I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
41. Naya meraung



Di lain tempat.


"Cepat pakai kebayamu, sebentar lagi MUA akan datang merias wajahmu Naya," perintah bu Kartini pada anak perempuan pertamanya.


"Tapi ma, Naya ngak mau nikah sama Jefri." ucap Naya dengan nada rendah.


"Harus mau, hanya Jefri penyelamat keluarga kita." paksa bu Kartini.


"Please ma, cinta itu ngak bisa di paksa, mana bisa berumah tangga kalau tidak ada cinta. Naya pokoknya ngak mau nikah sama Jefri titik," rengek Naya seraya mengeluarkan air matanya membasahi pipi kuning langsat itu.


Namun bu Kartini mengangkat tangan kirinya dan mendarat di....


PLAKK!!!


"Kau harus mau, jangan menceramahi mama tentang cinta. Karena hidup itu tidak hanya cinta tetapi uangpun perlu," ketus bu Kartini.


"Sa-sakit ma," ucap Naya terbata tangan kanannya memegangi pipinya.


"Cepat pakai kebayamu, mama ngak mau malu sama orang se - kampung!" bentak wanita setengah baya itu.


Terpaksa Naya menuruti permintaan sang mama, walaupun berat karena dihatinya hanya ada Becker. Tetapi nasi sudah menjadi bubur Becker berjodoh dengan Jesyca, sedangkan dirinya malang nasib cintanya menikah dengan orang yang tak ia cintai sedikitpun.


Bu Kartini meninggalkan kamar Naya, gadis itu masih menangis sesengukan seraya menggunakan kebaya yang diberikan oleh mamanya barusan. Beberapa menit kemudian, seorang wanita cantik datang mengetuk pintu kamar Naya. Nayapun memper silahkan masuk ke dalam kamarnya.


"Permisi mbak, saya MUA mau rias mbak Naya," suara seorang wanita di depan pintu kamar.


"Iya, masuk," ucap Naya seraya membukan pintu kamar.


Wanita perparas cantik dan modis itu memasuki kamar Naya, dia meletakan koper kecil bawaannya dan membuka koper tersebut yang berisi alat makeup.


"Ngak usah cantik - cantik mbak, natural aja lagian ngak special pernikahan ini." ujar Naya pada perias pengantin itu.


"Lho, jangan ngomong gitu dong. Ini cuma sekali seumur hidup lho mbak," cetus sang MUA yang berdiri di hadapan Naya.


"Terserah mbaknya lah, cepetan." sahut Naya kesal.


"Baik," kata wanita perias itu.


Tak butuh waktu lama untuk merias wajah ayu Naya cukup empat puluh menit saja sudah terlihat hawa kecantikannya, dia tampak berbeda dari biasanya lebih anggun dan sempurna, namun hati Naya sedih karena ini pernikahan bukan impiannya. Setelah selesai di rias pengantin wanita keluar dari dalam kamar, menuju tempat ijab kabul menurut keyakinan agama Naya.


Di depan pelamainan sudah terlihat sang penghulu juga kedua saksi pernikahan, dan pengantin pria yang menggunakan Jas hitam.


"Naya, dia cantik sekali." batin Jefri saat melihat kedatangan Naya dari dalam rumah.


Naya duduk di samping Jefri, ijab kabul akan segera di mulai. Sang penghulu melantunkan do'a untuk kedua mempelai, setelah itu langsung menyalami Jefri untuk mengucap ijab kabul.


"Saudara Ahmad Jefri," cetus sang penghulu pada pria yang akan menjadi suami Naya.


"Iya saya," jawab Jefri lantang, jelas dan tegas.


"Saya nikah dan kawinkan engkau Ahmad Jefri bin ILyas dengan saudari Naya Afrianti, dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan emas delapan puluh gram di bayar tunai." ucap sang penghulu kepada Jefri.


"Saya terima nikah dan kawinnya Naya Afrianti untuk saya sendiri dengan seperangakat alat sholat dan emas delapan puluh gram di bayar tunai." jawab Jefri jelas dan lantang terdengar seluruh ruangan.


"Bagaimana saksi?" tanya sang penghulu pada kedua saksi dan orang - orang yang ada di sekelilingnya.


"Sah,"


"Sah,"


Jawab kedua saksi yang di tujuk oleh penghulu.


Sekarang Naya sudah menjadi istri sah Jefri pria yang tidak di cintainya, Naya tertunduk ia menangis sesenggukan membuat bedak di pipinya sedikit luntur. Jefri memandang Naya sesaat dan berucap dalam hati.


"Mungkin dia bahagia," batin Jefri.


Naya berjalan pelan masuk ke dalam rumah wanita itu masuk ke kamarnya, dia menangis sejadinya berteriak hingga terdengar ke luar tempat pelaminan dan para tamu.


"Haaaa! Aku benci dengan pernikahan ini! Anj*ng laknat," teriak Naya seperti orang kesetanan.


PRANG!


PRANG!


Semua benda berserakan pecah berkeping kelantai.


Bu Kartini dan pak Ilyas berdiri di ambang pintu melihat kelakuan Naya.


"Mama dan papa menjual aku!" bentak Naya menepuk dadanya, dia sangat frustasi.


"Diam Naya, malu di dengar orang." ucap pak Ilyas menutup bibirnya dengan satu telunjuk.


"Jangan buat malu kami," imbuh bu Kartini.


"Apa! kalian malu, aku lebih malu dengan diriku sendiri, mengorbankan untuk hutang kalian. Orang tua tak tahu diri!" ketus Naya.


"Aku tidak sudi, menandatangani buku nikah sialan itu." tolak Naya.


"Pergi dari sini kalian!" usir Naya kepada kedua orangtuanya.


Kedua orangtua setengah baya itu pergi dari ambang pintu kamar, mereka menangis sesengukan karena pernikahan ini bukan kehendak putri pertamanya.


Di dalam kamar Naya mengemasi barang - barang yang masih utuh, termasuk beberapa helai baju lalu ia masukan ke dalam tas. Tak lupa handphone seperangkat dengan cas ia masukan juga, iapun mengganti kebaya yang ia kenakan dengan celana jins dan kaos beralas jaket.


"Kenapa dengan Naya? dia belum menandatangani buku nikah ini?" selidik Jefri pada kedua orangtua Naya.


Ilyas papa Naya menelangkupkan kedua telapak tangannya ke dada, beliau meminta maaf atas kejadian yang kurang mengenakan pihak Jefri dan keluarga besarnya.


"Maafkan kami, nak Jefri Naya...."


"Naya hanya syok, atas pernikahan ini. Dia sangat terharu." alih bu Kartini.


"Tapi, kenapa tadi terdengar berteriak?" Jefri penasaran.


"Itu, Naya saking bahagianya," ucap Kartini mencegah agar Jefri tidak datang ke kamarnya.


"Saya ingin, istri baru saya menanda tangani buku ini." ucap Jefri seraya menyodorkan buku nikahnya.


"Sebentar nak, mama saja yang kasih ke Naya." sahut Kartini, mengambil buku nikah mempelai perempuan.


"Baik, saya tunggu di depan pelaminan. Kalau Naya tidak keluar juga, jaminannya rumah dan pekarangan ini saya sita." cetus Jefri sadis.


Kartini segera pergi kekamar Naya lagi, baru saja ia membuka kamar putrinya yang masih tampak berserakan mata senjanya tidak menemukan dimana Naya berada.


"Naya, nak. Dimana kamu?" Kartini mengelilingi kamar anaknya, namun dia tidak menemukan Naya berada di sana.


Deg!


Jantung Kartini berdebar, karena jendela Naya tidak tertutup.


"Astaga, Naya kamu kabur nak." tangis Kartini pecah.


Anak kedua Kartini menyusul ke kamar kakanya, karena mendengar suara sang mama menangis terisak.


"Mama," panggil Dava adik kandung Naya.


"Kenapa mama menangis?" selidik Dava.


Kartini menggelengkan kepalanya, dia bertekuk lutut lemas karena telah menyadari keegoisannya. Menikahkan Naya atas jaminan hutang usaha keluarganya, sekarang nasi sudah menjadi bubur Naya pergi entah kemana dan rumah juga pekarangan akan disita oleh Jefri.


Dia sekeluarga tidak tahu akan tinggal dimana kelak, kembali ke Jakartapun tidak ada tempat untuk berteduh lagi karena pihak Bank sudah menyita rumah milik Ilyas.


"Aaarrkkkkhhh," gusar Kartini ia meremas kepala yang beralas kerudung menutupi rambutnya.


"Aku menyesal, kembalilah Naya anakku. Maafkan mamamu ini." rintihnya.


Dava merangkul sang mama, anak berusia tujuh belas tahun itu ikut menangis sesengukan juga.