I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
Bab. 32



Jam kuliah sudah usai, semua mahasiswa bubar untuk pergi dari kampus karena sudah penat seharian mengerjakan tugas. Bulan ini sudah masuk ujian, dan selanjutnya akan ada skripsi Jesyca kebingungan karena sekarang ia jauh dengan Naya.


Naya adalah mahasiswi terpandai di fakultasnya melebihi Diana, teman sekelas Jesyca yang pintar. Tetapi Naya masih unggul diatasnya, rencana Jesyca kali ini ingin menyuruh Diana untuk mengerjalan skripsi bulan depan, Jesyca akan membayar yang di maukan oleh Diana berapa saja.


"Diana," panggil Jesyca.


Wanita muda itu menoleh kearah sumher suara Jesyca, diapun mendekatinya dan menanyai.


"Ada apa Jes?"


"Gue, punya kerjaan buat loe." serunya seraya memamerkan lembaran uang ratusan ribu.


"Apaan?" tanya Diana tidak faham.


"Tolong, bulan depan buatin gue skripsi." jelas Jesyca pada Diana.


"Omegot, gitu doang. Lagi butuh duit nih, loe tambahin ya bulan depan." ujar Diana tangannya menyahut uang di tangan Jesyca.


"Hah, janji ya loe, kalau nambah lagi bisa dong gue nyontek ujian loe besok?" pinta Jesyca lagi ia mengeluarkan uang kertas seratus ribu dua lembar.


"Yes, boleh banget dong Jesyca cantik. Besok aku contekin semuanya okey, " ujar Diana.


"Awas, kalau sampai loe ngibulin gue." ancam Jesyca seraya mengacungkan tinju kepal di tangannya.


Diana mengerti, lalu kedua wanita itu keluar dari dalam kelas. Berjalan belok arah masing - masing, Jesyca pergi ke parkiran mobilnya ia terkadang nyetir sendiri karena Bekcer lagi sibuk dengan latihan sepak bola, jadi tidak bisa mengantar ataupun menjemput Jesyca.


"Si***lan, macet lagi!" dengus Jesyca kesal saat menyetir di tengah keramaian kota.


Sore hari semua transportasi memenuhi jalanan ibu kota, semua pulang dari kerja ataupun sekolah. Hal itu, jalanan menjadi padat merayap seperti hari raya ketika akan mudik ke kampung halamannya.


Dua puluh menit Jesyca diam di dalam mobil, menunggu mobil di depannya bergerak. Cukup menguras emosionalnya, karena sebentar lagi akan ada acara keluarga dan dia harus sampai ke rumah tepat waktu.


"An**ng, kalau kaya gini mana bisa cepet sampai rumah." teriaknya frustasi di dalam mobil seorang diri.


Ia memainkan klakson mobilnya, ada seorang preman bertato lengan dan jidatnya ia juga berbadan besar menyeramkan. Tangan preman itu mengetuk pintu mobil yang di gunkan Jesyca. Jesyca membukakan jedela mobil, sang preman memaki Jesyca.


"woi, klakson loe brisik lo**e!" bentak preman itu, matanya melotot tajam mengaharidik Jesyca.


"suka - suka gue, kenapa loe sewot. Dasar preman gem**l! Udah miskin mulut loe ngak di cuci!" bentak Jeyca kembali, ia malah tidak takut dan berganti memelototi sang preman.


"anjir, di bilangin jangan mainin klakson loe. Nanti kalau lampu rambu - rambu itu ijo pasti jalan," papar sang preman kini suara intonasinya berubah pelan.


"eh, pengemis loe kalau mau ceramah, atau mau ngerampok gue jangan disini ya!" ketus Jesyca kesal bukan kepalang.


Beruntung mobil didepannya sudah mulai bergerak, iapun melajukan mobilnya meninggalkan preman tadi, di dalam hati Jesyca terus mengumpat serta menyumpah serapah sang preman.


"huh, gara - gara macet, otakku jadi miring, preman dekil maki gue. Awas aja kalau ketemu lagi, gue potong lidahnya!"