
••••
Jam dinding sudah menunjukan pukul 11.30 pm, tetapi mata Jesyca belum dapat terpejam. Bukan sedang menyelesaikan tugas kuliah tetapi, tangannya memegang sebuah bingkai foto. Disana ada gambar Geo alias Becker tersenyum manis menatap Jesyca, wajah tampan Geo yang membuat Jesyca terpesona seakan pria yang berstatus pengemudi pribadinya.
Selama Geo bekerja dengannya, dia tidak mengganggap sebagai pekerja ataupun karyawan. Malah kadang Jesyca berandai - andai kalau Geo adalah kekasihnya.
"bang**e, kenapa sih otak gue isinya dia aja." lirih Jesyca sendiri.
Jesyca meraih handpohe yang ada di ranjang sampingnya nakas sejajar dengan meja rias. Jemarinya, bermain dilayar mencari kontak nomor handphone Geo.
Sesaat, nomor yang didail oleh Jesyca tersambung.
"Hallo Jes," suara Geo di sebrang sana, menyapanya terlebih dahulu.
"Hallo Ge, mmmm.... udah tidur belum?" dehem Jesyca bertanya pada Geo dalam percakapan telfon.
"belum, ada apa ya? " tanya balik pria itu.
"lagi ngapain?" tanya Jesyca.
"nongkrong ama teman - teman," jawab Geo santai.
"Boleh gabung ngak,"
"ck, udah malam. Ngak baik perempuan pergi malam," ujar Geo.
"baik kok, biasanya gue keluar malam sampai pagi, gabut nih dirumah aja." ucap Jesyca.
"Jesyca! perintah papa kamu, harus merubah sikap kamu. Kurangi keluar malam kalau bisa jangan pernah pergi ke club! satu lagi, ngak boleh bicara kasar apalagi dengan orang yang lebih tua." nasihat Geo.
"hmmm, kok jadi ceramah kaya pak kyai sih!" keluh Jesyca.
"terserah loe, mau nurut atau ngak. Kalau loe ngak nurut sama papa Wisang gue ngak mau jadi driver lagi." ancam Geo menggertak Jesyca.
Diam. Tidak menjawab lagi, Jesyca mati kutu sekarang bukan jamannya majikan yang ngatur pekerjanya, melainkan pekerja yang mengatur sang juragan. Jesyca mengangkat bicara,
"tapi gue majikan loe,ngak bisa dong seenaknya bisa mutusin mau berhenti kerja gitu aja." kata Jesyca menjadi lembut seketika.
"eh, Jesyca Anggeline. Yang gaji adalah pak Wisanggeni papa loe, bukan loe jadi gue berhak mau berhenti atau nggaknya itu keputusan gue." alih Geo ketus.
"kenapa loe jadi ketus gini sih, gue udah coba baik sama loe Ge," sahut Jesyca dalam percakapan telfon.
"ngak gue ngak ketus, mending loe tidur ngimpiin panggeran yang loe cintai. Oke, mimpi indah." ucap Geo memutus sambungan telfon.
Jesyca menautkan kedua alisnya, ada rasa sedikit berbeda saat kalimat terakhir yang di ucapkan untuknya. Sekarang Jesyca susah untuk memejamkan mata, suara tenor dan bass Geo masih terasa menghiasi telinga Jesyca.
"kenapa, gue ngak ngomong kalau cinta dia." gumamnya sendiri.
Tanganya masih memegang handpone. Malam semakin larut, terdengar langkah kaki bi Inah atau Surti di luar kamar Jesyca. Buru - buru dia berselimut dan mematikan lampu kamar, ternyata bi Inah mengecek kamar Jesyca melihat nona mudanya sudah terlelap atau belum.
••••
Kampus C di kantin terlihat Naya sedang duduk sendiri, tidak ada Linda di dekat kursinya dia sekarang hanya menyendiri bahkan teman sekelas tak ada satupun yang mendekati Naya juga, semua itu atas perintah Jesyca. Kalau Jesyca sudah berbicara semua se isi kelas mengikuti aturannya, pagi itu Revano datang awal dia akan mencari sarapan di kantin. Melihat Naya sendiri Revanopun mendekati Naya yang duduk sendiri.
"eh, hallo kayaknya loe sekelas ama gue?" tebak Revano saat berdiri di depan kursi Naya.
"Iya, kamu anak baru itukan."
"Boleh duduk sini."
Revanopun duduk di kursi depan Naya. Dia membuka suara lagi, mencari suasana akbrab dengan Naya yang belum dikenalnya lama.
"anak - anak disini, pilih temen ya kok loe sering sendiri gue lihat?" selidik Revano langsung saja pada intinya.
"Ngak sih, gue lagi pengen sendiri aja." jawab Naya asal.
"Gue ngak yakin, pasti gara - gara setan kelas kita itukan Jesyca." kata Revano menebak lagi.
"ah, ngak juga." tukas Naya.
"gue tahu semuanya tentang loe," bisik Revano.
"Tahu apa? loe jangan ngada - ada deh," kelit Naya.
"loe naksir inikan?" tunjuk Revano menyerahkan handphone jadul miliknya.
Mata Naya membulat tidak percaya, kenapa ada gambar Geo di dalam ponsel Revano dan berfoto berjas dengan background perkantoran. Sebenarnya siapa Geo?
"Geo!" suara Naya getir.
"Dia itu, bukan Geo kalian di tipu." kata Revano menyakinkan Naya.
"maksudnya apa sih?" tanya Naya heran jantungya bergemuruh tak karuan.
"Bryan Alison Becker, pemain jebolan sepak bola dari Nederland yang sekarang di beli negara kita buat majuin timnas negara ini." jelas Revano gamblang.
Mulut Naya terbuka lebar, dia tersentak seketika antara percaya dengan pria didepannya atau Geo yang berstatus pengemudi pribadi Jesyca. Nafas Naya kembang kempis dan Revano memerintah agar mengatur pernafasan gadis di depannya itu.
"Slow, ambil nafas hembuskan." perintah Revano.
"dan satu, jangan pernah kasih tahu ke Jesyca sialan itu. Kenapa, gue bocorin rahasia Geo alias Becker ke loe karena dia akan dijodohkan sama setan Jesyca itu. Karena gue bekerja di dalam lingkup keluarga Henderson daddy supir palsu Jesyt*l itu." papar Revano.
"Ja, ja, di .... ah," Naya terbata - bata.
"gue udah curiga, pas ngeliat pertandingan bola waktu itu." tambah Naya.
"Loe harus percaya sama gue," tegas Revano.
"Dia ngak cinta sama loe, jadi jangan berharap lebih. Cuma mau manasin Jesyca." ucap Revano lagi.
Naya mengganggukan kepalanya, dia dalam hati rasanya ingin menjerit namun tertahan karena melihat Linda sedang berdiri di belakang Revano.
"Linda," panggil Naya.
"Loe sudah tahukan, sorry gue juga yang nyuruh Becker nembak loe. Jadi baper beneran. Maafin gue Nay, loe masih mau sahabatan sama gue ngak?" ucap Linda yang muncul entah sejak kapan.
"ternyata, ah...." desah Naya seraya mengeluarkan air mata.
Revano diam tidak membuka suara, karena dia tahu kalau Linda adalah tetangga majikannya yang menyamar sebagai driver pribadi Jesyca.
"Naya, jawab gue. Masih mau sahabatan sama orang jahat kaya gue ngak," kelit Linda butiran air mata keluar dari kelopak matanya.
Naya mengganguk tanda mau. Fikirnya, buat apa membeci Linda karena dia sahabat sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Ketika mereka bertiga masih menggunakan seragam putih abu - abu. Jesyca, Linda dan Naya.
"maafin gue Nay," ucap Linda kesekian kali.