
"Pak, saya perwakilan orang tua dari saudari Jesyca. Bisa bertemu sebentar? " tanya Geo di depan lelaki bertubuh gempal, di tenda pantia.
"Boleh mas, tapi hanya saya izinkan sebentar saja," jawab pak Pengky.
"Terimakasih pak," ucap Geo menggangukan kepala dan berlalu dari tenda panitia kemping.
Geo alias Becker berjalan mendekati tenda Jesyca yang tertutup pepohonan rindang, disana ada tiga tenda berwarna biru tua satu, dua dantaranya kuning dan pink atau merah jambu. Sudah tampak Jesyca sedang memasak bersama Riko, Geo segera menghampiri mereka. Namun, Naya terlebih dulu menghadang langkah Geo menuju tempat Jesyca.
"Geo, sayang. Aku tahu kamu bakal kesini jenguk aku, kangen banget!" panggil Naya seraya memeluk pria gagah yang notabenya sebagai kekasih barunya.
"Aaa....maaf, Nay. aku kesini atas perintah orang tua Jesyca," sela Geo tangan kekarnya melepas pelukan tubuh Naya.
"Tapi Ge...." suara Naya terputus.
"Sorry, besok kalau kamu udah pulang dari camping ya sayang." ujar Geo memberi pengertian untuk Naya.
"Oke, aku tau."nada Naya mengecil wajahnya menciut.
Pria itu melangkah pergi meninggalkan Naya yang masih berdiri mematung, dia terus saja melihat punggung pri tampan pujaannya itu. Berharap ucapannya tadi benar - benar terjadi esok ketika acara kemping usai mereka akan berjumpa di lain tempat dan waktu.
Di tenda sebelah, Riko melihat kedatangan Geo wajahnya yang semakin tampan juga menpesona membuat pria bernama Riko tersebut iri, karena dia tahu kalau Geo bakal nemuin si Jesyca perempuan impiannya.
"Jes," panggil Geo.
"Ngapin sih loe kesini?" tanya Jesyca ketus.
"Mama Famala, suruh nganterin obat ini buat loe." ujar Geo seraya memberikan bungkusan plastik berisi obat untuk Jesyca.
"Ya.... " tangan Jesyca meraih obat dari Geo.
"Udah sana minggat!" usir Jesyca sadis.
"Oke, loe jaga kesehatan ya. Ada apa - apa hubungi gue," kata Geo sebelum pergi.
"Kalau kepikiran!" sahut Jesyca, dia melangkah pergi masuk ke tenda meninggalkan Geo tanpa mengucap terimakasih.
Geo akhirnya pergi, namun Riko membulinya dari belakang punggung.
"ya elah, pembongkat ga punya muka. Noh, juragan loe udah ngak butuh! mending cari kerjaan lain, namen padi kesawah kek atau kerja bangunan kek, nyepetin mata gue liat loe deketin Jesyca." suara Riko ketus panjang lebar.
"Loe bakal nyesel tahu siapa gue, dasar anak ingusan." ucap batin Geo, dia tidak memperdulikan Riko terus saja melangkah meninggalkan pria tengil itu.
Di semak - semak ketika Geo akan melangkah pergi meninggalkan tempat kemping para mahasiswa itu dia terkejut, karena tangannya di tarik paksa oleh seseorang dengan sekuat tenaga si penarik tangan itu memaksa untuk memeluk erat tubuh Geo. Dialah Naya, gadis yang sudah lama merindukan sentuhan dari seorang Geo alias Bryan Alison Becker.
"Nay," sontak Geo tubuhnya menindihi Naya.
"Geo, gue kangen." bisik Naya.
Dengan sigap, Naya menjambak rambut kepala Geo dia ******* bibir pria yang tidak mencintai sesungguhnya pada dirinya itu. Geo berusaha mengalihkan ciumannya, karena risih dan mual diperut. Alhasil Geo berdiri tegap, menjauhi tubuh Naya wanita muda itu terlihat terobsebsi nafsu gila menggeluti tubuhnya.
"Loe gila Nay!" ketus Geo menunjuk wajah Naya yang sudah terbangun dan duduk di atas rumput.
"Iya, gue gila. Karena cinta gue rela kalaupun loe sentuh kehormatan yang gue punya." tegas Naya.
"Yakin! tapi kalau gue ngak mau?" selidik Geo memancing wanita muda yang masih terduduk di bawah kakinya.
"kalau loe ngak mau, gue akan tetap ngejar sampai mau ni**rin gue!" jelas Naya gamblang.
"sekali lagi, gue gila, gue mau loeh." imbuh Naya tersenyum menggoda.
Tetapi Geo tidak tergoda, malah jijik melihat Naya dia semakin menyesal karena pura - pura mencintainya.
"gue ngak serius sama loe, diluar sana masih banyak perempuan suci yang sudi sama gue." timpal Geo.
Naya tampak tercengak, wajahnya malu merah bagaikan di tampar guntur dari langit. Mendengar ucapan dari mulut Geo, lantas gadis itu tersadar lalu bangun dan pergi meninggalkan Geo.
"Sialan, semua ini gara - gara Linda." geram Geo dalam hati.
••••
Seorang gadis muda berusia kira - kira dua puluhan tahun berlajan dari rumahnya menuju rumah samping tetangganya, di kompleks perumahan mewah itu. Penjaga gerbang rumah membukakan pintu untuk gadis modis nan cantik dia adalah Tania, menggunakan rok lipat berwarna hijau tua selulut, berbaju putih model hanbook pendek. Fahion yang membuat gadis cantik itu semakin menawan dan berjalan bak model di red karpet.
"Ssst.... bilang sama majikanmu, ada yang cariin." bisik gadis bernama Tania.
Sang ajudan hanya menganguk dia masuk, diikuti Tania seperti sudah terbiasa keluar masuk di rumah mewah milik Henderson.
Tania duduk di sofa mewah berkelas, kaki mulusnya di silangkan dia menunggu kedatangan Becker menuju ruang tamu. Jika tidak keluar dari sarangnya rencananya akan menerobos masuk, lima menit cukup lama waktu untuk menunggu ajudan tadi mengatakan kalau bos mudanya tidak mau di ganggu, terpaksa Tania masuk sang ajudanpun hanya diam karena sudah terbiasa Tania dirumah majikannya.
Gadis itu nekat memasuki kamar Becker, sontak dia terkejut melihat kedatangan wanita asing di kamarnya, tidak seperti biasanya Tania memberanikan diri masuk ke ruangan pribadi Becker.
"Tania!" desis Becker.
"apa? mau nolak cinta gue lagi?" tekan Tania,
Gadis itu berjalan mendekati Becker yang sedang bermain asyik dengan laptopnya, Tania duduk di ranjang Becker. Gadis gila, nafsunya sudah memuncak di ujung kepala. Dia memberanikan diri melepas benang mahal yang menempel di tubuhnya, kini hanya kain tutupan gundukan pepaya cantik di dadanya yang melekat. Mata Becker ternodai siang mendung kala itu, terpaksa ia menelan salivanya. Tania semakin mendekati Becker dia meraba dada bidang pria tampan yang kini berdua di dalam bilik pribadinya, tangan Tania meraih leptop di pangkuan Becker dan menjauhkan benda itu darinya. Perlahan, dia mulai merebahkan tubuh Becker pada tengah ranjang. Entah si Becker hanya menuruti Tania, tangan kekar pria itu membelai wajah ayu Tania kini kedua wajah mereka berdekatan deru nafas saling menerpa.
Tubuh Tania menindih tubuh kekar Becker, dia mulai menciumi bibir Becker dengan ganas, tangan nakal Tania memasangkan tangan Becker ke buah menojol indah di dada gadis hilang akal itu. Kain yang menutupi gundukan dada Tania terlepas, buru - buru Beckerpun melepas bajunya dia banting kasar tubuh Tania ke sampingnya, Becker segera menindihnya dan melepas celana Jins yang dikenakan olehnya. Mereka hampir telanjang Tania melepas rok mini yang ia kenakan dan juga **********, tampak bunga telang kehormatan Tania terlihat jelas di mata Becker, saliva Becker menetes keluar sudah tidak mampu menelanya kembali. Dia mulai bergerilya dari wajah Tania hingga bawah milik Tania, namun suara ketukan pintu cukup keras membubarkan aksi keduanya.
Dan Becker tersadar,
"Asataga, untung cuma mimpi. Anjir!" kelitnya.
"Kok basah sih, celanaku." pekiknya sendiri.