I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
50.



• • • • • • • • • •


Dua wanita setengah baya tengah duduk di sofa ruang tamu, mereka adalah nyonya Ratih dan Famala. Tampaknya serius sedang membicarakan anak - anaknya.


"Jesyca sama Becker, kira - kira udah berhasil belum ya jeng Ratih. Padahal udah satu bulan lebih," ucap Famala mendayu, dengan gaya centil khasnya.


"Hummm, belum juga ngasih kabar tentang cucu. Saya juga lagi nungguin jeng," tambah Ratih yang duduk di sofa sebrang samping Famala sang besan.


"Kenapa kok lama ya, padahal dulu aku cepet lho jeng,seminggu langsung ada Jesyca." ungkap Famala.


"Ya ampun, cepet banget besan Wisang gaspol ya?" Ratih terkejut memebelalakan mata.


"Hehehe, iya jeng. Karena mas Wisang saking pengennya seorang anak," jawab Famala terkekeh santai.


"Aku juga, cepet pengen punya cucu. Pokoknya Becker suruh gaspol jeng," seru Ratih bersemangat empat lima.


"Kalau gitu jeng, mending kita suruh mereka sepakbola tiap malam aja. Hawanyakan dingin disana," saran Famala, seraya mengibaskan tangan di depan dadanya yang masih menonjol sempurna.


Ratih menyetujui ide Famala, mereka tertawa bersama ruang tamu rumah Famala menjadi ramai dengan suara dua wanita setengah baya itu.


• • • • • • •


Stadion Johan Cruijff, Amsterdam Belanda. Sedang berlangsung acara pertandingan sepakbola antara Holland selatan melawan Zeeland, sangat meriah para penonton duduk dengan tenang. Tidak berteriak sembarangan kearah pemain, hanya fokus dengan pertandingan.


Disana juga tidak ada provokator membenci tim A ataupun tim B. Sore itu sekitar pukul empat lewat sepuluh menit, Bryan Alison Becker telah mencetak gawang lawan dengan skor satu kosong. Becker sangat lincah memainka si kulit budar, sang pelatih sangat menyukai permainan tendangan Becker.


Tendangan kaki Becker yang kedua di jam empat lewat dua puluh lima menit menjebol gawang milik provinsi Zeeland. Baru semua penonton di stadiun megah itu bersorak juga bertepuk tangan dengan meriah, begitu juga Jesyca yang sedari tadi setia menunggu Becker berlaga di tengah lapangan sepakbola.


Ada juga seorang wanita, seusia Becker pertama kali menyaksikan pertandingan perdananya di negeri kincir angin. Dia adalah Tania, teman sejak masih kecil. Mata gadis itu tidak berkedip sama sekali sejak dari babak pertama Becker berlaga di lapangan sepak bola.


"Gila, makin maco aja tuh Becker." teriaknya di tengah keramaian.


Tania menonton dengan teman - teman bulenya, gadis itu mengakui kepada semua teman bule jika Becker adalah mantan kekasihnya. Dan mereka saling mencintai, padahal kenyataanya tidak seperti itu. Becker tidak pernah mencintai Tania, dia hanya mengganggap jika Tania adalah teman yang paling baik sejak Becker masih kecil.


"Bryan Alison Becker itu, tetangga aku waktu kami tinggal di Indonesia." ungkap Tania dalam bahasa Belanda.


"Oh, jadi kamu bersahabat dengan si tampan pemain sepak bola yang itu." tunjuk wanita berambut emas.


"Bukan cuma teman, tapi kami pacaran. Karena suatu hal kami terpisah," imbuh Tania membuat cerita palsu.


Tania berhalusinasi jika dia adalah pacarnya Becker, selama berteman Tania menganggap hubungan mereka lebih dari teman.


"Terpisah karena apa?" selidik wanita Belanda itu.


"Karena dia, di rebut oleh wanita jal*ng bernama Jesyca." tukas Tania, matanya menatap tajam ke arah lapangan.


"Aku sudah mencoba sabar, dia tidak secantik diriku. Tapi kaya raya, dan lebih kaya dari pada aku," jelas Tania berapi - api.


Teman Tania wanita asli Belanda itu hanya mengganguk saja, lalu merangkul Tania tanda bahwa dia bersimpati dengan wanita asli Indo blasteran India itu.


Pertandingan bola babak kedua dimulai, tampak si kulit bundar sedang di rebutkan kaki - kaki lincah di atas rumput hijau. Bryan Alison Becker menggiring bola dengan sempurna, para lawan pemain tampak antusias merebut bola dari tangan Becker.


Dari lawan main yang lain Becker memang paling terampil memainkan bola, kakinya berbentuk ectomorph sejajar paripurna. Begitu juga tendangannya sangat menggoda lawan main sepak bola.


Bola kali ini di oper menuju ke kaki teman satu tim, pri berambut gondrong warna pirang itu menerima dengan sempurna, namun dia sempat terlena bola di rebut oleh musuh. Dan si kulit bundar itu di giring sempurna melewati para pemain tim Holland yaitu tim Becker, tak tinggal diam Becker mengejar itu dengan seribu kekuatan akan tetapi.


"Gooollll," teriak speaker load stadion nyaring.


Artinya tim provinsi Holland telah terbobol gawangnya, sekarang sudah 2 - 1. Becker mendengus kesal dia seperti menyesal karena lawannya dapat mencuri kesempatan memasukan bola.


"Hiss, sial," decak Becker di tengah lapangan, tangan kekarnya menyapu rambut di kepala yang basah karena keringat.


Jesyca dari kejauhan melambaikan tangan kepada Becker, wanita itu memberi semangat serta kecupan tangan mesra untuk sang suami yang tengah berjuang di lapangan sepak bola.


Pertandingan masih berlanjut, pemain Zeeland sedang ancang - ancang untuk menedang bola, satu tendangan yang cukup kuat bola melambung tinggi hingga menuju tampat Becker berdiri menunggu si kulit bundar tersebut.


Dengan gerakan sempurna Bryan Alison Becker sekarang sudah menguasai bola kembali, bola di giring menuju pusat gawang milik lawan. Sang penjaga gawang Zeeland bersiap menerima tendangan bola dari Becker, matanya, tubunya, dan juga tangan penjaga gawang itu bersiap. Namun si bola sudah terlanjur menembus gawamg dengan sempurna, sekarang skor menjadi 3 - 1.Becker bersorak dan melepas jersey yang ia kenakan, melambaikan tangan kecupan di bibirnya untuk sang istri tercinta Jesyca.


Teman - teman satu tim Becker merangkulnya dan menggendong pria itu. Pertandingan berakhir, para pemain istirahat sejenak dan pulang ke tempat masing - masing.


Di luar stadion, Jesyca sedang menunggu sang suami di dalam mobil. Sudah dua puluh lima menit Becker tidak muncul juga Jesyca akhirnya berinisiatif untuk menelfon sang suami.


"Mana sih? ngak nyampe - nyampe, mana perutku udah laper lagi," gerutu Jesyca sendiri di dalam mobil.


Sekarang jam di handpohe Jesyca sudah menunjukan pukul enam empat puluh menit. Tetapi, Becker belum juga menampakan diri. Jemari Jesyca menekan tombol telfon ke nomor sang suami.


"Angkat, please!" ucap Jesyca sendiri, sangat keras beruntung tidak memecah gendang telinganya sendiri.


"Ampun, ngak di angkat juga. Kebiasaan deh, emang suami ca*ul! suka ngilang, entah ngel*nte kemana sih," umpat Jesyca kesal sendiri.


Becker muncul seketika tepat di depan mobilnya, Jesyca membunyikan klakson mobil agar Becker cepat masuk. Namun tangan seseorang wanita menahan Becker untuk tidak melangkah, Becker mencoba melepaskan dirinya takut jika Jesyca mengetahuinya bisa - bisa menjadi kacau.


"Becker, ternyata kamu disini sekarang?" tanya wanita itu seraya memegang tangan Becker kuat.


"Iya, tolong lepasin tangan saya," jawab Becker.


Lanjut ya.....