I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
Bab 39. Hari bahagia tapi aneh rasanya.



••••


Sinar mentari mulai memancarkan sinarnya hingga menerpa lekukan jagat, di dalam suatu tempat dua insan sedang melaksanakan acara pernikahan yang di nanti dan di saksikan oleh semua hadirin, janji suci telah terucap dari pita suara Bryan Alison Becker untuk Jesyca Anggeline.


Tuan Henderson, nyonya ratih, juga keluarga besar tuan Wisanggeni bahagia melihat dan mendengar anak sematawayang mereka melaksanakan pernikahan sakral.


Seorang pastur memimpin pernikahan antara Jesyca dan Becker, juga menjadi saksi atas janji suci mereka berdua.


Acara berlangsung hikmat, setelah ucapan janji suci selesai di lanjutkan resepsi ke royal hotel yang sudah di pesan oleh nyonya Famala kala itu.


Para tamu undangan tampak hadir begitu banyak memberi selamat atas pernikahan Jesyca dan Becker. Para kru sepakbola datang berduyun, ada juga tamu yang tak diundang dia adalah para fans Becker memberi ucapan selamat menempuh hidup baru.


"Terimakasih banyak," ucap Becker pada sepuluh orang fans yang mendatangi ke pernikahannya.


"Well, selamat berbahagia mengarungi hidup baru." salam dari seseorang perempuan berbaju dress merah maroon kepada Jesyca dan Becker.


"Oh, Tania thank's a lot hehehe...." kekeh Becker renyah.


"Thanks," Jesyca singkat, memalingkan wajahnya ke tamu yang lain.


"Jesyca jadi istri yang baik ya, buat Becker." kata Tania sedikit serak menahan luh tangis yang akan keluar.


"Ya, pastilah ngak loe  bilang juga gua ngerti!" jawab Jesyca sinis.


"Okey, aku permisi dulu," Tania berlalu dari hadapan kedua mempelai.


"Ngapain kamu undang dia, buat bad mood aja." cetus Jesyca kesal.


"Sorry sayang, bukan aku tapi mommy yang udang." kata Becker.


"Alah, apa - apa mommy!" ketus Jesyca.


Wanita itu pergi berlalu meninggalkan pria yang berstatus suaminya, dia menuju meja makan sepertinya dia lapar karena sentimen melihat sosok Tania tadi.


Tak selang lama Becker menyusulnya, dia merasa bersalah pada Jesyca dan akhirnya meminta maaf.


"Sayang, please!" Becker memegang tangan Jesyca namun di tepis oleh wanita itu.


"Laper, mau makan abis itu balik ke rumah gua. Loe tahu ngak gua nyesel nikah sama anak mommy kek loe," hardik Jesyca pada Becker.


"Jesy! cuma gara  -  gara mommy ngundang Tania kamu jadi bete gini?" tanya Becker heran dia meremas rambutnya.


"Ya iya lah, nanti aku  di tempat kamu semua pernikahan kita di atur sama emak kamu," tukas Jesyca mengganti sebutan loe dan gua.


"Ngak sayang, mana mungkin karena kita ngak bakal satu rumah dengan mertua. Aku juga faham kalau menatu dan orangtuaku ngak bisa di jadiin satu Jes," jelas Becker.


"Serah deh, mau makan abis itu pulang tidur. Ngak suka pakek acara ribet gini nyalamin orang bikin capek." ujar Jesyca, lalu ia menyeendok nasi di meja.


"Oke," ucap Becker pelan.


"tapi pulang ke rumah...."


"Ya, rumah papa Wisang lah. Kalau kamu ngak beliin rumah," ketus Jesyca.


"Pasti, aku beri buat kamu nanti. Tolong dong, hargai acara ini sebentar aja, ngak enak sama tamu undangan yang lain." ujar Becker.


"Itu terserah kamu," ketus Jesyca, ia bangkit dari kursi dan berjalan keluar gedung hotel.


Becker mengikuti dari belakang dan meraih tangan sang istri.


"Lepasin, kalau  tahu apa - apa semua yang ngatur mommy kamu aku ngak mau nikah!" tandas Jesyca melepas cengkraman Becker.


Wanita itu pergi meninggalkan suaminya, Becker tak tinggal diam iapun mengikutinya dengan cepat, tetapi naas Jesyca telah menuju mobil pribadinya dan melaju sendiri.


Becker mengikuti Jesyca, di jalan yang amat padat Becker sedikit kesusahan mengejar istrinya. Dia berusaha sesabar mungkin dalam hatinya berdo'a semoga Jesyca sifat  dan tingkahnya segera berubah total. Sekarang sudah menjadi istri Becker manun masih sama saja tetap sama.


"Astaga, kenapa ngak bisa berubah sih, maunya apa Jesyca." keluh Becker saat mengudikan mobil.


Jalanan masih padat merayap, sedangkan mobil yang di kendarai Jesyca sudah hilang tak terlihat oleh mata, Becker mendengus kasar tangan kekarnya mecengkram setir.


Dia marah, di hari yang bahagia tak seharusnya ia naik mobil di jalanan yang cukup macet seperti sekarang ini.


" Susah banget, sialan!" umpatnya kesal.


"Lagi aja abis resepsi pernikahan. Malah gila kaya gini di jalanan," imbuhnya lagi.


••••


Sementara Jesyca sudah sampai di rumah, ia masuk dan melucuti dress pernikahan dan mengganti dengan baju. Telfon di nakas sebelah ranjangnya berbunyi, layar handphone tertera nama mamaku sayang yang berarti itu adalah nyonya Famala ibu Jesyca Anggeline.


"Ah, mama ngapain sih!" desah Jesyca malas, lalu mengangkat telfonya.


"Ma, ada apa?" tanya Jesyca.


"Heh, dimana kamu!" bentak Famala yang tidak lagi lembut.


"Di rumah lah ma, Jesyca capek lagian nikah ribet banget sih pakek salam - salaman ama orang banyak," keluh Jesyca.


"Namanya pesta pernikahan ya kaya gitu, balik ngak ke rumah mertua kamu. Jangan buat malu! katanya mau merubah sikap mana!" celoteh Famala semakin kesal.


"Males, kalau Becker ngak beliin panthouse Jesyca minta cerai!" ancam Jesyca lalu mematikan panggilan telfon dari mamanya.


"Sialan, udah hilang virgin gua ngak  di beliin tempat berteduh males," keluhnya lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Becker masuk ke dalam kamar Jesyca karena tidak terkunci dia langsung saja duduk di samping ranjang, kepalanya  geleng - geleng melihat kelakuan wanita yang aneh telah sah menjadi istrinya.


"Jesyca, bangun sayang." Bekcer mengguncang tubuh Jesyca.


"Hmmm, loe lagi baru aja gua pejamin mata eh, ternyata Becker alias Geo mantan supir gua duduk di sini." ucap Jesyca mengingat masa lalu.


"Kenapa sih tiba - tiba berubah gini, kamu mintanya apa?" selidik Becker berwajah muram.


"Penthouse, bulan madu ke Barcellona, dan jangan lupa duit belanja gua tiap bulan itu minim lima ratus juta. Itu belum termasuk biaya perawatan tubuh atau wajah gua," pinta Jesyca panjang sekali.


"Jadi, cuma itu mau kamu. Kenapa ngak bilang dari kemarin, ya ampun. Emang mau Penthouse dimana sih," keling Becker lupa jika tanggung jawabnya tidak di sepakati ketika belum mengucapkan janji suci.


"Di mana aja, yang penting pethouse dan uang tanggung jawab bulanan," ujar Jesyca lagi.


"Oke," jawab Becker seraya mengganguk.


Lalu Becker bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke kamar mandi di samping kamar istrinya, dia akan membasuh tubuhnya yang sudah terkena keringat di perjalanan tadi.


••••


Di royal hotel acara resepsi pernikahan Becker dan Jesyca terpaksa selesai sebelum waktunya, Para anggota keluarga kesal terhadap tingkah kedua mempelai, merekapun membubarkan diri masing - masing. Nyonya Ratih masih terlihat kesabaranya, kerena beliau sudah hafal sifat, tingkah laku Becker dan Jesyca.