I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
bab. 53



"Iya nak, kalau kalian pilih tinggal sendiri." tambah Ratih.


"Gimana sayang. Kamu mau atau ngak?" tanya Becker tengah meminta pendapat pada Jesyca.


"Hmmm, aku ngak bisa. Masalahnya disana akses untuk ke daratan agak sulit," tandas Jesyca berdehem dengan berat.


"Jesyca, udah tinggal di rumah aja ya nak." alih Famala.


Sementara tuan Wisang hanya menyimak, karena sandang papapan, pangan sekarang sudah tanggung jawab Becker. Beliau tidak mau rebutan soal anak - anaknya mau tinggal dimana itu terserah mereka. Tetapi, tampaknya tuan Henderson juga nyonya Ratih menolak kemauan Jesyca namun kalah dengan ego yang dimiliki sang menantu.


"Maaf ma, mommy, daddy dan papa. Kami sudah menikah sebaiknya biarkan kami mencari ketenangan hidup sendiri, bukan maksud Jesyca untuk pergi dari kehidupan kalian, tapi memang lebih baik begitu." papar Jesyca panjang.


"Itu benar, kalian sudah menikah tapi mommy sejujurnya mau kalian tinggal di rumah Becker dengan kami," ujar Ratih menekan Jesyca.


"Tolong, kalau kalian kemari hanya ingin berdebat kami tinggal dimana. Saya tidak bisa mengikuti, jangan membebani fikiran saya," cetus Jesyca ia bangkit dari sofa ruang tamu, lalu berjalan menuju kamarnya.


Becker tak tinggal diam diapun mengikuti langkah sang istri. Jesyca masuk kamar pribadinya, dia menutup pintu cukup keras hingga Becker yang berdiri di depan pintu terkejut, begitu juga empat setengah baya yang ada di ruang tamu mendengar bantingan pintu kamar.


"Mereka sudah dewasa, Jesyca baru hamil tolong beri dia ruang," celetuk tuan Wisang.


Tidak ada yang memberi komentar, mereka semua berfikir masing - masing, R atih yang menjadi provokator kepada sang suami agar Jesyca dan Becker tinggal dirumahnya tertunduk malu mendengar besannya berucap barusan.


••••••• ••••••••••••••


Di dalam kamar Jesyca menangis terisak,


"Jesy, sayang maafin mommy dan daddy ya."pinta Becker berbicara pelan, duduk di samping Jesyca.


" Udah ya, jangan ambil pusing. Biar nanti aku yang urus mereka," tambah Becker, tangannya mengusap halus kepala Jesyca.


Wanita itu menampik usapan tangan suaminya, dia tetap tertunduk menangis. Becker menjadi merasa bersalah karena kedatangan orangtuanya membuat Jesyca bersedih.


"Jes,please udah ya." ucap Becker seraya menyodorkan tisu ke wajah Jesyca yang tertunduk.


"Kenapa orangtuamu, terlalu protektif sama kita sih!" ketus Jesyca.


"Karena, mereka peduli sama kita Jesy. Kalau kamu enggak suka sama pendapat mereka tadi juga ngak masalah. Jangan sedih lagi ya," ujar Becker mencoba menenangkan istrinya.


"Enak kamu ngomong gitu, aku ngak sudi nurutin siapapun! minggat sana, mau tidur sendiri," kelakar Jesyca, mengusir suaminya dari kamar mereka.


"Tapi, kalau kamu kena apa - apa sama dedek di perutmu gimana," kata Becker yang masih duduk di samping istrinya.


"Kita bisa sendiri," sungut Jesyca.


"Pergi sana, nyesel aku nikah kalau masih diatur kaya anak kuliah aja." imbuh Jesyca.


"Maafin ortuku Jes," ucap Becker.


"Aku ngak gampang maafin orang, sejak kamu nipu aku dulu sebelum kita nikah jadi benci dengan semua hidupku, kenapa hatiku selalu mihak ke kamu." racau Jesyca masih menangis meneteskan air matanya.


"Ka-kamu kok gitu sih sayang," sahut Becker terbata.


"Aku tuh sayang banget sama kamu," imbuh Becker seraya memeluk Jesyca.


Namun Jesyca menampik sentuhan Becker, dia merasa kesal dengan Becker karena tidak dapat membelanya saat di depan para orangtuanya. Dalam hati Jesyca, berharap agar sang mertua juga mamanya dapat berubah fikiran sesuai keinginan Jesyca.


"Tolong keluar," pekik Jesyca pelan.


"Oke, sorry," balas Becker, raut wajahnya sedih.


"Jangan coba - coba masuk ke kamar ini tanpa seijinku," larang Jesyca.


Dengan berat hati Becker melangkah keluar dari kamar, wajahnya kusut dia langsung keluar menuju balkon depan. Dia ingin berteriak tetapi tidak mampu, seakan pita suaranya hilang. Tuan Henderson menepuk bahu putranya membuat Becker terkejut dari lamunan sesaat.


"Nak," seru Henderson.


"Eh, daddy belum tidur? udah larut malam dad," decit Becker pada sang daddy, lalu melihat ke samping.


"Daddy ngak tenang, kalau kamu sama Jesyca terusik. Maafin mommy kamu ya nak," ucap Henderson kepada Becker.


"Ngak apa - apa dad, nanti juga Jesyca luluh lagi." jawab Becker yakin.


"Kayaknya dia bener - bener tersinggung, daddy jadi ngak enak." ucap tuan Henderson.


"Lusa kami akan pulang ke Indonesia, kalau Jesyca belum mau balik, biarkan dia di sini. Yang  penting calon cucuku sehat," imbuh Henderson lagi.


"Kenapa pa, buru - buru pulang sih. Masih ada waktu lain harikan?" kerlit Becker.


"Iya, Becker kami banyak pekerjaan disana. Jadi buru - buru pulang," sela tuan Wisang , tiba - tiba mengagetkan keduanya.


"Eh, papa sejak kapan ada di situ?" tanya Becker seraya melihat kebelakang.


"Sejak kalian ngobrol, hehehe.... " kekeh tuan Wisanggeni, ia berjalan ke balkon.


"Wisang, dari dulu emang kamu suka nguping deh." cetus Henderson.


"Hehehe...." kekeh Wisang lagi.


"Kenapa papa juga mau balik Indo?" alih Becker bertanya ke mertuanya.


"Seperti yang daddymu bilang, kami banyak pekerjaan." ucap Wisanggeni.


"Jesyca memang keras kepala, kamu tentunya udah hafal dengan sikapnya sejak sebelum menikah." tutur Wisanggeni.


"Iya pa, Becker tetap sabar menghadapi Jesyca." kilahnya.


"Ini belum seberapa, umur pernikahan kalian masih seumur jagung hidup." ujar Wisanggeni.


"Masih jauh dan kamu belum banyak tahu sifat Jesyca." tambah tuan Wisang lagi.


Becker hanya menggangukan kepala pelan, benar juga perjalanan hidupnya masih panjang bersama Jesyca.


Masih juga sang istri melahirkan darah dagingnya kelak.


Langit di atas kepala kota Amterdam semakin gelap, karena malam itu hujan akan segera turun. Guntur bersahutan menggelegar mengisi suara kota Amsterdam yang tenang.


Ketiga pria yang bercakap - cakap di teras balkon masuk ke dalam rumah, hawa diluar sangat dingin mencekam.


Namun Becker tidak berani masuk ke kamar, takut jika Jesyca masih ketus kepadanya. Jadi merasa bersalah atas sikap mommynya.


"Entah gimana ngelunakinnya," batin Becker saat duduk di sofa, matanya tidak mengantuk.


Sementara orangtuanya sudah tertidur di kamar masing - masing.


"Huhhh, kenapa sekecil  itu hatinya." decit Becker dalam hati.


Matanya menatap langit - langit apartementnya,


"Cuti dua tahun, terus ngapain aja di sini," batin Becker lagi.


"Cepet luluh Jes, apapun yang kamu mau akan aku turuti, itu janjiku kepada kamu." tutur Becker pelan.


Nyonya Ratih keluar dari kamar, ia mendapati putranya masih duduk di ruang televisi. Dia menjadi merasa bersalah, Becker jadi kekejaman dirinya lewat Jesyca.


"Kenapa tadi aku gitu," bisiknya dalam hati.


Ratih melangkah pelan mendekati Becker yang tengah duduk sendirian di depan televisi.


"Lho, udah jam dua dinihari kok masih di sini nak?" selidik Ratih.


"Mommy, kebangun ya. Nonton bola sama Becker sini," ujar Becker mengalihkan pertanyaan sang mommy.


"Oh, nonton bola," Ratih merasa lega.