
••••
Hari ini Jesyca dan Becker pergi ke kastil istana Alhambra bangunan bersejarah di negara Spanyol, istana merah yang terletak di atas bukit disana dapat melihat pemandangan seluruh kota Granada.
Banyak para wisatawan baik manca maupun domestik mengunjungi tempat bersejarah bagi umat muslim di Eropa Barat itu. Walaupun Becker dan Jesyca bukan penganut keyakinan muslim tetapi mereka sangat menghormati dan menjujung tinggi agama tersebut.
"Sayang, kamu suka tempat ini?" tanya Becker seraya merangkul pinggang ramping Jesyca.
"Suka banget, tempatnya nyaman sejuk." jawab Jesyca tersenyum bahagia.
"Ngak take picture, buat kenang - kenangan kita nanti di hari tua," kata Becker tangannya melepas pelukan, dan ia meraih telfon genggam di sakunya.
"Boleh dong," Jesyca sedia untuk berfoto, diapun tersenyum mengadap kamera.
Masih di tempat wisata yang sama, mereka menuju taman Generalife, Granada yang berada di atas bukit Cerro de sol. Bangunan taman itu bersebelahan dengan Alhambra, taman indah dan saluran air kolam berbentuk panjang. Juga air mancur menghiasi tempat tersebut, tanaman hias dari seluruh penjuru Eropa barat bahkan dunia tertata apik di tempat wisata itu.
Setelah asyik mereka mengunjungi tempat wisata di kota Granada lanjut makan siang di dekat tempat itu. Jesyca teringin memakan albondigas, kalau Indonesia adalah bakso berkuah. Namun di negara Spanyol albondigas atau bakso berkuah saus tomat yang rasanya lebih gurih dan nikmat tiada tara membuat lidah Jesyca dan Becker tak berhenti mengunyah.
"Enak banget ini sayang," celetuk Jesyca seraya menelan pentolan daging bulat itu.
"Hmmm, kalau kamu suka order lagi," dehem Becker, dia sangat bahagia melihat istrinya makan dengan lahap.
"Iya deh, aku nambah lagi nih. Rasanya beda banget sama lestoran Spanyol di negara kita," ucap Jesyca sambil menikmati albondigas alias bakso Spanyol.
"Aku suka sayang, kalau kamu makannya lahap," ungkap Becker terkekeh mesra.
"Ah, kamu pasti dalam hati bilang kalau aku rakuskan," kelitnya mengehntikan kunyahan albondigasnya.
"Ya ngak lah, kamu negatif thingking sih." alih Becker.
Makan siang sudah selesai lanjut ketempat wisata yang lain pula, belum lengkap jika tak berkunjung ke Catredal de Granada. Ya, tempat bangunan bersejah paling besar di negara Spanyol, tempat wisata sejarah ini di bangun sekitar tahun 1523 - 1704 di atas lahan bekas masjid. Fungsi awalnya adalah untuk gereja gotik namun akhirnya di ubah menjadi gaya Renaisans. Sungguh mengah sekali katredal bersejarah di Spanyol tersebut, membuat para wisatawan banyak yang mengunjugi tempat itu.
Jesyca dan Becker berdo'a sebentar di tempat itu, mereka berharap keinginannya dapat terpenuhi untuk mendapatkan buah hati yang mereka dambakan.
Tak lama setelahnya, notif e-mali masuk ke handphone Becker. Diapun segera membacanya, ternyata isi e- mail itu mengatakan jika Becker telah habis masa kerja untuk tim sepak bola di negara Merah putih itu, dan sekarang berganti kontrak ke negara Eropa barat yaitu Nederland atau Belanda yang lebih famousnya.
"Jesy sayang, aku udah ngak kerja di Indo lagi," sungut Becker yang duduk di kursi taman samping istrinya.
"What, terus kamu nerusin usaha properti di Singapure?" selidik Jesyca penasaran, diapun sedikit terkejut.
"No, belum masih ada waktu dua tahun aku di club bola." ujar Becker.
"Lama juga, terus usaha papaku juga suruh aku yang nerusin, mana aku ngak ngerti kerjanya gimana lagi." keluh panjang Jesyca.
"Kita fikir barengan, soal bisnis kita itu masih ada orang kepercayaan. Yang penting kamu itu berubah sikap, belajar mandiri." tukas Becker.
"Tapikan," sanggah Jesyca.
Jemari Becker menelangkupkan ke mulut Jesyca. Jesca terus diam tanpa memperdulikan orang yang lalulalang iapun mengecup kening sang istri, disana tetap orang tidak peduli jika akan nerciuman panas atau apalah.... Di tempat umum, karena budaya mereka berbeda dengan kita.
"Yang penting, kita bersama selamannya sayang." ungkap Becker.
"Itu, yang aku inginkan," ujar Jesyca pula.
••••
Perjalanan wisata berlanjut ke Royal chapel of Granada sebuah bangunan sejarah bergaya klasik Isabelline, menurut cerita di bangun antara tahun 1505 - 1517. Awalnya bangunan kapel ini terintegrasi dengan kompleks Catredal De Granada.
"Kemana lagi kita sayang," seru Becker bersemangat.
"Ketempat romantis dong," ajak Jesyca bergelayut manja di pundak Becker suaminya.
"Oke, berarti kita ke Barcelona lagi." kata Becker.
"Boleh, aku sih ikut aja." timpal Jesyca yang masih bersemangat.
Udara di negara Spanyol saat ini dingin, tidak panas disana orang menggunakan jaket tebal untuk melindungi tubuh kuliynya dari hawa dingin.
Becker membawa Jesyca menggunkan train karena lebih cepat, hanya menempuh waktu sekejap saja sudah sampai di ibukota tempat mereka menginap di sebuah hotel.
Sesampainya, Becker membawa Jesyca ke suatu tempat yaitu Plaza de espana. Bangunan itu sangat menakjubkan mata yang memandang dan tempat ini wajib di kunjungi jika datang ke negri Dora the Exploler Spanyol. Sayangnya Becker dan Jesyca tiba di plaza itu sore hari, jika malam hari akan terasa romantisnya dengan sentuhan sinar lampu yang membuat estetik Plaza De Espana tersebut.
Di lorong kiri kanan terdapat kios - kios belanja, mereka menjual berbagai pernak - pernik sovenir hingga baju dan makanan khas negara tersebut.
"Aku mau sesuatu, buat kenangan kita." pinta Jesyca.
"Apa yang kamu mau, cari aja. Kalau dapat kamu bawa." ucap Becker tersenyum meringis kuda.
Jesyca memilih souvenir lambang cinta bergambarkan kota Barcelona, ia membeli dua satu untuknya satu lagi untuk suaminya Becker.
"Cantik ngak?" tanya Jesyca.
"Iya, tapi sebenarnya lebih cantikan kamu sih," ujar Becker.
"Gombal," kata Jesyca.
"Ngak, bener suer." Becker mendekati Jesyca yang berdiri agak jauh di depan meja penjaga kios.
"Ck, ngak jadi ah." tangan Jesyca meletakan benda yang tidak jadi di belinya.
"Lho, kok ngak jadi sih?"
"Aku juga suka itu lho," imbuh Becker.
"Yang ini lebih cantik," alih Jesyca, ia memegang sebuah kalung bertuliskan nama.
"Kalau kamu mau, dua - duanya ambil aja." perintah Becker.
"Oh, jadi kamu beneran mau yang tadi sayang," cetus Jesyca seraya mengambil kalung love yang tadi.
"Ya iya lah, udah beli aja semuanya kalau kamu suka." ucap Becker.
"It's oke, aku ambil duanya, and habis ini aku mau makan lagi," kata Jesyca.
"Boleh banget sayang,"
"Hmm, semoga aja ngak gendut, takut kalau kamu lari." alih Jesyca.
"Gendutkan enak, empuk kalau bobok seranjang, hehehe...." kekeh Becker.
"Iiss, awas ya ku hajar kamu sayang," Jesyca melirikkan mata pada Becker.
Mereka asyik berbelanja, setelah itu Becker mengajak Jesca untuk makan lagi karena waktu sudah beranjak senja, merekapun kembali ke hotel tempat menginap lagi.