
Mobil yang di kendarai oleh Becker melaju cepat, seperti pertama kali menjadi driver palsu Jesyca satu bulan yang lalu. Tetapi jalanan padat merayap, membuat susah untuk bergerak terik matahari menembus hingga ketulang membuat Naya mengibas - ngibaskan tangannya, walaupun menghidupkan airconditoiner tetap saja peluh di kening dan sekujur tubuh gadis itu menetes.
Empat puluh menit kemudian, kuda besi milik Jesyca yang di kemudikan oleh Geo alias Becker melaju kencang kembali, mendahului kendaraan yang lebih besar seperti bus kota, truk bermuatan besar dan beberapa mobil. Rumah sakit cukup jauh, tak terlihat mata Jesyca terbuka walaupun sesipit semut.
Geo semakin panik, dia menyuruh Naya untuk menghubungi orang tua Jesyca menggunakan handphone pria itu. Mata Naya menyipit, melihat benda persegi panjang tipis dari tangan Geo. Gadis itu menerima benda itu, jemarinya menekan nomor telfon yang tertera di layar dan menyambungkan ke nomor tujuan. Akan tetapi tidak ada jawaban, Geo semakin panik dia tidak bisa berfikir jernih lalu menyuruh Naya untuk menghubungi papa Jesyca lagi. Naya mencari nomor kontak tuan Wisang, tetapi dia curiga dengan nama di handphone Geo dia menuliskan panggilan untuk papa Jesyca itu adalah om Wisang.
Karena yang Naya tahu, kalau Geo itu adalah pengemudi pribadi Jesyca. Gadis itu juga sempat curiga karena di bagian usapan layar ada foto wajah perempuan cantik seperti wajah Jesyca.
"What?" tanya Naya dalam hati.
"yakin, ini pasti wajah Jesyca." ujar Naya dalam hati lagi.
Gadis itu semakin penasaran, dia malah membuka galeri foto di hape Geo.
"Nay, udah telfon papanya Jesyca." suara Geo dari jok depan.
Naya terkejut.
"Eh, anu. Bentar ya Ge,nama kontaknya siapa?" selidik Naya berlagak tidak tahu.
"Cepet Nay!" perintah Geo.
"iya, bentar belum ketemu nih." jawab Naya seraya mengusap layar handphone itu kembali dan menekan nomor om Wisang.
Telfon yang di tuju tidak juga menjawab, beruntung rumah sakit sudah didepan mata. Mobil di belokan oleh Geo memasuki gerbang rumah sakit, seorang satpam membukakan pintu untuk mobil berwarna merah mengkilap itu. Merekapun turun membawa Jesyca ke kursi roda namun, dua orang perawat membantunya menggunakan ranjang dorong rumah sakit.
Jesyca mendapat pertolongan pertama, dia diberi ogsigen agar pernafasannya kembali normal seperti semula. Geo dan Naya lega melihat Jesyca dari balik jendela kaca,
"ternyata Jesyca punya penyakit sesak nafas, parah kaya gitu. Kasihan," keluh Becker di samping Naya.
"Iya Ge, kita udah tahu sejak kami pertama masuk kuliah, waktu ospek bareng dia pingsan." jelas Naya.
Seorang gadis berlari terpongoh - pongoh menuju kearah meraka, dia berhenti di depan kamar rawat inap Jesyca.
"Kumat lagi ya Nay?" tanya Linda seraya mengatur nafasnya setelah berlarian.
"Iya, Lin sorry gue kabarin telat loe. Kita keburu - buru tadi, dijalan macet juga." ujar Naya.
"Ngak apa - apa, guekan rapat gantiin Jesyca jadi ketua kemping." papar Linda.
"Terus loe tinggalin, ngganggu ya?" kelit Naya.
Linda menggelengkan kepala, lalu melihat Geo yang sedari tadi hanya menyimak obrolan teman majikannya.
"Ge, thanks ya udah nganterin temen bawel gue." ucap Linda pada Becker.
"iya Lin," singakat Becker.
Karena telfon pria itu berbunyi dia berpindah tempat untuk mengangkat, ternyata dari tuan Wisang beliau menelfon Becker balik. Becker mengatakan kalau Jesyca masuk rumah sakit, seketika Wisang mematikan telfonnya dan mungkin dia bergegas untuk kerumah sakit menjenguk putri sematawayangnya.
••••
Sampai dirumah sakit, Famala dan Wisang langsung menjumpai Becker, Linda juga Naya. Orangtua Jesyca memasuki ruang rawat inap menjumpai anak gadisnya yang terbujur di tengah ranjang pasien. Nyonya Famala sedih, ketika melihat Jesyca tergeletak jiwa sombong dan besar kepalanya tidak dapat muncul kembali. Dalam hati wanita separuh baya itu hanya berdoa menyebut nama tuhan
Berharap sang putri dapat membuka matanya.
"Jesyca, ini mama sayang. Kenapa sekarang kamu sering kumat parah kayak gini sih nak!" lirih Famala.
Dari pintu, terlihat Becker membuka pintu sedikit. Dan memanggil Wisang dengan isyarat, lelaki setengah baya itu segera mendekati pemuda yang diimpikan akan menjadi menantu abadinya.
"om, saya hari ini harus ke pertandingan bola." bisik Becker pelan, di daun telinga Wisang.
Famala tidak mencurigai suami dan driver pribadi putrinya, dia tidak melihat kebelakang.
"terus! Jesyca kamu tinggal?" tanya Wisanggeni juga berbisik.
"tapi om, maaf ini kewajiban saya." lugas Becker.
"Kamu ini, ngak bisa jaga Jesyca." ketus Wisang.
"Maafin saya om," bisik Becker lagi.
"Lain kali, jangan sampai Jesyca seperti ini." ujar Wisang.
"Maaf om. Sekali lagi maaf," ulang Becker.
"Ya udah sana,"
Becker hanya menganggukan kepalanya, diapun pergi meninggalkan rumah sakit. Naya dan Linda diam - diam mengikutinya dari belakang, tampak di parkiran mobil seorang pria gagah berseragam hitam sedang menanti Geo di samping mobil sedan putih. Pria tersebut, membukakan pintu untuk Geo bin Becker dan mobil itu pergi meninggalkan pelataran rumah sakit.
"yakin, itu bukan orang susah Lin." kata Naya di samping Linda , seraya mengamati mobil yang di tumpangi Geo pergi.
"Gue belum yakin, bisa aja tadi mobilnya bokab Jesyca." sahut Linda.
"kalau gue emang yakin, cowok itu orang kaya Lin, bisa aja dia nyamar buat misi apa gitu."
"Misi apa sih, ah gue sih bodo amat mau dia miskin atau kaya. Yang penting dia ganteng, orang kaya belum tentu seganteng dia." ungakap Linda.
"Bilang aja, loe naksir Geo." ketus Naya, lalu pergi meninggalkan Linda.
Dia kembali ke lorong ruang inap Jesyca. Disana papa dan mamanya sudah terlihat ada senyum bahagia, tampaknya Jesyca sudah sadar. Naya segera pergi ke ruangan sahabatnya, namun dokter melarangnya karena sangat mengganggu pasien.
Di tengah ranjang rumahsakit Jesyca bergumam nama seorang pria keluar dari pita suaranya.
"Geo, Geo, Ge.... I love you," lirih Jesyca di tengah tidurnya.
Famala bahagia, setengah terkejut mendengar Jesyca menyebut nama driver pribadinya. Hati Famala jadi bertanya, mengapa Jesyca menyebut nama Geo? Padahal selama Geo bin Becker bekerja menjadi supri pribadinya Jesyca selalu telihat kasar. Wisangeni, tersenyum kecil berharap Jesyca dapat mencintai Becker dengan tulus dan membuang jauh sifat Jesyca yang sering kelewatan batas.
"Jesyca, ini mama sama papa nak." ujar Famala.
Jesyca membuka matanya, dia tidak menemukan orang yang ada didalam mimpi.
"Dimana Jesyca?" tanyanya mata Jesyca melihat atas dan kebawah,
"Rumahsakit nak," jawab nyonya Famala
"Aku kenapa? " selidiknya pada papa dan .
"Penyakitmu kambuh lagi Jes," ujar Wisang.
Jesyca terdiam, namun air matanya jatuh ke pipi putihnya. Dia berharap bahwa Geo ada disampingnya dan memberinya perawatan khusus, namaun harapan itu pupus seketika Jesyca tidak melihat pria itu di sekitar dia berada.
"kenapa sih, kepikiran si udik itu." keluhnya dalam hati.