
Acara pertandingan bola nasional babak kedua masih berlangsung, tampak si kulit bundar masih menjadi rebutan oleh para kaki - kaki gagah pembela olahraga nasional. Saat menit akan berakahir, tendangan kuat kaki Domanic melenceng ke arah lawan. Beruntung Becker segera menyelamatkan bola. Para penonton yang mengintari stadiun berteriak nyaring, terutama pendukung kaum hawa memberi tepuk tangan meriah untuk Becker.
Hati Domanic menjadi iri, dia merasa lebih pintar jago juga tak kalah tampan seperti Becker. Domanic tidak berkulit putih pucat seperti Becker, karena Domanic asli keturunan darah Indonesia.
"Ck, sial." gerutu Domanic seraya meludahkan salivanya.
Pertandingan berakhir skor lebih tinggi untuk tim Becker, semua pemain begitupun sang pelatih tampak bahagia merasakan kemenangan untuk tim nasionalnya.
"Yes, kita menang lagi! terus semangat buat kalaian." seru sang pelatih club bola Matheow
Semua baik penonton maupun pemain bersorak sorai gembira, lapangan stadiun penuh dengan potongan kertas kecil berserakan karena acara pertandingan seperti menghilangkan stress berkepanjangan.
••••
Sementara itu Naya sudah berdandan cantik menggunakan dress biru tua, dia tampak anggun menggukan balutan kain yang menempel pada tubuhnya. Kini Naya sedang menunggu kedatangan Geo alias Becker, jam sudah menunjukan pukul 09.00 malam tetapi seseorang yang di tunggu tidak muncul. Naya tidak putus asa, dia menghubungi nomor Geo kembali sampai berkali - kali tetapi tidak ada jawaban jemarinya tetap berusaha menekan nomor kontak telfon kekasihnya.
"Hah! kemana sih?" tanya Naya saat duduk di cafe seorang diri.
"kalau baru jadian kaya gini terus, mending aku mundur ajalah." keluhnya mulai frustasi.
Di dalam isi ponselpun tidak ada tanda - tanda panggilan telfon ataupun pesan singkat dari Geo. Kepala Naya berdenyut pusing memikirkan hubungannya walau belum berjalan lama, sesibuk apakah sang cowok pujaan hatinya kalau benar cinta dan sayang terhadapnya pasti akan pergi menemui Naya.
Jam di layar handphone sudah menunjukan pukul 11.00 WIB yang berarti itu akan segera tengah malam pada negara bagian barat.
"ngak jadi datang, ark.... pulang. " kesal Naya seorang diri.
Saat akan pergi keluar cafe, dia mendapati pria yang di tunggu Geo muncul dengan dua boddyguard yang gagah manun menyeramkan.
"Geo!" panggil Naya kuat, hingga semua pengunjung Cafe menenok ke arahnya.
Dua pria tinggi besar berkulit hitam dan memggunakan seragam hitam senada menghadang Naya, namun pria yang dipanggil Geo itu tenang dan berdiam.
"Geo! Ge, gue nunggu dari tadi." ucap Naya dia akan menangis, namun berusaaha agar pria yang di panggilnya menyahut.
"anda salah orang." tukas pria berkumis tebal.
"Engak, mataku belum rabun kalau dia adalah Geo." kukuh Naya dihadapan tiga pria itu.
"Maaf, mbak anda salah orang saya adalah Becker." sahut Geo menutupi dirinya yang sebenarnya.
Nyali Naya menjadi menciut dia malu sendiri di tengah keramaian, awalnya memang yakin kalau pria familiar itu mirip dengan Geo kekasihnya. Akhirnya Naya pergi meninggalkan cafe itu seorang diri, dari kejauhan Geo melihat semuanya pria itu merasa bersalah terhadap Naya. Karena ide gila dari Linda itu membuatnya kehilangan akal sehat, Becker merasa bersalah kepada Naya tetapi dia tidak akan merubah keputusannya mengakhiri samaran bodohnya itu agar tidak sia - sia.
"Aku tidak mencintaimu, Naya! hanya ada Jesyca Angeline di sini." bisiknya dalam hati.
Naya yang pulang dengan harapan hampa menangis sesenggukan di dalam kamarnya, tidak ada seseorangpun yang mendengar tangisan dan keluh kesahnya.
"Geo, aku sayang sama kamu." tangis Naya di malam yang semakin larut akhrinya pecah.
"Aku, akan cari tahu sebenarnya siapa sih kamu itu. " bisik Naya dalam hati.
••••
Lain tempat.
Suasana perkemahan bumi agung batur tampan sedang digunkan oleh para mahasiswa untuk berkemah. Tenda - tenda berwarna berdiri kokoh di tengah lapangan, cuaca panas tidak membuat para mahasiswa mengeluh sedikitpun. Mereka semua kompak melakuan aktivitas secara berkelompok, begitu juga Jesyca semenjak Geo menembak Naya di depannya gadis itu berubah melunak di depan kawan - kawannya. Tetapi, masih enggan untuk menyapa Naya.
"Latihan bisa dong, kalau nggak nanti dikira anak manja." sahut Jesyca.
"Oke deh, karena kita satu kelompok. Masak sayur ini bareng yuk." ajak Riko.
"Ayuk," jawab Jesyca, dia menuruti ajakan Riko.
Mereka berdua terlihat akur, mata Naya tidak terlepas dari Jesyca dan Riko saat bercengkrama. Dia sebenarnya ingin bergabung namun takut akan diserang brutal oleh Jesyca.
"Heh, ngalamun aja." bentak Linda dari belakang Naya.
"Linda, bikin kaget aja loe." ujar Naya sedikit tersentak dengan kedatangan Linda tiba - tiba.
"Napa? Kok ngak gabung sama mereka?" selidik Linda.
"ngak, kaya ngerasa Jesyca ngejauh dari gue." lirih Naya.
"Ah, ngak loe aja yang ngerasa gitu." kata Linda.
"Sekarang Jesyca ngak kaya dulu, banyak diam. Loe tahu kenapa? karena dia itu patah semangat, orang yang dia sayang dan mencintai dia malah milih orang lain." jelas Linda.
"hah? loe ngomong apaan? gue ngak faham." ucap Naya bingung.
"Nanti juga, bakalan tahu sendiri. Udah ya, mau kesana." pungkas Linda pergi berlalu meninggalkan Naya sendiri di belakang tenda.
Beberapa langkah, tenda panitia penyelenggaraan kemping kampus C. Ada seseorang sedang menemui panitia tersebut, karena dia di perintahlan oleh sang majikan untuk mengantarkan sesuatu pada nona mudanya dia adalah Geo. Tetapi panitia pria bertubuh gembul itu terkejut.
"Becker kan?" tanya pak Pengky sambil mengamati dari atas hingga bawah tubuh Geo.
"Bukan pak, hanya sekedar mirip saja." ungkap Geo alias Becker masih berusaha menutupi topeng aslinya.
"Tapi anda sama, suer mirip banget lho." tekan pak Pengky.
"hanya kebetulan saja, oh ya saya bisa ketemu Jesyca?" ucap Geo bertanya.
"Bisa, silahkan itu tenda Jesyca berwarna biru langit. Dari kanan nomor tiga," jelas pak Pengky.
"Terimakasih pak." ucap Geo.
"Mohon kerja samanya ya mas, bertemu mahasiswa hanya cukup sepuluh menit saja." imbuh pak Pengky.
Geo hanya mengganguk faham, kemudian dia pergi meninggalkan tenda panitia menuju tenda Jesyca. Beberapa langkah saat akan menuju tenda Jesyca para mahasiswi melihat dia bagaikan model yang sedang berjalan diatas karpet merah.
Namun, Geo tidak berbesar hati dia tetap menuduk bagaikan pria culun yang sedang mencari sesuatu. Geo tidak sadar, setengah berjalan tubuhnya tersenggol oleh perempuan dia adalah Naya, kekasih palsunya. Mata Naya membulat tidak percaya kalau pujaan hatinya kini didepan mata untuk berjumpa fikir otak Naya.
"Geo," bisik Naya saat tak sengaja menabrak tangan Geo.
"Iya, sorry kemarin malam aku ga bisa ketemuan sama kamu." ucap Geo langsung saja.
"Ngak papa, tapi nanti kalau aku udah selesai kemping kita jalankan." pinta Naya, wajahnya berbinar bahagia.
"Belum pasti, karena saya bekerja untuk Jesyca." alih Geo diapun melanjutkan langkahnya untuk mencari dimana Jesca.
Naya semakin berkecil hati untuk tetap bersama dengan Geo.