cari apa?" tanya Becker lagi.
"Udah ngak usah kepo deh, sana mandi!" tampik Jesyca.
"Gimana mau mandi, kamu disini entah nyari apaan," balas Becker semakin santai.
"Kan kamu juga belum mandi sayang," tambah Becker,
Pria itu mecairkan suasana rumnyam dengan memeluk sang istri dari belakang serta menompangkan dagunya di pundak Jesyca.
Air shower di atas kepala kedua pasutri itu mengucur membasahi tubuh keduanya, sebenarnya Jesyca ingin menolak sentuhan Becker, tetapi hati Jesyca juga menjadi melunak kalah dengan perasaan cintanya.
Becker melepas pelukannya, ia membuka kaos yang ia kenakan juga keseluruhan benang yang melekat di tubuhnya, perlahan semua baju yang di kenakan oleh sang istri ia lepas juga. Jesyca masih pasrah dengan keadaan seperti itu.
"Mandi bareng yuk sayang," bisik Becker di telinga Jesyca.
Seperti terhipnotis oleh suaminya, kemarahan yang baru saja meledak kini telah padam dengan sentuhan tangan Becker. Air shower tetap mengguruh tubuh keduanya, Jesyca menggosok badan sang suami juga menyabuninya sama halnya dengan Becker.
"Jesy, percaya sama aku ya. Aku cuma sayang kamu," ucap Becker di sela mandi bersama.
"Aku percaya, dan...." jawab Jesyca terputus.
"Cari testpack hehehe," kekeh Becker.
"Iya," Jesyca memanyunkan bibirnya.
"Dimana?" tanya Jesyca.
"Kamar, bawah pillow aku," kelekar Becker.
"Ihhh....sebel, awas ya!" ancam Jesyca.
"Kenapa?" Becker mengangkat satu alisnya.
"Ketemu perempuan gila tadi," ujar Jesyca.
"Ngak, buat apa juga. Aku ngak pernah ada apa - apa sama Tania, kami cuma berteman sejak kecil dan ngak tahu tiba - tiba dia di sini." jelas Becker lagi.
"Percaya deh," ucap Jesyc.
Cup!
Becker mengecup bibir Jesyca.
"Selamat, kita akan jadi orangtua. Jaga calon anak kita sayang," sela Becker melepas ciumnanya.
"Ka-kamu udah tahu, iya." jawab Jesyca terbata dan terharu.
"Garis duakan, kamu benar - benar wanita sempurna buat aku." ungkap Becker.
Jesyca membalas ciuman Becker, tangannya merangkul sang suami.