
"lemes banget loe, kenapa?" tanya Andriano pada Becker.
"gak enak badan aja." jawab Becker beralasan tidak mutu.
"hahaha.... kalau loe sakit, ngapain ke gym?" gelak Andriano membuat teman yang lainnya ikut berkomentar.
"paling dia patah hati, " sahut Ranveer.
"sama Tania, iya kan Bec?" tebak Rayyan asal.
"ck, sok T kalian!" sungut Becker seraya berdiri dari alat gym.
"Terus?" selidik Andriano ingin tahu.
"alah, ga usah kepo loe pada," tukas Becker kemudian berjalan keluar dari ruang gym.
Becker pergi dari tempat olahraga itu, dia masuk kedalam mobil sport mewah lalu ia kendarai sendiri menuju rumahnya. Fikiran Becker teruju pada wajah ayu Jesyca, karena penyamarannya sebagai driver pribadi pujaan hatinya gagal dan om Wisang membatalkan pertunangan dengan Jesyca secara sepihak, yang membuat Becker frustasi rasanya ingin menerkam calon mertuanya itu tapi perbuatan seperti itu sangat memalukan.
Sesaat ketika dia menyetir mobil matanya tertuju ke samping spion, tampak mobil yang tidak asing mengikuti kemana Becker melajukan. Kali ini dia mulai masuk ke dalam gang perumahannya, mobil itu masih mengikutinya Becker curiga kalau mobil yang mengikutinya adalah sang pemilik atau orang yang di perintahkan oleh pemilik mobil tersebut.
Becker memasuki gerbang rumahnya, dibukakan pintu gerbang bercat emas itu oleh penjaga rumah mewah milik Henderson. Pria itu keluar dari mobil sport berwarna hitam pekat, terlihat di ujung halaman depan seseorang wanita muda sedang berdebat dengan penjaga rumahnya. Beckerpun mendatanginya, wanita itu terperanjat melihat kedatangan Becker.
"ada apa pak?" tanya Becker slow, tidak panik melihat kedatangan perempuan yang sudah ia kenal selama beberapa bulan belakangan ini.
"mbak ini nih, tuan muda maksa mau masuk rumah." ujar satpam penjaga rumah.
"Biarin masuk aja." ucap Becker datar.
Dia menatap tajam perempuan berbaju sexy di depanya adalah Jesyca Anggeline. Wanita itu, mengikuti langkah Becker menuju dalam rumah. Mereka terdiam berjalan dengan fikiran masing - masing, saat sudah sampai di pintu Becker mulai bicara.
"ada apa kesini?" langsung Becker bertanya.
"udah tahukan, siapa gue?" imbuhnya lagi.
Jesyca menunduk butiran air mata keluar dari bola matanya.
"kenapa loe nyamar, seharusnya jujur aja." racau Jesyca seraya menangis sesengukan.
"papamu yang nyuruh!" jawan Becker ketus.
"Jadi loe...." tambah Jesyca terputus.
"Siapa loe sebenernya sih?" tanya Jesyca seraya mengankat wajahnya yang basah karena air mata.
"Sudah taukan loe, siapa gue! Bryan Alison Becker." ucap pria di depan Jesyca itu ketus.
Seketika, mata Jesyca yang sayup basah itu membulat tidak percaya bahwa pria yang ia kenal sebagai driver pribadinnya itu adalah pemain sepak bola kelas dunia. Pantas saja dia curiga ketika pernah melihatnya berlaga di stadiun kala beberapa bulan yang lalu.
"Udah tau, kenapa pakek nangis segala. Udah pergi sana," usir Becker kasar.
"maafin gue, selama loe jadi supir ga pernah baik sama loe." ujar Jesyca masih menangis.
Dalam gati sebenarnya Becker merasa iba, dia merasa kalau Jesyca sudah memendam rasa cinta kepadanya.
"sana pergi!" bentak Becker dengan suara yang mengglegar bagai guntur.
Jesyca enggan melangkah pergi, dia malah bertekuk lutut dihadapan Becker.
"gue cinta sama loe! ngak peduli loe miskin atau kaya." desis Jesyca sesenggukan.
"bangun. Jangan berlutut, bokap loe minta rencana pertunangan kita di batalin." ujar Becker.
"Gue ngak mau, gue cinta sama loe!" sahut Jesyca dengan intonasi suara keras.
Becker menghembuskan nafasnya, dia ikut berjongkok didepan Jesyca.
"sorry, Jesyca Anggeline gue udah gak mood. Lebih baik loe pergi dari rumah gue, sebelum daddy gue keluar rumah." sergah Becker menatap manik mata Jesyca yang basah.
"tapi," sahut Jesyca singkat.
"pergi," lirih Becker dalam hatinya pilu.
Jesyca berdiri perlahan ia mengatur pernafasannya. Kemudian, berlalu dari hadapan Geo oh no Becker yang mengisi jiwanya selama ini. Namun cintanya tak terbalaskan.
Becker masih mematung di depan pintu masuk istananya, mata elang miliknya masih menatap punggung Jesyca yang berjalan keluar dari halaman rumah, sekali Jesyca melihatnya kebelakang saat akan memasuki mobil pribadinya.
"sekarang gue ngerasain, sakit ternyata." lirih Jesyca seraya menoleh kebelakang, di ujung sana masih terlihat bayangan Becker berdiri di depan pintu.
"dia ngak ada rasa sama gue," imbuhnya sendiri.
Jesyca masuk kedalam mobil lalu meninggalkan kompleks perumahan mewah itu, dia tahu Becker di gym dari Linda begitu juga alamat rumahnya karena, Linda adalah tetangga baru Becker.
••••
Hari ini pertandingan sepak bola antar club sedang berlangsung, semua pendukung memenuhi stadiun yang terletak di tengah ibu kota metropolitan. Jesyca, Naya dan Linda antusias mengikuti pertandingan tersebut. Mereka mendukung Becker, walaupun Jesyca dan Naya di tolak cintanya tetap ingin bersahabat baik dengan pemain sepak bola itu.
Di tengah lapangan, si kulit bundar sedang di perebutkan, tendangan dari kaki ke kaki lincah membuat gawang lawan kebobolan dan serempak para sporter bola bersorak gembira.
Becker menendang bola hingga masuk ke gawang lawan, permainan babak pertama usai. Jesyca tersenyum singrai ke arah Becker saat pria itu tidak sengaja mendekati pelatih bolanya di tepi lapangan.
Deg!
"Jesyca!" batin Becker.
"Good, son pertahankan." seru Matheow sang pelatih.
Becker hanya tersenyum kearah sang pelatih, dia meneguk air mineral sekali, keringat membasahi tubuhnya sempat ia melirik ke belakang mencari dimana Jesyca duduk. Namun, tidak ia temukan.
"perasaan tadi di situ, senyum sama akukan." bisiknya dalam hati.
"kok, ngak ada kemana ya?" tanya Becker sendiri.
"Woi, nglamun. Masih satu babak," gertak Javan dari samping kanan.
"iya bro, lagi minum haus." ucap Becker.
"Preet, dari latihan kemarin loe ngak fokus, mikirin apa sih?" selidik Javan.
"ngak, mikir apa - apa bro. Lagi, ngak fokus aja." jawab Becker asal.
"Jangan bohong Beck, kita ini sudah temenan lama." sela Javan.
"gue ngak bohong." ujar Becker.
Becker pergi menjauh dari Javan yang ingin tahu tentangnya, karena Becker orang tertutup makanya dia menghindar dari cercaan kawan - kawannya. Matanya, masih mencari sosok Jesyca tetapi sudah tidak menemukan kembali wajah ayu bermulut bisa nan sombong itu.
"kenapa sih, kok aku fokus sama si angkuh itu." keluh Becker dalam hati.
Dia meneguk air mineral lagi, karena pertandingan babak kedua akan dimulai semua tim bersiap - siap untuk berlaga kembali. Becker antusias, segera dia bangkit dari kursi bercat merah itu dan berjalan menuju tengah lapangan. Suara peluit melambung tinggi ke memecah isi stadiun yang sejak tadi berisik, penuh suara para sporter +62 yang bersorak sorai mendukung timnya masing - masing.