I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
Bab 42. Sampai di Melbourne



Jalan perkebunan kelapa sawit yang di lalui oleh Naya sedikit terjal, motor ia lajukan secepat mungkin terkadang Naya melirik ke belakang lewat spion motor, takut ada warga yang mengikutinya. Beruntung tadi saat kambur dia pandai keluar rumah dan membawa motor matic melalui jalan tikus samping rumah, Naya menuntun motornya hingga jalan ujung dekat perkebunan kelapa sawit. Di perkebunan yang sepi orang hanya dia saja, langsung Naya menyalakan motor matic itu.


Butuh waktu dua jam untuk sampai ke kota, Naya melajukan motor dengan cepat layaknya pembalap profesional. Setelah cukup jauh dari kampung halaman dia mengisi minyak ke per*min*.


Setelah mengisi bahan bakar, Naya tak lupa membersihkan riasan wajahnya di toilet pengisi bahan bakar tadi, diapun menghubungi sahabatnya Linda.


Naya meminta tolong kepada Linda agar mencarikan pekerjaan untuknya, lewat obrolan telfon Naya menceritakan jika dirinya kabur dari pernikahannya. Linda terkejut, diapun langsung menyuruh Naya untuk segera pergi ke rumahnya yang berada di Jakarta.


Untuk pergi ke ibukota metropolitan itu, masih menempuh waktu sekitar dua setengah jam lagi kalau tidak terjebak kemacetan Jakarta. Naya bertekad untuk menempuhnya, dia sudah bersikeras apapun resikonya jika nyawa sekalipun.


••••


Ketika sampai di rumah Linda, Naya menangis sejadinya. Linda memeluk Naya dan menenangkannya, dia berjanji akan memberikan Naya pekerjaan yang layak untuknya.


"Hiks, hiks, to-tolongin gue Lin, ngak sudi kalau jadi istri laki - laki yang ngak gue cintai." ucap Naya sesengukan dengan tangisnya.


"Sebisa gue akan usahain nolong loe, Nay. Kenapa sampai kaya gini sih?" selidik Linda.


"Gue pernah ceritakan, kalau usaha BONYOK bangkrut total. Dan ada pria bujang lapuk yang mau nikahin gue buat nebus kebangkrutan ortu gue Lin," ujar Naya.


" Oh tuhan, jadi gitu. Gimana kalau loe kerja di perusahaan yang gue pegang, tapi Nay, sorry ini jauh di AUSY, Melboure." kata Linda.


" Ngak apa - apa sih, mau jadi tenaga emigran juga. Yang penting gue ngak jadi jaminan hutang BONYOK gue Lin," kata Naya.


"Bukan jadi TKI, gue akan buatin loe paspor Ekspatriat aja. Secepatnya Nay," kukuh Linda.


"Thanks banget Linda, loe emang sahabat gue." Naya memeluk Linda dengan erat dan menangis lagi.


"Udah, hapus air mata loe. Sekarang istirahat dulu. Besok kita proses semuanya ya," kata Linda bersemangat.


"Iya Lin, thankyou very much Linda." ucap Naya lagi.


"Sssttt, kita udah temenan lama, jangan sungkan. Lebih cepat pergi lebih baik untuk nenangin fikiran kamu," sahut Linda.


"Gue, ngak ngerti mau ngomong apa lagi." tambah Naya.


" Yang penting, loe udah disini sama gue. Ngak akan ada orang cari loe Nay, udah pokonya tenang aja.


Naya mengangguk faham, setelah mereka berbual cukup lama akhirnya Naya membersihkan diri. Linda hanya tinggal dengan kakaknya karena kedua orangtuanya sudah tidak ada di dunia lagi.


••••






Kampung halaman tempat kedua orangtua Naya setelah acara pernikahan gagal itu, kini menjadi topik pergunjingan para ibu - ibu dan juga semua orang. Jefri juga keluarga besarnya marah kepada Ilyas, bu Kartini. Jefri tidak terima karena dia merasa dipermainkan oleh bu Kartini, tanpa segan Jefri mengambil alih perkebunan karet di halaman rumah pak Ilyas beruntung dia tidak meminta rumah keluarga Ilyas. Karena sebenarnya Jefri mencintai Naya.


"Tolong, temukan Naya secepatnya." pinta Jefri kepada asisten pribadinya.


"Baik pak," jawab pria bertubuh besar dan kekar.


Pria di depan Jefri itu mengangguk faham, diapun pergi bergegas mencari dimana keberadaan Naya.


Dalam hati,


"Semoga, Naya cepat ketemu. Aku mencintaimu Naya, maafkan jika kau di tukar untuk hutang papamu." lirih Jefri yang berdiri di teras rumah kayu yang cukup megah itu.


Mata elang Jefri menatap pepohonan rindang yang menutupi halaman rumah pribadinya, yang rencananya akan di gunakan untuk tempat berteduh dirinya dan Naya.


Tetapi dunia berkata lain, sang istri malah pergi entah kemana. Naya enyah dari hidup Jefri, pria itu bersedih dan marah dengan dirinya juga kepada kedua orangtua Naya.


***


Satu bulan telah berlalu, sekarang Naya dan Linda akan bersiap menuju ke Melbourne. Pesawat yang akan di tumpanginya sudah berda di tempatnya, Naya, Linda berjalan menuju ke pesawat setelah itu mereka berdua masuk dan duduk bersampingan.


Tak selang beberapa lama pesawat terbang melambung keangkasa, menembus mega. Hati Naya sedikit lega melihat dari kaca jendela pulau menghijau tersenyum kepadanya dan mengucap selamat tinggal untuk dirinya.


*


*


*


*


Lima jam kemudian, mereka sudah berada di bumi Melbourne benua Australia yang indah. Mereka langsung saja pergi ke apartement milik Linda yang berada di dekat perusahan peninggalan ayahndanya. Cukup menempuh waktu tiga puluh menit untuk sampai ke apartement.


"Linda, loe boleh potong gaji gue nanti." cetus Naya ketika sudah berada di dalam gedung apartemen.


"Hmmm, Naya jangan fikirin itu. Gue tulus nolongin loe!" jawab Linda gema suaranya agak mengeras.


Untuk sesaat Naya terdiam, sedangkan Linda berjalan pergi memasuki kamarnya yang sudah beberapa bulan tidak ia tempati rasanya rindu dengan kamar itu.


"Naya, gue nolongin loe karena pernah jebak Becker jadi pacar loe. Dan karena itu loe ada cinta dengan dia," ucap Linda sendiri di kamar.


"Seandainya dulu, gue ngak ceroboh mungkin loe enggak mencintai suami Jesyca." imbuh Linda lagi.


Linda memandangi bingkai foto mereka bertiga saat SMA kala itu, trio dara sebutan untuk geng mereka di sekolah kala itu. Linda tersenyum sendiri melihat foto masa lalunya, begitu indah persahabatan mereka utuh hingga sekarang. Dia berharap akan berteman hingga hari tua, walaupun tinggal di benua yang berbeda.


Tangan Linda meraih ponsel yang berada di samping nakas ranjang. Dia mengirimkan pesan singkat ke Jesyca, beberapa menit kemudian di balas oleh Jesyca wanita itu mengatakan jika dirinya dan sang suami sedang berbulan madu di benua Eropa. Mereka tidak akan kembali ketanah air karena Becker di kontrak oleg tim sepakbola negara di benua orang putih tersebut.


"Happy honeymoon deh,cepet dapat momongan yang lucu ya," suara voice note Linda di tujukan untuk Jesyca.


"Loe juga, cepet nyusul ya. Keburu tua kagak nikah hehehe...." kekeh Jesyca di sebrang sana, membalas voice note Linda.


"Naya udah, tinggal loe sendiri blo*n hahaha," gelak Jesyca di pesan suara.


"Sia*an loe, anak dajj*l," ketus Linda terkekeh.


Linda sengaja tidak menceritakan tentang Naya. Dia akan mengungkapkan jika mereka bertiga suatu saat bertemu lagi dengan pasangan masing - masing.Linda meletakan telfon gengamnya ke tepi nakas, sudah larut malam ia mencoba memejamkan mata karena keesokan harinya dirinya harus pergi ke kantor awal.


Sementara Naya yang terbaring di ranjang kamarnya, fikiranya melayang ke kampung halaman. Dia berharap jika Jefri tidak membuat ulah atas kepergiannya, kedepanya Naya akan memikirkan pekerjaan dan melunasi hutang keluargannya.